
Kulihat Clayton berjalan kearahku, matanya menatapku dengan tajam. Aku segera mencari sesuatu agar aku dapat pergi dari sini. Kulihat sekitar dan kuputuskan untuk berjalan kearah belakang panggung, mengkonfirmasi apakah ada kendala dan lain lainnya.
Kembali lagi ke Clayton, dia terlihat tampan malam ini, sangat tampan menururku. Menurutku rambutnya yang lumayan panjang dirapikan ke belakang jadi terlihat rapi, itu daya tariknya.
Saat sudah sampai ke belakang pamggung, aku bertanya kepada panitia apakah microphon kecil sudah disiapkan untuk Mr. Wellington.
Saat sedang berbicara dengan salah satu panitia, kurasakan aura di belakangku semakin lama semakin mengintimidasi. Aku tahu tanpa harus berbalik siapa, tangannya terulur di sebelahku untuk mengambil micnya. Aku bisa mencium parfumnya yang khas, bau yang kucium saat memasuki ruangannya.
Aku dapat melihat tangannya sekilas di sampingku, dia memakai jam tangan berkilau yang kupastikan sangat mahal.
Aku kemudian menggeserkan badanku sehingga dia dapat melihat panitia dengan jelas dan agar aku tidak menutupinya.
Jujur aku masih sangat canggung dengan bos baruku ini. Aku tidak tahu ternyata dia pendiam, dari beberapa waktu aku datang ke ruangannya, dia jarang sekali bicara hanya menganggukkan kepala dan kukasih tahu beberapa kata yang sering diucapkan “baik”, “bagaimana perkembangan laporannya.”, “siapkan untuk rapat hari ini.” Monoton sekali.
“Tolong pasangkan.” Tiba tiba sebuah tangan yang kuperhatikan sedari tadi ada di depanku dengan microphone.
“Eh... baik sir.” Kataku dengan kaku.
Segera kuambil micnya dan aku berjinjit untuk untuk mencapai kerahnya. Parfum yang menggoda banyak wanita semakin tercium ketika aku mendekat ke lehernya. Kulihat dia menggerakka lehernya sedikit keatas agar aku lekuasa membenarkan micnya.
“Bisakah kau hanya memanggilku William saat tidak ada org lain, aku merasa kita tidak sejauh itu jaraknya.” Katanya sambil menatapku.
Untuk sekian kalinya aku tidak bisa mengalihkan mataku darinya, matanya terlalu cantik.
“Baik sir... eh william..” ucapku tergagap, asing dengan panggilan itu.
Dia kembali menatapku dan mengangguk sekali sebelum berlalu menuju panggung.
Aku kembali ke ballroom untuk menunggu pidato di mulai. Kuedarkan pandanganku mencari Clayton dan memastikannya tidak mendekatiku.
Kulihat William mulai naik kepanggung dan memulai pidatonya. Dia memakai setelan jas berwarna biru tu dengan dasi yang senada. Ewh... dimana dia mendapatkan dasi polos itu? Membuatnya terlihat kaku dan menambah kesan mengintimidasi.
30 menit kemudian dia turun setelah menyelesaikan pidatonya dan kembali berbicara dengan beberapa rekan kerjanya. Kuputuskan untuk menyapa juga beberapa orang yang kukenal merupakan rekan kerja juga.
Dan hal tersebut merupakan suatu kesalahan buatku karena kulihat Clayton datang dan bergabung dengan gerombolanku. Setelah banyak berbincang ternyata mereka perusahaan yang sama dengan Clayton. Aku berusaha untuk fokus dengan orang orang tetapi tidak nyaman karena aku tahu ada seseoranv yang menatapku terus sedari tadi.
Kemudian kurasakan hawa yang dingin dan mengintimidasi di sebelahku. Aku melihat sejenak dan ternyata itu Wilkiam yanh berdiri dekat denganku, dia menyalami tamu tamu yang berada di sekitarku dan mulai berbincang bincang. Tak sedikit juga yanh menanyakan kabar Mr. Wellington atau ayah William.
Entah kenapa semakin kesini semakin hilang hawa intimisasi yang William nawa, tapidi. gantikan dengan kenyamanan, aku merasa aman ada di sampingnya.
Ditengah perbincangan, aku memutuskan untu ke kamar mandi karena lelah bertemu bahyak orang. Tidak lupa setelah sampai toilet aku membenarkan make up, lipstik dan juga rambut. Kemudian saat hendak keluar, aku melihat seseorang masuk ke dalam toilet.
Itu Clayton!
