My Jerk In Suit

My Jerk In Suit
Prolog



Suatu hari di bulan Desember, salju turun dengan lebat saat itu, kupandang jalanan di depanku merasakan suasana natal pada waktu itu, banyak orang berpasangan bergandengan tangan, memeluk pasangannya, banyak toko di sekitar jalanan yang masih ramai dan orang orang yang sedang berjalan dengan kesibukan masing masing seperti aku saat ini sedang mengamati sekitar. Entah mengapa aku sangat menyukai aktivitasku ini untuk menenangkan pikiranku, saat dimana aku memiliki waktu untuk diriku sendiri dan melupakan segala masalah yang ada.


Jarang sekali aku mendapatkan hari libur bertepatan dengan hari natal, hampir saja aku tidak mendapatkan waktu liburku karena bosku memiliki jadwal yang sangat padat, aku harus mengurusnya dulu sebelum diperbolehkan ambil waktu liburku. Aku harap selama 2 hari kedepan aku bebas dari segala telpon yang bertuliskan “bos”.


Kring...


Kupandang layar telepon genggamku dan tersenyum, besok hari natal dan besoknya hari anniversaryku dengan kekasihku yang ke 3 tahun. Tak perlu waktu lama aku langsung menjawab panggilannya.


“Halo..”


“Sudah sampai?” tanyanya.


“Aku sudah sampai hotel dari tadi pagi, bukannya aku sudah mengabarimu?”


“Katanya lagi keluar? Aku sudah tau itu sayang..” dia menjawab dengan nada gemasnya.


Aku terkekeh sambil terus berjalan. “ohh... sebentar lagi sampai hotel, kamu sampai kapan?”


“Besok siang aku sampai di London, jadi jemput?”


“Okke kalau aku tidak kelupaan”


“Sayang...”


“Okke oke aku pasti menjemputmu.”


“Love you honey, see you soon.”


“Love you too..”


Aku mengakhiri percakapan kami dan mengakhiri telpon duluan. Aku berjalan dengan senyuman yang lebar mengingat kekasihku yang lucu, dia orangnya humble, humoris, entah kenapa sewaktu aku marah dengannya dia punya banyak cara bisa membuatku ketawa dan membuatku lupa bahwa aku sedang kesal dengannya. Orang lain bahkan teman temanku dekatku berkata bahwa aku beruntung memiliki kekasih seperti itu, bukannya orang lebih suka pasangan yang romantis dibanding humoris? Atau sebaliknya?


Aku masih berjalan sambil cengar cengir dan kurang memeperhatikan sekitarku ketika bahuku mengalami benturan keras hingga aku jatuh terduduk. Awalnya aku ingin meminta maaf kepada orang yang tidak sengaja aku tabrak, tetapi otakku seketika tidak berjalan untuk beberapa detik kedepan. Mata biru badan tinggi tegap bahu lebar, wow.. jika rata rata orang mengatakan pria idaman mereka tampan, mungkin ini maksudnya tampan. Mataku tidak berkedip untuk beberapa saat hingga aku menyadari tatapannya kepadaku, marah dan... arogan??


“Apa memang kau jalan tidak liat kedepan?” yap.. benar dia menyebalkan


“Apa memang kau tidak bisa menghindar?” jawabku tidak mau kalah, awalnya aku yang ingin meminta maaf, melihat raut wajahnya membuat emosiku muncul, tapi dia tampan.


“Kau salah tapi tidak minta maaf?” dia berkata sambil berdiri dan memasukkan hpnya ke dalam saku yang ada di dalam jaketnya.


Kenapa hanya aku yang salah? Jelas dia juga yang menabrakku. Aku bangkit dan membersihkan mantelku yang kotor. “kau juga salah tuan”.


Dengan mukanya yang terlihat marah, dia berlalu dengan melihatku sinis. Apaan itu? Aku melihatnya berjalan setengah berlari, mungkin dia sedang tergesa? Aku tidak peduli dan mulai berjalan lagi sambil merapatkan mantelku karena udara semakin dingin menurutku. Hanya satu belokan lagi sampai ke hotel. Aku masuk kedalam lobby hotel dan disambut ramah oleh security yang ada, kubalas senyumannya dan berlalu menuju lift.


Ketika sampai kamar kubersihkan make up ku dan tidak lupa untuk mandi. Sambil aku mengeringkan rambut aku mendengarkan berita bahwa besok malam perkiraan cuaca akan ada badai salju. Aku lupa mengirim pesan bahwa aku sudah sampai hotel hingga aku menemukan bahwa baterai hpku habis hingga mati total, bukannya tadi masih ada sedikit?


Tak ku hiraukan dan kugeledah barang bawaanku untuk mencai charge hp. Hingga tanpa sadar aku mulai mengantuk dan akhirnya aku terlelap. Mungkin aku akan menghubungi kekasihku besok pagi.


...****************


...


Hoamm....


Aku membuka penutup mataku dna melihat jam telah pukul 10.00 waktu setempat. Dengan mata masih setengah mengantuk aku berdiri dan membuka gorden kamar hotel dan melihat pemandangan pagi kota London yang telah ramai oleh pejalan kaki dan kendaraan yang berlalu lalang. Aku termenung sebentar sembari melihat segala aktivitas yang ada di kota London. Kemudian aku teringat untuk menghubungi kekasihku, tapi aku ingat mungkin dia masih berada di atas awan saat ini.


