My Jerk In Suit

My Jerk In Suit
Chapter 7



Pagi hari aku sudah dijemput di depan gedung apartemen. Matahatri belum muncul, namun jalanan sudah padat, orang orang berjalan masih menggunakan jaket mereka yang tebal. Banyak orang juga yang sedang berlari, berjalan dengan kopi ditangannya, jalan dengan peliharaan mereka.


Kumasukkan barangku ke dalam bagasi mobil yang sudah terparkir di depanku. Saat ini supir biasa yang sering digunakan oleh orang orang kantor.


Perjalanan cukup panjang, membutuhkan waktu sekitat 1 jam 15 menit, dan aku melanjutkan tidurku di dalam mobil. Terasa mobil telah berhenti, aku melihat sekitar dan benar, sudah sampai.


Saat keluar dari mobil, aku disambut vector yang sudah menungguku di depan mobil sambil menelpon seseorang. Dia membantuku mengeluarkan dan membawa beberapa barang yang kubawa. Dia menberiku info bahwa William telah menungguku Lounge airport.


Kuracik coklat hangat dan tak lupa aku mengambil beberapa roti untukku sarapan, dan melihat pemandangan luar yang mulau ada sedikit cahaya matahari.


Kulihat William yang duduk di hadapanku dengan kaki di atas kursi di sampingku, dia terlihat santai dengan kaos dan juga celana pendek, dipadukan dengan sepatu warna coklat muda yang membuat kulitnya terlihat lebih cerah. Rambutnya yang tidak disisir rapi, membuatnya terlihat seksi 10x lipat menurutku.


Setengah jam kemudian, ada pramugari datang dengan tubuh bak model mendekagi William dan membisikkan sesuatu ditelinganya, dan dijawab anggukan oleh William.


Kemudian William bangkit dan menginstruksikan bahwa pesawatnya sudah siap. Aku dengan otomatis mengekor William dibelakang dan kami semua memasuki pesawat.


...****************...


Kurasakan pesawat yang kunaiki bergoncang, dan kurasakan seseorang mendorong kepalaku dengan jarinya. Mataku setengah terbuka dan menguap, aku meregangkan tanganku dan melihat sekitar, kulihat sebelahku dan sekat pembatas antar penumpang terbuka, memperlihatkan William yang sedang mengenas beberapa barang dan memasukkannya ke dalam tas tangan yang dibawanya.


“Cepat atau kutinggal.” Katanya sambil berdiri dan meninggalkan tempat duduk.


Kenapa dia selalu jutek seperti ini, mulailah harimu dengan senyuman Annabella. Kuangjat tas yang kuletakkan di meja sampingku, untuk aku tidak sempat mengeluarkan apapun selama perjalanan.


Saat memasuki pesawat dan mulai lepas landas, aku sudah menyiapkan diri untuk tidur kembali, melanjutkan istirahatku yang sebelumnya sempat terpotong. Dan sebenarnya aku memang merupakan tipikal yang mudah tidur dimanapun dan kapanpun. Aku bahkan oernah tertidur di toilet saat high school dulu.


Perjalanan membutuhkan waktu sekitar 1 jam untuk mencapai hotel yang dituju.


Dan hanya ada waktu 2 jam untuk bersiap dan meletakkan barang sebelum ada pertemuan dengan Mr. Weser. Kukirim beberapa email dan juga proposal yang diperlukan untuk rapat tersebut, dan juga reservasi tempat yang sudah diberitahu William.


2 jam kemudian aku baru selesai untuk bersiap, dan juga ponselku yang terus berbunyi yang kupastikan William.


Selama rapat berjalan, aku sudah tidak bisa berpikir jernih, perutku berbunyi, kepalaku mulai pusing, kulihat William yang sedang berdiskusi dengan Mr. Weser mengenai saham mereka dan aku hanya mencatat poin poin pentingnya saja. Kulihat vector juga sedang memperhatikan bosnya berdiskusi.


Kualihkan pandanganku ke layar proyektor sebelah kananku dan melamun. Jujur, aku masih sering memikirkan Clayton, walaupun dia membuatku takut sekarang, rasanya kenangan yang hampir 3 tahun bersama ini, seakan lenyap, tergantikan oleh kejadian terakhir kalinya dia melakukan sesuatu padaku di toilet waktu itu.


“Miss Philip.” Kudengar suara samar memanggilku, kuhiraukan suara itu.


Saat kulihat adad seseorang menghentikkan tangan tepat di depan wajahku, yang pastinya orang itu sudah kesal denganku.


Kuangkat pandanganku dan kutemukan Vector yang berdiri disebelahku, William ternyata juga sudah berdiri dari kursinya dan sedang berjabat tangan dengan Mr. Weser. Aku bangkit dan juga berjabat dengannya, menunggu tamu keluar dan kembali duduk untuk menyelesaikan beberapa catatan hasil rapat.


Beberapa saat kemudian, aku keluar mengikuti Vector dan William. Kuputuskan untuk ijin ke kamar terlebih dahulu karena aku ingin beristirahat sebentar. Dan benar saja, setelah sampai kamar, aku langsung merebahkan tuhuhku di sofa depan televisi dan langsung terlelap.


