
"Assalamualaikum!" ucapku, begitu turun dari motor.
"Wa'alaikumussalam!" jawab kakek.
"Kakek, kenapa duduk diluar? bukankah ini dingin?" protes ku.
"enggak, saya ga Kedinginan, Den. saya menunggu Aden, pulang." jawab kakek.
"tapi kan, bisa menunggu didalam, Kek." saran ku. lalu menggandeng tangan Kakek, mengajaknya masuk.
"bagaimana, Den? apakah sulit, kerjanya?" tanya Kakek.
"enggak, hanya menanam padi, kok." sahutku. padahal... jujur, aku merasa lelah, dan kesulitan. karena, aku belum pernah melakukannya sebelumnya.
meskipun aku lupa ingatan, tapi aku tahu, kalau pekerjaan ini belum pernah aku lakukan sebelumnya.
jika aku sudah pernah mengerjakan sebelumnya, pasti aku akan merasa ringan saat melakukannya.
"Aden, mau mandi dulu, atau makan, dulu?" tanya kakek.
"mandi dulu aja, Kek! badanku terasa gerah, nih!" sahutku. lalu aku pergi ke sungai.
hari sudah semakin sore, langit yang semula cerah, kini berubah menjadi sedikit gelap. burung-burung mulai berterbangan menuju sangkarnya.
akupun tak ingin berlama-lama di sungai. segera setelah merasa bersih, dan segar, aku bergegas untuk segera pulang.
tak lupa kubawa kan air menggunakan jerigen besar, untuk kebutuhan kami di gubuk. langit sudah berubah warna menjadi merah, tanda bahwa waktu Maghrib telah tiba.
aku mempercepat langkahku, agar segera sampai di gubuk, untuk melaksanakan shalat Maghrib bersama kakek.
aku tidak mau kakek terlalu lama menungguku untuk shalat berjamaah.
benar saja, kakek sudah duduk menunggu di atas alas yang biasa beliau gunakan untuk shalat, sebagai pengganti sajadah.
"maaf, Kek. lama, ya?" tanyaku, merasa tidak enak, karena sudah membuatnya menunggu.
"enggak...saya baru saja ambil air wudhu, kok." kilahnya.
"ayo, Kek. saya sudah siap!" ujarku, yang sudah berdiri dibelakangnya.
dan kamipun melaksanakan shalat Maghrib berjamaah. selesai shalat, kakek mengajakku untuk makan malam, yang sudah beliau masak sore itu.
makanan yang sederhana, namun terasa sangat nikmat. aku dan kakek makan sampai kekenyangan.
selesai makan, kami bersantai didepan gubuk sambil menunggu waktu isya' tiba, sembari menghidupkan api unggun.
kakek bercerita banyak, tentang keluarganya dahulu. tentang bagaimana ia sangat menyayangi anak-anaknya.
aku hanyut, masuk kedalam cerita sedih kakek. rasanya tidak percaya, ada orang yang menyia-nyiakan pria baik, seperti kakek. terlebih anaknya sendiri.
"sepertinya, sudah masuk waktu shalat isya, Den." ujar kakek, mengakhiri ceritanya.
"iya, Kek." sahutku yang masih terpaku dengan cerita sedih, kakek. kami pun bangkit dari duduk, dan bergantian mengambil air wudhu.
tanpa jam dinding, ataupun jam tangan, dan tanpa suara azan. kami hanya mengandalkan perkiraan dari langit.
apa yang terjadi di kota-kota besar, kami hanya mendengarnya dari para warga kampung. tidak ada televisi, tidak ada radio, apalagi handphone. hiburan kami seharusnya.
hanyalah suara jangkrik, dan burung. melihat keadaan ini, membuatku semakin bertekad untuk merubah, dan membuat hidup kakek akan lebih bahagia.
selesai shalat isya', aku bergegas menuju bangku tempat tidur kami. sedangkan kakek, masih duduk, dan sibuk dengan tasbihnya yang usang.
aku sudah tidak tahan dengan tubuhku yang terasa pegal-pegal, dan ingin segera tidur. dan tanpa menunggu lama, akupun tertidur dengan pulasnya.
aku benar-benar kelelahan, hingga tidak tahu kapan kakek menyusul tidur, disebelah ku.
