My Handsome CEO

My Handsome CEO
Makan siang



Al dan Chici masuk kedalam salah satu restoran mewah yang ada dikawasan perkantoran Zavier Corp. Keduanya duduk dimeja VIP dengan pelayanan mengesankan, dengan harga menu yang akan membuat dompet bisa tiba-tiba menjadi kosong.


“Kamu mau pesan apa” tanya Al menatap Chici yang saat ini sedang melihat-lihat buku menu tersebut.


“Ini beneran pak bos 'kan yang traktir?” ucap Chici bertanya tidak yakin.


“Menurut kamu?” Al membalikkan pertanyaan Chici.


“Ya harus pak bos-lah, kan pak bos yang ajak saya kesini,”


“Kalau kamu tau, ngapain nanya?” Al sudah mulai jengkel dengan Chici yang kelamaan memilih menu itu, dia merebut buku menu tersebut dari tangan Chici lalu melihatnya sekilas, setelah itu ia memanggil pelayan yang ada disana.


“Mbak,” ucap Al, salah seorang pelayan mendekat ke meja tempat Al dan Chici duduk, dengan memegang sebuah buku kecil dan juga pena.


“Ya tuan?” ucap pelayan wanita tersebut menatap kagum kepada Al, sedangkan Chici hanya diam memperhatikan keduanya.


“Saya mau pesan menu andalan terbaik yang ada disini, kalau minumnya saya mau lemontea,” Al mengatakan hal tersebut dengan yakin, sedangkan Chici hanya diam, toh nanti dia juga yang bakal makan itu menunya, pikir gadis tersebut.


“Baik tuan, kalau mbaknya mau pesan minum apa?” ucap pelayan itu bertanya setelah mencatat pesanan Al.


“Samain aja sama pak bos saya mbak, lemontea juga,” ucap Chici menatap pelayan tersebut.


“Baiklah, mohon ditunggu sebentar,” setelah mengatakan hal tersebut, pelayan itu berlalu dari sana meninggalkan dua anak manusia yang saling diam tersebut. Chici mengecek ponselnya yang sedari tadi ada didalam saku blezernya, yang ternyata ada pesan dari Danesha.


Danesha.


Lo makan siang sama pak bos?


Me.


Iya, emang kenapa?


Danesha.


Tumben pak bos mau makan sama sekretarisnya?


Me.


Lah, emang selama ini pak bos gak pernah makan sama sekretarisnya?


Danesha.


Kagak, makanya itu gue mastiin sama Lo, takut tadi gue salah lihat.


Me.


Gak, Lo gak salah lihat, ini gue lagi di restoran dekat kantor, nungguin makanan gue datang, lama amat.


Danesha.


Ya udah deh, Lo lanjut aja dulu, Bye.


Me.


Bye.


Lama menunggu, makanan yang dipesan pun akhirnya tiba, meja yang ditempati oleh Al dan Chici sudah penuh dengan makanan pesanan Al. Chici menatap makanan didepannya itu dengan tatapan berbinar.


“Saya boleh habisin ini pak bos?” ucap Chici menatap Al yang hanya menatap santai makanannya itu.


“Iya, terserah kamu, mau kamu makan juga piringnya saya gak masalah,” Al mengatakan hal tersebut dengan seenaknya membuat Chici kesal sekaligus jengkel.


“Emang pak bos pikir saya itu apa? Masa' saya makan piring,” Al hanya diam tak menjawab perkataan sekretarisnya itu, membuat Chici kesal.


“Cepat habiskan makanan kamu, kita harus secepatnya balik ke kantor,” ucap Al, sedangkan Chici hanya menganggukkan kepalanya pertanda mengerti.


Keduanya makan makanan tersebut dengan lahap, sungguh makanan yang tersedia di restoran ini sangat enak, membuat Chici rasanya ingin makan semuanya, jika saja Al tidak ada disini makan bersama dengannya.


*"*"*"*"*


“Al,” ucap seorang wanita mendekat kearah meja tempat Al dan Chici makan. Al dan Chici sama-sama mendongak menatap suara tersebut. Chici mengernyitkan keningnya tanda dia tidak mengenal wanita tersebut. Sedangkan Al dia terlihat tidak peduli dengan wanita yang menyapanya tersebut.


“Al,” panggil wanita itu lagi.


“Ada apa?” tanya Al ketus membuat wanita itu cemberut.


“Ketus amat sih Al,”


“Aku kangen sama kamu Al,” lantas saja perkataan wanita tersebut membuat Chici kaget. ‘Apa maksudnya ini? Apa dia pacarnya pak bos?’ ucap Chici lagi tapi masih didalam hatinya.


“Tapi saya bahkan tidak ingat lagi sama kamu,” wanita itu cemberut kesal mendengar perkataan Al, lalu dia menoleh pada Chici, seakan baru menyadari keberadaan gadis itu.


“Kamu siapa?”tanya-nya menatap Chici dari atas sampai bawah. Sedangkan Chici bingung untuk menjawab seperti apa.


