My Life Story

My Life Story
pemakaman dirga



d rumah sakit nampak om hendrik dan tante sandra


tante sandra trus mnangis dalam pelukan mita kaka dirga


dan om hendrik terdiam membisu kdua tanganya menopang wajahnya yg trus menunduk terlihat kesedihanya yg bgtu mendalam


stibanya d rumah sakit naura trus nangis berlari menyusuri setiap lorong rumah sakit, hingga pandangan naura bertemu sosok kluarga yg tengah bersedih menunjukan ekspresi yg sulit d artikan


sandra berdiri kmudian memeluk naura begitu erat seakan memeberi kekuatan, padahal sandra sndri skrang dalam keadan terpukul, tp sandra tau tunangan anaknya pun pasti sama terpukulnya dg dirinya


dengan bibir yg beregetar suara lirihnya sdikit tertahan karna spanjan perjalanan kerumah sakit naura terus menangis tanpa henti


"tan,,, dirga baik2 saja kan!?.


sandra tak kuasa menahan ksedihanya, hingga sandra hanya memeluknya semakin erat tubuh naura


sandra hanya membalas lewat pelukan yg naura sndiri gk paham maksd dari mamah dirga memelukya bgtu erat


naura pun melepas pelukan mamah dirga hingga beralih bertanya pada mita kaka dirga


"kak tolong jawab aku, gmn keadan dirga? dirga baik baik sajakan," teriak naura dg tangisanya, namun mita pun sama dg mamanya tak membuka suara sedikit pun, mita hanya mnunduk dan terus menangis


tak puas beryanya pada sandra dan mita kini naura pun berjalan memghampiri handrik yg sdari tadi hanya diAm menunduk menutup wajahnya dg kdua tanganya


"om tolong jawab naura om, apa yg terjadi dg dirga!?."


ucap naura lirih dg tangisanaya


hendrik pun bangkit dari duduknya kmudian memeluk tubuh mungul maura dg erat


" maaf kan om sayang, km harus sabar? " ucapnya lirih


naura msh blm puas dg jawabanya, kmudian naura melepas pelukan hendri dan menatap lekat wajah hendrik dg air mata yg trus membasahi pipinya


"apa maksudnya om? tolong katakan yg jelas?" naura kembali berteriak dg tangisanya


"dirga sudah tidak ada sayang, tuhan lebih sayang denganya, tuhan telah mengambilnya dri qt smua" ucapnya lirih memegang pundak naura


naura melepas tangan hendrik dan menggelengkan kepalanya tak percaya


"tak mungkin"ucapnya lirih nyaris tak terdengar


dan naura kembali tak sadarkan diri


"naura" teriaknya bersamaan


¤¤¤¤¤¤¤¤¤


pagi d kediaman **hendrik kusuma** sudah ramai org, rangkaian bunga duka cita berjejer d stiap sudut halaman dan depan rumah hendrik..


d sudut ruangan tamapak sandara yg msih trus menangis dalam pelukan mita matanya tak lepas dari jenazah putra kesayanganya


dan naura yg duduk d temani mala ibundanya dan dinda sahabat naura


tatapan matanya kosong menatap jenazah tunanganya tersebut


naura tak nampak nangis, namun kesedihan tersirat jelas d wajahnya,


d sudut ruangan nampak hendra ayah dari naura yg terlihat sedang memberi semangat untuk hemdrik2


naura terus terdiam tanpa berkata sepatah kata pun,..


dinda sangat mengerti keadan naura skrang, dinda jga khawatir naura sma sx gk mw respon dg org sekeliling


berjali kali dinda memcoba mengajanya bicara, namun naura tak meresponya sama sekali


hingga pemakaman berlangsung kluarga hendrik dan kluarga hendra dan kerabatnya yg lain ikut mengantarkan jenazah k tempat peristirahatannya yg terakhir


slama proses pemakaman sandra dan mita tak hentinya menangis. bertolak belakang dg naura yg terus diam dg tatapan kosong tanpa bicara sepatah kata pun


hanya naura dan dinda yg setia menemani naura yg msh diam mematung menatap gundukan merah yg penuh dg taburan bunga mawar


