My Live As Auditor

My Live As Auditor
Episode 7 Robo Mall Bekasi : Struk omset yang teracak-acak



Matahari belum memunculkan pesonanya, angin yang segar menyambut bangunku dari tempat tidurku. Bersiap-siap bekerja, dan tiba dikantor. Waktu menunjukkan jam 07:30 wib sedangkan jam masuk menunjukkan jam 08:00 wib.


Lalu aku teringat masalalu…


Stenli berkata, “ini buku untuk menulis arsip sanksi, manatau sanksi sudah disetorkan atau terjadi penipuan yang dilakukan oleh staff konter.”


^Oh…mereka sering mengada-ngada tentang item yang sudah kurang-lebih tapi dikatakan pas.^ Mereka anggap audit sudah lupa dan menggunakan asumsi tersebut agar mereka tidak disanksi.^


“Ya…benar.”


^Siap Pak.^


“Buku ini juga untuk catatan-catatan tertentu mengenai konter, supervisor, teknisi, dan management kantor serta jadwal kunjungan dan semua yang mengenai perusahaan.^


^Siap pak buku ini harus dituliskan catatan-catatan tertentu mengenai U’Crepes juga jadwal kunjungan.^


Kembali ke masa sekarang…


^Aku masih mempunyai waktu sedikit menulis arsip sanksi yang kemarin. Sambil menunggu yang lain datang.^


Waktu menunjukkan jam 08:00 wib…


Karyawan-karyawan sudah pada datang begitu juga Toni dan Stenli.


“Pagi pak Rey…”


^Pagi Pak…^


Lalu mengeluarkan kursinya hendak duduk. Seperti biasa kami selalu melakukan rapat sebelum berangkat.”


Stenli berkata,”Kemana Pak Rey hari ini?”


^Rencana ke Bekasi.^


“Oke…”


Setelah rapat…


waktu menunjukkan 09:30 wib…


Aku dan Toni memutuskan sidak ke Bekasi, Robo Mall dan Alpha Mall. Jalan tol dan mobil-mobil menyambut kami sepanjang perjalanan hingga setelah 2 jam lamanya kami sampai di Bekasi.


^Saya dimana Pak Toni?^


“Untuk sekarang Pak Rey di Robo Mall  saya akan ke Alpha mall.”


^Menurut Pak Toni bagaimana Robo Mall?^


“Saya juga belum tahu. Saya juga belum lama kerja di U'crepes. Hanya menurut info dari orang-orang, penanggung jawab atau sebut saja leader mereka resign karena mau melahirkan.”


^Oh… ok, thanks…^


^Buruk… ^


“Kita sudah sampai Pak Rey, nanti kabarin yah… “


^Siap, saya akan kabarkan secepatnya.^


Saya turun sambil berkata dalam hati,


^Kira-kira bagaimana tentang Robo Mall yah…? Tapi jika yang Toni katakan benar…merepotkan…^


Mall tersebut besar dengan tiang “V” dikanan kirinya berbahan alumunium, desain atap seperti gajebo atau rumah jerami memeberikan kesan sejuk pada mall ini.


Berjalan dengan santui dengan membawa tas map menuju conter U'Crepes. Namun sesuatu yang tidak mencengangkan terjadi... Suasana tempat sepi akibat ulah covid 19, sudah seperti rumah hantu saja. Tuk…tak…tuk…tak…tuk… A FEW MINUTES LATER… sampailah Aku di conter berlogo U'Crepes dengan mesin krepes yang menjadi ciri khas kompornya. Akan tetapi alangkah membagongkan, sesungguhnya ada seorang wanita pirang kuning gemuk yang sedang mengerjakan inventory dengan struk omset disampingnya yang sudah acak-acakan. Belum lagi Dia musik-musikan dengan handphonenya, ini salah…


^Nama kamu siapa?^


Wanita yang sedang terkatung-katung tersebut terkejut dan berkata, “Lala pak. Maaf Pak, Bapak siapa ya?”


^Saya Rey… Audit.^


Lala yang mendengar hal tersebut terkejut dan langsung kelabakan dengan pekerjaan yang di sedang kerjakan.


“Maaf pak Saya belum selesai, mohon ditunggu.”


Dia berfikir Aku masih baru dan belum mengerti apapun, namun pemikiran tersebut salah, walaupun aku memang ada sedikit yang tidak tahun.