\*\*\*\*\*\*\*
Keesokan harinya, saat aku bangun dari tidurku. kakek Saleh sudah tidak ada disebelah ku. akupun segera bangun, dan mencari keberadaan kakek.
kubuka pintu dan melihat keadaan diluar, ternyata beliau sedang sibuk di depan tungku. sedangkan hari sudah hampir terang.
"Kek! kenapa tidak membangunkan, saya?" sapaku.
"saya ga tega, Den. sepertinya, Aden tidur sangat pulas karena lelah. makanya saya biarkan, agar Aden bisa istirahat yang cukup." jelas kakek.
"enggak, Kek. saya hanya keenakan tidur karena cuacanya sangat dingin. bukan karena kelelahan." sahutku, berbohong.
padahal memang benar yang dikatakan Kakek. aku merasa sangat kelelahan, karena sebelumnya, aku tidak pernah melakukan pekerjaan berat seperti itu.
seperti kemarin, setelah mandi, dan sarapan, aku pamit untuk kembali pergi bekerja di sawah milik Pak Joko.
dan kakek dengan senyuman manis di wajah keriputnya, melepas kepergian ku ke sawah, di perkampungan.
hari terus berganti, tak terasa sudah dua Minggu, aku bekerja dengan pak Joko. dan tugasku menanam padi pun selesai.
aku mendapatkan bayaran ku, sesuai dengan perjanjian. selama dua Minggu, aku mendapatkan uang sebesar, 1260 ribu rupiah.
dan aku merasa sangat senang dan puas. hari itu, aku pulang lebih cepat dari biasanya. ku percepat laju motorku. aku ingin segera sampai di rumah, dan memberikan hasil jerih payah ku, kepada kakek.
setelah sampai didepan gubuk, aku menghentikan laju motorku, lalu memarkirkannya. dengan riang, aku memanggil kakek Saleh.
"kakek!" panggilku, bersemangat, dan masuk. tapi didalam gubuk tidak terlihat pria tua yang sudah ku anggap sebagai orang tua ku sendiri.
aku kembali keluar gubuk, memeriksa disekitar, mungkin saja beliau sedang mencabut rambut disekitar gubuk, seperti biasanya.
namun setelah memeriksa, kakek tetap tidak terlihat. aku semakin bingung, dan penasaran. tiba-tiba, aku kepikiran akan sungai, bisa saja beliau sedang berada di sana.
untuk mencuci pakaian, atau mencari kayu bakar di hutan. tanpa pikir panjang, akupun segera bergegas pergi ke sungai untuk memeriksa.
dengan jalan tergesa-gesa, aku pergi menyusuri hutan, menuju sungai. namun setelah sampai di sungai, tidak terlihat satupun orang, apalagi kakek.
kini satu-satunya harapanku adalah, hutan. ya! mungkin saja beliau sedang mengumpulkan ranting kayu di tengah-tengah hutan. karena ranting disekitar, sudah kakek pungut Minggu lalu.
untuk mendapatkan ranting yang lebih banyak, mungkin ia pergi ke hutan lebih dalam. sudah hampir satu jam, aku memanggil-manggil kakek, mencarinya.
namun tetap saja aku tidak menemukannya. dengan perasaan putus asa, aku memutuskan untuk kembali pulang ke gubuk. ku susuri jalan setapak dengan langkah gontai.
aku sedih, kecewa, dan putus asa. aku takut telah terjadi sesuatu terhadap kakek. saat berada di sepuluh meter dari gubuk, aku melihat ada seorang yang keluar dari gubuk tempat aku dan kakek tinggal.
ku hentikan langkahku sejenak, dan bersembunyi dibalik semak belukar. kulihat dari kejauhan, siapa orang baru saja keluar dari gubuk.
setelah pria tadi, keluar lagi seorang dari dalam gubuk. aku terus memperhatikan siapakah gerangan orang tersebut.
setelah ku perhatikan, ternyata orang yang baru saja keluar dari gubuk itu, pak Joko. orang yang sudah memberiku pekerjaan, dan baik selama ini.
merasa aman, dan mengenali pria itu, aku keluar dari persembunyian ku, dan bergegas menghampiri pak Joko.