"ra, qt pulang yuk?. smuanya udah pada pulang!" dinda memcoba membujuk naura untuk pulang, karna dinda khawatir, dsari pagi dinda mnemani naura, naura blm menyentuh makanan atau minum sdikit pun


namun naura tetap diam tak menghiraukan sahabatnya itu


dinda hanya menghela nafas dalam, dinda bgtu sedih melihat sahabatnya tak berdaya seperti ini


dinda pun memeluk erat tubuh naura memberinyA kekuatan pada sahabatnya itu


naura menitikan air matanya


"dirga bhong sama gue, dy bilang dy cinta sma gue, dy janji sama gue gk akan ninggalin gue sendiri, dirga janji bakal trus jagain gue! sekarang lihatlah, dy ninggalin gw sendriri, dy pergi tanpa pamit sma gue" naura kmbali menamgis dalam pelukan sahabatnya itu, dinda tak kuasa mnahan air matanya, iya tak tau lg harus gmna menenangkan sahabatnya dinda hanya trus memeluk naura yg trus nangis dalam pelukanya


"ra, gw yakin dirga sayang bgt sama lo, dirga pasti sedih liat lo bgni?"


"klo diah sedih liat gw bgni knp dy pergi ninggalin gw!"


teriakya histeris hingga naura kmbali lg pingsan


" naura " dinda teriak histeris dan membawanya k mobil d bantu penjaga makam untuk d bawa pulang kerumahnya


sesampainya d rumah berlari k dalam memberutahu ayah ibunya kalo naura kembali pingsan lg.


ayah dan ibu naura bgtu sedih lihat keadan anaknya


"mah, pah apa gk sebaiknya naura qt bawa k rumah sakit ajah, dri kmren naura trus2an pingsan dan gk mw makan" dimas kk naura bgtu khawatir melihat keadan adeknya satu satunya


"qt tunggu besok ajh, klo msh trus2an pingsan kita bawa k rumah sakit, papah yakin naura msh sangat syok" tutur hendra mencoba tenang


"om tante, klo bgtu q pamit pulang dulu yah, udah hampir mahhrib, besok saya ksni lg temenin naura" dinda pamit karna ia dri pagi sudah menemani naura


ayah naura hanya menganggukan kepalanya


"iya sayang, trimakasih ya dinda udah jagain naura?" ucap ibu mala seraya mengantar dinda k depan


"tidak apa2 tan, dinda sayang sama naura, dinda jga sedih tan liat keadan naura" dinda pun menangis


mala memeluk dinda


"trimakasih sayang, km udah tante anggap anak tante sndri, tlong km bantu naura ya saya, agar nura bisa terima kenyataan ini


"dinda pasti bantuin tan"


mobil dinda pun kluar dari halaman rumah naura


d kediaman hendrik, suasana duka masih menyelimuti kluarga ini,


sandra tengah bersandar d kasur, sandra msh trus menangis, rasanya smua terjadi bgtu cepat, sandra mash blm bisa terima knyatan putranya yg telah pergi


hendrik menghampiri istrinya dan duduk d smping istrinya


d sandarkanya kpala istrinya k bahunya, membiarkan istrinya menamgis dalam bahunya, tanganya terus mengelus rambut istrinya


"papah yakin, dirga pasti sedih klo liat qt trus bersedih, dirga anak yg kuat, dy ceria, papah yakin, dirga bahagia dsana!, apa pantas mah qt menangisi kebahagiaan anak kita d sana? papah tahu, mamah sangat kehilangan, tp papah jga kehilangan mah, dirga jga anak papah!" hendrik mencoba mnenangkan istrinya, meskipun ia sndri sbenernya terpukul


"qt masih punya mita mah, anak perempuan kita!" lanjut hendrik


"mamah hanya buuh waktu pah, smua ini terjadi bgtu cepat pah! padahal sbulan lg dirga mw menikah pah, dg wanita yg bgtu dirga cintai," sandra kmudian tersadar, klo ada org yg sma terpukulnya dg dirinya


"pah gmn keadan naura pah? apa dy udah bisa trima kenyataan ini?"


"naura msh begitu syok atas kepergian dirga, naura blm mw bicara sepatah katapun, naura trus diam dg tatapan kosong! nanti kita temui naura kalau km udah baikan"


sandrapun hanya mengangguk hingga larut malam mereka barulah bisa tertidur karna msh terpukul atas kepergian putranya