My Jerk In Suit

My Jerk In Suit
Chapter 5



William POV


Beberapa hari telah berlalu semenjak kejadian malam itu, aku melanjutkan aktivitasku seperti biasa, berangkat kantor, pulang, tidur.. begitu seterusnya.


Hari ini merupakan hari dimana aku akan menggantikan ayahku secara resmi. Sudah kusiapkan beberapa hari yang lalu mengenai pidato yang akan kisampaikan.


Dengan adanya acara ini juga membuat beberapa hariku terakhir bertambah tumpukan file yang harus aku kerjakan.


Sore hari aku berangkat menggunakan mobil pribadiku tanpa supir, karena memang dari dulu aku lebih suka menyetir sendiri, supir pribadi hanya suruhan orang tuaku.


Segera kuserahkan kunci mobilku untuk parkir vallet setelah sampai, dan langsung keatas menuju ballroom. Kulihat sudah banyak orang yang telah datang. Segeta kulangkahkan kakiku untuk menyapa beberapa kolega bisniss.


Kuedarkan pandanganku kesekeliking ruangan, mencari seseorang. Seseorang yang beberapa hari ini telah membuatku teralihkan dari pekerjaan. Yang dia tidak tau selama ini, aku sering mengamatinya lewat cctv. Harusnya dia sudah datang sekarang, mana ada bos sampai duluan.


Kusalami semua tamu yang hadir saat itu, penting sekali membangun image di acara seperti ini. Ayahku saat ini masih butuh bedrest di rumah, kondisinya melemah karena memang ayahku yang seorang pekerja keras membuat keadaannya memburuk.


Acara hampir mulai, dan aku masih berbincang dengan kolega bisnis, pakaian rapi dan dress mewah menjadi seragam hari ini.


Ketika sedang berbicara, aku melihat anna yang sedang memegang minumannya di sudut ruangan, yang kemudian dia berjalan menuju ruang belakang panggung.


Merasa ingin mengikutinya, segera aku berpamitan dengan lawan bicaraku san berjalan menuju tempat dimana Anna menghilang.


Ketika beberapa langkah kuambil, seseorang berdiri tepat di depanku dengan senyum lebar. Aku tahu sampai sekarang aku belum bisa menyingkirkannya, dia tetap kekeh jika tidak ingin berpisah denganku.


“Hai, mau kemana?” Tanya Stacy, sia mengenakan gaun berwarna biru tua dengan sobekan hingga ke pahanya, membuatnya teelihat seksi di maga orang orang. Stacy selalu seperti itu, dia ingin mendapatkan perhatian orang.


“Minggirlah, acaranya akan mulai sebentar lagi.” Kataku mencari celah untuk menghindarinya.


“Aku tidak akan pergi sebelum kau memaafkanku.” Katanya dengan tangan terlentang, seolah tidak membiarkanku lewat.


“Tidak ada yang dimaafkan, kita adalah masa lalu, tidak akan kembali seperti dulu.” Jawabku.


“Kita akan bersama, aku akan memperbaiki ini.” Katanya setelahnya. Kemudian aku mendengar ada seseorang yang memanggilnya membuatnya menoleh dan tidak memperhatikanku lagi.


Kesempatan ini kugunakan untukberjalan melewatinya. Kudengar suaranya yang memanggilku tetapi aku mendengar ada orang lain yang menghalanginya. Kerja bagus, Vector.


Yap, Vector adalah orang kepercayaanku, dia sudah lama bekerja denganku hingga aku juga mengenal keluarganya. Selama ini memang Vectorlah yang membantuku membereskannya. Contohnya sekarang, aku memang sangat suka dengan kepekaannya.


Akhirnya aku sampai di belakang panggung dan segera mencari Anna, sebenarnya aku tidak tau apa yang akan kukatakan, tapi aku hanya ingin melihatnya dari dekat.


Aku melihat seorang wanita yang kukenal sedang memunggungiku karena sedang berbicara dengan seseorang, aku segera menghampirinya dan berhenti tepat dibelakangnya.


