MY NAME

MY NAME
3. BERKUNJUNG KE DESA.



"kita sudah sampai, Pak?" tanyaku, sembari turun dari motor.


"iya, Den bagus! ayo, masuk!" ajak pak Joko, memarkirkan motornya.


"iya, Pak." sahutku.


sebuah rumah yang lumayan besar, namun terlihat sederhana dari luar, dan didalamnya hanya perabotan seadanya.


seorang wanita paruh baya keluar dari dalam menyambutku dengan senyuman ramah. "silahkan duduk!" ucap wanita paruh baya itu, dengan ramah. lalu kembali masuk kedalam.


diikuti pak Joko yang juga masuk kedalam. dan tak lama kemudian, pak Joko keluar lagi, menemaniku duduk, di ruang tamu.


"beginilah keadaan rumah bapak." ucapnya.


"rumah yang besar." pujiku.


"hahaha...! biasa aja, Nak!" kekehnya.


"apa matapencaharian di kampung ini, Pak?" tanyaku.


"hampir semua warga kampung disini petani, Nak." jelas pak Joko.


"bagaimana jika saya ingin bekerja, apakah ada yang bisa mempekerjakan saya, Pak?" tanyaku, lagi.


"kamu yakin, mau bekerja?" tanya pak Joko.


"iya, Pak! saya ingin, kakek hanya duduk menunggu saya pulang kerja, tanpa harus kelelahan mencari ubi di hutan." ungkap ku.


"pria setua kakek, sudah seharusnya beristirahat, bukannya bekerja keras. dan sudah seharusnya saya membalas kebaikan kakek Saleh." lanjut ku.


"ternyata kamu anak yang baik, Nak. tidak salah jika Mbah Saleh menolongmu." puji pak Joko.


"beliau sudah menganggap ku seperti anak sendiri, menyayangi, dan merawatku, Pak. sebagai anak, aku harus berbakti kepada orang tua. dan kakek lah orang tua ku." ungkap ku.


"Alhamdulillah! aku senang mendengarnya." ucap pak Joko, sembari menepuk pundak ku.


"ini istri ku, namanya Sumiyati, biasa dipanggil, Wati." jelas pak Joko, saat istrinya menyuguhkan teh hangat untuk kami.


"terima kasih! ibu." ucapku.


"sama-sama, Nak!" sahut ibu Yati, tersenyum ramah.


"silahkan diminum tehnya, mumpung masih hangat." ujar ibu Yati.


"iya, Bu." sahutku.


Pak Joko menceritakan tentang bagaimana kakek menemukan ku, dan merawat luka-luka ku. dan pak Joko meminta untuk merahasiakan identitas ku, mereka akan mengatakan kepada siapa saja yang menanyakan siapa aku.


bahwa aku cucu dari kakek Saleh, yang tidak kakek ketahui. karena anaknya yang tidak pernah pulang, dan peduli terhadap kakek.


"jadi....kakek punya anak?" tanyaku.


"iya, tapi anaknya pergi merantau, tidak pernah pulang dan tidak ada kabar, bahkan rumah dan tanah tempat tinggal Mbah Saleh, dijual tanpa sepengetahuannya.


"makanya Mbah Saleh tinggal di hutan, karena rumah dan sawahnya dijual oleh anaknya."lanjut pak Joko.


"kenapa anak kakek begitu tega terhadapny" tanyaku, lagi.


"entahlah! warga kampung juga tidak habis pikir terhadap kelakuan anak Mbah Saleh." ucap pak Joko.


"jika nanti warga kampung mencaci maki Den bagus, terima saja, berpura-pura lah sebagai cucunya sungguhan." pinta pak Joko.


"baik, Pak! saya akan melakukan apapun, demi kakek." ucapku penuh semangat.


"jadi, apakah ada pekerjaan untuk saya, Pak?" tanyaku.


"kalau pekerjaan ada, tapi masalahnya, apakah kamu bisa, atau kuat kerja kasar?" tanya pak Joko, tidak yakin.


"segala sesuatu harus dicoba, pak. saya yakin saya bisa, karena niat saya ingin membebaskan kakek dari penderitaan." ucapku penuh semangat.


"kapan Aden akan mulai?" tanya pak Joko.


"lebih cepat, lebih bagus, Pak!" jawabku.


"bagaimana kalau besok pagi, pak?" ujarku yang sudah tak sabar lagi ingin menghasilkan pundi-pundi rupiah.