Aku memutuskan untuk kembali tertidur sebentar dan bangun pukul 11.17, kemudian aku memebersihkan diri dan bersiap untuk memulai aktivitasku hari ini, ku harap hari ini tidak menjadi hari sialku. Aku kekuar dari kamar hotelku dan menuju cafe yang ada di dekat hotel, dan memesan vanilla latte untuk memulai hari hingga akhirnya aku harus balik ke kamar karena lupa bahwa hpku tertinggal di kamar.


Aku mulai menghidupkan hpku sembari bersenandung kecil hingga aku terbengong saat melihat wallpaper hp yang ku pengang. Seketika aku mengiingat kejadian semalam dimana aku tidak sengaja bertemu, tidak, tidak sengaja menabrak seorang pria.


Bagus!!! Apa yang akan kulakukan sekarang, kenapa hari ini berawal dengan kesialan? Itu berolak belakang dengan doaku pagi ini, mungkin malaikat keberuntunganku sedang pergi bentar dan meninggalkanku dengan malaikat sialku saat ini.


Kucoba untuk menghubungi nomor ponsel milikku.... panggilan pertama tidak terjawab, panggilan kedua dan ketiga juga tidak terjawab hingga akhirnya panggilan ke lima aku mendengar nada dering masuk dan seseorang menjawab panggilanku.


“Uhm.... Hallo?” aku bingung harus berkata apa.


“...” hening disana


“Ohh.. Hai.. siapa ini?” kata seorang wanita di sebrang sana.


“Handphone kita tertukar, kira kira dimana kita bisa bertemu?”


“Aku tunggu sekarang di lobby Grand Royale London Hotel.” Dan dia langsung memutus sambungan.


Kebetulan sekali dia menginap di hotel yang sama denganku. Tanpa berlama lama aku langsung menuju lobby dan duduk di dekat jendela sembari menikmati vanilla latte yang tadi kubeli.


Kudengar panggilan masuk lagi dan wanita itu mengabarkan bahwa dia sudah ada di lobby hotel, kuedarkan pandanganku dan menemukan seorang wanita seusiaku sedang melambaikan tangan dan aku menghampirinya.


“Maafkan kakakku yang suka teledor seperti itu.”


“Tidakpapa itu hanya suatu kebetulan.”


Aku terkagum dengan kecantikan wanita dihadapanku ini, mungkin memang sudah gen dari keluarga memiliki penampilan good looking semua. Aku penasaran bagaimana jika mereka memiliki anak nantinya.


“Namaku Viona, nice to meet you.”


“Ohh.. aku Anna, Annabella.”


“Kuharap kita akrab kedepannya.” Kujawab dengan sebuah senyuman sebelum aku pergi meninggalkannya.


...****************...


Aku mulai berjalan dengan cepat karena sudah hampir terlambat dengan jam kedatangan pesawat untuk menjemput Clayton kekasihku. Aku berjalan dengan tangan kiriku memegang segelas kopi yang tadi aku beli dan tangan kananku mengecek tas apakah ada sesuatu yang tertinggal di dalam kamar, sampai akhirnya...


Brukk...


****.... Benar benar hari sialku saat ini.


“Maafka...”


“Kau lagi nona ceroboh.” Kembali nada ketus yang aku dengar.


“Kau... apakah hobbimu tidak bisa menghindar orang yang lewat?”


Ku lihat kopi yang kubawa sudah berpindah tempat tepat di lantai dan mengenai sepatuku.


“Lihat akibat perbuatanmu sepatuku jadi kotor.” Jawabku dengan nada marah dan melotot ke arahnya tidak terima dan kemudian aku juga sadar..


“Lihat juga perbuatanmu jasku juga terkena noda kotor.”


“A...”


“Kau mau tau berapa harga jas yang aku kenakan ini?”


“Buat apa? Jas juga jas yang sama sama dari kain, cuci aja itu jas nodanya pasti hilang.”


“Aku tidak memakai jas yang kotor kedua kalinya.”


Apa apaan, apa peduliku dengan jas yang dikenakan. Ingin kuhiraukan dan mencoba untuk melewatinya, tetapi setiap langkahku dihalang oleh pria ini.


“Permisi tuan, aku sedang terburu menuju bandara.” Kataku masih dengan nada yang lembut.


“Dan kau akan pergi tanpa tanggung jawab?”


“Urgh... Minggir!!”


Dia masih tetap bergeming di depanku tanpa ada tanda tanda akan menyingkir. Cukup sudah, kesabaranku sudah habis, kuinjak sepatu yang dia kenakan dan yang aku tau pasti harganya sangat fantastis berkali kali lipat gajiku.


Kudengar dia mengumpat dan mengerang kesakitan sambil membungkuk memegang kakinya, kupandangi dia dengan tatapan kemenangan, seperti berhasil mengalahkan musuh bebuyutan. Dan dengan santainya aku berkata..


“Kuharap ini terakhir kalinya kita bertemu tuan.”