My Jerk In Suit

My Jerk In Suit
Chapter 1



Satu bulan kemudian...


Terus kuperhatikan layar laptop yang ada di depanku, kuurutkan jadwal yang yang ada hari ini dan memastikan Mr. Welmington menghadiri setiap pertemuan pada hari ini.


Kuketuk pintu ruangannya dan kucoba buka setelah mendengar suara bosku. Kuedarkan pandanganku keseluruh ruangan dan hanya menemukan bosku yang sedang duduk dengan alat tulis ditangannya dan setumpuk berkas.


“Ini dokumen yang anda butuhkan sir. Ada rapat dengan Mr. Thompson setelah makan siang.” Kuletakkan dokumen tersebut disamping tumpukan dokumen lainnya.


“Jangan lupa reservasi restoran biasa.”


“Baik sir.” Tidak lupa aku menunduk sebelum berjalan keluar dan kembali ke mejaku di depan ruangannya.


Posisiku sebagai sekretaris membuatku harus cekatan dan menghafal seluruh jadwal pimpinanku. Saat ini aku bekerja di Welmington corp yang berada di Manhattan. 3 tahun sudah aku bekerja disini, jika kalian bertanya bagaimana bisa aku bekerja disini aku akan menjawab takdir mungkin?


Aku kembali termenung di mejaku dan otakku mengingat kembali kejadian 1 bulan laku sewaktu di London. Akhirnya aku tidak jadi memberi kejutan kekasihku karena aku terlambat datang dan keadaan saat itu sedang penuh dengan manusia untuk merayakan natal, tapi bagian sedihnya kita tidak jadi merayakan anniversary karena ternyata dia juga harus ada kerjaan sewaktu itu, ternyata Clayton tidak mendapat jatah libur waktu itu.


Sedih sekali padahal aku sudah menyiapkan beberapa to do list buat anniversary kita, mungkin memang sedang banyak kerjaan, aku tidak ingin banyak memikirkan tentang hal itu, pun kita juga akan ketemu lagi.


Tak terasa sudah hampir jam makan siang, aku mulai menyiapkan dokumen yang akan dibawa untuk rapat nanti dan tak lupa barang barang yang akan kubawa. Tepat setelah aku beberes aku melihat pintu ruang bosku terbuka dan menampilkan pria paruh baya yang rapi dengan setelan jasnya mulai berjalan menuju lift yang dikhususkan untuk petinggi perusahaan.


Kutundukkan badan saat Mr. Wellington berjalan didepanku dan kuambil blazer yang kuletakkan di atas mejaku sebelum memakainya dan mulai menyusul untuk berjalan di belakang Mr. Wellington.


Lift pun mulai terbuka dan Mr. Wellington masuk terlebih dahulu sebelum aku masuk dan berdiri di belakangnya. Suasana di dalam lift sunyi, tidak satupun dari kami memulai percakapan hingga sampai di lantai bawah.


...****************...


Setelah sampai restoran, kami menuju ruang untuk vvip yang telah dipesan sebelumnya dan menunggu kedatangan Mr. Thompson yang merupakan rekan kerja Mr. Wellington.


“Anna, kau sudah punya kekasih?” tanya Mr. Wellington secara tiba tiba. Aku yang tadinya sedang mengamati luar jendela, sedikit terkejut dan mulai melihat ke arah bosku.


“Sudah sir.” aku menjawabnya dengan singkat.


“Sudah berapa lama kalian bersama?” Mr. Wellington kembali bertanya tetapi tidak lagi melihat ke arahku dan memusatkan pandangannya ke menu yang ada di atas meja. Mungkin topik ini kurang menarik untuk beliau dan mungkin tanya hanya untuk menghilangkan kesunyian.


“Kebetulan kita sudah...”


Belum sempat aku melanjutkan perkataanku ketika pintu terbuka dan memperlihatkan Mr. Thompson bersama tangan kanannya memasuki ruangan. Syukurlah...


...****************...


Setelah makan siang dan juga rapat yang di rencanakan telah selesai, kami kembali menuju kantor menggunakan mobil perusahaan.


Perjalanan yang ditempuh lumayan cukup jauh, butuh waktu 25 menit tadi berangkat karena tidak ramai, dan sekarang 40 menit untuk kembali ke kantor. Ternyata jalanan penuh kendaraan karena jalanan yang biasanya dilewati sedang dalam masa perbaikan, jadinya harus menggunakan jalan lain yang memang agak jauh.


Aku memandangi pemandangan luar mobil saat ini, banyak orang berlalu lalang dan juga kafe yang penuh pengunjung dan aku yakin sebagian besar dari mereka juga sedang bekerja.


Lamunanku buyar ketika ponselku bergetar tanda ada pesan masuk.


“Makan malam?” tulisnya singkat.


