My Live As Auditor

My Live As Auditor
Prolog



9 Oktober 2016.....


Di Kota Bandar Lampung....


Pada suatu hari disuatu tempat yang dulunya adalah kandang ayam suatu dua kandang bersebelahan panggung berbahan bambu dengan ruang untuk kotoran di bawahnya berkapasitas 8000 ekor. Tetapi saat saya skripsi tepat tinggal menunggu wisuda, kandang tersebut didemo warga karena bau tetapi anehnya setelah 9 tahun baru kebauan. Singkat cerita kandang tersebut ditutup dan terbengkalai. Kami menyewa kandang orang, tetapi tidak dilanjutkan karena kita sering ditipu orang sekitar, setiap kami pergi karyawan kandang disana selalu menjual pakan ayam kami, hal tersebut karena lokasi kandang harus jauh dari permukiman dan hanya beberapa yang punya, itupun kondisinya sudah reok. Dan Akhirnya Kami tidak melanjutkan...


Tahun 2018....


Mama terinspirasi dari pengusaha bebek petelur karena daya tahan bebek yang kuat dan telurnya yang mahal. Maka kami mencoba 300 bebek terlebih dahulu. Namun usaha itu tidak berjalan semulus dongeng yang meningkat dan menjadi terbaik. Sungguh... jika itu terjadi itu pasti sangat indah sekali, sayangnya itu tidak. Kondisi bebek yang menyukai becekan menyebabkan baunya luarbiasa. Bayangkan... Dalam jarak 10 meter saja, baunya bisa bikin hidung peternak yang sudah biasa mencium bau ternak menjadi muntah, apalagi orang awam, lagi pula untungnya sedikit karena penjual hanya mau menjual induk bebek nya tetapi tidak mau memberikan trik-triknya. Singkat cerita peternakan tersebut tutup.


Tahun 2020...


Di suatu tempat kantor dinas perikanan. Karena usul dari saudara, mama bertemu dengan seorang petugas penyuluhan lapangan perikanan bernama Tambun Hutabarat.


Tambun Hutabarat berkata,”Pelihara lele itu bagus ito (adik-kakak), 2 bulan sudah panen dan daya tahan tubuhnya tahan banting, dan penjualannya tidak bakal mati dan bla-bla-bla.... “


Mama menjawab,”Terus bagaimana cara pemeliharaan nya?


Tambun Hutabarat menjawab,”Bla-bla-bla....”


Singkat cerita.. 


Di suatu kandang kami yang terbengkalai, kami membuat 15 kolam dengan kapasitas 1000 ekor perkolamnya. Kolam tersebut terbuat dari beton dengan ukuran 2x2x1 meter. Diiringi dengan anjing-anjing yang menggemaskan, memng hanya anjing kampung, tapi sifatnya yang selalu menyapa ku setiap aku datang, menjilatiku, memelukku dan main kejar-kejaran denganku menghiasi tempat tersebut. Belum lagi luar kolam tersebut dihiasi pohon-pohon disekitarnya membuat tempat tersebut segar, memang lokasi kandang kami yang sekarang menjadi kolam lele berada di hutan. Sungguh...tempat yang indah, dan malamnya aku tidur di situ, di depan pintu kolam ada mess, jadi aku bisa tidur disana.


Tetapi kembali lagi, tidak seindah yang diceritakan. Lele juga bisa terkena penyakit, dan dia juga tidak tahan kotor. Penyakitnya mulai dari penyakit belang, mengambang, bahkan kanibalisme yang menyebabkan kematian yang banyak. Untuk mengirim pakan kami menggunakan sisa ikan dari pasar yang tidak rusak sebagai pakan tambahan, namun kami tidak melanjutkan karena malah menyebabkan penyakit karena mencemari air.


Namun, karena kami merasa masih bisa mengatasinya, kami lanjutkan.


16 Januari 2022...


Di Bandar Lampung....


