My Mate Is Human

My Mate Is Human
part 25



"Jenifer kau mau kemana"tanya Justin yang melihat Jenifer yang beranjak pergi.


"kehutan timur."jawab Jenifer lalu melesat pergi.


"emangnya ada apa di hutan timur di sini juga hutan kan?."tanya Alvian.


"biasa dia ingin menemui gadisnya hahaha!!." jawab Justin dengan nada mengejek.


"eh sejak kapan Jenifer punya pacar mukannya saja rata seperti tembok." Alvianpun tak percaya apa yang Justin bicarakan.


Melihat Justin dan Alvian sedang bercakap-cakap ellenapun hanya terfokus memikirkan cara bagaimana ia mendapatkan jawaban atas kecelakaan yang merenggut nyawa kedua orangtuanya.


'datanglah ke desa di tengah hutan ini dan kau akan menemukan jawaban selanjutnya.'


tiupan angin itu berhasil membuat ellena terdiam untuk mencerna kata kata dari angin tersebut.


"apakah di sini ada sebuah desa?." tanya ellena.


Alvian dan Justin yang sedang berbincangpun langsung melirik ke arah ellena, merekapun kompak menjawab. "Ada!."


"Kenapa kau mengikutiku." Marah Alvian tak terima.


"kau duluan aku ingin mengatakan itu hanya itu yang ada dalam pikiranku." Sentak Justin yang tak terima juga.


"enak saja!." teriak Alvian lalu merekapun berdebat seperti perempuan yang sedang PMS.


ellenapun kesal dengan kelakuan mereka yang seperti anak kecil tangan ellena menarik salah satu daun telinga Alvian dan Justin.


"Awww sakit!!.", teriak Alvian.


"Aduh Telingaku hampir copot!." teriak Justin tak kalah kencang.


"Ampun!." teriak mereka berdua.


lalu ellenapun melepaskan tangannya dan berkacak pinggang. "kalian ini kalian sudah tua kenapa disko kalian seperti anak anak yang berebut mainan!."


"habisnya Alvian memancing emosiku." Tuduh Justin.


"enak saja kau menuduhku ya dasar vampir tak tau diri." lalu alvianpun menjambak rambut Justin.


"akh! rambutku!." teriak Justin lalu membalasnya dengan sebuah tendangan bebas dan menuju ke perut Alvian.


"sial! perutku sakit!." Pekik Alvian.


ellena yang melihatnya hanya menepuk jidat dan berusaha tidak darah tinggi.


"Sudah hentikan!." ellenapun jengah dengan tingkat laku mereka berdua.


Alvian terdiam kaku seperti patung dan Justin yang ingin menendang alvianpun ikut mematung.


"aku ingin tahu dimana arah jalan ke desa itu." Alvian dan justinpun langsung bertatap muka dan mereka berbicara lewat telepati.


'*bagaimana apakah kau akan menunjukan jalanya?.' tanya Alvian.


'entahlah aku takut Alex marah kepadaku membiarkan ellena ke desa tengah hutan ini.'Justin berfikir keras.


'apa sebaiknya kita bicara dulu kepada Alex?.' Alvianpun ikut berfikir*.


"mereka kenapa? apa yang sedang mereka lakukan?." ellenapun bergumam kecil seketika itu ia merinding membayangkan yang aneh aneh tentang Justin dan Alvian.


ellenapun memutuskan angkat bicara dari pada ia seperti orang Bodoh. "Hey kalian!."


"Ya?!." Mereka kompak menjawab.


"Kenapa kalian terus bertatapan aku pikir kalian sudah tidak waras." Ellena mengambil kesimpulan.


"tidak!.. kami masih waras tenang saja!." Sahut Alvian.


"Aku tidak mau ambil pusing cepat katakan dimana arah jalan ke desa?."


"tapi ellena Alex sedang menga-mmmmsmskdndksn." mulut Alvian tidak bisa di ajak kompromi dengan cepat Justin membekap mulut Alvian.


"Alex kenapa?." tanya ellena penasaran Sepertinya ada yang mereka sembunyikan kepada ellena.


"Dasar bodoh!." justinpun melayangkan Pukulan ke arah kepala Alvian.


"Sakit bodoh!." Teriak Alvian yang sedang mengelus rambutnya.


"Bawa aku ke kerajaan Alex." seketika itu Alvian dan justinpun pasrah untuk mengiyakan keputusan ellena untuk ke kerajaan Alex.


'*dasar Alvian bodoh, seharusnya kita tidak boleh membawa ellena dulu, tapi apa boleh buat.' Pasrah Justin yang sedang bertelepati dengan Alvian.


'Akh mulutku saja yang tidak bisa di ajak kompromi!.' Alvian tidak mau di salahkan padahal memang ia salah*.


Alex sedang tidak ingin diganggu karena saat ia sedang marah ada seseorang yang masuk ke dalam ruangannya, pasti orang itu hanya tinggal nama.


dari dulu Sampai sekarang Alex memang tidak akan terkendali saat mengamuk bahkan para sahabatnya saja tidak bisa meredam kemarahan Alex.


flashback.


kejadian dimana saat Alex masih berusia 15 tahun....


Saat ia latihan pedang bersama prajuritnya ia berambisi tidak mau kalah dengan prajuritnya dan saat tidak sengaja prajurit menggores lengan alex,


mata Alex berubah dan aura gelap mengelilingi tubuhnya seketika itu seperti angin yang hanya lewat dan gerakannya yang tidak dapat di lihat oleh siapapun sedetik itu kepala prajurit yang tidak sengaja menggores lengannya itu pun putus dan darah berceceran dimana mana.


seketika itu seluruh prajurit yang melihatnya pun tidak ada yang berani berlatih bersama tuanya, dan Steven yang melihat itupun mencoba untuk meredam emosi tuan Alex tetapi ia mendapatkan pukulan yang sangat keras dan ia terpental jauh.


satu satunya yang hanya bisa meredam emosinya adalah ibunya sendiri tetapi saat kejadian Dimana ibunya di bunuh oleh sang kakak tidak ada lagi yang bisa menenangkanya saat mengamuk.


dan bagaimana cara meredakan emosi dan amarah Alex hanya satu jawabannya yaitu adalah membunuh korbannya Samapi puas.


flashback off


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


**Dan bagaimana caranya ellena menghadapi Alex yang sedang mengamuk diruangnya?.


Next Part😋**


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=