My Handsome CEO

My Handsome CEO
Seperti berteman



Al dan Chici kembali ke kantor bersama, Chici berjalan tegap disamping Al, menunjukkan bahwa dirinya adalah seorang sekretaris profesional, melupakan sesuatu yang tadi terjadi diantara mereka berdua.


Keduanya berjalan ke arah Lift khusus Presdir, masuk kedalamnya untuk bisa sampai ke lantai paling atas gedung tersebut. Setelah beberapa saat, lift tersebutpun berhenti, lalu pintunya terbuka. Al berjalan dahulu diikuti oleh Chici.


“Apa ada rapat yang akan saya tangani lagi?” Al bertanya disaat dia sudah berdiri didepan meja kerja sekretarisnya itu. Lalu Chici memeriksa komputernya, karena ia belum membuat buku catatan khusus kegiatan bos-nya itu.


“Tidak pak, tapi besok kita ada jadwal untuk pemantauan lokasi proyek yang kita bahas tadi, jadi untuk hari ini hanya meeting tadi saja yang menjadi agenda bapak,” Chici menjelaskan dengan rinci membuat Al mengangguk paham.


“Baiklah, sekarang kerjakan pekerjaan kamu!” setelah Al mengatakan hal tersebut Chici mengangguk sedangkan lelaki itu langsung berjalan masuk kedalam ruangannya meninggalkan Chici yang juga sudah duduk di kursinya, mengecek semua laporan yang masuk di email-nya untuk dikirim pada bos-nya itu.


Untuk menjadi sekretaris adalah pekerjaan yang dulunya sangat diinginkan oleh Chici hingga ia juga mengambil jurusan kuliah untuk menjadi sekretaris. Jangan tanyakan dimana ia mempunyai bakat untuk menjalankan presentasi dengan sangat baik, karena ayahnya juga adalah seorang pengusaha, yang tentunya juga menurun pada gadis itu, Chici juga sering melakukan presentasi saat masih kuliah dulu.


*"*"*"*"*"


Chici duduk di halte untuk menunggu bus yang akan ditumpanginya datang. Mendengarkan musik dari earphone-nya yang tersambung melalui ponsel. Musik adalah sesuatu yang sangat disukai Chici, suaranya yang indah jadi pembuktian bahwa gadis itu sangat pantas untuk menyanyi, tapi Chici menjadikan menyanyi hanya sebagai sesuatu hobi dan pengisi waktu luangnya.


Sebuah BMW berwarna hitam berhenti didepannya, membuat Chici mengernyit karena dia mengenali mobil tersebut.


Al membuka kaca mobilnya lalu menatap kearah Chici.


“Ayo naik!” ucap Al singkat membuat Chici mengkerut. Ada angin apa bos-nya ini menyuruhnya untuk ikut masuk bersama dengan dirinya kedalam mobil.


Chici membuka earphone yang terpasang di telinganya agar bisa mendengar dengan jelas perkataan bos-nya itu.


“Mau kemana pak bos?” ucap Chici bertanya, ia berdiri mendekat kearah jendela mobil Al melihat dari dekat pria itu duduk di kursi kemudi sendirian.


“Kamu pulang sama saya!” ucapan Al membuat Chici terkejut. Apa benar ini adalah bos-nya yang kemarin kaku dan datar kini mengajaknya pulang bersama.


“Kenapa pak bos?” bukannya mengiyakan Chici malah melontarkan pertanyaan tersebut kepada Al membuat lelaki itu gemas.


“Kamu mau nungguin bus sampai kapan? Ini udah hampir Maghrib, lagian kita satu gedung apartemen,” Al menjelaskan membuat Chici mengangguk.


“Oke deh,” Chici membuka pintu mobil lalu duduk disamping Al, ia menyimpan ponsel dan juga earphone miliknya itu kedalam tasnya. Mobil melaju meninggalkan halte tersebut.


“Pak bos,” panggil Chici pada Al yang kini sedang fokus menyetir dan terus melihat kearah depan.


“Hemm?” Al menjawab Chici hanya dengan deheman, dan Chici kini sudah mulai terbiasa dengan itu.


“Seharusnya ini ya pak bos, kalau ngajak cewek pulang itu harus dibukain pintu mobilnya,” Chici mengatakan hal tersebut membuat Al menatapnya sekilas, lalu kembali fokus kedepan.


“Biar apa?” tanya Al membuat Chici mendelik.


“Biar romantis gitu pak bos, kayak di film — film,” Chici sudah membayangkan seperti apa nanti bos kaku-nya ini membukakan pintu mobil untuk dirinya walau hanya sebatas sekretaris.


