My Handsome CEO

My Handsome CEO
Meeting



Chici dan Al berjalan masuk beriringan kedalam ruangan rapat. Disana sudah ada beberapa orang investor duduk di kursi masing-masing menunggu kedatangan Al dan juga Chici tentunya.


Oh iya, perusahaan Al adalah perusahaan yang mencakup dalam segala bidang, dimulai dari pusat ritel perbelanjaan, restoran, hiburan, transformasi, dan gaya. Dan kini mereka akan mengadakan rapat tentang pembangunan pusat perbelanjaan di pusat kota.


“Good afternoon all,” Al menyapa semua calon investor yang berdiri menyambut kedatangannya. Mereka semua lalu bersalaman dengan Al dan Chici satu persatu.


“Good afternoon, Mr. Azriel,” jawab mereka serentak.


“Sorry for the delay,(Maaf atas keterlambatan kami,)” ucap Al sungkan karena sudah ditunggu oleh mereka.


“No problem Mr. Al,” ucap salah seorang dari mereka.


“Baiklah, apa kita bisa memulai rapatnya sekarang?” tanya Al dalam bahasa Indonesia, yang dibalas anggukan oleh mereka semua.


“Oh yes, beforehand I'd like to introduce my new secretary who will deliver the meeting material this afternoon,(Oh ya, sebelumnya saya ingin memperkenalkan terlebih dahulu sekretaris baru saya yang akan menyampaikan materi rapat siang ini,)” ucap Al menatap Chici didepan semua orang, sedangkan Chici menganggukkan kepalanya.


“OK,” jawab salah seorang investor menganggukkan kepalanya.


“Good afternoon everyone, introduce me Chici Renada Tanandra, Mr. Azriel's new secretary,” Chici memperkenalkan dirinya dengan sopan.


Setelah itu ia membuka laptopnya lalu memasangkan flashdisk dan menyambungkan dengan layar yang sudah disiapkan sebelumnya.


“Alright everyone, can we start the meeting now?” Chici menatap satu persatu para investor yang ada disana beserta para sekretaris masing-masing.


“Yes, please start now.” ucap salah satunya.


“Use Indonesian or English?” ucap Chici bertanya sebelum menjelaskan, sedangkan Al sudah terkagum terlebih dahulu kepada sekretaris barunya itu. ‘Dia terlihat sangat meyakinkan jika disaat seperti ini, bukan seperti dia tadi pagi yang konyol,’ ucap Al bermonolog dengan pemikirannya.


“Just English,” ucap salah satu dari mereka yang diangguki oleh semuanya.


“Good everyone, here I will explain in advance about the project that we will carry out, and also about the benefits that you will get if you invest your funds for this promising project,(Baiklah semuanya, disini saya akan menjelaskan terlebih dahulu tentang proyek yang akan kita laksanakan, dan juga tentang keuntungan yang akan kalian dapatkan jika menginvestasikan dana kalian untuk proyek yang menjanjikan ini..bla... bla... bla..)”


Semua orang mengangguk paham mendengar semua penjelasan Chici termasuk Al sendiri, dan kini dia semakin dibuat tak percaya oleh kinerja mengagumkan sekretaris barunya itu.


“Well, that's all I can explain, I hope you all entrust us to invest your funds in this project, because this project is really very promising,(Baiklah, hanya itu yang bisa saya jelaskan, semoga kalian semua mempercayakan kepada kami untuk menginvestasikan dana kalian pada proyek ini, karena proyek ini benar-benar sangat menjanjikan,)” Chici mengakhiri presentasinya dengan sangat baik hingga mendapatkan tepuk tangan dari semua orang yang ada disana bahkan termasuk Al sendiri.


“Mr. Al, I will sign the proposal as soon as possible,(Tuan Al, saya akan menandatangani proposal nya sesegera mungkin,)” ucap investor yang berbadan agak gemuk.


“Yes, I will also sign it,” ucap yang lainnya.


