My Jerk In Suit

My Jerk In Suit
Chapter 8



“Kena kau..”


Dia menatapku, dan aku terus menatap bawah, tidak berani menatap wajahnya. Aku lebih fokus menenangkan jantungku, kenapa tidak bisa diajak kerja sama saat ini, kuharap dia tidak bisa mendengar debaran jantungku.


“Kau menghindariku."


Aku tetap menghadap kebawah dan menggelengkan kepalaku, dia kira aku tidak malu?!! Aku baru saja tidur dengan bosku sendiri dan dia bisa bisanya berkata seperti itu !! Tidak taukah dia seberapa sulitnya aku menatapnya saat ini.


“Yap.. kau meng..”


“Tidak.” Jawabku pelan dan tetap tidak menatapnya.


“Kalau begitu, bukannya harusnya kau menatap orang yang sedang bicara?”


“Itu tidak sopan, sir.”


Kurasakan dia menegapkan badannya dan menghela nafas, aku tau penyebabnya , pasti karena panggilan sir.


“Apakah kau sadar, dengan tingkahmu seperti itu, orang akan curiga apa yang terjadi.” Dia terdiam sebentar, memberiku waktu untuk menjawab. “Dan kau tau repurtasiku akan buruk jika orang tau tentang kejadian semalam?”


“Tidak sir, aku hanya... tidak tau harus bagaimana.” Kataku lirih.


“Jadi kau akan tetap seperti ini membuat orang bertanya tanya, terutama Vector, dan membuat semua terbongkar?” katanya terus mencecarku, hei.. dia yang menbuatku mabuk, dan dia juga yang marah?


“Tidak si..”


“Jawabanmu membuatku tidak yakin, ku..”


“Tidak, William!!” kataku kesal dan langsung menatap matanya, bertatapan lagi dengan matanya yang indah, dan seketika kesadaranku mulai sadar dengan hidungku yang mulai mencium bau yang tidak asing ketika berada di dekatnya. Aku tidak bisa berada lama didekatnya.


“Tidakkah kau tau betapa susahnya mengendalikan diriku yang mengetahui bahwa aku tidur dengan bosku sendiri, dan tidak pernah terbesit di pikiranku untuk membuat orang berpikiran aneh dan membuat repurtasimu buruk atau apalah.”


Kulihat dia sedikit terkejut dan terdiam sambil mengamati aku protes dengan smirknya yang menyebalkan.


“Bye.” Kataku langsung balik badan dan membuka pintu dan kembali ke ruanganku. Aku tau aku terlihat aneh dan dia juga pasti sedang mencerna kejadian barusan, dimana seorang karyawan yang membentak bossnya sendiri.


Pertama tidur, kedua membentak, tamatlah sudah riwayatku, semoga dia tidak mempermasalahkan kejadian barusan.


...****************...


Sehari setelahnya kita kembali ke Manhattan, tidak ada perubahan dengan sikapnya juga, tetap dingin seperti biasanya.


Hari hariku berjalan seperti biasanya, menemani William untuk rapat dan mengurus seluruh data data dan email yang masuk ke email utama perusahaan sebelum dikirim lagi ke William. Dan saat ini aku sedang berdiri di hadapannya yang sedang memeriksa berkas yang aku berikan barusan.


Setelah itu aku ada janji bertemu dengan Dolorez dan Ashley di pub terdekat, kita memang sering mendatangi tempat tersebut ketika sedang pusing dengan keadaan.


Saat aku masuk pub tersebut, aku melihat sekitar untuk mencari apakah mereka sudah datang, dan aku menemukan 2 tangan yang sedang melambai kearahku dan segera kuberjalan kearah mereka.


Dan kulihat ada 3 orang yang sedang duduk di samping Ashley dan menyisakan tempat disebelah Dolorez hang masih kosong. Setelah duduk aku segera memanggil pelayan untuk memesan beberapa mibuman dan makanan ringan untuk mengisi perut.


“Hai... siapa dia Ashley.” Tanyaku dengan mata menyipit menggoda Ashley seperti biasanya.


“Ini Edo, kekasihku...”


“Selama ini dia diam diam punya kekasih, kejutan bulan ini.” Timpal Dolorez.


Memang selama ini Ashley hampir tidak pernah menceritakan tentang kehidupan pribadinya, tapi dia diantara kita yang paling peduli ketika kita ada masalah.