^Lala sudah crew tapi tidak bisa inventori… memang apa yang kamu pelajari selama ini selain buat krepes? Belum lagi Dia main handphone saat jam kerja, ini salah…^


Saya berkata dalam hati,”sepertinya informasi tersebut benar adanya.”


Jam sudah menunjukkan jam 11:30 wib bahkan belum selesai sampai jam 13:00 wib, sedangkan batas jam inventory adalah jam 11:00 wib. Peraturan tersebut dibuat karena focus utama kita adalah mencari omset, bukan hanya inventory. Mendengarkan music dengan handphone dinyatakan sanksi karena bermain handphone terkecuali untuk kirim foto setoran omset ataupun yang berhubungan dengan kantor adalah tidak baik dilihat costumer.


^Kamu saya sanksi…^


A FEW MINUTES LATER…


Terdengarlah suara langkah kaki…


Puji dan Farah datang… Mereka masuk jam siang.


Sambil masuk ke konter mereka kebingungan melihatku tetapi tidak berani bertanya.


“Selamat siang Pak.”


^Selamat siang.^


Aku memerhatikan nya, dari setelah absen dan bersih-bersih sampai 30 menit, menghawatirkan… karena Puji tetap tidak memakai topi, ini salah…


Dengan nada dingin aku berkata, “Puji dipakai topinya!”


Puji yang kaget dan tergesa-gesa berkata,”Maaf Pak saya lupa...”


^Sekali lagi kamu tidak pakai, Saya sanksi.^


“Maaf Pak.”


Farah dan Puji mau beribadah lalu meminta izin saya,”Bapak kami izin ibadah dan membeli makan siang.”


^Ok.^


Sekitar setengah jam kemudian mereka datang dan berkata,”Permisi Bapak.”


^Iya…^


Aku memperhatikan Puji kembali, Dia tidak memakai topi lagi…  “Mungkin mau bersiap-siap pakai topi, hanya kebetulan aku lihat dia belum pakai, aku akan mengawasinya.”


“Izin makan bapak.“


^Lanjut… ^


Namun sampai setengah jam kemudian Puji lupa lagi tidak pakai topi.


^Puji… tadi saya sudah kasih tau pakai topinya, bagaimana jika saat kamu buat crepes sambil melepaskan topi, lalu rambut kamu jatuh ke Crepes? Costumer bisa komplain.”


“Maaf Pak.”


Puji tidak memakai topi conter 2 kali dalam waktu lama, harus diingatkan dulu baru pakai, dinyatakan disanksi karena bisa gawat jika rambutnya jatuh ke produk yang sedang dimasaknya apalagi costumer yang suka melihat pembuatan crepes.


^Kamu saya sanksi…^


“Puji yang kesal berkata,”Saya tidak terima!”


^Itu urusan kamu.^


 


Sementara Farah dari awal Dia datang shift siang sampai 3 jam kemudian handphone pribadinya masih di sekitar konter.


 Handphone tidak boleh di sekitar konter karena sudah di beritahukan sebelumnya bahwa handphone hanya boleh di dalam tas untuk menghindari kecurigaan audit dengan staf konter mengenai bermain handphone.


^Farah masukkan Handphone nya ke tas sekarang.^


“Maaf Pak.”


^Kamu saya sanksi.^


“Tapi Pak, apa tidak ada toleransi?”


^Sudah diberitahukan lewat grup.^


Aku selesai cek fisik, lalu mengecek struk omset, sangat asal-asalan. Aku sudah menduga, karena Lala sudah kelabakan mengerjakannya.


Demikianlah saya selesai audit dan tinggal menulis sanksinya. Sanksi mencapai 200.000/orang walau sudah dibagi 5 orang.


^- Sanksi bahan baku 500 ribu, sanksi main Handphone dan inventori acak acakan 150 ribu ke lala, sanksi tidak memakai topi 100 ribu ke Puji, sanksi 30 ribu handphone ke zahra…


Puji komplain,”Pak itumah saya lupa, jangan saya tidak terima disanksi pak.”


^Oh… sudah saya ingatkan tadi tapi kamu mengabaikan, sesuai perkataan saya, kamu disanksi.^


“Saya tidak mau tanda tangan!”


^Oh… semua sanksi saya kali 3…^


Semua kaget!


“Saya aja pak yang tanda tangan,”Lala mengambil pena refleks.


Aku pulang…


Crew-crew konter,”Hati-hati pak.”


Puji masih dengan wajah kusut nya, kesal kepada Saya karena masih tidak menerima, dan Farah yang bingung dengan apa yang baru saja terjadi