Aku mengagumi betapa cantik wanita didepanku ini, dengan gaunnya yangtidak panjang sampai kaki melainkan selutut dengan bagian belakang yang lebih panjang, menjadikan semha orang bisa melihat kaki jenjangnya.


Kulitnya yang terkena cahaya lampu ballroom membuatnya terlihat lebih cerah dari biasanya. Aku menyadari dia terkejut dengan keaberadaanku. Dengn sengaja kumajukan badanku hingga hampir menempel di punggungnya dan mengangkat tanganku untuk mengambil mic.


Sepertinya panitianya sudah tau dengan tugasnya karena juga langsung memberikanku mic untuk kupakai.


Kulihat dia bergeser untuk memberiku ruang, dan aku mukai berbincang dengan panitia yang ada di depanku ini, aku menanyakan rundown acara hari ini, dan memastikan apakah semua sudah siap.


Anna berada di sampingku dengan pandangan entah kemana, apa yang sedang dia pikirkan?


Aku berjalan kearahnya dan terus menatapnya, kuulurkan tanganku yang memegang mic dan memintanya untuk memasangkannya.


Dia mendekat dan jinjit di depanku, aku sedikit menaikkan kepalaku supaya dia lebih leluasa memasangkannya. Aku mencium parfumnya yang manis, dan kurasakan jari jarinya yang menyentuh pakaianku, jarinya yang kecil dan panjang.


Yang tidak kusadari aku menahan nafasku beberapa detik dan kurasakan dadaku berdetak dua kali lebih cepat dari biasanya. Kulirik wajahnya yang sedang serius memasangkan mic di kerahku, dan bibirnya yang merah, pasti dapat mencuri banyak perhatian pria di tempat ini.


Semakin lama pikiranku semakin entah kemana, aku harus fokus dengan pidatoku nantinya. Setelah dia selesai dengan kerahku, langsung kulangkahkan kakiku menuju panggung dan memulai pidatoku sebagai pimpinan baru.


Setelah selesai, dengan pidatoku, aku menyuruh semua orang untuk menikmati hidangannya. Kuturun dari panggung dan kembali menyapa beberapa tamu penting hlyang belim sempat aku sapa sebelumnya.


Yang membuatku kesal, Stacy kembali hadir dan gabung dengan grup obrolanku, kenapa dia tidak bisa sekali saja tidak menngangguku. Dengan tubuhnya yang dia dekatkan denganku sehingga bersentuhan, membuatku tidak nyaman dan semakin bergeser.


Aku berpamitan dan kembali menyapa yang lainnya, hingga aku berherti di tempat Anna berada, yang kusadari, ternyata ada seseorang yang kutahu sebagai kekasih Anna berada disitu. Segera kudekati gerombolan itu dan menyapa tamu tamu yang ada.


Darisini aku menyadari bahwa orang yang ternyata kekasih Anna merupakan salah satu pegawai rekan kerjaku. Aku mengetahui info tsb karena Vector. Aku menyuruhnya untuk mencari tentang pria yang Stacy tiduri awalnya, tetapi berbuntut hingga menemukan informasi lainnya yaitu dia merupakan kekasih Anna.


Aku mengambil wine yang dinampan pelayan dan menghabiskannya selagi berbicara. Dan lagi lagi aku melihat Stacy berjalan kearahku, merasa tanda bahaya, aku segera pamit dan berjalan berkeliling lagi.


Dan yang kusadari aku tidak melihat lagi Anna dan Clayton. Kucari ke sekitar tidak menemukan dua batang hidung manusia itu.


Aku memutuskan untuk berjalan ke kamar mandi, lorong yang kulewati memiliki pembatas kaca dengan dunia luar, jadi kita bisa melihat kecantikan kota, kemacetan yang sampai jam segini masih terjadi.


Saat aku hampir sampai ke toilet umum, kudengar seperti suara bentutan dan erangan di daLm kamat mandi.