“Alright, then we'll end the meeting here, good afternoon,(Baiklah, kalau begitu rapat kita sudahi sampai disini, selamat siang,)” Al menutup rapat tersebut, lalu mereka semua saling bersalaman, hingga satu persatu meninggalkan ruangan rapat, meninggalkan Chici dan Al berdua disana.


“How is boss? what is my amazing achievement?(Bagaimana bos? Apa prestasi saya mengagumkan?)” ucap Chici tersenyum puas pada bos datar-nya itu.


“Yes, very very awesome,(Ya sangat-sangat mengagumkan,)” setelah itu Al berjalan keluar dengan santainya tanpa membawa apapun, sedangkan Chici harus kerepotan karena dia harus membawa laptop dan juga berkas yang ditinggalkan oleh bos-nya itu.


“Dasar bos gak peka, apa salahnya sih kalau bantu buat bawain ini, biar gue gak kerepotan gini,” Chici merenggut dibelakang Al, sedangkan pria itu tetap melanjutkan langkahnya tanpa peduli pada Chici yang berceloteh ria dibelakangnya.


Al masuk kedalam ruangan, memegang pintu agar tidak tertutup membiarkan Chici masuk membawa barang-barang yang ia tinggalkan diruang rapat.


“Huh,” Chici menghembuskan nafas lega saat laptop dan berkas itu sudah berpindah tempat dari tangannya ke meja kerja sang bos. Ia lalu mendudukkan dirinya di sofa yang tersedia disana. Dan Chici yang melihat Al akan seperti akan mengeluarkan kata-katanya, langsung menyela kalimat sang bos.


“Saya numpang duduk pak bos, capek tadi berdiri terus pas prestasi, pak bos mah enak cuman duduk manis doang, lah saya capek pak bos, biarin saya duduk disini dulu,” Chici mengatakan hal tersebut membuat Al mengernyit.


“Yang larang kamu buat duduk disana siapa?” tanya Al menatap Chici dengan memicingkan matanya.


“Lah itu, pak bos kayak mau ngomong, pasti mau ngelarang saya buat duduk disini kan?” ucap Chici mengambil kesimpulan seperti itu.


“Makanya, jadi orang itu jangan suka suuzon,” ucap Al singkat, setelah itu ia berjalan menuju kursi putar kebesarannya, duduk disana dengan santai dan memalingkan wajahnya dari sekretarisnya yang terlihat sangat menggemaskan saat kelelahan itu. ‘Oh shit, kenapa dia terlihat seksi saat duduk kelelahan seperti itu,’ Al mengalihkan perhatiannya pada ponsel yang ada di genggamannya


“Kalau pak bos bukan mau ngelarang saya, terus mau ngomong apa?” tanya Chici. Al menatap Chici sekilas, lalu kembali memalingkan pandangannya.


“Tadinya sih saya mau ajak kamu makan siang bareng, tapi kayaknya kamu kecapean banget, ya sudah, gak jadi aja,” Al mengatakan hal tersebut dengan tersenyum miring, karena ia yakin sekretarisnya itu tidak akan menolak.


“Siapa juga yang kecapean, saya udah gak kecapean lagi pak bos,” Chici langsung berdiri tegak dari duduknya berjalan menuju ke depan Al yang dibatasi oleh meja kerja lelaki itu. “Ayok pak, bapak mau traktir saya kan?” sambung Chici dengan bersemangat. Al sebenarnya tak kuasa menahan tawanya karena sekretaris konyolnya ini, tapi dia harus menjaga image sebagai bos yang dingin, maka dari itu ia berdehem untuk mengubah mimik wajahnya.


“Iya, sebagai keberhasilan kamu untuk hari ini, saya akan traktir kamu,” ucap Al, setelah itu Al berdiri beranjak dari tempat duduknya, berjalan keluar yang diikuti oleh Chici dibelakang.


Bos dan sekretaris itu meninggalkan lantai teratas gedung Zavier Corp, keduanya masuk kedalam lift untuk bisa sampai dilantai paling bawah, tidak banyak yang mereka temui dibawah karena saat ini adalah jam makan siang, maka dari itu seluruh pegawai ada di kantin saat ini.


.


.


.


❤️❤️❤️