MY NAME

MY NAME
7. KAKEK SAKIT



"Assalamualaikum! Pak!" sapaku, mendekat.


"wa'alaikumussalam! kamu dari, mana?" tanya pak Joko.


"saya sedang mencari kakek, Pak." sahutku.


"Mbah Saleh ada di dalam, warga kampung yang sedang mencari kayu, menemukan Mbah Saleh tergeletak di tengah hutan. tapi kamu jangan khawatir, beliau tidak apa-apa, hanya kelelahan, saja. tadi mantri dari kampung sudah memeriksa." jelas pak Joko.


aku pun langsung masuk ke dalam, untuk memeriksa keadaan kakek. sampai di dalam, kakek sedang tidur. aku membiarkan kakek beristirahat, dan kembali keluar, menemui para warga kampung yang masih duduk di luar, berjaga-jaga.


"bagaimana, apakah Mbah Saleh sudah, bangun?" tanya salah satu warga.


"belum, pak. kakek masih tidur." jawabku.


"biarkan saja, mungkin efek dari obat yang diberikan oleh dokter, sengaja agar Mbah bisa istirahat." sahut pak Joko.


"iya, pak. maaf....saya sudah teledor menjaga, kakek." ucapku, menyesali yang telah terjadi terhadap kakek.


"ini bukan salahmu, Den. kamu kan sedang bekerja denganku." timpal pak Joko.


"ya sudah, kami pamit pulang dulu, ya?" pamit para warga kampung.


"iya, pak. terima kasih! sudah mau menolong, kakek." ucapku.


"tidak masalah, sudah menjadi kewajiban kita sebagai sesama warga, untuk saling menolong." sahut salah satu warga.


dan mereka pun kembali ke kampung, untuk pulang ke rumah mereka masing-masing. setelah mereka berlalu, aku kembali masuk, melihat keadaan kakek.


sampai di dalam, kakek masih belum bangun dari tidurnya. aku duduk sejenak, berpikir...apa yang akan aku masak untuk kakek setelah bangun nanti.


aku tidak tahu sama sekali tentang masak-memasak. aku beranjak dari dudukku, dan memeriksa, bahan makanan apa saja yang ada.


bahan-bahan makanan yang aku beli kemarin memang masih ada, tapi lagi-lagi, aku bingung, akan memasak apa, untuk kakek.


karena selama ini, kakek lah yang memasak untukku. saat sedang duduk memandangi bahan makanan dengan bingung, di luar ada suara orang yang datang.


"assalamualaikum!" ucap seseorang dari luar.


"wa'alaikumussalam!" sahutku, lalu pergi membukakan pintu.


"eh! ibu Yati, ada apa, Bu?" sapaku.


"ini Den, ibu bawakan makanan untuk kamu dan kakek." jelasnya, seraya menyerahkan serantang berisikan makanan.


"ya ampun, Bu. kenapa harus repot-repot?" ucapku, merasa tidak enak.


"tidak apa-apa, Den. ini hanya makanan biasa, kok." sahut ibu Yati.


"terima kasih! Bu." ucapnku.


"sama-sama, Den. kalau begitu, ibu pamit pulang, ya?" pamit ibu Yati.


"iya, Bu. sekali lagi terima kasih! dan hati-hati di jalan." ucapku.


"iya, Den." sahut ibu Yati. lalu pergi meninggalkan gubuk tempatku, dan kakek tinggal.


setelah ibu Yati pergi, aku membuka rantang yang berisikan makanan darinya. satu rantang bubur nasi, dan satu rantang lagi, berisi lauk pauknya. "Alhamdulillah!" gumamku.


karena merasa gerah, aku pergi ke sungai untuk menyegarkan tubuhku yang terasa lengket, karena berkeringat, saat mencari kakek di hutan, tadi.


baru saja aku berjalan beberapa meter, aku melihat ada dua orang asing berjalan menyusuri hutan. melihat dari penampilan mereka yang terlihat seperti bukan gaya berpakaian orang kampung.


aku bersembunyi di balik semak-semak belukar. ku perhatikan garak-gerik mereka dari kejauhan. seperti ada yang mereka cari, atau periksa. saat mereka melintas di tempat persembunyian ku, sayup-sayup aku mendengar percakapan mereka.