Semakin mendekat semakin mendengar suara terbut dengan jelas, bukan erangan kenikamatan melainkan erangan kesakitan yanh kian terdengar.


Segera kucepatkan langkahku dan melihat pintu kamar mandi wanita yang tertutup. Segera kubuka dengan kencang dan aku melihat pemandangan yang sangat membuatku terkejut.


Kulihat Clayton yang sedang mencekik dan mencumbu Anna yang sedang memberontak. Suara sesenggukan Anna yang terdengar makin mengecil dan aku tau itu tidak menunjukkan keadaan yang membaik.


Kutarik kerahnya dengan satu tanganku dan tanganku lainnya mulai menghajar mukanya. Kubenturkan dia ke pintu bilik kamarmandi menyebabkan engselnya satu rusak.


Tidak ada yang kupikirkan saat ini selain menghancurkan bajingan satu ini, entah mengapa aku merasakan dadaku memanas dan rasa rasa dendam juga marah, sangat marah.


Aku terus menghajarnya hingga aku merasakan sepasang tangan menarikku paksa dan mencoba untuk menghentikan aksiku.


Aku masih memberontak dan melihat vector yang ada di depanku dengan mendorong bahuku mejauh sambil menyadarkanku untuk tidak lanjut memukul.


Entah bagaimana sekarang aku yang disudutkan di dinding kamar mandi dan ada beberapa orang masuk dan menggeret Clayton keluar dengan muka yang babak belur. Dia tidak kuberikan kesematan untuk membalas pukulanku.


Aku terus melihat kearah bajingan itu dengan muka bengisku, hingga mereka membawanya keluar dari kamar mandi dan aku tidak bisa meliatnya.


Seketika pandanganku terfokus ke seseorang yang telah luruh kelantai dan menangis. Aku tidak tega melihatnya, kenapa pria tadi tega melakukannya.


Kuberjalan kearahnya dengan perlahan dan berjongkok di depannya. Aku berusaha menenangkannya tetapi yang kudapatkan dia yang bergerak menjauh dengan badan gemetar.


“Hey, ini aku William, it’s okay kau aman sekarang.” Kataku selembut mungkin. Kuperhatikan selalu reaksinya, kulihat dia semakin tenang dan kuangkat tanganku untuk mengelus rambutnya. Halus.


Tiba tiba dia memelukku dengn erat, aku masih bisa meraskan bahwa tubuhnya saat ini sedang bergetar ketakutan. Kubalas pelukannya dengan erat. Kusandarkan kepalaku d kepalanya dan kupejamkan mataku, merasakan pelukan hangat seorang Annabella.


Dia menangis dipelukanku, keluar semua air mata yang ia pendam. Hatiku seperti diremas, seolah olah aku dapat merasakan emosi yang sedang dia rasakan.


Kupeluk dia terus hingga tangisannya reda dan juga gemetarnya berlahan mulai menghilang. Hingga akhirnya dia mulai menjauhkan diri dan mulai menunduk, melihat ke lantai.


Kuangkat wajahnya supaya aku dapat melihatnya, tetapi hal yang tak aku duga sama sekali, dia lebih fokus ke noda yang ada di kemejaku. Baru kali ini aku melihat seorang wanita yang sedang dalam keadaan seperti ini dan lebih mementingkan pakaian orang lain daripada penampilannya.


“Ma.. maafkan aku, sir.”


“Kau memikirkan pakaianku? Apakah pakaianku dapat mengkhawatirkanmu?” kucoba untuk melucu sedikit.


Setelah beberapa saat, aku menawarinya untuk kuantarkan dia pulang, awalnya dia menolak, tetapi aku memaksa dan akulah pemenangnya. Bos tetaplah bos, aku bisa menggunakannya dalam keadaan ini.


Kita berjalan keluar kamar mandi, aku sedang memikirkan apa yang sedang terjadi tadi ketika aku mendengar suara yang lantang dan aku melihat dia ssedang membenarkan letak tong sampah itu, bagaimana dalam kondisi sepert ini, dia masih sempat bersikap ceroboh.


