My Handsome CEO

My Handsome CEO
Hari yang sial



Gadis yang bernama Chici itu sudah duduk di kursinya, setelah tadi ia berkenalan dengan lelaki dingin yang menjadi bosnya itu, ia langsung disuruh untuk menjalankan pekerjaannya sebagai sekretaris seorang CEO.


“Kenapa dia kaku sekali, apa dia seperti itu pada setiap orang?” ucap Chici bertanya pada dirinya sendiri dalam gumaman kecil. “Tapi bagaimana bisa perusahaannya bisa sebesar ini jika dia bersikap seperti itu,” ucap Chici lagi, “Ah sudahlah, untuk apa aku pikirkan, lebih baik aku segera menyelesaikan pekerjaanku!” ucap Chici lalu fokus pada layar komputer yang ada didepannya. Mengutak atik keyboard komputer tersebut mengerjakan tugas yang sudah diberikan oleh bos-nya tadi setelah perkenalan, dengan beberapa tumpuk dokumen yang ditinggalkan oleh sekretaris lama pria tersebut.


Tak lama setelah itu, terdengar suara telepon intercom yang berdering didekatnya. “Hallo,” ucap Chici sopan, karena telepon itu dari bosnya.


“Buatkan saya kopi sekarang!” titah bosnya itu dengan nada datarnya, lalu langsung mematikan sambungan teleponnya.


“Apa? Astaga, datar sekali dia,” ucap Chici menutup telepon tersebut lalu bergegas menuju lift untuk segera sampai di pantry yang ada di lantai paling bawah perusahaan tersebut.


Ava berjalan keluar dari lift lalu ia bingung untuk pergi kearah mana karena ini baru kali ketiganya dia pergi ke kantor ini, setelah memasukkan lamaran kerja, dan interview, jadi ia masih belum tahu dimana letak pantry tersebut.


“Aku harus kemana ini?” tanya Chici pada dirinya sendiri. Tapi tak lama setelah itu ia melihat temannya yang mengatakan bahwa bosnya yang sangat tampan itu kebetulan lewat tidak jauh dari tempatnya berdiri.


“Danesha,” panggil Chici, lalu orang yang dipanggil tersebutpun menoleh kearahnya.


“Chici” ucap Danesha mendekat kepadanya. “Kenapa?” tanyanya langsung.


“Hehe, gue mau ke pantry tapi gak tau dimana,” ucap Chici cengengesan.


“Ya elah, tinggal nanya doang apa susahnya sih?” ucap Danesha mengerling malas.


“Hehe, anterin yah, gue buru buru soalnya takut nanti dimarahin lagi gue,” ucap Chici dengan sedikit kesal.


“Dimarahin gimana?” tanya Danesha, “Kita sambil jalan aja ngobrolnya,” sambungnya lagi.


“Tadi gue telat dua menit dimarahin abis abisan,” ucap Chici jengkel jika mengingat saat tadi pagi laki-laki itu menatap tajam pada dirinya yang terlambat walaupun hanya dua menit.


“Iya, Pak Al itu emang seperti itu, dia itu on time banget orangnya,” ucap Danesha yang masih saja memuja laki-laki yang mengebalkan menurut Chici tersebut.


Azriel Danadyaksa Zavier atau yang biasa dipanggil Al itu adalah seorang lelaki tampan keturunan dari Anindya Zavier dan Akasyah Zavier, yang juga memiliki seorang adik yang bernama Aruna Anjani Zavier. Dia anak lelaki pertama dan satu-satunya, ia adalah seorang laki-laki yang pernah gagal dalam urusan wanita, maka dari itu ia berubah menjadi seorang yang kaku dan juga dingin. Pernah gagal dalam urusan asmara membuatnya menjadi sangat perfeksionis dalam memilih dan juga melihat wanita.


Danesha berdiri sembari membuka pintu untuk menuju pantry, disana Chici dapat melihat dengan jelas segalanya tersedia lengkap. “Wahh, lengkap banget,” ucap Chici takjub.


“Udah ayo cepet buat kopinya, pak Al itu gak suka kalo ada yang gak tepat waktu kalau lagi jam kantor,” ucap Danesha memberi tahu.


“Yang Lo hadapin ini pak Azriel loh Chi, jadi hati hati aja Lo,” ucap Danesha mengingatkan.


“Iya ... Iya,” Danesha meninggalkan Chici di pantry tersebut sendirian karena dia juga harus mengerjakan pekerjaannya.


Lalu Chici bergegas mengambil gelas dan sendok lalu memasukkan beberapa sendok teh gula kedalamnya, tentu juga kopi yang menjadi bahan utama dari yang akan buatnya saat ini.


Chici berjalan keluar dari pantry tersebut berlalu menuju lift untuk bisa sampai pada lantai tiga puluh lima, ia berjalan berhati-hati membawa tadah dengan gelas tersebut.


Chici mendorong pintu ruang CEO itu pelan, tapi nasib sial kini sedang menimpanya karena kebetulan Al juga menarik pintu tersebut hingga kopi yang dibawa oleh Chici tumpah hingga mengenai pakaiannya.


“Aduh ... aduh panas,” ucap Chici kaget lalu meletakkan gelas dengan sembarang tempat.


Ia mengibaskan pakaiannya, sedangkan Al yang juga sama terkejutnya langsung membuka Jas yang kini sedang ia pakai lalu memberikan pada Chici untuk menutupi baju gadis itu yang kotor karena kopi.


“Makanya, kalau ngerjain sesuatu itu hati-hati!” ucap Al dengan nada dinginnya. Setelah itu ia segera berlalu dari sana meninggalkan Chici yang terbengong sendirian.


“Ada ya bos model begitu?” tanya Chici pada dirinya sendiri.


“Dasar bos es batu, orang lagi kesakitan gini malah dikatain,” ucap Chici merenggut, lalu memperbaiki tata letak jas yang kini digunakannya itu.


“Eh tapi dia baik juga sih, udah mau minjemin gue jas,” ucap Chici lagi. “Ah udahlah, yang penting sekarang gue harus ganti baju,” sambungnya lagi.


“Hufftt, hari yang sial,”


.


.


.


.