“Apa yang kau lakukan disini?”
“Apa yang salah? Aku menemui kekasihku.”
Katanya sambil mendekat.
Aku berjalan mundur hingga terpojok di tembok kamar mandi.
“Kau pikir aku akan membiarkan kita berpisah gini saja?” katanya terus menyudutkanku.
“kau pikir aku akan kembali lagi padamu? Kau membohongiku, kau berhubungan dengan teman dekatku sendiri, kau membuatki kehilangan kekasihku! Kau membuatku kehilangan teman dekatku.” Aku sudah tidak bisa mengontrol emosiku, aku berusaha untuk lebih berani dan menatap matanya dengan emosi.
Aku tau dia orang yang peka, dia pasti tau emosi apa yang ada di mataku. Dia membalasku dengan tatapannya yang lembut, seolah olah dia tidak peduli dengan kemarahanku.
“Kau tidak kehilangan kekasihmu sayang, aku masih disini, aku masih mencintauimu, berikanku kesempatan lagi.”
“Pergilah dengan Stacy, aku tidak akan mengganggu kalian, aku membutuhkan waktu sendiri.”
“Jadi kau akan meninggalkanku?” tanyanya lirih.
Dia terdiam dan menunduk, kedua tangannya memegang kedua pundakku dengan kencang dan kemudian mengangkat wajahnya menatapku dengan jarak yang dekat dan emosi yang terlihat jelas.
“Kita tidak akan berpisah.” Kemudian ia menciumku, ******* bibirku dengan paksa. Tanganya yang semula di pundak berpindah ke kepalaku mekmaksaku untuk diam dan mencoba untuk membuka mulutku dengan lidahnya.
Aku terus berontak, kupukul dadanya, ku cakar pundaknya dan dia tetap tidak berkutik. Dia terus ******* dan kemudian menggigit bibirku membuatku meringis dan memaksa lidahnya memasukiku.
Air mataku mulai turun, aku mulai menangis dan memikirkan bagaimana cara untuk keluar dari kukungan Clayton.
Akhirnya kuinjak kakinya dengan high heels ku, kulihat dia mengerang dan memgang kakinya. Kulihat ada celah, aku berusaha menghindarinya dan berlari keluar. Tetapi aku kalah cepat karena Clayton segera mengejarku dan mendorongku ke tembok, hingga punggungku terbentur dengan ketas dan kepalaku sedikit terantuk tembok.
“Kau ingin menggunakan cara yang kasar rupanya.” Dia menatapku intens
“Ada apa denganmu Clayton, kau membuagku takut.” Kataku dengan badan mulai bergetar dan rasa sakit di beberapa bagian, air mataku masih mengalir dengan deras, aku benar benar takut saat ini.
“Kau cantik sekali, honey.” Dia menahan tanganku di kedua sisi kepalaku an berusaha ******* mulutku kembali. Kugeleng gelengkan kepalaku dan membuatnya semakin marah, dia mencengkram rahangku dan tetap memaksaku membuka mulutnya, dia berhasil.
Aku sudah tidak bisa berpikir jernih lagi, kurasakan tanganku sudah mulai melemas dan air mataku mengalir semakin deras, badanku bergetar dan sakit semua.
Kurasakan dia sudah tau kondisi tubuhku karena tangannya yang memegang tanganku di atas kepalaku dilepasnya dan berpindah meremas payudaraku.
Aku sudah pasrah, kepalaku pening, mungkinkah aku akan diperkosa oleh mantanku sendiri. Miris sekali jika memikirkan itu, kulihat toilet juga dari tadi tidak ada orang sama sekali, tidak ada orang lain yang masuk, tepat sekali waktunya.
Kurasakan tangannya mulai meraba kakiku naik hingga ke pahaku, mulutnya beralih mencecap leherku, tangannya yang satunya mencengkram leherku dengan kuat. Aku semakin memberontak dengan usaha yang sia sia ini, tenagaku tidak ada apa apa dibandingkan dengannya.
Brak...
Kudengar suara makian dan kurasakan tangan yang berada di pahaku menghilang dan tangan satunya yang ada di leherku tertarik sehingga leherku juga sedikit tertarik.
Akhirnya aku bisa leluasa menarik nafas, tubuhku akhirnya luruh kebawah dan aku terdiam untuk sesat melihat hal yang terjadi didepanku.
William yang sedang menghajar Clayton di ujung kamar mandi dengan satu tangan mencengkram kerahnya. Clayton yang sedang dihajar hanya menerima pukulan William sedangkan dia sendiri tidak mendapat waktu untuk membalas.
