
Saat Chici sedang terlelap tidur ia mendengar nada suara ponselnya berdering, menandakan ada telepon masuk.
“Duh, siapa sih ini yang telepon orang tengah malam begini,” Chici merenggut kesal meraih ponselnya lalu menjawab telepon tersebut dengan malas. “Halo,” ucap Chici dengan nada malasnya bercampur kantuk.
“Halo,” ucap seseorang diseberang sana yang ternyata adalah pak bos CEOnya itu. Chici langsung bangkit duduk mengumpulkan kesadarannya, lalu mengucek matanya dan melihat pada layar ponselnya, yang ternyata itu adalah nomor yang dia save tadi siang yang bertuliskan “Bos Triplek”
“Ada apa pak? Kenapa nelpon saya malam-malam begini?” tanya Chici langsung, ia menatap jam pada dinding kamarnya yang ternyata sudah pukul sebelas malam.
“Saya sudah kirim email ke kamu, kerjakan sekarang karena besok kita akan ada rapat dengan para investor,” ucap Al dengan seenaknya membuat Chici membelalakkan matanya.
“Apa pak, kerjain berkas rapat! sekarang?” tanya Chici dengan nada geram yang tertahan pada orang yang diseberang sana hanya menggedikkan bahunya itu.
“Ya, sekarang!” jawab Al singkat. “Selamat malam,” lalu sambungan teleponnya pun terputus. Chici menatap pada layar ponselnya itu dengan kesal.
“Ahhhhh, bos sialan, gak tau apa gue lagi istirahat begini,” Chici melampiaskan kekesalannya pada selimut tak berdosa yang tergeletak disampingnya untuk menghangatkan tubuhnya itu selama ini.
“Dasar bos gak punya hati, udah tau ini tengah malam, dan besok rapat diadakan, dan dia baru bilang sekarang,” Chici masih dengan emosi sampai ubun-ubunnya.
Chici bangkit dari tempat tidurnya dengan kesal, berjalan keluar menuju dapur untuk membuat kopi. Sepertinya dia akan bergadang sampai larut malam hari ini.
Chici mengambil laptopnya lalu duduk di meja yang tersedia dikamarnya, sembari menyicip sedikit kopi panas tersebut, ia mengecek laporan yang dikatakan oleh bosnya itu, yang ternyata benar.
“Ahh, dasar bos lucknut, bos sialan, gue SUMPAHIN Lo bakal suka sama gue bos,” Chici terdiam sejenak memikirkan ucapannya.
“Kok sumpah gue itu sih?” tanya Chici pada dirinya sendiri. “Ah gak jadi, gue ralat.” sambungnya sembari tertawa.
“Gue sumpahin malam ini Lo bolak balik kamar mandi bos, sampai pagi,” Chici tertawa sendiri mendengar sumpah yang ia ucapkan. "“Sadis amat Lo Chi,”
*"*"*"*"*"
Pagi ini, seperti pagi sebelumnya Chici bangun lebih awal supaya dia tidak terlambat lagi seperti kemarin, mengumpulkan kesadarannya dengan susah payah karena bergadang semalaman, membuat kantung mata gadis itu menghitam.
Dia menenteng paper bag berisikan jas pak bosnya yang kemarin dia pakai untuk menutupi pakaiannya saat terkena tumpahan kopi, juga tas hitam kesukaannya yang berisikan flashdisk untuk pembahasan rapat nanti.
Chici duduk di halte bus, dia disana sendirian karena ini memang masih terlalu pagi, mungkin kerena terlalu takut untuk terlambat pergi bekerja dan juga takut untuk dimarahi seperti kemarin oleh bos datarnya itu.
Bus pertama pagi ini datang dan berhenti didepannya, lantas Chici masuk kedalamnya dan duduk di kursi yang kosong disana.
Chici membuka tasnya dan mengambil earphone lalu memasangkan ke telinganya, dan menyambungkan dengan ponselnya mendengarkan lagu kesukaannya untuk merilekskan pikirannya untuk menghadapi rapat nanti.
Bus yang ditumpanginya berhenti didepan halte, setelah menggesekkan kartunya Chici keluar dan berjalan bersemangat menuju masuk kedalam kantor Zavier Corp, tapi terlebih dahulu ia pergi ke pantry untuk membuat kopi panas untuk menemaninya bekerja, karena ia takut jika akan mengantuk nanti akibat bergadang semalam.
*"*"*"*"
Saat sedang mengerjakan laporan di komputernya, Chici melihat Al keluar dari lift khusus Presdir seorang diri dengan setelan formalnya yang membuatnya semakin terlihat tampan, lalu berjalan mendekat kepadanya.
“Selamat pagi pak bos,” Chici berdiri dan menundukkan kepalanya hormat menatap Al yang berhenti dan berdiri didepan meja kerja kebesaran gadis itu.
“Pagi,” ucap Al menjawab singkat. “Bagaimana dengan berkas rapat kita siang ini?” tanya Al menatap Chici serius, membuat gadis itu sedikit kikuk.
“Sudah saya siapkan pak, kita bisa langsung mulai rapat nanti,” ucap Chici menjawab yakin.
“Ya, saya yakin pak, saya pasti bisa,” Chici menjawab tegap membuat Al mengangguk.
“Kamu persiapkan diri baik-baik! Ini presentasi pertama kamu kan?” tanya Al lagi yang dijawab dengan anggukan kepala oleh Chici.
“Benar pak!” ucap Chici singkat, “Tapi saya akan berusaha dengan sebaik mungkin pak,” sambung Chici dengan nada yakin membuat Al mengangguk.
“Semoga nanti kamu tidak mempermalukan saya didepan para klien,” ucap Al lalu menatap Chici yang menganggukkan kepalanya.
“Saya tidak akan mempermalukan bapak nantinya,” jawab Chici yakin.
“Baiklah,” Al menjawab singkat, tapi dia masih berdiri didepan meja kerja gadis itu membuat Chici mengernyit.
“Tolong belikan saya sarapan,” ucap Al membuat Chici menganga.
“Haa?” mulut gadis itu terbuka lucu saat mendengar kata tolong dari mulut bosnya itu membuat Al berusaha menyembunyikan tawanya.
“Belikan saya sarapan,” ucap Al lagi membuat Chici mengangguk. Chici hendak berjalan tapi terhenti karena pertanyaan Al.
“Emang kamu tau apa yang ingin saya makan?” ucap Al membuat Chici menggelengkan kepalanya polos.
“Hehe, saya gak tau pak bos,” gadis itu hanya menjawab dengan cengengesan.
“Terus mau kemana?” tanya Al.
“Mau beli sarapan,” ucap Chici.
“Ya, emang kamu tau yang mau kamu beli apa? Saya kan belum bilang,”
“Kok pak bos ngeselin yah,” ucap Chici keceplosan lalu menutup mulutnya dengan cepat.
“Apa kamu bilang? Saya ngeselin?” Al menatap Chici tajam membuat gadis itu gugup diperhatikan seperti itu.
“Bukan pak, mungkin bapak salah dengar,” ucap Chici mengelak.
“Gak! Saya gak salah dengar, kamu bilang saya itu ngeselin,” ucap Al mendekat kepada Chici membuat gadis itu mundur hingga punggungnya menyentuh tembok pembatas.
“Iya, bapak nyebelin, ngeselin,” ucap Chici dengan beraninya membuat Al sedikit kesal tapi juga gemas pada wanita berponi itu.
“Saya?”
“Iya bapa... Hmmppff,”
.
.
.
❤️❤️❤️