MY NAME

MY NAME
5. MENJADI PETANI



"nanti, kalau saya sudah tidak punya tenaga lagi untuk melakukan ini kepada Den bahus, barulah nanti giliran Aden." terang, kakek Saleh.


"pasti, Kek!" jawabku semangat.


"ya sudah! yuk, kita makan." ajaknya.


akupun menyantap sarapan ku dengan lahap, aku harus makan yang cukup, agar aku punya tenaga untuk bekerja.


setelah selesai sarapan, aku bersiap untuk segera pergi bekerja. kakek memanggilku, saat aku mulai menyalakan motor yang bapak Joko pinjamkan.


"ini untuk bekal makan siang, Aden." ujarnya seraya memberikan pelastik asoy berukuran sedang.


"tapi nanti siang kan saya pulang, Kek." ujarku.


"tidak usah pulang, Den. istirahat disana saja. untuk menghemat bahan bakar motor." jelas kakek.


"iya, Kek." sahutku.


setelah berpamitan, akupun pergi meninggalkan Hutan, menuju ke kampung, untuk bekerja.


dengan semangat, ku kendarai motor Supra x yang di modifikasi untuk melalui jalanan terjal. didalam pikiran ku saat ini adalah, bagaimana caranya untuk menghasilkan pundi-pundi rupiah, untuk membahagiakan kakek Saleh.


masalah siapa diriku, biarlah aku lupakan, dulu. yang terpenting saat ini, bagaimana caranya untuk bertahan hidup. hidup layak seperti umumnya manusia.


karena aku mempercepat laju motorku, akupun sampai dengan cepat. didepan rumah pak Joko, beliau dan istrinya ibu Yati, sedang duduk menikmati teh hangat, dan ubi rebus, sembari menunggu ku.


"assalamualaikum! pagi, Pak! Bu!" sapaku, begitu turun dari motor.


"wa'alaikumussalam! pagi, Den!" jawab mereka, serempak.


"apakah Bapak sudah lama, menunggu?" tanyaku.


"ah....tidak! kami baru saja keluar." sahut pak Joko.


ibu Yati bangun dari duduknya, lalu pergi ke dapur.


"bagaimana, apakah kita sudah bisa, pergi?" tanyaku tak sabar.


"nanti dulu, ibu sedang membuatkan mu teh, kita minum dulu. santai saja dulu." jawab pak Joko, tersenyum.


"kenapa harus repot-repot, Pak." ujarku, merasa sungkan.


"ga repot, hanya segelas teh, kok." sahut pak Joko. lalu menyodorkan sebungkus rokok di depanku. akupun meraihnya, dan mulai menyalakannya.


tak lama kemudian, ibu Yati keluar dengan segelas teh panas di tangannya. "silahkan diminum tehnya, Den." ujar ibu Yati.


"terima kasih! Bu." ucapku.


"iya! apakah Aden sudah sarapan?" tanya ibu Yati.


"sudah, Bu!" sahutku.


"kalau belum, mari ibu, siapkan!" lanjutnya.


"sudah, Bu! tadi pagi sekali, kakek sudah bangun, dan memasak nasi goreng untukku." jelasku.


setelah aku dan Pak Joko menghabiskan teh yang di buat Bu Yati, kami pun pamit untuk pergi bekerja.


sampai disebuah hamparan sawah yang menghijau, pak Joko memintaku untuk menghentikan laju motor yang aku kendarai. disebelah sawah yang menghijau, ada lahan yang masih terlihat kosong.


"sebelumnya, apakah Aden pernah bekerja di, sawah?" tanya Pak Joko.


"saya tidak ingat, Pak." jawabku.


"maaf....saya lupa, Den." ucapnya.


"tidak apa-apa, Pak." sahutku.


"ya sudah, nanti bapak ajarkan, bagaimana cara menanam padi." ujar pak Joko.


"iya, Den. kenapa? apakah Aden tidak, mau?" tanya Pak Joko.


"kenapa tidak, Pak. pekerjaan apa saja, yang penting, saya bisa menghasilkan uang untuk biaya hidup aku dan kakek." sahutku.


Pak Joko hanya tersenyum menanggapi ucapan ku. lalu beliau mulai mengajarkan ku, bagaimana cara menanam padi.


cuaca hari itu sangat cerah, membuat aku dan pak Joko merasa gerah. beliau mengajakku untuk beristirahat sejenak, untuk minum, dan menikmati sebatang rokok.