Aku mulai sadar dengan apa yang terjadi, aku menundukka kepalagu di kedua lututku dan tanganku yang memeluk kakiku, aku takut dengan kejadian pertarungan yang sedang terjadi. Aku malu, membiarkan bosku melihatku saat seperti ini, melihat sisi lemah dariku, memalukan!!
Kudengar beberapa langkah masuk ke dalam toilet karena pasti mendengar keributan didalamnya dan terjadi keributan setelahnya. Aku tidak begitu bisa mendengarnya, yang jelas beberapa saat kemudian aku mendangar suara keributan yang kian menjauh dan akhirnya menghilang.
Tetapi aku merasakan aura menenangkan dan parfum yang sangat kukenal tidak meninggalkanku. Kurasakan tangannya menyentuhku dan aku meringsut menjauh.
“Hey, ini aku William, it’s okay kau aman sekarang.” Katanya dengan nada yang sangat halus. Kurasakan tangannya mengelus rambutku dengan lembut.
Kurasakan jasnya tersampir di bahuku kemudian kehangatan dan wangi parfumnya berada di sekelilingku. Entah keberanian dari mana aku mulai mendongak dan menatapnya, kemudian aku memajukan tubuhku untuk memeluknya erat.
Kemudian kurasakan tangannya mengelus punggungku naik turun dan membisikkan beberapa kata menenangkan.
Aku rindu kedua orang tuaku, aku kehilangan mereka sejak ku kecil dan diurus oleh pamanku. Aku tidak memiliki tameng sejak dulu, tidak ada tempat untuk aku bercerita keluh kesah, bahkan dengan Clayton aku tidak menceritakan semua permasalahan hidupku.
Aku mulai memangis tersedu sedu di bahunya, menjadikannya tempat sandaranku untuk sementara. Kurasakan air mataku turun membasahi kemejanya yang putih bersih dan dia masih setia dengan mengelus punggungku.
Setelah cukup lama aku menangis, aku masih tetap memeluknya dan tangisanku berhenti. Aku mulai sedikit demi sedikit menjauhkan tubuhku dan tetap menunduk, takut untum melihat wajahya.
Satu tangannya berada di daguku dan mengangkat kepalaku. Dia melihat wajahku untuk memastikan sesuatu. Aku melihat ada noda di bahunya, dengan tidak sadar tanganku naik dan mencoba untuk mengusap noda tersebut.
“Ma.. maafkan aku, sir.” Kataku sambil mengusap bahunya.
Aku mendengat dia tertawa kecil, kuberanikan menatap mata indah itu dan berusaha berpikir apanya yang lucu?
“Kau memikirkan pakaianku? Apakah pakaianku dapat mengkhawatirkanmu?” katanya dengan wajah tersenyum.
Aku tidak bisa membalasnya, aku tidak tahu. Tapi satu hal yang aku sadari, semua wanita pasti akan jatuh cinta dengan pria satu ini, jika sudah mengenalnya, mungkin kau akan tahu seberapa gentle dia. Dengan wajah yang sempurna, dan prilaku yanh seperti ini, aki percaya dia dapat menklukkan hati setiap wanita.
“Kau sudah baikan? Ayo, kuantar pulang.” Katanya.
“Tidak usah sir, aku bis...”
“William, dan aku memaksa, ini perintah.” Dia bangkit dan membantuku juga untuk berdiri.
“Terimakasih..” balasku.
Aku berjalan disampingnya, dengan jasnya yang berada di bahuku. Kita berjalan keluar toilet wanita dan belok kanan. Saat berjalan aku tidak sengaja menendang tong sampah yang ada di depan kamar mandi.
Bunyi yang ditimbulkan cukup kencang untuk ruang sepi ini.
“Astaga,...” ucapku terkejut.
“Kau... memang tidak pernah berjalan dengan benar, apakah tong sebesar itu tidak terlihat?” katanya dengan nada menjengkelkan.
“Bukan salahku sir, salah tongnua yang ada di tengah.”
“Kau memang manusia paling aneh.” Katanya terkekeh dan memasukkan tangannya kedalam celananya.
Kita berjalan menuju lift dan turu ke lantai utama. Saat menunggu mobilnya diambil, kita menunggu di depan pintu utama hotel. Saat mobil sudah didepan kita, dia mulai berjalan memutari mobil hingga sampai bagian kemudi, kemudian dia masuk.
