
Annabella POV
Kuhabiskan malam itu dengan menangis, sendirian di kamar. Aku sudah berjanji dengan diriku untuk tidak menangisi si brengsek itu, tapi mataku seperti punya pemikiran sendiri.
Sewaktu sampai rumah, aku melakukan aktivitasku biasa. Awalnya aku tudak terlalu memikirkan lagi kejadian tersebut. Tetapi rasa sakit hati muncul ketika sudah berada di atas tempat tidur, sudah siap untuk tidur. Perasaan marah, kecewa dan dominan dsndam itu langsung menghantamku, membuat mataku memanas dan air mata muncul dengan sendirinya.
Akhirnya aku bangun dengan muka sembab dan kantung mata yang sangat terlihat jika habis menangis. Kukeluarkan segala kemampuanku tanganku untuk menutupi mata sembabku, dan berhasil tertutup.
Kulihat jam, terlambat !!!
Tanpa ada waktu memilih pakaian, aku memakai pakaian yang dapat langsung kuambil dan tanpa menunggu lama langsung aku berlari menuju pintu dan turun ke lobby.
Beberapa saat setelah aku sampai di mejaku, kuletakkan tasku di atas meja dan menumpukkan kedua tanganku diatasnya.
Kubuka ponselku untuk menemukan notif yang belum sempat aku baca. Dan yang kutemukan hanya beberapa email masuk dan itu semua sepjtar pekerjaan.
Saat tidak sengaja melihat pantulan wajah di ponsel, aku dapat melihat betapa terlihatnya dua mata sembabku ini. Sepertinya memang harus kutebalkan lagi. Kulangkahkan kakiku menuju kamar mandi dan mulai membetulkan make up.
Sempat kudengar beberapa suara berisik diliar, tetapi aku tidak begitu menghiraukannya, aku lebih peduli jika William melihatku dengan keadaan seperti ini. Mau dibawa kemana mukaku saat ini.
Kutunggu beberapa saat hingga suara tersebut menghilang dan aku keluar sehingga tidak bertemu siapapun.
Kumulai aktivitasku dengan kegiatan monotonku. Kupasang kembali jam tangan yang sempat kulepas saat di toilet. Kudengar ponselku berbunyi menunjukkan pesan masuk. Kubuka dan nama Dolorez yang pertama muncul di layar ponselku.
Kubuka dan mendapati pesannya untuk menemaninya minum malam ini. Aku tau dia pasti sedang ada masalah. Jarang sekali dia menghubungiku untuk bertemu.
Waktu menunjukkan tepat pukul 18.00 dan seharusnya aku sudah dalam perjalanan pulang kalau bukan karena pekerjaan yang menumpuk. 15 menit kemudian semua laporan yang dibutuhkan Mr. Wellington selesai sudah. Kugerakkan badanku yang terasa kaku dan merasakan kenikmatan tersendiri.
Kemudian kuangkat bokongku dan mulai berjalan menuju ruangan bossku dan mengetuk beberapa kali. Tidak ada jawaban, kuketok kembali dan masih belum mendengar jawaban dari dalam.
Kuputuskan untuk langsung masuk dan ternyata pintunya tidak dikunci. Kulihat ruangan saat ini gelap, hanya cahaya dari luatr ruangan yang membuatku masih bisa melihat sekitar.
Kulanjutkan langkahku menuju meja besar dan pandanganku otomatis tertuju pada kursi yang menghadap ke kaca dengan siluet ujung kepala seseorang sedang bersandar di kursi, seolah olah menelan kepala tersebut.
Sudah jelas siapa yang sedang duduk di sana. Kudekatinya dan memutar meja supaya dapat melihat wajahnya. Dan benar saja, aku mendapati William Wellington yang sedang tertidur dengan posisi yang dapat dikatan tidak nyaman.
Aku melihat rambutnya yang lumayan panjang berantakan membingkai wajahnya yang sedang tertidur, tidak ada raut serius ataupun cemberut. Melainkan raut wajah yang damai dan menunjukkan bahwa di kelelahan.
