
“Mama gak nyangka kalau kalian saling kenal,” ucap Anin memulai pembicaraan menatap dua orang yang hanya saling diam itu saat duduk dimeja makan. Tadi Anin memaksa Chici untuk ikut masuk bersamanya setelah ia tahu bahwa anak lelakinya itu ternyata adalah bos Chici.
“Ya iyalah ma, kan dia sekretaris aku,” ucap Al menjawab mamanya itu mengerling malas.
“Iya, kok kamu gak bilang kalau ganti sekretaris?” ucap Anin menatap Al serius, “Tapi gak apa-apa juga sih kamu ganti sekretaris, kalau dapatnya cantik kayak begini,” sambung Anin menatap Chici lembut membuat wanita berponi itu tersenyum malu.
“Apaan sih ma,” ucap Al mengelak, “Sekretaris lama aku dia lagi cuti buat melahirkan,” sambung Al lagi.
“Oh iya ya,” ucap Anin manggut-manggut. “Ya udah, kalau gitu kamu anterin Chici gih sampe depan apartemennya!” Anin memberikan perintah kepada Al membuat anaknya itu langsung menolak.
“Gak, apaan sih mama. Kan dia datangnya sama mama kok nyuruh aku sih,” Al langsung menyatakan ketidaksetujuannya.
“Pokoknya anterin Chici, dia udah baik banget sama mama tadi udah mau bayarin belanjaan mama, pokoknya kamu anterin dia,” Anin mengatakan hal tersebut dengan nada tegas membuat Al diam, jika sudah begini dia bisa apa, mamanya adalah orang yang tidak bisa untuk ditolak kehendaknya.
“Gak usah buk, saya bisa sendiri kok, lagian kan cuma beda satu lantai aja,”Chici juga menolak bos 'Datarnya' itu untuk mengantarkan dirinya, karena kan memang hanya berbeda satu lantai saja jarak apartemen mereka.
“Oh iya kok bisa kebetulan begini sih kalian tinggal disatu gedung yang sama?” ucap Anin berfikir. “Apa emang udah jodoh ya?” sambungnya lagi bertanya pada dirinya sendiri yang membuat Al maupun Chici langsung melototkan mata mereka.
“Gak ma enggak!” ucap Al menjawab cepat.
“Jangan buk, saya gak bakal kuat sama bos datar kayak dia,” ucap Chici menjawab jujur membuat Al melotot padanya.
“Hehe, peace pak bos,” Chici mengacungkan jari tengah dan telunjuknya pertanda damai.
“Datar dari mananya Chici? Dia itu konyol loh anaknya,” ucap Anin membuat Chici mengkerut.
“Masa sih buk?” ucap Chici.
“Aduh jangan manggil Buk dong, Tante aja ya Chi,” ucap Anin pada Chici yang membuat gadis itu tersenyum lalu mengangguk.
“Iya Tante,” ucap Chici meralat ucapannya. Chici menatap Al yang memalingkan wajahnya kearah lain.
‘Apa iya orang se-kaku dia dibilang konyol?’ Chici bertanya pada dirinya sendiri. ‘Ah udahlah, buat apa juga dipikirin,’
“Ya udah, kalau gitu saya pamit dulu Tante,” ucap Chici berdiri dari duduknya. Anin juga berdiri mengikuti Chici sedangkan Al hanya diam saja tanpa berniat bangkit sedikitpun.
“Hei, berdiri!” ucap Anin menatap Al tajam membuat lelaki itu menghembuskan nafas malas.
“Iya ... iya,” Al ikut berdiri dan mengikuti Anin dan Chici yang sudah berjalan menuju pintu.
“Anterin Chici sampai bawah,” ucap Anin.
“Dia bisa sendiri ma,” Al masih berusaha untuk menolak mamanya itu.
“Kamu gak mau dengerin omongan mama lagi?” tanya Anin menatap Al yang membuat lelaki itu menghembuskan nafas pasrah, jika sudah begini apa mau dikata, nanti ujung ujungnya dia disuruh untuk mau menerima perjodohan yang diatur oleh papa dan mamanya lagi seperti yang sudah-sudah jika dia tidak menurut.
“Iya, ini Al mau dengerin mama,” Al berjalan keluar mendahului Chici membuat namanya tersenyum senang.
“Apa salahnya sih kalau sendiri aja, padahal juga cuma satu lantai aja,” Al merenggut kesal, sedangkan Chici hanya diam saja melihat bosnya itu merenggut.
