
Pagi ini seorang gadis sangat bersemangat untuk bangun dari tempat paling indah bagi orang yang lelah untuk beristirahat yaitu kasur, ia bergegas pergi ke kamar mandi untuk membersihkan badannya, menyapu segala kotoran yang menempel pada tubuhnya menggunakan air dan sabun.
Ini adalah hari pertamanya bekerja sebagai sekretaris CEO perusahaan Zavier Corporation. Setelah bersusah payah untuk melamar pekerjaan disana, dan akhirnya ia diterima sebagai sekretaris CEO yang katanya untuk menggantikan sekretaris lamanya karena cuti melahirkan.
Ia mendengar dari sahabatnya yang juga bekerja disana bahwa calon bosnya itu sangat tampan dan juga gagah walaupun terdengar dingin dan datar. Dan gadis ini sangat penasaran dengan semua yang dikatakan oleh sahabatnya itu hingga ia jadi sangat bersemangat untuk segera berangkat menuju ke kantor barunya.
Menggunakan pakaian terbaiknya ia berdandan senatural mungkin, karena memang pada dasarnya ia yang sudah cantik jadi tidak memerlukan dandanan yang berlebihan.
Menyambar Hiels hitam setinggi lima centi yang berada di rak sepatunya, lalu membawa tas hitam kesukaannya, gadis itu keluar dari apartemennya.
Ya dia memang tinggal di apartemen sendirian berpisah dengan kedua orangtuanya dan juga kakak lelakinya dengan alasan ingin mandiri, walaupun dengan berat hati orangtuanya melepaskan tapi dengan segala bujuk rayunya akhirnya luluh juga.
Berjalan menuju ke halte bus yang berada tidak jauh dari kawasan gedung apartemennya, ia duduk disana melirik kearah jam tangan yang melingkar cantik dipergelangan tangannya.
“Udah jam segini lagi, semoga aja gak telat,” ucap gadis itu sembari melirik ke arah kedatangan bus.
Setelah sepuluh menit menunggu akhirnya bus yang ditunggu-tunggu pun akhirnya tiba. Ia segara naik setelah pintu bus tersebut terbuka, melihat sekitar tapi tidak ada bangku kosong, jadi ia memutuskan untuk berdiri dengan memegang tiang pegangan yang tersedia disana.
Sebenarnya ia bisa saja meminta mobil pada kedua orangtuanya, tapi karena dia yang memang berniat untuk mandiri jadi dia memutuskan untuk selalu memakai bus jika pergi ke tempat kerjanya.
Bus yang ditumpanginya berhenti di halte bus didepan Zavier Corporation, tempat kerja barunya.
Setelah menggesekkan kartu E-money nya untuk membayar bus tersebut ia langsung bergegas berjalan ke arah lobby Zavier Corp, disana tampak ada dua satpam yang berjaga, setelah menganggukkan kepalanya ia langsung masuk, dan menanyakan pada resepsionis yang bertugas disana dimana letak lantai ruangan dari CEO Zavier Corp ini.
“Permisi, dimana letak lantai ruangan pak CEO?” tanya gadis itu menatap pada resepsionis cantik itu.
“Sorry, but here you must use English when it comes to office matters,(Maaf, tapi disini harus menggunakan bahasa Inggris jika menyangkut masalah kantor,)” ucap resepsionis itu dengan sopan membuat gadis tersebut gelagapan. Ah, integritas kantor Zavier Corp ini memang tidak bisa diragukan lagi, segala yang masuk kesini hanya orang orang yang mampu untuk bertahan di perusahaan ternama tersebut.
“Alright, so where is the CEO's room floor?(Baiklah, jadi dimana lantai ruangan pak CEO?)” ucap gadis itu bertanya lagi.
“It's on the thirty-fifth floor,(Ada di lantai tiga puluh lima,)” ucap resepsionis tersebut.
“Alright, thanks for the information,(Baiklah, terimakasih informasinya,)” gadis itu pergi menuju lift untuk naik kelantai tiga puluh lima, ia bisa melihat banyak karyawan yang berlalu lalang yang sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing.
Bunyi suara lift yang menandakan bahwa ia sudah sampai dilantai tujuannya, berjalan keluar dari lift, disana ia bisa melihat hanya satu ruangan saja yang tertera diatas pintunya ada tulisan “President Director”
Tok ... Tok..
Gadis itu mengetuk pintu beberapa kali hingga terdengar suara lelaki yang menyahut dari dalam.
“Masuk!” lantas gadis itu memegang gagang pintu lalu mendorongnya, setelah itu ia berjalan masuk dan menutup pintu, berjalan menundukkan kepalanya.
“Apa aku terlambat,” racau nya dalam hati menatap lelaki yang menunduk dan terlihat fokus pada laptopnya tersebut.
“Permisi,” ucap gadis tersebut membuat lelaki itu mendongak. “Oh my god, he's so handsome,(Ya tuhan, dia tampan sekali,)” racau gadis itu yang hanya tertahan didalam hatinya saja.
Lelaki itu mengernyitkan keningnya menatap gadis tersebut. “Apa kau yang akan menjadi sekretaris baruku?” tanyanya menatap gadis itu dari atas sampai bawah. Dan ia tidak menggunakan bahasa Inggris.
“Iya tuan,” ucap gadis itu gugup karena diperhatikan sedemikian rupa.
“Kau yang bernama Chici Renada Tanandra?” tanya lelaki itu lagi.
“Iya benar, saya Chici Renada,”
.
.
.
.
.