Kita berbincang hampir 3 jam lebih dan kita tidak melewatkan waktu untuk turun ke lantai dansa. Melupakan segala kejenuhan seharian ini di kantor, dan berusaha semaksimal mungkin menikmati musik sambil bergoyang. Ashley bersama Edo dan aku bersama Dolorez.


Orang yang tidak tau pasti akan mengira bahwa aku dan Dolorez bersama. Memang aku, Dolorez dan Ashley adalah teman sejak lama, kita selalu kemana mana bersama, walaupun kita semua memiliki kekasih, pasti kita semua kenal. Dan memang kebetulan Ashley juga jarang berbagi cerita, hanya aku dan Dolorez yang saling berbagi masalah.


Musik yang terdenhar sangat keras, membuat harus mengeraskan suara ketika berbicara. Kita berjoget bersama, tertawa bersama dan melupakan masalah kita masing masing untuk sesaat. Aku juga tidak mengkhawatirkan orang orang yang menggodaku, karena setiap ada yang mendekat, Dolorez langsung mendekatiku, seolah mengusir orang itu, aku merasa aman.


Setelah sekian lama kita berjoget, aku keluar dari kerumunan karena butuh ke ruang kecil. Tubuhku terasa ringan sekarang, mungkin pengaruh minuman tadi. Kurasakan ponsel di saku celanaku bergetar dan mengeluarkan suara kecil karena kalah dengan suara disini.


Kulihat nomor yang tidak kukenal, tapi aku merasa ada sesuatu penting dan membuatku tisak nyaman. Berdasarkan feeling, kuangkat panggilan tersebut, dan diam sebentar, tetapi sebelum ingin berkata “halo” aku mendengar seseorang berkata


“Apakah ini benar dengan Annabella Phillip?” Tanya orang di seberang sana.


“Ya, siapa ?”


Aku terus mendengar orang itu berbicara dalam telpon, dan awalnya aku masih santai mendengarkannya, kemudian semakin panik dan sangat panik. Aku langsung berlari kembali ke lantai dansa untuk mencari temanku.


Kuedarkan pandanganku dan tidak menemukan mereka, semakin malam semakin banyak pengunjung datang sehingga membuat semakin susah untuk mencari seseorang.


Akhirnya aku menyerah dan memutuskan untuk mengirimkan pesan. Segera aku keluar dan langsung mencegat taxi.


...****************...


Segera aku berlari menuju lantai 3 langsung menuju suatu ruabgan yang sudah tidak asing lagi bagiku. Sebelum sampai ke ruangan tersebut, kulihat pintu ruangan telah terbuka lebar dan aku melihat seseorang sedang tersenyum lemas dan seorang dokter yang sedang memeriksanya.


“Hai kak, kenapa terengah seperti itu?” kata seseorang yang sedang terbaring diatas ranjang.


Aku tersenyum sambil mengatur nafas “Kau tak apa?”.


Kulihat dia hanya tersenyum dan mengangguk lemah. Kulihat dokter juga melihat kearahku dan memintaku untuk menemuinya di ruangannya.


“Bagaimana kabarmu Stef? Aku dapat kabar dari..”


“Aku tak apa kak, tidak sesakit biasanya.” Katanya sambil tersenyum.


Aku hanya bisa menahan rasa sakit di hatiku, Stefani, satu satunya keluargaku yang tersisa, sedang beebaring lemah selama ini bergantung pada perawatan rumah sakit. Ya, aku memiliki adik, dan aku hanya hidup dengannya selama bertahun tahun tanpa orang tua. Aku menjadi tulang punggung selama ini, dan kebahagiaanku selama ini hanya melihat adikku yang dapat tersenyum menjalani hidup seperti lainnya, tidak berbaring di rumah sakit seperti ini.


Kemuadian kulangkahkan kakiku keluar ruangan dan menuju ruangan dokter. Di dalam, aku duduk dan mendengar setiap penjelasan yang diberikan dokter. Firasat awal ketika aku perjalan ke rumah sakit terjawab sudah sekarang.


“... Stefani tadi sempat drop sebentar dan untungnya memang ada perawat disini yang sedang keliling, jadi bisa segera ditangani.”


“Apakah dia sudah membaik?”


“Untuk presentase membaik dan sembuh itu sangat sedikit, di kasus stefani saat ini kita hanya bisa memberikan yang terbaik, penanganan yang telat juga dapat menyebabkan keadaan yang semakin memburuk. Saya sarankan untuk kemoterapi rutin dan tidak ditunda.”


