My Jerk In Suit

My Jerk In Suit
Chapter 3



Annabella POV


Kami berpandangan selama beberapa saat, kepalaku yang penuh dengan bebagai pertanyaan berhenti setelah sadar dia juga menatapku. Dan sekarang jantungku yang berdebar karena dua mata biru yang menatapku.


“Miss Phillip.” Dia memecah keheningan lalu membenarkan letak kacamatanya.


“Kau... Mr. Wellington?” tanyaku ragu ragu, kulihat lagi papan nama yang ada di mejanya, dan benar saja, tetap tertulis “Willian Wllington”. Ia mengenakan setelan jas berwarna biru tua dengan kemeja putih sdengan dasi berwarna hitam. Rambutnya yang hitam ditata rapi kebelakang. Ekspresinya yang datar, setengah terkejut atau marah membuatku menciut.


“Benar.. Aku atasanmu mulai sekarang.” Dengan tegap dia melipat kedua tangannya diatas meja. “Dan sepertinya pertemuan awal kita tidak mengenakkan, aku yakin kita belum perkenalan secara resmi.”


Ia kemudian berdiri perlahan dan mengulurkan tangannya kepadaku. Aku dapat dengan jelas merasakan aura berbahaya darinya, ditambah dengan tatapannya yang tajam terhadapku membuatku merasakan sesuatu yang aneh dalam diriku. Kuulurkan tanganku dengan perlahan dan membalas jabatannya.


“William Wellington.” Ucapnya sambil menggenggam tanganku erat. Dapat kurasakan tangannya yang besar melingkupi tanganku yang kecil dengan sempurna. Kurasakan kehangatan yang berasal darinya.


“N’abell.. um, Annabella Phillip.” Hilang sudah keterkejutanku tadi, digantikan dengan rasa gugup yang tiba tiba menjalar.


“Annabella, Bella.” Ucapnya seperti menyakinkan dirinya sendiri.


Kurasakan dia melepaskan jabatan tangannya, dan seketika aku merasa ada sesuatu yang hilang. Ia menatapku beberapa saat, sebelum kembali duduk dan berada di posisi semula.


“Kuharap kita bisa bekerja dengan baik kedepannya, Miss Phillip. Terimakasih dokumennya, kau boleh kembali ke ruanganmu.” Dia kembali fokus ke dalam pekerjaannya dan tidak menghiraukanku.


Kutundukka badan sebelum aku berbalik dan mulai berjalan menuju pintu keluar yang tepat di depanku. Sebelum aku keluar kudengar dia kembali memanggilku.


“Miss Phillip, tolong berikan berkas ini di lobby dan ambilkan beberapa barang yang ada di gudang, aku sudah memerintahkan orang yang ada di sana menyiapkan barangku.”


“Baik, sir..”


Kuambil berkasnya di atas meja dan kembali berjalan keluar ruangan.


Sesaat setelah aku memberikan berkasnya di lobby, aku segera berjalan kembali menuju gudang yang ada di lantai bawah. Betapa terkejutnya barang yang diminta akan sebanyak ini.


Kulihat ada beberapa tumpukan buku dan juga satu kardus yang lumayan besar berisi berkas berks yang aku tidak tahu isinya. Kupastikan akan terasa pegal ini kakiku dengan high heels yang kupakai.


Kubawa kardus tersebut dan juga kutaruh beberapa buku diatasnya. Kuarahkan kakiku menuju pintu dan menaiki tangga untuk Menuju ke lobby sebelum kulangkahkan kakiki lebih jauh menuju lift. Kulihat lift turun dari lantai atas, dan itu memakan waktu yang lumayan.


Setelah sampai di lantai atas, segera kulangkahkan kakiku menuju ruangan ceo dan kuletakkan dengan kesal di meja dekat meja kebesaran Willian. Kulihat dia tetap fokus dengan pekerjaannya tanpa melihatku yang terengah-engah membawa semua barangnya.


Kembalilah aku ke ruangan yanv ada di depan dan memijit kakiku. Kubuka sepatuku dan benar dugaanku, kakikusudah membentuk garis merah yang aku percaya tjdak akan hilang dalam waktu sekejap, juga dengan rasa sakit yang akan kurasakan selama berhari hari.


...****************...


Jam menunjukkan waktu untuk pulang, kulangkahkan kakiku menuju ruang ceo dan mengetuknya seperti biasa sebelum masuk.


