My Handsome CEO

My Handsome CEO
Bertemu kembali



Chici pulang ke apartemennya membawa paper bag yang berisikan bajunya yang tadi terkena tumpahan kopi, dan juga jas milik pak bosnya tadi. Chici masuk kedalam apartmentnya setelah menekan beberapa huruf, ia langsung membuka sepatunya dan meletakkan di rak sepatu yang ada disana.


Chici bergegas pergi kamar mandi dapur untuk mencuci pakaiannya yang tadi kotor juga jas bosnya itu.


“Ini jas pasti mahal banget harganya,” ucap Chici sembari mengisi air kedalam mesin cuci lalu menaburkan deterjen kedalamnya.


“Seharian gue kerja sama dia, gak ada itu suaranya keluar,” ucap Chici lagi saat mengingat tadi dirinya bertanya yang hanya dibalas deheman saja oleh bosnya itu. “Apa suara dia terlalu mahal buat gue dengar?” tanya Chici lagi bermonolog dengan dirinya sendiri.


*"*"*"*"*"


Setelah selesai dalam urusan mencucinya Chici bergegas mandi untuk membersihkan badannya yang terasa sangat lengket karena seharian ini.


Setelah selesai mandi gadis yang hanya tinggal sendirian itu mengecek isi kulkasnya yang ternyata sudah kosong, “Aihh, gue lupa beli bahan makanan lagi,” Chici mengerucutkan bibirnya lucu lalu kembali kedalam kamar untuk mengambil jaket dan juga dompetnya.


“Harus belanja malam ini nih, kalau besok pasti enggak keburu,” ucap Chici bergegas mengambil sepatu flatshoes miliknya, setelah itu menutup pintu apartemen yang terkunci otomatis dari luar.


Chici berjalan menuju lift, setelah itu masuk dan menekan tombol untuk ia bisa sampai dilantai dasar gedung apartemen tersebut.


Chici keluar dari lift lalu langsung menuju ke supermarket yang masih berada dalam kawasan gedung apartemen tersebut, ia masuk kedalam supermarket dan melihat ada seorang ibu—ibu yang kelihatannya sedang cek-cok dengan kasir supermarket tersebut.


“Saya lupa bawa dompet mbak, saya ambil dompet saya dulu nanti saya bayar,” ucap ibu tersebut dengan nada memohon.


“Gak! Saya tidak percaya, sebaiknya ibu bayar sekarang, jangan coba-coba buat nipu kami buk,” ucap penjaga kasir tersebut. Chici lalu berjalan mendekat dan melihat ibu tersebut, karena jika dilihat dari penampilannya ia terlihat seperti orang kaya.


“Biar saya yang bayar, berapa totalnya?” tanya Chici menyela pada kedua orang tersebut. Lantas ibu itu mendongak menatap Chici, “Jangan nak, ibu punya uang kok, tapi tadi ketinggalan,” ucap ibu tersebut menolak niat baik Chici.


“Udah Bu, gak apa-apa, biar saya aja yang bayar! Jadi berapa totalnya mbak?” ucap Chici bertanya kembali pada kasir tersebut.


“Jadi tiga ratus ribu pas,” ucap kasir wanita itu dan mengeluarkan struk total biaya yang harus dibayar oleh Chici.


Lantas Chici membuka dompetnya lalu mengeluarkan tiga lembar uang pecahan seratus ribu, lalu menyerahkan pada kasir tersebut.


“Terimakasih,” ucap kasir itu.


“Sama-sama,” ucap Chici menjawab singkat.


“Nak kamu tinggal di gedung apartemen ini kan?” tanya ibu tersebut.


“Iya Buk,” ucap Chici menjawab singkat.


“Kalau gitu ayo anterin ibu dulu ke apartemen anak ibuk, sekalian buat bayar uang kamu tadi,” ucap ibu tersebut dengan tatapan tak enak hati.


“Udah buk, saya gak apa-apa, uangnya buat ibu aja,” ucap Chici sopan.


“Gak, pokoknya kamu harus ikut ibu, soalnya ibu gak mau punya hutang nak,” ucap ibu tersebut memaksa.


“Baiklah, kalau gitu aku belanja sebentar buk,” ucap Chici yang diangguki oleh ibu tersebut.


“Ayo buk,” ucap Chici setelah selesai membayar segala belanjaannya, ia dan ibu tersebut lantas segera berlalu dari sana dan berjalan menuju gedung apartemennya.


“Oh iya, nama kamu siapa?” tanya ibu tersebut, karena sedari tadi mereka belum berkenalan.


“Saya Chici Renada buk,” ucap Chici tersenyum sopan.


“Saya panggil Chici ya?” ucap Ibu tersebut bertanya yang dibalas anggukan oleh Chici.


“Nama ibu Anindya, panggil Anin saja,” ucap ibu Anin memperkenalkan diri.


“Iya ibu Anin,” jawab Chicci singkat.


Tak terasa kini mereka sudah tiba di loby gedung apartemen tersebut.


“Kamu tinggal dilantai berapa?” tanya Anin pada Chici.


“Saya dilantai tujuh buk,” jawab Chici singkat.


“Wah cuma beda satu lantai dong ya sama anak saya, dia ada dilantai delapan,” ucap Anin tersenyum senang. Mereka berjalan menuju lift untuk terus terlebih dahulu pergi ke kamar apartemen anak ibu Anin tersebut.


Sembari menggotong belanjaannya Chici mengikuti Anin dari belakang, wanita paruh baya yang masih terlihat sangat cantik dan terawat itu terlihat bersemangat untuk membawa Chici menemani dirinya untuk bertemu dengan anaknya.


Anin mengetuk pintu beberapa kali hingga tak lama setelah itu pintu tersebut tertarik tanda dibuka seseorang dari dalam.


Chici membulatkan matanya kaget melihat seseorang yang membuka pintu tersebut.


“Pak Azriel?” ucap Chici menatap Al terkejut begitupula dengan Al yang juga tampak terkejut melihat Chici bersama dengan mamanya.


“Kamu?” ucap Al pula, “Kenapa bisa sama mama saya?” tanya Al lagi membuat Anin mengernyitkan keningnya.


“Kalian saling kenal?” tanya Anin menatap keduanya bergantian.


“Dia bos saya buk,”


“Dia sekretarisku ma,”


.


.


.


.


TBC.