Setelah beberapa saat mengobrol dan beberapa saran yang diberikan oleh dokter, segera aku ke ruang administrasi dan mendaftarkan untuk kemoterapi hari esoknya. Kemudian aku kembali ke ruangan setefani dan melihatnya sedang menonton televisi.


“Bagaimana ??” katanya langsung ketika melihatku masuk ke ruangan.


“Kau akan baik baik saja, dokter menganjurkan untuk kemoterapi besok dan setelah itu kita akan pulang bersama.”


“... aku akan menemanimu besok.”


“Tidak perlu, aku tak apa... aku sudah akrab dengan perawat yang ada disini.” Katanya langsung menimpali.


“Tidak, aku akan tetap...”


“Please kak, aku tak apa... aku tidak ingin melihat kakak bersedih, kau bilang setelah ini kita akan pulang bersama.”


Aku menatapnya sambil berjalan untuk duduk di sebelah ranjangnya dan memegang tangannya yanh tidak diinfus, menyakinkan lagi. “Baiklah, tapi aku akan memanggil Gabriel.”


“Tapi...”


“Iya atau aku akan tetap menemanimu.”


Dia berpikir sebentar dan mengangguk kecil. Malam itu aku menemaninya dan tidur di tempat duduk yang ada di sebelah ranjangnya dengan menyandarkan kepalaku di ranjang.


Hingga tiba keesokan harinya, aku sudah siap dengan pakaian yang stefani bawa awalnya. Tidak lupa aku menghubungi Gabriel untuk datang siang nanti. Saat hendak berangkat ke kantor, dokter masuk untuk pengecekan rutin setiap harinya. Otomatis aku menunda untuk menunggu hasil dari doktet. Setelah beberapa saat, dokter mengatakan bahwa kondisi Stefani baik dan dapat melakukan kemoterapi nantinya.


Aku langsung berangkat kerja setelah dokter keluar ruangan, berpamitan dengan Stefani dan mengayakan bahwa Gabriel tetap akan menemaninya siang nanti.


Kulihat jam sudah pukul 09.37 waktu setempat. Aku tidak tau jika aku akan sampai tepat waktu. Jalanan hari ini padat seperti biasanya, dari mahasiswa, pegawai, orang tua, keluarga bahkan turis banyak terlihat menikmati pagi mereka.


Ketika sampai kantor, aku langsung menuju ruanganku dan langsung menyalakan komputer. Kulihat jadwal William hati ini, dan hanya ada satu pertemuan setelah makan siang nanti.


Aku tidak bisa fokus bekerja hari ini, pikiranku masih tertinggal di rumah sakit, ingin menemani Stefani saat ini. Hatiku sakit ketika tau bahwa senyuman yang dia berikan bukan senyum kebahagiaan. Aku merasa gagal menjadi kakak, aku tau dia menahan tasa sakit yang luar biasa setiap kali penyakitnya kumat.


Lamunanku terganggu saat tiba tiba mendengar dering telpon yang ada di depanku, tidak menunggu lama untukku menjawab yang ternyata itu William.


“Segera ke ruangan saya!.” Katanya langsung mematikan sambungan.


Kulihat telpon yang ada di tanganku, apa aku melakukan kesalahan? Apa dia marah karena aku terlambat hari ini?


Sebelum beranjak, kusempatkan untuk melihat ke kaca dan menemukan bekas air mata yanvh belum mengering. Tetnyata aku menangis, kuusap air mataku dan melihat semua sudah rapi kembali. Tanpa lama lama segera menuju ruangan William.


Aku masuk kedalam setelah mengetum pintu beberapa kali. “Ada ap..”


Aku tidak bisa melanjutkan ucapanku ketika melihat adegan di depanku. William yang sedang duduk dengan seorang wanita yang bergelanyut di pangukuannya, kulihat wanita itu terus menyerang William dengan beberapa ciuman di rahangnya, kulihat dia dari belakang dan dapat kupastikan bahwa wanita tersebut senang dengan apa yang dia lakukan, tapi wajah William menjelaskan sebaliknya.


Kulihat William melihatku, dan ekspresi awal yang menunjukkan keresahan, menjadi ssnyum kelegaan. Dia langaung berdiri, seolah barang kesukaannya datang hingga dapat mengalihkan apapun yang ada di depannya.


Seketika dia mendekat kearahku dan merangkulku, hal tak terduga lainnya dia mengecup pipiku ssbelum mengatakan kalimat yang membuatku ingin menonjoknya.


“Kau sudah datang sayang.”