“Saya gak bisa buat romantis romantisan!” jawab Al dengan seenaknya membuyarkan lamunan Chici membuat wanita itu kesal.


“Aih pak bos, jadi lelaki itu harus romantis dikit dong,” ucap Chici pada bos-nya itu, kok jadi lelaki kaku amat sih, pikir Chici.


“Lah, kenapa?” Al bertanya dengan mengangkat sebelah alisnya


“Astaga pak bos, semua cewek itu suka di romantisin!”


“Termasuk kamu?”


“Iya dong!” Chici menjawab cepat membuat Al tergelak dengan sekretaris yang kini sudah mulai memberikan warna baru dalam hidupnya itu.


“Ya udah, kalau gitu saya romantisnya ke kamu aja!” Al mengatakan hal tersebut dengan santai tanpa beban, sedangkan Chici menatap bos-nya itu bingung.


“Lah kok saya?” ucap Chici mempertanyakan dirinya sendiri.


“Terus siapa lagi, saya gak punya pacar, mau romantis sama siapa coba?” Al mengatakannya membuat Chici tertawa dan membenarkan ucapan bos-nya itu.


“Hehe, iya ya, pak bos kan jombloh,” Chici tertawa meledek bos-nya membuat Al ikut tertawa mendengar ucapan Chici.


“Sekretaris asem kamu,”


“Kan fakta pak bos!” Chici membenarkan ucapannya sendiri.


“Saya gak jomblo pak bos!” Chici menolak untuk dikatakan jomblo.


“Masa’ sih?” Al bertanya dengan alis terangkat tanda dia tidak percaya akan ucapan sekretarisnya itu.


“Iya bener, saya gak jomblo pak,”


“Lah terus, jadi kamu punya pacar?”


“Enggak!” Chici menjawab dengan menggelengkan kepalanya, membuat Al kesal sekaligus gemas.


“Minta di geprek ini orang,”


“Ayam dong pak bos,”


“Stres saya lama — lama ngomong sama kamu!” Al mengusap pelipisnya lalu menatap Chici yang kini sedang tertawa.


“Kok stres, harusnya senang pak bos, kan pak bos jadi gak datar lagi sama saya,”


“Iya, saya nyaman ngobrol sama kamu,” Al mengatakan hal tersebut dengan nada pelan, hingga Chici tidak mendengarnya, membuat wanita itu bertanya heran


“Hah, apa?”


“Bukan apa-apa,” Al menjawab cepat. ‘Kok gue ngomong gitu sih,’ Al bermonolog sendiri. ‘Tapi kan dia emang lucu, semua orang pasti nyaman ngobrol sama dia, bukan gue aja,’ entah kenapa Al merasa tidak suka saat memikirkan hal tersebut. ‘Dia bisa bikin semua orang Fun, termasuk gue,’


“Ih pak bos,” lamunan Al buyar saat mendengar suara Chici yang menatapnya cemberut.


“Udah sampai, ayo turun,” Al mengalihkan pembicaraan membuat Chici kesal. Al membelokkan mobilnya masuk menuju ke area parkir gedung apartemen tersebut.


“Pak bos gak mau gitu bukain saya pintu?” Chici bertanya membuat Al tersenyum jahil.


“Mau,” ucap Al menjawab singkat membuat wanita itu berbinar senang.


“Mana coba?” ucap Chici dengan nada senang.


“Di mimpi kamu,” jawaban Al membuat Chici rasanya mau menampol wajah bos-nya itu dengan tasnya.


“Kok pak bos nyebelin?”


“Tapi gak datar lagi kan?” Al menaikkan sebelah alisnya tanda bertanya dengan nada menggoda pada Chici.


“Iya juga sih,” Chici mengiyakan perkataan Al, karena bos-nya itu kini bisa diajak bercanda.


“Nah makanya, ayo cepat turun,”


“Iya iya,”


Kedua anak manusia yang berbeda gender itu turun dari mobil mewah tersebut, Al berjalan terlebih dahulu diikuti oleh Chici dari belakang.


Keduanya masuk kedalam lift yang sama, tapi Chici turun terlebih dahulu karena sudah sampai dilantai tujuh letak kamar apartemennya berada.


“Saya duluan pak bos, terimakasih tumpangannya,” ucap Chici saat akan keluar dari dalam lift.


“Iya sama sama, nanti saya akan menghubungi kamu jika ada pekerjaan,” ucap Al menjawab.


“Iya pak bos,”


.


.


.


.


❤️❤️❤️