"aku tidak yakin kalau dia masih hidup." ucap salah satu diantaranya.


"baiklah! kita lanjutkan ke sebelah, sana!" ucap pria satunya lagi.


dan mereka pun terus berjalan semakin menjauh, dan aku tidak bisa lagi mendengar percakapan mereka. "tapi siapa, Steven?" bisikku dalam hati.


setelah merasa yakin mereka telah menjauh, aku keluar dari persembunyian ku, dan melanjutkan perjalanan ku ke sungai. sampai di sungai, aku segera menceburkan diri, ke dalamnya.


perkataan mereka masih saja terus berada di benakku, aku merasa penasaran, siapakah yang mereka maksud? apakah Steven itu, aku? ah! sudahlah, aku tidak mau pusing dengan yang bukan urusanku.


setelah merasa cukup segar, aku keluar dari dalam sungai, dan kembali ke gubuk. di sepanjang jalan menuju pulang, aku berjalan dengan sangat hati-hati.


aku takut, akan berpapasan dengan mereka di jalan. tapi kenapa aku harus, takut? bukankah aku tidak mengenali mereka? tapi demi berjaga-jaga, aku mengikuti kata hatiku, untuk berhati-hati dengan orang yang menurutku mencurigakan.


sampai di gubuk, aku mendapati kakek sudah bangun dengan posisi duduk di tepi tempat tidur, dengan wajah lemas, dan pucat.


"kakek sudah, bangun?" tanyaku, begitu membuka gubuk, dan melihat kakek duduk.


"iya, Aden dari, mana?" tanya kakek dengan suara parau.


"dari sungai, Kek." sahutku.


"apakah Aden bertemu dengan orang, kota?" tanya kakek, lagi.


"tidak, Kek. saya tidak bertemu dengan siapapun." jelasku.


"syukurlah...." ucap, Kakek.


"tadi saya memang sempat melihat mereka, tapi saya buru-buru bersembunyi, dan memperhatikan mereka dari jauh, memangnya ada apa, Kek?" tanyaku.


"mereka datang ke sini, dan menanyakan, apakah satu bulan yang lalu, ada yang menemukan jasad di, sungai?" jelas Kakek.


"lalu?" tanyaku penasaran.


"saya bilang, iya. kami menemukan jasad pemuda, dalam keadaan sudah meninggal." cerita kakek.


"apa kakek benar-benar telah menemukan jasad?" tanyaku bodoh.


"tentu saja tidak, Den. saya hanya mengarang, agar mereka puas, dan tidak mencarinya lagi. saya yakin, yang mereka maksud adalah, Aden." ujar kakek.


"kakek, yakin? bahwa yang mereka cari itu, saya?" tanyaku semakin penasaran.


"yakin, Den. karena selama ini, saya ataupun warga, tidak pernah menemukan jasad, selain menemukan, Aden." lanjut kakek.


"saya sempat mendengar sedikit percakapan, mereka." ucapku, lirih.


"apa?! Aden mendengar percakapan, mereka?!" tanya kakek, terkejut.


"iya, kek. ada apa?"


"apa kata, mereka?" selidik, kakek.


"sudahlah.... sebaiknya, kita makan dulu, saya juga sudah sangat lapar," kilahku, aku tidak mau kakek banyak pikiran hanya karena aku.


dan aku pun bangun dari dudukku, menyiapkan makanan untuk kami. sebelum aku makan, aku hendak menyuapi kakek terlebih dahulu. tapi kakek menolaknya,


beliau mengajakku untuk makan bersama. dan kamipun makan bersama-sama, menikmati makanan yang sudah diberikan ibu Yati, untuk kami.


tak lama setelah kami selesai makan, kakek beranjak keluar dari gubuk. aku menanyakan kekek hendak ke mana?


kakek menjawab, ia hendak mengambi air wudhu, untuk menunaikan ibadah shalat Maghrib. akupun mengikutinya.


khawatir kakek akan terjatuh, karena kulihat, tubuhnya masih lemas, dan gemetar. setelah selesai, aku menuntunnya kembali masuk ke dalam.


dan kembali keluar, untuk giliran ku mengambil air wudhu.