Disuatu rumah dengan garasi disebelah kirinya. Sebelah kirinya adalah tempat barang yang tidak terpakai, sedangkan sebelah kanannya adalah kamar, pintu masuk. Didepannya adalah dapur. Lantai semen kasar dan jemuran menghiasi garasi tersebut. Suatu rumah yang penuh kenangan diiringi canda tawa dan banyaknya bawelan, terkadang hening, itulah rumahku.... Hanya pada saat itu terjadi suatu percekcokan antara mama dan saya. Mama yang tidak mau aku ada dirumah karena aku pengangguran sedangkan aku tidak mau karena aku harus menjaga usaha ikan mama dan memelihara anjing-anjingku, mengambil sisa makanan dari rumah sakit, memasaknya, dan memberikannya ke anjing-anjingku belum lagi aku harus menemani bapa kerumah sakit setiap senin kamis untuk cuci darah, ginjal bapaku saat itu hanya berfungsi 35% lagi, 65% lagi tidak berfungsi. Jika Aku pergi, maka mamakulah yang harus mengurus semuanya. walaupun dengan itu aku harus rela mengorbankan karirku karena sulitnya mencari kerja, jujur aku peduli tapi aku lebih peduli dengan orangtuaku. Adik-adikku, Velix dan Ember sudah bekerja di Jakarta, dan tersisa hanya aku sendiri, dan akulah anak pertama.... Ahhhh.... sungguh dilema yang menjengkelkan... rasanya aku ingin menghancurkan masa depan ini, meremukkannya, dan membuangnya ke kotak sampah, menggantinya dengan tulisanku sendiri, suatu tulisan yang hanya berisi kehidupan terbaik. Saat itu koper sudah terikat di motor Gupiter vx dan hanya tinggal menaiki motor dan aku tidak memiliki kesempatan lagi untuk berbalik ke rumah kenangan tersebut. Saat percekcokan tersebut, hanya ada mama, lae Andrew, dan aku sedangkan bapa beristirahat karena sakit.


Mama berkata, “Kamu ke Jakarta, sekarang!” Pindah Kamu ke Jakarta sekarang! Kamu hanya jadi beban disini! Kamu hanya menyusahkan saja!”


Dengan jengkel Aku berkata,”Aku juga malas disini, tiap hari diomelin terus! Aku pergi!


Lae ku berkata membujuk mamaku,”Sudahlah nantulang (tante)...nanti siapa yang ngurusi semua kerjaan Rey?”


Mama berkata,”Aku tidak peduli Bere (keponakan).”


“Yasudah Aku pergi!” Mama sama bapa sehat-sehat ya, Aku pergi ke Jakarta...”


Lae (sepupu) Andrew berkata,”Mana tanganmu?


Lalu Aku memberikan tanganku, dan dengan cepat lae menaruh uang ke tanganku lalu memaksanya untuk menggenggam. Uang tersebut tebal sekali...


Lae Andrew berkata,”Peganglah Laeku, untuk dijalan....


Aku menundukkan kepala...


“Aku berangkat mama, lae  doakan aku. Lalu aku masuk ke kamar bapa, mencium tangannya, dan berkata,”Bapa doakan aku, aku berangkat...”


Bapa berkata,”Doaku bersamamu...”


Aku pergi dan mama dan lae melambaikan tangan.


Lalu lae ku pulang kerumahnya sedangkan mama pergi ke tempat yang sepi dan menangis sambil berkata, “terbanglah anakku, biarlah mama lelah disini, tetapi biarlah kakimu tegak melintasi puncak yang tinggi, buktikan pada dunia kamu bisa!”


Aku mengendarai motor sambil menangis kawatir, ini semua terjadi karena aku seorang sarjana yang sudah bertahun-tahun pengangguran.


Aku belum pernah pergi ke Jakarta sendiri mengendarai motor, hanya gaagle map-kulah ibu pertiwiku. Berkali-kali aku nyasar ke jalan tol. Malampun tiba, sawah menyelimuti kanan kiri jalan beton, tanpa lampu, belum lagi hujan lebat, sehingga tempat tersebut seperti sarang pembegal. Maka aku mempercepat motorku secepat mungkin bahkan mencapai 150km/h. Waktu berlalu, gemerlap lampu menyelimuti kanan kiriku dengan jalan yang lebar.


Aku berkata,”Akhirnya....”


Waktu berlalu... Tibalah aku di suatu gereja, aku disambut oleh keluarga disana, aku lelah dan tertidur. Keesokan harinya aku mencari pekerjaan, beberapa perusahaan memanggilku, mulai dari selesai, judi online, sampai tempat maksiat. Hal itu terjadi karena aku menaruh setiap lamaran kerja setiap ruko tanpa menanyakan perusahaan tersebut. Bagiku tanyakan saja saat interview, pekerjaan apapun selama tidak merugikan orang lain tidak masalah. Aku menaruh 10 lamaran kerja perhari.


Tiga bulan berlalu....


Ada perusahaan memanggilku lewat telepon,”Apakah ini dengan saudara Reygen?”


Saya menjawab,”Apakah anda bisa datang jam 9 pagi besok di ruko xxxx?”


Aku menjawab iya


Keesokan harinya aku interview, di sebuah tempat yang penuh dengan pohon natal diselingi tulisan “Merry Christmas”, dan ada tulisan “U'Crepes”. Suatu perusahaan yang bergerak di bidang makanan “crepes”.


Pak Bos berkata,”Disini dibutuhkan sebagai Auditor, apakah kamu bersedia?”


Aku berfikir dalam hati,”Pekerjaan apakah itu? Sepertinya menarik...” Lalu Aku menjawab dengan lantang,”Saya bersedia.”


Inilah awal aku menjadi auditor...