
Chici memegang bibirnya terkejut.
“Pak bos ngapain?” tanya Chici meraba bibirnya.
“Itu tadi ada sesuatu disana jadi saya ambilin,” ucap Al menjawab singkat dengan nada santainya.
“Sesuatu apa pak?” tanya Chici.
“Sesuatu yang manis,” jawab Al singkat.
“Cepat belikan sarapan saya,” sambung Al lagi mengalihkan pembicaraan.
“Saya barusan ada ngerasain sesuatu pak,” ucap Chici yang belum bisa mengalihkan pikirannya.
“Ngerasain apa?”
“Manis,”
“Apanya yang manis?”
“Bibir bapak,”
*"*"*"*"*"
Chici masuk kedalam ruangan Al dengan memegang kantong ditangannya yang berisi bubur putih, ia melihat Al disana sedang fokus pada laptopnya.
“Pak,” ucap Chici memanggil membuat Al mendongak menatapnya.
“Bawa kemari,” ucap Al singkat saat ia melihat Chici memegang kantong yang ia yakini sebagai sarapan yang diinginkan olehnya. Chici berjalan mendekat berdiri tegap didepan meja kerja kebesaran bosnya itu.
“Kenapa bapak ingin makan bubur putih?” tanya Chici penasaran, karena biasanya seorang bos itu pasti memakan makanan yang berkelas, bukan bubur putih yang dijual dipinggir jalan seperti yang diinginkan oleh bos-nya ini.
“Pencernaan saya kurang baik semalam, jadi saya ingin makan bubur putih,” ucap Al menjelaskan membuat Chici mengkerut.
“Bapak salah makan?” tanya Chici yang dibalas dengan gelengan oleh bosnya itu.
“Lalu?” tanya Chici lagi.
“Mungkin ada yang nyumpahin saya biar bolak-balik kamar mandi semalam,” Al mengucapkan hal tersebut dengan asal, sedangkan Chici yang mendengar perkataan bosnya itu membuatnya mengkerut lalu menutup mulutnya.
‘Apa karena sumpah gue semalam yah?’ Chici berfikir dalam hatinya menatap Al yang sedang membuka bungkusan bubur putih itu. ‘Masa iya sumpah gue langsung dikabulkan kayak gitu?’ Chici masih terdiam dalam pemikirannya menatap kosong kedepan.
“Kamu mau?” tanya Al yang dijawab dengan gelengan oleh Chici.
“Pak,” panggil Chici singkat.
“Apa?”
“Bapak udah suka sama saya?” pertanyaan Chici membuat Al langsung tersedak karena bubur yang dimakannya, dan menyemburkannya keluar, membuat Chici cepat cepat mengambil tisu dan juga memberikan air minum pada Al.
“Aa .. paaa?” nada serak yang keluar dari suara Al dapat Chici ketahui bahwa pasti tenggorokan bosnya itu saat ini sedang sakit karena tersedak. Al meletakkan kembali gelas air minum yang sebelumnya diambil oleh Chici dispenser yang ada didalam Al.
“Maaf pak,” ucap Chici singkat merasa tidak enak hati karena pertanyaannya.
“Kenapa kamu tanya saya sudah menyukai kamu atau belum, kamu bahkan bekerja disini baru dua hari,” ucap Al menatap Chici heran dengan pemikiran sekretaris konyolnya ini.
“Karena semalam saya nyumpahin bapak,” ucap Chici jujur dengan polosnya membuat Al membulatkan matanya menatap Chici tajam.
“Apa? Nyumpahin! Kamu nyumpahin saya apa?” tanya Al menatap Chici dengan tatapan tak percaya, sedangkan orang yang ditatap hanya menampilkan cengiran tak berdosanya.
“Awalnya saya nyumpahin supaya bapak biar suka sama saya, tapi gak jadi pak, terus saya ralat lagi sumpah saya buat bapak terus bolak-balik ke kamar mandi,”
“Kamu nyumpahin saya,” Al tertahan untuk bicara, menatap Chici yang menunduk. “Jadi kamu yang bikin saya bolak-balik ke kamar mandi semalam?”Al mengatakan hal tersebut dengan geram bercampur gemas. Geram dengan sumpah sekretarisnya itu, dan gemas dengan kejujuran dan kepolosan sekretaris konyolnya ini.
“Maafin saya pak, bapak sendiri sih yang salah,” Chici mencoba untuk membela diri, dan tidak mau untuk disalahkan.
“Ya kan bapak nyuruh saya kerjain berkas buat presentasi saya tengah malam, saya kan ngantuk pak, istirahat saya jadi kurang,” Chici mencoba meyakinkan diri bahwa dia tidak bersalah.
“Terus menurut kamu istirahat saya gak jadi kurang gitu?”
“Gak,” ucap Chici singkat membuat Al geram.
“Gue tampol juga ini orang,” Al berkata seperti itu dengan suara terendahnya dengan nada kesal.
“Apa pak?” Chici bertanya karena ia tidak mendengar apa yang diucapkan oleh bosnya itu.
“Bukan apa-apa,” Al menjawab singkat sembari mengurut pelipisnya.
“Terus?”
“Untungnya saat ini saya masih butuh tenaga kamu, jadi gak saya pecat,” Al mengatakan hal tersebut menatap tajam pada Chici.
“Lah pak, kok gitu?”
“Itu karena kamu udah berani nyumpahin saya,”
“Ya kan saya udah minta maaf pak,”
“Tiada maaf bagimu,” ucap Al asal yang terdengar lucu bagi Chici membuatnya tergelak.
“Puitis amat pak,” Chici berkata seperti itu sembari menutup mulutnya.
“Udah, kembali berkerja, sebentar lagi kita bakal ada meeting,” Al mengingatkan Chici pada meeting yang membuatnya kurang tidur semalam, dan ia juga harus mempersiapkan diri untuk melakukan presentasi.
“Iya pak, kan karena meeting ini juga saya nyumpahin bapak,” Al yang mendengar hal tersebut langsung geram jika mengingat dirinya harus bolak-balik ke kamar mandi semalam beberapa kali, untung saja sang mama sudah dijemput oleh Papa-nya jadi dia tidak mengetahui hal tersebut.
“Kamu mau saya pecat?” tanya Al dengan nada geram yang langsung mendapat penolakan dari sekretarisnya itu.
“Eh ... Eh, jangan pak,”
“Udah sana!” Al mengusir Chici keluar dari ruangannya, jika gadis konyol itu lama lama didalam ruangannya pasti akan membuat Al semakin naik darah.
“Bapak udah banyak omong ya sekarang, gak datar lagi,” Chici mengatakan hal tersebut sembari tersenyum meledek Al yang hari ini berhasil ia buat untuk mengeluarkan sikap konyolnya, seperti yang dikatakan oleh Anin semalam, dan kini Chici tau bahwa Al ternyata adalah seorang yang asik.
“Chiciiii,” Al memanggil nama Chici tertahan menahan kekesalannya.
“Iya pak iya,”
“Cepat!”
“Dasar tembok!” setelah mengatakan hal tersebut Chici langsung berlari menuju ke arah pintu.
“Apa kamu bilang?”
Brakkk..
Itu adalah bunyi suara pintu yang ditarik oleh Chici dan dilepaskan begitu saja membuat Al terkejut.
“Hadeeh, punya sekretaris satu konyolnya minta ampun,” Al mengusap hidungnya.
.
.
.
❤️❤️❤️