Kugunakan kesempatan ini untuk mengamati wajahnya. Mulai dari mata tenangnya yang terpejam, hidungnya yang mancung, alis yang tertata dan bibir tipis berwarna merah alami dan berakhir di lehernya yang aku percaya menjadi sumber dari ketidak nyamanannya. Seolah memiliki pikiran sendiri, tangan kananku terangkat untuk membernarkan letak kepalanya.
Dan satu hal yang tidak aku sadari bahwa sudah ada dua mata biru yang sedang menatapku intens, seakan pandangannya dapat menembusku. Beberapa saat, seketika aku sadar dengan apa yang aku lakukan, segera aku menarik tanganku dan sedikit menunduk untuk menghindari tatapan matanya. Tangan kiriku yang masih membawa berkas, naik untuk memberikan berkas.
“Ini berkasnya, sir.” Kataku.
Kurasakan dia mengambil berkas yang ada di tanganku dan aku masih merasakan tatapannya yang menatapku intens.
Kembali kutundukkan kepalaku, aku masih belum berani menatapnya, dan berjalan cepat keluar ruangan. Kuambil tasku dan segera menuju lift untuk pulang.
-_-_-_-_-
Suara musik terdengar halus di telinga, membuat suasana sekitar tenang tidak diselimuti oleh kesepian. Banyak orang berlalu lalang di sekitar jalan maupun keluar masuk restauran, dengan segala aktivitas yang dilakukan membuatku semakin senang mengamati sekitar.
Kuputuskan untuk langsung menuju tempat pertemuanku dengan Delorez, aku sengaja mengambil tempat di luar ruangan agar dapat menikmati suasana kota. Saat sedang melamun, kulihat gelagat orang yang kukenal sedang mencariku di dalam restoran.
Sudah lama sekali aku tidak melihat Dolorez, wajahnya semakin bercahaya saat ini dan badannya mulai berisi dibalut kemeja berwarna biru gelap.
“Sudah lama?.” Katanya.
“Mmmm.... Lumayan, 5 menit lagi kau tidak datang aku akan pulang.” Kataku sambil tersenyum.
Dia mengambil tempat duduk persis di depanku. Jika orang awam tidak paham, mungkin saja mereka mengira kita berpacaran.
“Bagaimana kabar Clayton?”
“Kau tidak menanyakan kabarku?”
“Well... Kau di depanku dan kukira kau baik baik saja.”
“Aku sudah berakhir dengannya.”
“Apa??!!” Kujawab hanya dengan anggukan.
“Bagaimana bisa?”
“Dia bersama yang lain, dan kau tau, dia bersama Stacy.” Kataku samhil mengaduk minumanku.
“Waw.. apakah kita tidak bertemu lama sekali? Dia memang gila.” Katanya emosi.
“Yaa... begitulah.”
Kita mulai berbincang cukup lama, ternyata Dolorez sedang senang melakukan volunteer di berbagai tempat, mulai gereja, panti asuhan, rumah sakit. Dia memang dari dulu merupakan tipikal orang yang suka explore dan tidak suka jika sudah berada di zona nyaman.
Yang kusenang darinya, dia selalu mendukung dan membela apapun yang sahabat atau orang terdekatnya lakukan. Dia adalah temanku saat sedang bersedih, maupun sebaliknya.
Kita sudah menghabisakan waktu lama untuk berbincang dan saatnya untukku untuk pulang. Aku harus menghadapi bossku lagi besok.
“Ayo kuantar.” Katanya langsung.
“Kau yakin? Ita tidak searah.” Kataku sambil menaikkan satu alisku. Kulihat dia terus menatapku dengan pandangan seriusnya.
“Baiklah jika memaksa.”
Kita berjalan ke parkiran, dan dia menggunakan motor besarnya. Dia langsung menyutuhku untuk naik di belakangnya.
Ketika di perjalanan, kita saling berbincang, bagaimana dia bisa berakhir di beberapa tempat, bagaimana dia memiliki banyaj teman dari berbagai negara dan juga lelucon khas Dolorez yang tidak pernah basi menurutku.