Kubuka mataku perlahan, aku sudah tidak bisa merasakan leherku lagi, memang pintar, lebih memilih sofa dibanding kasur yang hanya berjarak beberapa langkah.


Aku lupa untuk makan kalau tidak diingatkan oleh suara perutku, kuputuskan untuk mendatangi restoran yang ada di lantai tiga. Model restoran hotel ini semi outdoor, jadi kita bisa memilih mau di balkon atau di dalam ruangan.


Aku memilih tempat duduk yang ada di pojok kaca supaya dapat melihat pemandangan kota. Walaupun ini hampir tengah malam, suasana kota belum sepi sama sekali, seakan kota ini seakan tidak ada waktu untuk beristirahat.


Kupesan seporsi spaghetti carbonara dan segelas lemon tea hangat. Sekitar 45 menit aku menghabiskan waktuku di restoran, sebelum bangkit dan ingin berjalan jalan. Waktu telah menunjukkan tengah malam, tetapi suasana hotel ini yang lumayan sepi, kupeluk bagian depan tubuhku menggunakan cardigan sambil berjalan di pinggir kolam renang.


Sambil melangkah mengikuti alur kolam renang, di bagian pojok aku melihat punggung seseorang yang tidak asing bagiku. Dia sedang tertunduk dengan satu tangan menjadi bantalan kepala, dan tangan lainnya memegang gelas kaca, yang tentu saja isinya alkohol.


Kudekati dia, dan benar saja itu William, apakah dia mabuk?


“William?” kataku pelan sambil menepuk pelan punggungnya. Dia hanya membalas dengan deheman, sepertinya memang benar dia sudah mabuk.


Kemudian kuarahkan pandanganku ke bartender yang ada di depan. “sudah berapa banyak dia minum?” kataku.


“Hampir dua botol.” Jawabnya sambil menunjukkan 2 jarinya dan membersihkan gelas.


“Sir... ayo kuantar ke kamar.” Kataku masih mengguncang bahunya.


“hmmm?? Sir lagi?? Kukira aku audah mengajarimu.” Katanya dengan suara lirih, aku harus mendekatkan kepalaku supaya bisa mendengarnya. Kemudian dia mengangkat kepalanya dan menghadap kepadaku. Dengan rambutnya yang berantakan, sudah kukatakan dia berpuluh puluh kali lipat hot.


“sini, duduk di depanku.” Dia menepuk nepuk kursi yang ada di depannya, dan aku menurutinya, kududuk tepat di depannya. Aku hanya melihatnya, begitupun sebaliknya. Aku tau dia sudah tidak begitu sadar, pastilah besok dia akan lupa. Kugunakan kesempatanku untuk terus melihat mata tajamnya, kapan lagi aku dapat bertatap tatapan seperti ini dengan bosku yang tampan seperti ini.


“Kau... apakah baik baik saja?” tanyanya sambil memainkan gelas yang masih berisi minuman. “maksudnya?” tanyaku balik tanpa nelepaskan pandanganku dengannya. Dia hanya tersenyum dan menggeleng gelengkan kepalanya. Dia kembali menghadap depan dan memutus kontak mata kita, saat dia mengangkat tangannya ingin kembali minum, langsung kurebut gelasnya langsung kutegak habis semua air yang ada di dalamnya.


“wow... kau ternyata juga suka alkohol ya..” dia menatapku dengan tatapan terkagum khas orang mabuk, yang pada kenyataannya aku zero control untuk alkohol dan aku meminumnya hampir satu gelas full. Dan badanku sekarang terasa mulai enteng.


“Ayo sir... kuantar ke kamar, besok masih ada beberapa pertemuan yang harus didatangi.” Sebelum aku tidak kuat!! Tidak mungkin aku meninggalkan bosku seperti ini dalam keadaan tidak sadar.


“Bentar... sebelum pergi, kita harus cheers dulu, merayakan pertama kalinya kau menemaniku di bar.” Aku mencoba menolaknya tetapi tetap saja seorang William Wellington dalam keadaan apapun, tetap melakukan apapun. Kulihat dia memesan sesuatu ke bartender dan mendapat anggukan. Kemudian 2 porsi minuman dengan gelas berbentuk segitiga panjang datang dan menyodorkan satu untukku.


“ayok, Cheers.” Katanya sambil mengangkat gelasnya, menungguku juga mengangkat gelas dan mendentingkan kedua gelas kita. Langsung tanoa lama langsung kuhabiskan minuman itu, first impression ku rasanya enak, sangat. Dibanding minuman yang aku minum dari gelas William, ini jauh lebih enak. Tapi tubuhku serasa langsung menolak.


Sebelum aku juga mulai hilang kendali, kutarik lengan William menyeretnya untuk bangkit dan kembali ke dalam hotel.


Kulihat dia berjalan sudah agak sempoyongan dan tidak berjalan dengan tegak. Kuputuskan untuk melingkarkan lengannya di pundakku dan aku memegang tangannya, sedangkan satu tanganku yang lain melingkar di pinggangnya. Aku bertahan dengan posisi seperti itu sampai dalam hotel dan masih menunggu lift untuk turun dulu.