Kita berjalan menuju lobby bawah dan menunggu vallet untuk mengabil mobilku. Aku tau awalnya dia ragu ragu untuk kuantarkan pulang, bahkan dia ragu untuk masuk ke dalam mobilku jika aku tidak menyuruhnya masuk.


Selma perjalanan, tidak ada satupun dari kita yamng memulai pembicaraan, kita berdua menikmati kesunyian ini. Kulirik dia dan dia sedang melihat kearah luar jendela mobil.


Ingin kubuka keplanya dan melihat isinya, kenapa sepertinya dia memiliki banyak masalah. Apa saja yang dia pikirkan di dalam keala kecilnya itu.


Walaupun selama perjalanan hanya diam, tetai aku menikmatinya. Ada sesuatu yang ingin kutanyakan tapi aku ragu apa dia akan membalasnya atau akan membuatnya merasa tidak nyaman.


Bagaimana reaksinya jika mengetahui bahwa orang yang selingkuh dengan pacarnya adlah mantanku sendiri, apakah dia akan juga membenciku?


Tidak terasa perjalanan ini harus berakhir karena sekarang sudah sampai di depan gedung apartemennya.


Saat dia sedang memegang handle pintu untuk keluar, secara reflek aku memegang tangannya. Seolah tanganku memiliki jaln pikirannya sendiri.


“Tunggu..” kataku tetapi aku terus menghadap kedepan, karena aku tidak bisa mengedalikan detak jantungku.


Setelah beberapa detik aku menggenggam tangannya, aku mulai tersadar dan melepaskan tangannya.


Aku bahkan tidak sadar ketika dia menjawab perkataanku.


“Hmm... Tidak jadi.” Hanya itu yang bisa aku katakna.


kubiarkan dia keluar dan aku langsung melajukan mobilku kembali untuk pulang ke rumah. Dalam perjalananku aku menelpon Victor, kupastikan agar Clayton bastard itu tidak akan menunjukka batang hidungnya didepanku lagi, setidaknya aku tidak ingin dia menjadi wakil perusahaannya untuk pertemuan denganku.


...****************...


Pagi harinya aku berangkat bekerja seperti biasanya, kuyalakan komputerku dan mulai kubuka berkas berkas yang belum sempat aku liat.


Kulihat Anna taci sudah berada di mejanya, dan aku hanya melewatinya dan tersenyum kecil sebelum masuk ke dalam ruanganku.


Jam menunjukkan hampir makan siang ketika aku mendengar sedikit suara ribut di luar dan akhirnya melihat pintu ruanganku terbuka dan kulihat Stacy masuk dengan security di belakangnya.


Apa lagi yang akan dia lakukan hari ini, tidakkah dia punya banyak pekerjaan yang bisa dilakukannya. Kemudian kemana Anna, apakah dia tidak mengetahuinnya.?


“Maafkan kami sir, kami sudah menyuruh nona ini untuk tidak masuk karena anda sedang tidak ingin diganggu, tetapi nona ini menolak.” Kata salah satu security ketakutan.


Aku sadar saat ini aku sedang menunjukkan raut wajah yang tidak enak dilihat, dapat kurasakan mood ku berubah drastis menjadi tidak bersemangat saat ini.


“Tinggalkan kami berdua.” Kataku sambil menunjukka gestur bahwa aku tidak apa apa. Lagipula juga bukan security tersebut yang salah.


Saat sedang ingin berdiri dan mengahampirinya. Aku mendengar ponselku bergetar tanda panggilan masuk. Kulihat “pop” muncul di layar ponselku. Langsung, kuangkat panggilannya tanpa menunggu. Semoga tidak asa hal buruk yang terjadi.


Tetapi satu pertanyaan yang muncul saat pertama kali kuangkat panggilan.


“Kau benar akam bertunangan dengan pacarmu??!!”