“Apa kau tidak sibuk lagi?” jawabku juga singkat. Aku mengingat kejadian beberapa waktu lalu, dimana kita seharusnya ada dinner date tetapi sudah 3 kali gagal karena kesibukan Clayton, aku tahu aku egois tapi aku juga merindukan kekasihku.


“Apakah kau masih marah? Aku tidak berbohong kali ini sayang, kita sudah lama tidak bertemu dan aku merindukanmu. Please??”


“Baiklah kutunggu kau malam ini. Jam 8?”


Setelah beberapa waktu kutunggu Clayton belum membalas, aku memasukkan ponselku kedalam tas. Aku melirik kearah Mr. Wellington sedikit dan mendapati beliau sedang sibuk dengan tabnya yanh aku bisa pastikan sedang melihat perkembangan saham.


Huffttt... orang kaya memang beda.


Tetapi yang aku sadari beberapa hari ini Mr. Wellington lebih diam dari biasanya, pastinya yang sering tersenyum dan ramah ketika bertemu orang orang, beberapa hari ini lebih sering terdiam dan melangkah tanpa satu katapun. Yang aku suka dari Mr. Wellington ini karena beliau di umur yang sudah tidak muda ini masih sanggup mengurus seluruh permasalahan dan segala kegiatan yang ada di perusahaan dan aku pastikan akan sangat menguras tenaga. Dan selain itu beliau juga dikenal sangat amat menyanyangi anak anaknya, walaupun sampai sekarang aku belum pernah melihat secara langsung bagaimana rupa anak anaknya, karena memang mereka mengurus perusahaan yang ada di kota lain.


Yang aku dengar juga istrinya telah tiada 4 tahun ini. Banyak orang orang kantor yang pernah melihat Mrs. Wellington mengatakan bahwa beliau sangat cantik, anggun dan benar benar memancarkan aura orang kaya.


Aku kembali mendengar ponselku bergetar dan aku tahu pasti itu pesan dari siapa.


“Baiklah, Love u sayang...”


Aku hanya tersenyum dan kembali memasukkan ponselku kedalam tas dan mulai kembali melamun melihat keluar jendela.


...****************...


Saat mobil telah terparkir di basement, aku keluar dadi mobil dan mengekor di belakang Mr. Wellington. Saat sampai do lobby perusahaan banyak karyawan yang sedang bekerja menunduk dan menyaoa Mr. Wellington, tegapi beliau hanya tersenyum datar sambil tetap melanjutkan langkahnya.


Kulihat Mr. Wellington sedang melamun sambil memainkan tangan, seperti ada sesuatu yang mengganggu. Dan tidak lama kemudian badannga agak menyender di dinding lift.


Merasa ada sesuatu, aku segera bertanya.


“Anda baik baik saja sir?”


“Ya, ya hanya sedikit pusing, mungkin gula darah saya sedang naik.” Mr. Wellington menjawab masih dengan badan yang menyandar di lift.


“Apakah perlu saya panggilkan dokter pribadi?”


“Tidak, tidak perlu.”


Aku hanya menganggukkan kepala tanda mengerti. Kemudian lift telah sampai di lantai atas dan kami mulai keluar dari lift. Aku kembali ke mejaku yang ada di depan ruangan Mr. Wellington dan kembali tenggelam dengan pekerjaanku.


Jam menunjukkan pukul 19.00 waktu setempat, seperti biasa aku hanpir tidak pernah pulang tepat waktu karena memang harus menunggu Mr. Wellington pulang terlebih dahulu. Kutatap layar komputer yang ada di depanku dan merasa bahwa pekerjaanku hari ini cukup, aku bisa menyelesaikannya hari esok.


Saat aku sedang bersiap dan mematikan komputer, aku mendengar pintu ruangan Mr. Wellington terbuka dan menampilkan beliau yang juga bersiap akan pulang.


Satu hal yang membuatku terkejut adalah ketika melihat gaya berjalan Mr. Wellington yang agak sempoyongan dan terjatuh pingsan saat melewati mejaku.


Aku terkejut bukan main dan langsung menghampiri Mr. Wellington. Kucoba memanggil namanya tetapi beliau sudah tidak sadarkan diri. Kucoba menggeret Mr. Wellington ke dekat sofa yang ada di dekat mejaku dan menyandarkannya disana.


Langsung aku hubungi satpam yang ada di bawah dan juga orang kepercayaan Mr. Wellington untuk membantu membawa beliau ke mobil dan segera menuju rumah sakit.


...****************...


Mr. Wellington sudah berada ditangan dokter yang biasa menanganinya, aku menunggu di depan ruang ugd hingga beliau dipindahkan ke ruangan VVIP.


Beliau selama ini sangat baik terhadapku, dia bahkan hampir tidak memarahiku walaupun aku melakukan beberapa kesalahan. Walaupun aku dapat melihat raut kecewa dan sedit marah, tetapi lebih didominasi oleh kecapekan. Bahkan ketika beliau sedang pergi berlibur keluar negri, beliau hampir selalu membawakan cemilan untukku.