Aku memang berencana untuk pulang awal karena ingin menemui Clayton yang sejak beberapa hari susah untuk dihubungi, jujur aku merindukannya saat ini, aku merindukan kehangatannya saat kita sedang berdua.


Kulihat Mr. Wellington masih berkutik dengan pekerjaannya. Sungguh pemandangan yang cantik, dia dengan gaya sedang memeriksa dokumen ditambah sinar matahari yang masuk melalui jendela di belakangnya, membuat aura tegasnya semakin menonjol.


Aku ijin untuk pulang lebih awal tanpa menunggunya dan hanya ditanggapi oleh anggukan tanpa sedetikpun melihat kearahku.


Kubalikkan langkahku dan pergi keluar meninggalkan ruangannya menuju lantai bawah dan segera memesan taksi.


Setelah lebih dari setngah jam, akhirnya sampai di gedung apartemen Clayton. Kurencanakan surprise dadakan karena aku sangat merindukannya beberapa akhir ini. Setelah sampai lantai atas, kulangkahkan kakiku menuju salah satu unit yang sangat kuhafal. Kubuka pintu dengan tanggal awal kiga bertemu.


Cklik...


Kudorong dan masuklah aku kedalam. Hal pertama yang kulihat adalah pemandangan rang tamu dan dapur yabg bersebelahan yang lumayan berantakan. Kulangkahkan kembali masuk, dan saat aku ingin menuju ruang kamar tidur untuk mencarinya, sayup sayup kudengan suaranya yang kecil. Tapi lama kelamaan semakin aku masuk dan hampir sampai ke ruang tidur, kudengar tidak hanya suara yang kukenal, bahkan aku mendengar ada beberapa suara benda jatuh dan berdecit.


Dan satu hal yang membuatku cepat lari dan membuka pintu kamarnya, kudengar suara wanita juga yang sedang mengerang.


Dan benar saja, aku melihat kekasihku sedang melakukan suatu kegiatan yang membuat mataku panas dan tidak bisa bergerak.


Kulihat dia juga sama terkejutnya denganku, pasti apa yang sedang dilakukannya dibawah selimut adalah mimpi burukku. Dan hal lainnya yang membuatku sangat terkejut adalah temanku sendiri yang menjadi teman satu malam kekasihku.


Hal yang aku pikirikan bagaimana mereka bisa bertemu, apakah selama ini mereka bermain dibelakangku? Apakah selama ini apa yang kulakukan kurang untuk menunjukkan rasa cintaku terhadapnya?


Kubalikkan badan dan langsung berjalan cepat keluar kamar. Kurasakan mataku yang memanas tetapi tidak meneteskam air mata, mungkin karena rasa amarahkau lebih besar


Kudengar seseorang mengumpat yang dapat kupastikan siapa pemilik suara tersebut.


“Anna, tunggu please!”


“U are trully bastard Clayton!” balasku tak kalah kencang.


Kubanting pintu apartemennya dan berlari menuju lift, beruntungnya lift segera terbuka dan langsung masuk dan memencet lantai 1.


Tidak butuh waktu lama untuk menunggu lift hingga sampai ke lamtai utama, dan ketika pintu lift terbuka, aku melihat Willam Wellington didepanku, kita sempat bertatapan sebelum aku memutus kontak demgan mengalihkan pandanganku dan segera berlalu. Aku benar benar tidak peduli dengan bagaimama penampilanku, kupastikan sangat berantakan. Mata merah bengkak, rambut tidak kutata dan kusam.


Maafkan aku sir, aku akan menyapamu lain kali


...****************...


Kubuka kunci apartemenku dan kurebahkan diri di atas sofa. Mataku mulai memanas dan kurasakan mataku tidak bisa membendung lagi air mata dan akhirnya mengalir sudah. Kuulang kejadian 1 jam lalu, aku tidak menyangka selama ini aku selalu percaya dengannya, kukira kita percaya satu sama lain.


Kubuka ponselku, dan tidak membuatku membaik, wallpaper yang kugunakan masih fotoku dengannya satu tahun lalu saat kita liburan bersama. Kulanjutkan kegiatanku membuka gallery dan semakin banyak fotoku dengan Clayton.