"kalau begitu, saya pamit pulang dulu, Pak. hari sudah semakin sore." pamitku.


"baiklah! untuk sementara ini, Aden pakailah motor ini untuk Aden pulang-pergi kerja, supaya tidak terlambat." ucap pak Joko menyerahkan kunci motornya.


"tapi, pak....apa tidak apa-apa?" tanyaku sungkan.


"ga apa-apa, udah! pakai saja." ujarnya, sembari meletakkan kunci motor di tanganku.


aku hanya bisa tersenyum pasrah, dengan kebaikan dari Pak Joko. lalu aku bangun dari dudukku, untuk segera pulang.


"tunggu!" panggil ibu Yati, berlari mendekatiku sembari menenteng rantang di tangannya.


"bawalah ini, Den. buat Aden dan kakek makan sore nanti." ucap ibu Yati tersenyum ramah.


"ya ampun, Bu. kenapa repot-repot?" ujarku merasa tidak enak dengan perlakuan baik mereka.


"enggak, ga repot kok, Den. hanya makanan biasa." timpal ibu Yati.


"saya sangat bersyukur bisa bertemu dengan orang-orang baik seperti kalian." ucapku.


"sekali lagi saya ucapkan banyak terima kasih, Pak, Bu. saya pamit!" ucapku lagi, dan berpamitan.


segera aku nyalakan mesin motor yang Pak Joko pinjamkan untuk kendaraan selama aku bekerja. dan meninggalkan rumah keluarga Bapak Joko.


ahh.... rasanya sempurna hidup ini, jika semua orang baik seperti mereka. tapi... apakah mereka tulus baik kepadaku?


atau.... mereka hanya utusan seseorang yang menginginkan kematian ku? dan mencoba untuk membinasakan ku lagi,


karena mereka sudah gagal membuat aku lenyap dari muka bumi ini. ah! pemikiran macam apa ini? kenapa aku harus berprasangka buruk kepada orang sebaik, mereka?


tapi memang seharusnya, aku tidak mudah untuk mempercayai orang. apalagi orang' yang baru aku kenal. sebaiknya aku berhati-hati terhadap mereka.


tak lama kemudian, aku sampai didepan gubuk. kakek berdiri didepan pintu, menyambutku.


"kenapa lama sekali, Den?" tanya kakek khawatir, lalu menghampiri ku.


"iya, Kek. tadi kami terlalu asyik mengobrol. ini! ada bingkisan dari ibu Yati." jelas ku, menyerahkan rantang yang dikirimkan oleh ibu Yati.


"apa ini, Den?" tanya kakek.


"katanya sih, makanan, Kek." jawabku.


"anak itu, tidak pernah berubah." gumam Kakek. lalu masuk kedalam gubuk.


"terus, kenapa Aden bawa motor pak Joko, kesini?" tanya Kakek, membalikkan badannya.


"beliau yang suruh, Kek. buat kendaraan selama saya bekerja." jelas ku.


"Aden mau kerja?" tanya kakek, terkejut.


"iya, Kek." jawabku singkat. lalu menuntun kakek masuk kedalam.


"kerja apa, Den? Aden harus selalu berada di rumah, jangan pergi-pergi kemana-mana, dulu. nanti....


"tidak apa-apa, Kek. tidak akan terjadi apa-apa, dengan saya. kakek jangan khawatir, ya?" aku memotong kalimat kakek, coba menenangkannya.


"saya dan pak Joko sudah punya rencana,....


"apa rencana kalian, Den?" tanya kakek, lagi.


akupun menceritakan tentang rencanaku dengan pak Joko, prihal identitas ku yang berpura-pura menjadi cucu kakek. cucu dari anak yang sudah membuatnya sengsara.


sejenak kakek terdiam, mungkin kakek tiba-tiba teringat akan anaknya, bisa juga ia sedang merindukan anaknya.


walau bagaimanapun, anak tetaplah anak. meskipun sejahat apapun itu. "apa yang ibu Yati kirim, kakek?" ucapku tiba-tiba, mencoba mengalihkan perhatiannya.


"oh! mari kita lihat." ajaknya, sepertinya aku telah berhasil mengalahkannya perhatiannya.


"wow! makanan yang lezat! bagaimana kalau langsung kita makan saja, Kek?" ajak ku.


"ayo!" sahut kakek, bersemangat.


lalu aku dan kakek pun segera mencuci tangan, dan menyantap makanan yang dikirim oleh ibu Yati, untuk kakek Saleh.