Dia menurunkanku di depan gedung apartemenku, lalu melambaikan tangannya kepadaku sebelum melaju menggunakan motornya. Terus kuamati hingga dia menghilang di balik tikungan pertama.
...****************...
Dan benar saja, beberapa jam setelahnya aku masih disibukkan oleh jadwal meeting dan email dari William yang memintaku untuk mengirim beberapa file baru sejak tadi pagi. Kenapa sesaat jadi banyak sekali tugasnya?
Bahkan saat saat makan siang aku bisa menikmati waktu sendiri, disibukkan dengan menemani William untuk menemui beberapa rekan kerjanya.
Kupejamkan mataku dan memijat dahiku untuk menghilangkan rasa pusing yang melanda, berusaha untuk mengistirahatkan mataku dari melihat layar komputer.
Jam sudah menunjukkan waktu untuk pulang, dan saat aku akan bangkit dan berjalan ke lift William memanggilku untuk menemuinya di ruangan.
Saat sudah berada di hadapannya, dia langsung berkata “jangan pulang, dad ingin makan malam denganmu dan aku.” Katanya sambil masih berkutik dengan berkas berkasnya. Selang beberapa detik, belum sampai aku bisa membalasnya, dia berdiri mengambil jasnya dan menaruhnya di lengan lalu berjalan melaluiku sambil berkata.
“Ayo.” Singkat, jelas, padat.
Beberapa saat perjalanan dan kita sudah sampai di restoran yang dituju. Aku tetap berjalan dibelakangnya. Hingga saat berada di dalam lift, beberapa lantai terlewat, pintu lift terbuka dan menampilkan rombongan akan masuk juga ke dalam lift.
Otomatis aku berjalan mundur sehingga mereka bisa masuk ke dalam, tetapi saat satu langkah ke belakang, aku merasakan tangan kokoh berada di punggungku dan menarikku mendekat ke sumber wangi yang memabukkan.
Sampai sekarang aku masih tidak bisa mengatur detak jantungku saat berada di sekitarnya. Parfum yang selalu kucium saat memasuki ruangannya. Dia masih setengah memelukku seakan memastikan bahwa aku tidak boleh jauh jauh darinya.
Saat lift sudah sampai di lantai tujuan, pintu terbuka dan William segera keluar dari lift yang penuh tersebut. Hal selanjutnya yang tak terduga, saat tangannya sudah diturunkan dan aku merasakan kehilangan sesuatu, tangannya yang dari bahuku, turun dan mengambil tangan kananku.
Aku yang masih bingung dengan keadaan, tetap berjalan mengikuti William di depanku. Sampai saat kita masuk ke dalam restoran, aku sudah melihat Mr. William bosku yang dulu sudah menunggu dengan beberapa rekan kerja yang menurutku memang dekat seperti sahabat.
Aku langsung menundukkan kepalaku memberi hormat dan duduk tepat di sebelah William. Selama dinner ini, topik yang dibahas hanya seputar pekeejaan. Sudah lelah ini pikiranku dari pagi hingga pulang, selalu mengurus pekerjaan. Sekarang dinner juga membahas pekerjaan. Sebisa mungkin aku sibuk dengan pikiranku, menghiraukan semua orang yang membahas pekerjaan.
Bahkan sampai rekan kerja sudah pamit untuk pulang, aku masih hanyut dalam pikiranku. Sampai akhirnya aku merasakan dua pasang tatapan intens yang mengarah kepadaku.
Saat aku kembali ke dunia nyata dan menatap sekitar. Aku hanya melihat kita bertiga, Mr Wellington di hadapan William, dan kursi di depanku semua sudah kosong.
Saat ini aku hanya bisa berkedip beberapa kali dan bergantian melihat William dan Mr. Wellington. Aku sama sekali tidak tau harus melakukan apa, kupastikan wajahku sudah memerah.