Tak lama aku sedang melihat galleryku, kudengan suara bel pintu serta suara seseorang sangat kukenal. Setelah beberapa lama, masih saja suara tersbut belum berhenti, kulangkahkan kakiku menuju pintu dan melihat layar di dekat pintu.


“Anna!! Kumohon buka pintunya, aku bisa jelaskan semuanya.”


“Aku tau kau di dalam, aku akan menunggumu hingga kau keluar”


Dia tidak berhenti untuk merengek. Mataku masih meneteskan air mata, dan kepalaku benar – benar ingin beristirahat sekarang, ini sudah malam, banyak hal terjadi hari ini.


Setelah beberapa saat aku melihatnya masih di luar, mungkin akan kuselesaikan sekarang.


Kubuka pintu apartemenku dan melihatnya berdiri di depanku. Aku sengaja membiarkannya melihatku yang seperti ini dan juga kupasang tampang tidak bersahabat.


Dan dia juga tidak keadaan baik, badannya yang lusuh dengan baju seadanya, dan juga mata yang sembab membuatku percaya bahwa dia mungkin ada perasaan bersalah? Kulihat kebawah dia juga memakai sandal jepit, tidak dengan sepatu yang biasanya.


“Bolehkan aku masuk? Kita baisa berbicara di dalam” tanyanya dengan takut takut.


Aku hanya tetap melihatnya dan mulai menyinkir dari depan pintu membiarkannya masuk kedalam. Kemudian kututup pintuku kembali dan mendengar bunyi “klik” yang menandakan pintu sudah kekunci lagi.


Kita berjalan ke meja makan dan duduk, kududukkan bokongku di kusi di depannya, tidak dekat dan cukup dengan adanya meja di tengah membuat jarak diantara kita.


“A.. aku tidak tahu mulai dari mana.”


“Sejak kapan kalian bersama?” kataku tanpa berbasa basi.


“kami tidak bersama, hanya kami memang saling kenal dan dekat, bukan dekat seperti apa yang kau bayangkan, kita hanya sahabat selama ini..”


“Sahabat?? Sahabat macam mana yang melakukan *** di kamarnya? Dengan keadaan pemilik kamar sudah punya kekasih.


“ Aku tahu, maafkan aku, itu terjadi begitu saja, aku sangat merindukanmu, tapi kita hampir tidak pernah bertemu, kau dan aku terlalu sibuk oleh kerjaan kita....”


Kudengarkan penjelasannya yang kupikir tidak menarik dan terlalu terlihat jika ada yang ditutup tutupi.


“Apa yang kau sembunyikan selama ini? Entah kenapa aku tidak percaya dengan seluruh penjelasanmu.”


“ Tidak ada, aku masih mencintaimu, aku tidak ingin kita berpisah.”


“ Aku tak tahu.. Sepertinya kita butuh waktu untuk sendiri, aku sudah tidak bisa percaya lagi.” Kataku dengan melihat wajahnya. Jujur aku susah menebak raut wajah yang sedang dia tunjukkan, mata yang biasa aku lihat dan membuatku jatuh cinta lagi dan lagi, entah mengapa sekarang merasa asing.


Dia berdiri dan berusaha mendekat kearahku.


“Tidak, berhenti disitu.” Aku juga bangkit dan mulai berjalan mundur untuk menjauh, tetapi terlambat karena dia berjalan dengan cepat dan mengurungku di pelukannya.


Kucoba untuk lepas darinya tapi tidak berhasil, percuma tenaganya berkali kali lebih besar dibandingkan aku yanh kecil ini.


Hidungnya mulai mengendus sekitar leherku dan kurasakan buli kudukku berdiri. Dan juga mulai dengan ciuman ciuman yang berlanjut menjadi ******* di leherku.


Aku mersakan sesuatu tidak mengenakkan akan terjadi, kudorong dengan kuat tubuhnya dan membuat pelukan kita terlepas.


“ Kau gila?!!” ucapku dengan emosi yang sudah tidak bisa ku kontrol.


“ Kau kira kau bisa melakukan itu dengan mukut kotormu itu?”.


Kulihat dia yang awalnya menunduk, perlahan mendongak dan melihat ke arahku dengan wajah yang tidak ada ekspresinya.


Dia mulai berjalan mendekat dan menangkup wajahku dengan satu tangannya dan tangan lainnya membelai rambutku seolah olah dapat menenangkanku.


