My Jerk In Suit

My Jerk In Suit
Chapter 2



William POV


Matahari masuk kedalam ruang kamar hotelku, mataku memerlukan waktu untuk menyesuaikan dengan cahaya matahari, kuregangkan badanku, dan membenarkan badanku agar tidak sakit. Kurasakan badanku yang dingin dibawah selimut, aku mengingat kejadian semalam, saat aku mabuk dan memanggil seseorang untuk memenuhi hasratku.


Kuedarkan pandanganku ke seluruh ruangan dan memastikan bahwa wanita panggilan untukku tadi malam sudah tidak ada. Tidak lupa setelah menyelesaikan adegan panas semalam aku langsung membayar dan menyuruhnya pergi, aku tidak mau ada wanita tidak kenal tidur disampingku.


Ini semua gegara mantan kekasihku yang menggodaku semalam. Kenapa dia masih ada di kota ini? Aku sudah muak dengan tingkah lakunya, tidak mengakui perbuatan merupakan salah satu hal yang paling kubenci. Sudah jelas aku melihat dia bersama selingkuhannya beberapa kali dan dia masih dengan pedenya mengelak bahwa itu hanya teman dekatnya. Sekarang mana ada seorang wanita dan pria bisa bersahabat? Keculali jika dia gay, aku percaya itu. Kulihat pria yang bersamanya pria normal, caranya dia memandang mantan kekasihku juga berbeda. Urghh... kukira semua wanita itu sama saja, hanya beda dikit dikit.


Aku mulai meng charge ponselku yang terletak di sebelah nakas kasur. Ngomong ngomong soal ponsel, aku mengingat kejadian sekitat sebulan lalu dimana aku tidak sengaja menabrak seorang gadis. Itu benar benar momen tak terduga dan freak menurutku, bagaimana bisa ponsel kita hingga tertukar. Sampai sekarang aku tidak bisa melupakan bagaimana ekspresi wajahnya ketika sedang kesal denganku, dia cantik.


Ku mulai dengan kegiatan rutinku untuk pergi berolahraga di gum yang ada di hotel, tidak lupa kubersihkan mukaku dulu sebelum berpakaian untuk ke gym. Seperti biasa sepi hari ini karena memang bukan weekend dan bukan juga hari libur.


Kuhabiskan 45 menit untuk berolahraga sebelum kembali ke atas menuju kamar dan membersihkan diri. Kulihat di cermin wajahku bersih dan aku tersenyum. Kemudian aku keluar dan melihat adikku masuk kedalam kamarku. Mengganggu sekali.


“Kenapa pagi sekali?” tanyaku sinis. Kulihat dia hanya tersenyum dengan tatapan paling menjengkelkan yang kutahu.


“Tidak boleh? Apa kalau yang datang mantan kekasihmu, sambuyannya akan berbeda?” aku tahu... dia sangat suka mengerjaiku, tapi ingat, tidak ada kata saudara jika tidak saling balas.


“Shut your mouth, tapi bagaimana rasanya menghabiskan malam dengan Mr.Jared? Kulihat kalian serasi.” Kena kau iblis kecil. Mr. Jared atau Bastian Jared adalah orang kepercayaanku yang sudah menemaniku selama 3 tahun mengurus perusahaan.


“Bagaimana kau....?” lihatlah mukanya, kurasakan kemenangan di tanganku. Aku hanya bisa tersenyum mengejek karena pembalasanku yang berhasil.


Segera kuseduh kopi yang ada dan bergerak ke balkon kamar untuk menikmati pemandangan sekitar. Kulihat Vanessa sudah di sebelahku.


“Aku khawatir dengan kondisi ayah beberapa hari ini, kurasa penyakitnya parah karena pekerjaan.” Katanya sambil menikmati pemandangan di kamar balkonku.


“Sudah kukatakan untuk beristirahat, biarkan aku membantu pekerjaan, tetapi dia menolak.” Akupun juga memikirkan kondisi orang tua kita satu itu. Sudah beberapa tahun ibu kami meninggal dan ayah selalu mengalikan duka dengan bekerja yang membuat waktu istirahat berkurang.


“Kita harus kembali ke Manhattan.”


“Hm... rencana aku akan balik sore ini.”