“Saya?” tanya Chici pada dirinya sendiri.


“Iya kamu, terus kalau bukan kamu siapa lagi?” wanita tersebut mulai jengkel terhadap Chici, karena melihat Al yang bersamanya.


“Saya, se-..”


“Dia pacarku,” Al yang menjawab cepat memotong perkataan Chici yang membuat kedua wanita itu sama-sama terkejut.


“Apa?” ucap keduanya bersamaan.


“Kenapa Les? Dia pacarku,” ucap Al menatap kepada wanita tersebut. “Kekasihku lebih tepatnya,” sambung Al lagi, sedangkan Chici hanya terdiam tak bersuara mendengar perkataan Al, dia jadi berpikir siapa wanita di depannya ini sampai Al berkata dia adalah kekasih dari bos-nya ini. ‘Siapa ya ini cewek?’ Chici hanya diam bicara dalam hatinya melihat dua orang didepannya ini.


Alessandra Aurelia, wanita berwajah cantik yang mempunyai body bak gitar spanyol, tapi memiliki hati yang tidak seindah parasnya ini, adalah mantan pacar Al yang membuat lelaki itu menjadi terpuruk dan menjadi pribadi yang dingin, Al yang sebenarnya sangat periang dan suka bercanda ini jadi berubah karena wanita yang bernama Alessandra ini. Ditinggalkan disaat lagi sayang sayangnya, membuat Al hancur, dan menjadi sangat dingin terhadap wanita.


“Kamu pasti bohong ‘kan Al?” Alessandra menatap tak percaya pada dua orang didepannya itu.


“Bohong? Aku tidak pernah berbohong Alessandra, tidak seperti dirimu,” mendengar perkataan Al membuat mulut Alessandra seperti terkunci untuk mengeluarkan kata-katanya, karena bagaimanapun apa yang diucapkan oleh Al adalah benar. Semua itu adalah salahnya, kebodohannya, yang akan dia sesali seumur hidupnya.


“Al,” ucap Alessandra memanggil Al lembut. Sedangkan Al tidak menghiraukan wanita yang sudah membuat hatinya hancur berkeping-keping dahulunya.


“Ayo kita kembali sayang,” Chici terkaget mendengar perkataan Al, jantungnya berdegup kencang saat Al menggenggam tangannya meninggalkan wanita yang bernama Alessandra itu termenung sendirian melihat kepergian mereka dengan tatapan kebencian dan juga penyesalan. Benci karena dia berfikir Chici sudah merebut Al darinya, dan juga menyesal karena dulu dia sempat menyia-nyiakan lelaki se-sempurna Al.


Al berjalan kemeja kasir dan mengeluarkan kartu kreditnya membayar makanan yang tadi dia makan bersama sang sekretaris tanpa melepaskan genggaman tangan mereka.


‘Ya tuhan, ada apa dengan jantungku? Kenapa degub-nya kencang sekali?’ sebelah tangan gadis itu memegang dadanya, sebelah lagi digenggam oleh Al.


Al dan Chici tiba diparkiran restoran tersebut.


“Pak bos,” ucap Chici memanggil Al untuk menghentikan jalan mereka.


“Ada apa?” tanya Al yang masih belum sadar saat tangannya yang masih menggenggam tangan Chici.


“Jantung saya pak,” ucap Chici polos.


“Hah? Jantung kamu kenapa?” ucap Al bertanya dengan panik, ia takut jika tiba-tiba sekretarisnya itu terkena serangan jantung mendadak.


“Saya juga gak tau pak, dari tadi detaknya kencang banget!” Chici mengucapkan hal tersebut dengan polosnya.


“Sejak tadi kapan?” tanya Al bingung.


“Iya, sejak bapak menggenggam tangan saya,” Al yang masih belum melepaskan genggaman tangannya, langsung menoleh kebawah, melihat sendiri bagaimana tangannya menggenggam tangan sekretarisnya itu dengan erat.


Lantas lelaki itu langsung melepaskan tangannya dari tangan Chici, dengan wajah memerah karena malu, dia menatap Chici yang juga sudah memerah.


“Maaf,” hanya itu yang diucapkan oleh Al, setelah itu ia memalingkan wajahnya menghindari untuk menatap Chici.


“Kok masih kencang ya pak detaknya?” ucap Chici melihat kearah Al.


“Mana saya tau, yang punya jantung kan kamu? Ngapain tanya saya,” ucap Al menjawab membuat Chici kesal.


“Kan bapak juga punya jantung, kali aja bapak juga pernah kayak gini?” ucap Chici membuat Al mendongak. ‘Ini cewek polos amat ya,’ pikir Al menatap tak percaya.


“Saya gak punya jantung, jangan tanyain itu sama saya,” ucap Al kesal.


“Hah, kalau bapak gak punya jantung, kok bapak hidup?”


“Astaga,”


“Kan benar pak?”


“Gila saya lama-lama ngomong sama kamu,”


.


.


.


❤️❤️❤️