Mr. Wellington berdeham sedikit “jadi, bagaimana William selama ini? Dia membuat masalah?”
“Tidak sir, tidak ada masalah sama sekali.”
“Dad, bisakah kita membicarakan yang lain” William menimbrung “Lihatlah wajahnya, sudah kusut seperti kertas diremas remas.” Lanjutnya sembarang sambil menyesap minumnya yangmasih tersisa.
Aku hanya bisa tersenyum kaku dan menyenggol kakinya pelas, memberinya tanda untuk tidak sembarangan saat berada di depan ayahnya.
“Jadi bagaimana? Kau memang akan menikahi pacarmu itu?” tanya Mr. Wellington tiba tiba.
“Tidak, aku tidak akan kembali bersamanya.”
“Terus, sudah ada calonnya sekarang?”
“Belum.” Kata William singkat.
“Ada anak teman ayah, akan ku jadwalkan pertemuanmu dengannya.”
“Tidak perlu Dad, aku akan mencari sendiri.”
“ayah sudah tua William, ayah ingin menggendong cucu, kau sudah umu 30an sudah matang menjadi seorang ayah. Tetap akan kujadwalkan pertemuan kalian.”
“Tidak perlu dad! Aku akan membawa calonku secepatnya.”
“Ternyata memang benar kau sudah punya seseorang.” Kata Mr. Wellington dengan wajah menggoda, menggerakkan sebelab alisnya keatas bawah. Aku tidak bisa menahan tawaku, lucu sekali melihat cara komunikasi ayah anak ini.
Aku langsung menghentikan tertawaku ketika melihat kedua orang tersebut menatap kembali kearahku. Aku berdeham kecil dan kembali ke posisi semula duduk diam menjadi pendengar yang baik.
“Maaf sir, sepertinya aku akan pulang sekarang.” Hanya itu yang ada di dalam pikiranku.
Seketika William bangkit dan berkata bahwa akan mengantarkanku. Kulihat Mr. Wellington hanya tersenyum dan menginstruksikan untuk segera pergi.
Dalam perjalanan pulang, aku hanya melihat keluar jendela dengan menggigit ujung kukuku. Aku memang terkadang seperti itu jika sedang keadaan canggung.
“Apakah kau akan tetap menggigit kukumu hingga putus?” kata William sesekali menatap kearahku. William terlihat tampan saat ini, dengan kemeja minus jasnya yang ada di jok belakang. Dan lengannya yang digulung hingga siku sehingga memeprlihatkan otot tangan dengan jam tangan yang dipastikan memerlukan berbulan bulan untukku hingga dapat membelinya.
“Maafkan ayahku jika kau canggung dengan topik yang tadi.”
“Tidak si...” kataku lupa.
“Kembali sir lagi??” katanya gemas.
“Baik, si.. eh William.” Kataku tergagap.
“Kau memang harus membiasakan diri.” Kembali dia fokus ke jalanan. Sisa perjalanan hanya diisi dengan keheningan dan suara radio yang membuat suasana lebih hidup.
...****************...
Sesaat setelah sampai di rumah, aku kembali dengan aktivitasku seperti biasa, bersih bersih diri dan bersiap menonton netflix. Tidak lupa snack satu mangkok dan segelas susu dingin sudah kusiapkan di atas meja.
Saat tengah tengah film, ada panggilan masuk di ponselku. Kulihat nama Clayton ada di layar ponselku. Kudiamkan dia hingga panggilan berakhir. Tidak hanya sekali, berkali kali dia menelponku dan tetap saja kuabaikan.
Sampai kesekian kalinya dia masih menelponku. Cukup sudah batas kesabaranku. Tanpa melihat siapa yang menelpon, langsung saja kuangkat dengan nada yang agak meninggi.
“APA?!!”
Hening sesaat, dan kemudian terdengarlah suara yang tidak kusangka akan kudengar sekarang.
“Siapkan pakaianmu, supirku akan menjemputmu sekarang, kita akan berangkat ke Milan.”
Gila memang.. Hilang sudah pikiranku untuk bersantai.