“We will get through this, Honey. See you soon.” Katanya yang kemudian mengecup bibirku.


“ Keluar..” aku mendorong tubuhnya ke arah pintu dan keluar apartemenku. Sebelum kututup pintunya, kuperlihatkan kepadanya dengan mengusap mulutku dengan punggung tanganku.


“I will never see you again bastard.”


Kutututp pintu dan berjalan masuk kearah kamarku. Kututup pintu kamarku dan merebahkan tubuhku di sana. Bagaimana bisa selama ini dia tidak pernah bercerita bahwa dia berteman baik dengan temanku satu itu dan tadi aku melihatnya akan berhuhungan intim, apakah aku harus mempercayai semua itu?


Kembali aku bangkit untuk mandi dan bersih bersih apartemen agar terlupa dengannya. Jam menunjukkan pukul 11 malam waktu setempat dan kuputuskan untuk tidur.


...****************...


Hari hari berjalan seperti biasanya, aku kembali menjadi assisten William Wellington yang mengurus seluruh jadwal pertemuan sebelum ada semacam pesta yang akan diadakan untuk memperingati pengangkatan jabatan William.


Dan acara tersebut akan diadakan sore ini. Jadi sekarang aku sedang duduk menunggu waktu untuk pulang. Kulihat ruangan William yang sampai saat ini masih belum terbuka.


Jam sudah menunjukkan lebih dari 45 menit dan belum ada tanda tanda William akan keluar, dengan inisiatif aku berjalan kearah ruangannya dan saat hendak mengetuk pintu, pintu terbuka dan menampakkan batang hidung William.


Aku hanya bisa tersenyum dan sedikit menundukkan tubuhku memberikan jalan untuk bosku keluar.


“ Jangan sampai terlambat nanti.” Katanya dan kemudian berlalu menuju lift.


Segera ku ambil barang barangku yang masih ada di meja dan segera menyusul Mr. Wellington yang sedang menunggu lift.


Setelah sampai apartment aku segera membersihkan diri dan mulai merias diri. Masih tersisa 2 jam dan waktu yang tersisa hanya 1 jam untukku untuk bersiap. Hal yang paling menyebalkan saat bersiap adalah memilih outfit untuk acara tersebut, satu sisi aku tidak ingin terlalu glamour dan ingin tampil dengan gaun yang simpel, tetapi satu sisi juga aku tidak bisa hanya tampil dengan gaya yang simpel karena akan kalah dengan tamu lainnya.


Akhirnya kuputuskan untuk memakai gaun berwarna maroon dengan model pendek tapi panjang di belakan dan tanpa lengan. Kulihat lagi penampilanku di depan cermin dan memastikan supaya terlihat cantik. Siapa tahu aku bertemu dengan pasanganku disana.


Saatnya aku berangkat, kupesan taksi di lantai dasar gedung apartment dan menuju hotel yang sesuai dengan undangan. Setelah sampai di hotel, banyak tamu yang menunggu lift dengan pakaian yang mewah dan elegan. Karena dari antara semua tamu yang sedang menunggu lift, hanya aku yang tidak memilikipasangan, aku bisa nyempil ke tengah tengah kerumunan dan langsung masuk ke dalam lift tanpa harus menunggu lift selanjutnya.


Untuk ballroom yang dipakai acara sendiri merupakan lantai paling atas hotel dan juga terdapat halaman yang cukup luas didepannya, jadi ada indoor dan oudoor. Tingkat gedung hotel ini tidk tinggi jika dibandingkan dengan hotel yang ada di tengah kota, tetapi pemandangannya jngan diragukan lagi, tidak akan kalah saing dengan hotel hotel yang ada di tengah kota.


Aku berjalan memasuki ballroom yang ada, dan aku langsung dapat melihat bosku yang baru sedang berdiri di dengan beberapa kumpulan orang orang ber jas dan sedang berbincang.


Aku berusaha menikmati waktu dengan tenang dan menikmati minuman yang tersaji sebelum menunggu waktu yang tepat untuk menemui William.


Saat sedang menikmati wine yang ada di tanganku, tidak sengaja aku melihat di pintu masuk, orang yang saat ini sedang tidak ingin kulihat datang ke acara ini. Yap, Clayton datang sebagai salah satu perwakilan perusahaannya, dan juga seorang wanita yang ada di sebelahnya yang kupastikan itu rekan kerjanya.