Aku tidak enak jika harua masuk terlebih dahulu, hingga kulihat kaca mobil uang turun dan menampilkan wajahnya yang sedikit menunduk dan berkata “cepat masuk.”
Kubuka pintu mobilnya dan segera masuk, saat diperjalanan kita berdua terdiam dan mengalihkan perhatianku ke arah luar mobil untuk melihat pemandangan luar.
Setelah hampir satu jam dalam perjalanan, akhirnya sampai di depan gedung apartemenku, aku mengucapkan terimakasih sebelum memegang handle pintu untuk keluar. Tapi kurasakan tangannya memegang lenganku.
“Tunggu...” katanya sambil menatap kedepan seolah berpikir.
“Ya??” tanyaku penasaran
“Hmm... Tidak jadi.” Balasnya.
Aku hanya menganggukkan kepala dan membuka pintu. Setelah keluar aku segera berjalan memasuki gedung apartemen dan menuju lift, di dalam lift aku melamun, memikirkan bagaimana hal seperti tadi bisa terjadi, kenapa Clayton menjadi seperti itu.
Setelah sampai di rumah, aku langsung mandi, bersih bersih diri kemudian mencoba untuk tidur. Walaupun pikiranku masih berada di kejadian beberapa waktu lalu, seketika aku mengingat interaksiku dengan William yang memebuatku senyum senyum sendiri.
Entah bagaimana bisa, memikirkannya membuatku mengantuk dan tidur.
...****************...
William POV
Apakah dia baik baik saja?
Ternyata selama ini bajingan itu adalah kekasihnya. Aku ingat malam hari ketika aku tidak sengaja bertemu Annabella di pintu lift apartemen mantanku. Aku melihatnya dengan mata sembab dan penampilan yang berantakan. Aku tidak tau harus bagaimana saat dia hanya berjalan setengah berlari menuju pintu keluar.Aku juga punya urusan yang harus kuselesaikan.
Yang kuingat sampai lantai atas dan aku memasukka sandi yang sampai saat itu belum dia ganti, aku masuk dan melihat apartemennya kosong. Dia bilang tadi di rumah.
Aku memutuskan keluar untuk melihat sekitar, dan aku melihat seorang pria keluar dengan tergesa dari pintu apartment yang tidak jauh. Dan aku melihat mantanku keluar dari ruang apartment, tidak usah diberitahu aku tau persis apa uang habis ia lakukan di dalamnua, bersama pria tadi.
“Willam...” katanya terkejut.
“Masuklah, kita harus menyelesaikan hubungan kita.”
Tidak kuhiraukan lagi dia, aku sudah muak dengannya, dengan entengnya dia selalu minta maaf dan melakukan kesalahan yang sama setiap kali.
Kita masuk dan pintu tertutup yang otomatis akan teekunci. Dia tiba tiba memelukku dari belakang. Dia mengatakan maaf berulang ulang, aku hanya berusaha melepaskan pelukannya dengan lembut. Semarah marahnya aku dengan wanita aku tidak akan sampai hati untuk berbuay kasar.
“Tidak usah minta maaf, kau sudah melakukannya berulang kali.”
“Bisakah kita memeperbaikinya? Hubungan kita.”
Aku terdiam, kemudian menggeleng untuk menunjukka jawabanku.
“Aku sudah tidak mencintaimu, kita tidak bisa melanjutkan hubungan seperti ini.”
“Apakah hubungan kita selama ini tidak berarti bagimu, apakah semudah itu kau akan berpisah?”
“Harusnya kau yang menanyakan itu kepada dirimu sendiri, selama ini aku tahu kau selali bertemu dengan tetanggamu itu dibelakangku.”
“itu tidak benar, kami hanya berteman.” Katanya masih mengelak hingga saat ini.
“Teman tidak ada yang tidur bersama.”
“Kita tidak tidur...”
“Kurasa penampilan temanmu menunjukka sebaliknya..”
“Apakah kau sudah memiliki yang lain?”
“Bukan urusanmu.” Kataku sebelum berjalan menuju pintu keluar.
Saat aku hampir sampai di pintu keluar, aku mendengar dia berteriak. Dan kulihat dia menaruh pisau di pergelangan tangannya. Yang selama ini tidak diketahui orang orang, Stacy memiliki penyakit gangguan mengendalikan emosi, aku tahu dia memiliki masa lalu yang kelam, dimana kedua orang tuanya bercerai dan dia kehilangan kedua kasih sayang orang tuanya, walaupun dia tetap mendapatkan kemewahan orang tuanya, tetapi memang harta tidak cukup. Baiklah, aku harus menghadapi ini.