Pintu UGD terbuka dengan Mr. Wellington yang terlihat sudah tefbaring di ranjang rumab sakit yang sedang di dorong oleh perawat. Setelah sampai di kamar inap VVIP, aku serahlan semua ke orang yang sudah menjadi kepercayaan Mr. Wellington untuk menjaganya.


Butuh watu 10 menit untuk mencapai pintu keluar rumah sakit dan aku segera berjalan menuju pinggir jalan untuk mencegat taxi. Kakiku rasanya ingin patah, kenapa tidak ada taxi yang lewat? Kulepas high heels yang kupakai dan lega juga rasanya. Aku membayangkan untuk segera sampai rumah dan mengistirahatkan kakiku ini.


1 jam kemudian aku telah sampai di apartemenku, terkutuk rumah sakit itu, kenapa luas sekali. Tidak heran memang rumah sakit orang kaya, mungkjn biaya menginap sehari bisa hampir sama satu bukan gajiku. Kubersihkan diriku terlebih dahulu sebelum makan dan memutuskan untuk langsung istirahat.


Aku lupa untuk makan malam dengan Clayton, kenapa saat dia bisa aku yang mengacau. Ku buka ponselku untuk cek apakah ada pesan dari Clayton dan ternyata memang benar ada, 3 pesan darinya dan 5 panggilan tidak terjawab. Dan tetnyata pesan tersebut berisi bahwa dai tidak bisa datang karena ada acara mendadak dengan keluarganya. Aku memilih menjawab pesan tersebut untuk melakukan dinner lain waktu.


Saat sudah selesai, aku mulai membaringkan tubuhku di masur kesayangannku dan tidak lupa untuk mengoleskan minyak di kakiku agar besok pagi tidak terlalu sakit. Shitt... rasanya seperti lari maraton menggunakan high heels. Tersiksa.


...****************...


Beberapa hari kedepan Mr. Wellington belum bisa kembali bekerja karena memang perlu oerawatan lebih di rumah sakit. Jadi tugasku selama beberapa hari ini hanya mengosongkan jadwal dan membalas beberapa email yang masuk.


Ada desas desus bahwa setelah ini posisi pimpinan akan digantikan oleh anaknya Mr. Wellington yang selama ini tidak pernah terlihat. Aku belum bisa memastikan kebenarannya karena belum mendapat pesan dari Mr. Wellington secara langsung.


Dan pagi ini saat aku berangkat pagi dan duduk di mejaku, aku melihat pintu ruangan pimpinan sudah tidak terkunci menandakan ada seseorang di dalam sana.


Aku berpikir mungkin itu benar anaknya, tetapi berangkat sepagi ini? Waww... sangat disiplin untum ukuran anak muda. Aku mulai menyalakan komputer dan hal owrtama yang kukaukan adalah mengecek email.


Benar saja, aku mendapat email dari Mr. Wellington bahwa anaknya akan menggantikannya mulai sekarang dan aku disuruh untuk menyesuaikan jadwal dengan anaknya dan memberikan beberapa berkas yang sudah tertumpuk untuk segera dikerjakan.


Mulai kulakukan pekerjaanku, menata dan mengumpulkan berkas berkas sebelum kuserahkan kepada Mr. Wellington yang baru, apa perlu kupanggil Mr. Wellington junior?


Bergegas kuberjalan kearah ruanh ceo dan mengetuknya sebelum aku memasuki ruangan.


Susasananya tidak berubah. Masih ruangan luas dengan meja pimpinan ada di tengah ruangan dengan pemandangan kota Manhattan yang negitu cantik dari sudut ini.


Kuberjalan menuju meja bosku yang baru dan menyadari bahwa papan nama telah berganti dari James Wellington menjadi William Wellington.


“Ini sir, berkas berkas yang diminta ayah anda untuk segera diselesaikan.” Kataku sambil menyerahkan berkas di atas mejanya.


Kulihat Mr. Willam Wellington yang sedang menunduk dengan bolpoin di tangan kanannya dan kacamata yang bertengger di hidungnya menghentikan kegiatannya dan sedikit demi sedikit menaikkan arah pandangannya hingga kami bertatapan.


Betapa terkejutnya aku karena melihay mata biru yang cantik sebulan ini sudah tidak pernah terlihat lagi. Seketika aku tidak bisa berkata kata untuk beberapa detik dan memori satu bulan lalu ketika aku bertemu pria ini dan hal hal menyebalkan datang kepadaku.


Dan seketika juga aku berkata dengan nada yang lumayan tinggi karena terkejut, aku berkata.


“KAU!!!!”


Ku harap kedepannya hari hariku tidak sial. Itulah doa yang kupanjatkan saat ini.