Saat di dalam lift, kurasakan kesadaranku mulai menghilang perlahan, mataku terasa berat dan kepalaku mulai berputar. Urghh.. kenapa orang orang suka mabuk seperti ini.


Dan endingnya kita saling menuntun, pertama aku menuju ruangan William dan mengambil kartu yang ada di jaketnya sebelum menempelkannya di pintu untuk masuk. Tepat setelah kita masuk dan aku menutup pintu dibelakangku, kulihat William yang awalnya merangkulku, langsung beediri tegap dan memojokkanku di pintu.


Dia menatapku dengan pandangan intens dan kemudian mendekatkan wajahnya adaku sebelum berbisik. Aku tidak dapat mendengar secara jelas apa yang dia ucapkan, yang aku dengar hanya kata “cantik.” Sebelum dia mendekatkan wajahnya dan menciumku dengan lembut.


Aku terkejut, benar benar tidak mengira akan menjadi seperti ini, kudorong dadanya yang jelas tidak akan mengubah apapun. Tubuhku berkhianat denganku, tanganku terangkat dan mengacak acak rambutnya. Dan hal terakhir yang kuingat adalah dia semakin mendekatkan tubuhnya denganku, semakin memelukku dengan erat.


...****************...


Hal pertama yang kurasakan adalah rasa pusing yang sangat dominan di tubuhku, aku mengerjapkan mataku beberapa kali sebelum menyesuaikan dengan cahaya matahari yang masuk kedalam kamarku.


Kuregangkan tanganku keatas, tetapi tanganku bersentuhan dengan sesuatu yang lembut, terlalu malas untuk melihat kebelakang, kusentuh benda tersebut dan kuusap, halus seperti rambut. Saat kesadaranku mulai terkumpul, kurasakan juga sepasang tangan memelukku dari belakang dan ada dengkuran halus diatas kepalaku.


Kesadaranku mulai terkumpul dan mengingat kejadian malam kemarin, aku balik ke kamar, tidur, bangun karena lapar, makan ke restoran hotel, berkeliling, melihat William mabuk, membawanya ke dalam kamar dan kita....


Kututup mulutku dengan kedua tanganku, aku tidak mengingat lagi aoa kejadian setelah itu, yang jelas, sekarang aku disini tidur sekasur dengan bsosku. Segera kulihat ke dalam selimut dan benar saja, aku hanya memakai kemeja William yang semalam dipakainya,dan aku melihat tangan yang memeluk perutku.


Kudongakkan kepalaku keatas dan melihat wajah damai William yang terlihat lelah, seakan dia memikul seluruh masalah yang ada di dunia. Aku tetap tersijir dengan ketampanannya, apalagi dengan keadaan tidur seperti ini, menghilangkan aura dominannya dan digantikan oleh wajah damai seorang Wellington.


Kulihat dia mengerutkan keningnya beberapa kali, mungkin dia sedang bermimpi. Kuangkat tanganku dan mengelus kerutan yang ada di dahinya, seakan dapat menghilangkannya. Dan seketika aku sadar dengan apa yang aku lakukan. Dia mengambil kesempatan dalam kesempitan !! Dia membuatku mabuk !!


Kusingkirkan tangannya dari tubuhku, kuambil semua pakaian yang berserakan dan segera memakainya. Sebelum keluar dari kamar, kubalikkan lagi tubuhku untuk melihat William yang masih tertidur, tidak menghiraukan keadaan sekitar.


Kembali ke kamar, aku langsung masuk ke kamar mandi dan membersihkan tubuhku. Saat membilas tubuhku di bawah shower, otakku kembali berputar dengan kejadian semalam, bagaimana aku bisa berakhir satu ranjang dengan bosku sendiri, mau di taruh dimana muka ini.


Hatiku berdebar ketika melihat wajah tertidurnya pagi ini, aku ingin marah, ingin sekali. Tetapi kenapa rasanya tidak sesakit saat Clayton ingin memperkosaku. Kuselesaikan mandiku dan kembali ke kasur untuk melanjutkan tidurku.


Siang harinya, ada pertemuan untuk tanda tangan kerja sama. Disini aku sudah di dalam ruangan untuk menunggu yang lain datang. Beberapa saat setelahnya Vector datang dengan William yang ada di belakangnya menggunakan setelan jas rapi dengan rambut yang ditata dengan rapi.


Setelah 2 jam pertemuan selesai, aku sengaja keluar duluan setelah tamu yang dagang karena memang aku masih merasa canggung dengan William, aku ingin menghindarinya sesaat. Dan sepertinya dia juga paham dengan aku yang menghindarinya.


Karena saat aku ingin masuk kembali ke kamarku, kurasakan tanganku ditarik seseorang, tidak keras maulun tidak lembut juga. Dan aku kembali masuk ke dalam ruangan yang meninggalkan memori kurang mengenakkan semalam.


Kupandangi lantai karena aku tidak mau menatap wajahnya. Dan aku tau dia sedang menatapku dengan intens.


“Kena kau..”