Kudengar ponselku berbunyi dan bergegas untuk membukanya. Kulihag nama Bastian di layar.


“Viona, pangeranmu menelponku, kau tidak cemburu?” kukihat dia berbalik melihatku dengan muka sinis.


“Dia bukan pangeranku dasar manusia kaku.”


Kuhiraukan dia dan kugeser tonbol hijau untuk menerima panggilan.


“Sir, sekedar mengingatkan kau ada rapat pemegang saham setelah makan siang.”


“Baiklah. Siapkan semuanya jangan ada yang tertjnggal.”


“Baik, sir.”


...****************...


Kuletakkan kembali bokongku di kursi kebesaranku. Beberapa hari ini kegiatan tidak begitu padat, hanya menhadiri beberapa pertemuan dan rapat seperti biasa. Kembali ku cek beberapa email masuk untuk perjanjian kerjasama dengan beberapa perusahaan.


Selama ini aku menjadi ceo di perusahaan cabang yang ada di Boston. Memang sejak kecil aku sangat suka dengan kegiatan perbisnisan, berhubung orangtuaku juga seorang pebisnis, mereka sangat mendukungku dan menyekolahkanku hingga ke sekolah terbaik.


Sebentar lagi sudah waktunya jam lulang kerja, rencana memang aku langsung akan ke bandara untuk pulang ke manhattan, tidak lupa semua barang bawaan sudah disiapkan oleh Bastian.


Kudengar ketukan beberapa kali di pintu dan kusuruh siapapun itu masuk dan Bastian lah yang masuk.


“Semua sudah siap sir.”


“Dimana Viona?” kutanya tanpa melihat kearahnya dan masih melihat beberapa berkas yang ada di meja.


“Nona Viona sudah ada di bandara sekitar 30 menit yang lalu.”


“Baiklah, tunggu di luar.”


Segera kubawa beberapa berkas yang belum sempat aku kerjakan dan kumasukkan tas, tidak lupa kumatikan komputer di depanku dan juga mematikan lampu yang ada.


Memerlukan waktu lumayan lama untum dapat sampai ke bandara, jalanan sedang padat karena bertepatan dengan jam pulang kantor, biasanya aku tidak pulang jam segini karena masih harus memeriksa kembali beberapa laporan dan berkas.


Kulihat dia melihat ke arahku dan berjalan setengah berlari membawa ponselnya dengan raut wajah yang cemas.


“William, ayah jatuh, kurasa dugaan kita beberapa hari ini benar.” Katanya sambil memperlihatkan pesan masuk dari tangan kanan ayah.


“Baiklah, segera kita langsung kerumah sakit setelah sampai.”


Setelah itu kami langsung bergegas menuju pesawat dan mulai perjalanan kami menuju Manhattan.


...****************...


Perjalanan Boston Manhattan menggunakan pesawat tidak memakan waktu cukup lama, langsung saja kita menuju rumah sakit tempat dimana ayah dirawat.


Saat sampai di depan rumah sakit, mataku tidak sengaja melihat seorang wanita yanh berjalan dengan aneh karena dapat William pastikan kakiknya sakit menggunakan sepatu high heels yang lumayan tinggi itu.


Tapi ada sesuatu yang membuat ku terus memeperhatikannya, sepertinya itu wanita satu bulan lalu yang tidak sengaja bertemu di London wakti itu. Aku menunggu mobil melewatinya dan benar saja, dia wanita yang sama.


Dia tinghal di Manhattan? Kecil sekali kota ini. Dan kemudian aku turun tepat di deoan lobi dan pintu dibukakan oleh satpam yang berjaga. Segera aku masuk ke lobby dan menuju lantai atas sebelum bertanya kepada penjaga ruang vvip atas nama tuan wellington.


Kubuka pintu kamar dan melihat ayah yang sedang berbaring dengan infus di tangan kirinya. Kulihat sekeliling dan hanya menemukan orang kepercayaan ayahku.


“Bagaimana keadaanmu pa?” tanyaku sembari berjalan mendekat kasur pasien.


“Sudah baikan, hanya darah tinggi ayah kumat lagi.” Jawabnya dengan lemah.


“Mulai sekarang fokuslah dengan beristirahat, ada aku dan Viona yang bisa mengurus perusahaan. Sudah kubilang jangan dipaksa nanti makin memburuk keadaanmu pa.” Kataku tanpa sadar mengomeli pasien.