"biasanya, saya tidak pernah mengerjakan tugas ini, saya meminta orang yang melakukannya. tapi karena Aden ingin bekerja, ya saya ajarkan, sekalian kasih tau tempatnya." jelas Pak Joko, memulai pembicaraan.


aku hanya manggut-manggut, tanda mengerti. "maaf....sudah merepotkan, Bapak." ucapku, merasa tidak enak hati, sudah merepotkan. seharusnya, pak Joko hanya duduk bersantai di rumahnya.


"tidak apa-apa! nanti, kalau Aden sudah mengerti caranya, apakah tidak apa-apa, kalau harus mengerjakannya, sendiri?" tanya pak Joko.


"tidak apa-apa, Pak!" timpal ku.


"ya sudah! kita pulang istirahat dulu, ya. nanti, jam dua kita mulai lagi, sampai jam empat." ajak pak Joko.


"hemmm.... bagaimana kalau saya istirahat disini saja, Pak?" usulku.


"tapi, apakah kamu tidak makan siang, Den?" tanyanya.


"kakek sudah membawakan saya bekal, Pak." jelasku.


"ya sudah, saya akan pulang, nanti kalau waktunya Aden pulang, saya jemput." ujar Pak Joko.


"iya, Pak!" sahutku. lalu pak Joko pun pergi meninggalkan aku sendiri di sawah.


aku beristirahat di gubuk kecil yang tidak ada dindingnya. kubuka bekal makan siangku, dan menyantapnya hingga habis.


selesai makan, aku merebahkan tubuh ku, angin sepoi-sepoi membuat mataku terasa mengantuk. dan akhirnya, aku tertidur.


sekitar jam dua kurang, aku bangun dari tidurku. setelah minum air putih, aku melanjutkan pekerjaan ku, yaitu menanam padi.


dengan telaten dan semangat, aku kerjakan pekerjaan yang baru saja aku pelajari. ternyata sungguh besar perjuangan seorang petani untuk menghasilkan beras.


selama ini, aku tidak pernah tahu, seperti apa perjuangan seorang petani. suka dukanya mereka menanam, lalu memanen.


terkadang mereka harus menelan kekecewaan, saat mengalami gagal panen akibat hama. terkadang hujan yang turun secara terus-menerus, hingga mengakibatkan banjir.


sayup-sayup kudengar suara motor dari kejauhan, perlahan mendekat. setelah suara itu semakin jelas, aku menoleh ke arah suara.


ternyata pak Joko sudah datang untuk menjemput ku. mengetahui pak Joko sudah datang, akupun keluar dari dalam sawah. kubasuh kaki dan tanganku dengan air yang mengalir di pematang sawah.


"wah! tidak disangka, sudah lebar juga hasil kerjamu hari ini, Den." puji pak Joko, senang.


"Alhamdulillah, Pak." sahutku.


"ya sudah! pulang, yuk?" ajaknya.


"baik, Pak." sahutku lagi, dan mendekatinya, lalu naik ke atas motor yang sudah pak Joko nyalakan.


"bagaimana, Den? apakah pekerjaan ini sulit, bagimu?" tanya pak Joko.


"semua pekerjaan pasti ada tingkat kesulitannya masing-masing, Pak. tapi semua tergantung niat awal kita." terangku.


"iya bener, Den." sahut pak Joko.


karena mengobrol disepanjang jalan pulang, tak terasa, motor pak Joko sudah berhenti didepan rumahnya.


aku segera turun dari atas motor, lalu berpamitan kepada pak Joko. saat aku baru akan melangkahkan kakiku, pak Joko memanggilku, dan meminta untuk pulang dengan mengendarai sepeda motor, miliknya.


semula aku menolak, namun karena memaksa, dan dengan alasan agar aku pergi kerja tepat waktu, akupun menuruti permintaan bapak Joko. karena jika aku pulang hanya berjalan kaki,


tidak bisa kubayangkan, betapa lelahnya sampai gubuk nanti. untunglah, Tuhan sayang kepadaku. sehingga, aku dipertemukan dengan orang-orang baik, seperti pak Joko, dan kakek Saleh.


sampai di hutan, dari kejauhan terlihat kakek duduk didepan gubuk, setelah melihatku dari jauh, beliau langsung berdiri menyambutku.