Al dan Chici masuk kedalam lift yang kebetulan hanya ada mereka berdua didalamnya, keheningan mengambil alih keadaan diantara mereka.
Ting.
Pintu lift terbuka, Al berjalan terlebih dahulu diikuti oleh Chici dibelakang.
“Makasih ya pak bos,” ucap Chici tersenyum walau dalam hati dia merenggut melihat wajah datar pria yang menjabat sebagai bosnya itu.
“Hmm,” hanya suara deheman itulah yang menjadi jawaban bagi Al untuk pertanyaan Chici.
“Bapak emang cuma bisa ngomong itu doang yah?” ucap Chici kesal membuat Al menatapnya dengan alis terangkat.
“Gak ada gitu yang keluar dari mulut bapak selain ham - Hem, ham - Hem aja gitu?” ucap Chici menirukan gaya bicara Al membuat lelaki itu tergelak.
‘Oh my God, he is really handsome when laughing,’ ucap Chici memuji bosnya itu dalam hatinya.
“Kamu ini lucu deh,” ucap Al setelah tawanya selesai.
“Hah,” bulu mata lentik gadis cantik itu mengerjap lucu membuat Al menatapnya sejenak lalu memalingkan pandangannya.
‘He looks cute when he blinks, (Dia terlihat imut saat mengerjapkan matanya,)’ Al menggelengkan kepalanya mengusir pikirannya.
“Lucu apanya pak?” tanya Chici penasaran.
“Sudahlah, tidak usah dipikirkan, sebaiknya kamu masuk, supaya tidak terlambat lagi seperti tadi pagi,” Al mengalihkan pembicaraan membuat Chici menurut.
“Selamat malam pak, terimakasih sudah mengantar saya,” setelah mendapatkan anggukan kepala dari bosnya itu Chici lantas menutup pintu, berjalan masuk lalu meletakkan belanjaannya di atas meja makan.
“Ah, ini sudah terlalu larut untuk makan nasi, aku sebaiknya bikin mie instan aja,” Chici mengambil satu bungkus mie instan lalu memasaknya setelah ia terlebih dahulu meracik bawang dan daun seledri lalu menumisnya di atas wajan yang cukup besar agar nanti kuah mie nya tidak tumpah. Ia juga memasukkan sebutir telur kedalam mie-nya itu.
“Siap,” ucap Chici saat aroma menggugah selera itu menguak di indera penciumannya, ia langsung menyantap mie tersebut sesudah terlebih dahulu ia tiup untuk mendinginkan.
*"*"*"*"
“Mama mau nginap disini,” itu adalah suara Anin saat ditanya oleh anak lelakinya itu untuk kembali kerumahnya atau tidak.
“Terus gimana sama papa?” tanya Al membuat wanita paruh baya itu terdiam sejenak.
“Biarin aja, nanti kalau kangen dia juga bakal kesini jemput mama,” jawab Anin dengan PeDenya membuat Al tersenyum masam.
“Eleehh, suka—suka mama aja deh,” ucap Al pasrah.
“Eh iya Al, itu Chici gimana kinerjanya?” tanya Anin kepo membuat Al mengernyitkan keningnya.
“Kenapa mama nanya nanya?” tanya Al memandang curiga namanya itu. “Dia aja baru sehari kerja sama aku mah, belum tau aku,” sambung Al menjawab pertanyaan mamanya itu.
“Gak apa-apa, kan mama cuma nanya aja,” ucap Anin, lalu tak lama setelah itu terdengar suara dering ponsel Anin berbunyi nyaring.
“Papa tuh nelpon mama,” ucap Al menebak terlebih dahulu sebelum dijawab oleh Anin.
“Kok kamu tau sih?” tanya Anin, ia lalu mengangkat telepon tersebut.
“Ya iyalah aku tau, kalian kan bucin,” Al lalu berdiri meninggalkan mamanya yang sedang berbicara dengan sang papa lewat telepon itu.
“Makanya, cepetan cari istri,” ucap Anin berteriak membuat sang suami diseberang sana terkaget.
“Mama nyuruh papa kawin lagi?” tanya suaminya itu membuat Anin terdiam.
“Bukan papa, tapi Al!” ucap Anin menjelaskan.
“Papa kira tadi mama nyuruh papa buat kawin lagi, kesempatan emas ini,” ucap suaminya itu membuat Anin naik darah.
“Gak ada jatah selama seminggu buat papa, Bye!”
.
.
.......