Ayahku melihatku mengomel hanya tergawa ringan dan menjawab “Baiklah, ayah akan menuruti kalian mulai sekarang. Pulanglah, kalian pasti lelah saat ini.”


Setelah beberapa jam menunggu di rumah sakit, akhirnya kuputuskan untuk kembali ke rumah dan beristirahat di sana.


...****************...


Beberapa hari kedepan kugunakan untuk menjaga dan mearat ayahku bergantian dengan Viona, dan tentu tidak lupa untuk tetap meng-handle perusahaan yang ada di Boston. Rencananya perusahaan yang di Boston akan diserahkan kepada Viona dan aku mengurus kantor utama di Manhattan.


Paginya, aku bersiap pukul 08.00, dan sekarang kulihat jam telah menunjukkan pukul 08.35 saat aku sedang menyetir menuju rumah sakit sebelum berangkat ke kantor. Tidak lama setelahnya aku sampai di rumah sakit dan langsung menuju ruangan vvip.


Disana aku melihat Viona yang masih tertidur dengan gaya tidurnya yang berantakan. Kuletakkan makanan yang kubeli sebelum ke sini di atas meja dekay sofa tempat untuk tidur Viona. Kulihat ayah sudah bangun dan sudah mulai bisa duduk, segera aku mengahampirinya.


“Kau akan ke kantor kan hari ini?” tanyanya dengan nada yang sudah membaik dari sebelumnya.


“Hmm... aku tahu pasti kerjaan dad menumpuk.” Kataku sambil melalui kasur ayahku dan menatap pemandangan dari lantai atas.


“Jangan lupa meminta beberapa berkas yang belum ayah tanda tangani ke sekretatis, nanti aku akan memintanya untuk memberikannya kepadamu.”


“Apakah sekretaris ayah masih sama orang dengan yang dulu?” kudenhar ayahku senang dengan hasil kerja sekretarisnya yang sudah sekitar 3 tahun lalu di rekrut. Kudengar dia merupakan orang yang fast learning jadi tidak perlu repot repot untuk berulang kali mengajarkan sesuatu.


“Hmm... baik baiklah dengannya, jangan sampai ayah tahu kalau dia resign karena kau yang jadi bosnya sekarang.”


Fine... Setelah berbincang sebentar, aku langsung berpamitan untuk ke kantor. Disana aku masih asing karena lingkungan yang baru, memang hampir tidak oernah aku menginjakkan kaki di kantor cabang ini, karena memang tugasku di Boston yaudah disana saja.


Aku masuk ke ruang Ceo dan aku duduk di kursi kebesaranku untuk selanjutnya. Kulihat papan namanya sudah terganti oleh William Wellington. Mulai ku buka laci yang ada dan mencari berkas berkas yang belum diselesaikan.


Seketika aku penasaran dengan sekretaris Dad, kunyalakan komputer dan melihat data profil semua pegawai di kantor ini.


Deg...


Kulihat foto profil yang menunjukkan muka seorang wanita yang baru beberapa hari ini kulihat di depan rumah sakit. Kulihat namanya “Annabella”, lulusan management business di Boston Univ.


Cantik. Satu kata untuknya, .emang dari awal bertemu, dia memang tipikal wanita cantik untukku. Badannya kurus, kulitnya putih tetapi bukan putih tetapi agak kuning, bukan putih susu ataupun putih yang pucat, warna matanya coklat gelap hampir seperti warna hitam jika minim cahaya. Mungkin dia keturunan Asia selatan? Barat?? Aku tidak yakin.


Aku tahu dia pasgi sudah menerima email dari dad, karena itu sebenarnya kukirim dari laptop yang ada di depanku. Kembali kuarahkan pandanganku ke dokumen yang sedang kupengang, tidak lama setelahnya aku mendengar suara ketukan sebelum suara pintu yang didorong terbuka.


Sengaja aku memang tidak menatapnya, kubiarkan dia berjalan kearahku dan menberikanku dojumen yang aku minta tadi, Dan belum sempat ku katakan terimakasih, kudengar dia seperti kaget dan setengah berteriak. Apakah dia sadar saat ini posisinya aku bosnya dan bisa memecatnya kapan saja.