My Doctor Is Mine

My Doctor Is Mine
6. Perbuatan Buruk



Seorang perawat kelihatan sangat panik, sedikit berlari dengan melihat sekeliling nya. siapa yang ia cari? ketika melewati depan ruang dokter Christ yang sedikit terbuka, ia masuk tiba-tiba tanpa permisi.


"Dok... Dokter bisa ikut saya sebentar?" ucapnya dengan gugup.


Christ kaget melihat kedatangannya tiba-tiba ke ruangan. "kau kenapa? tenangkan dulu dirimu sebelum berbicara, atur nafas pelan-pelan. " jawabnya mendekati perawat di dekat pintu ruangan.


Tanpa menjelaskan lebih dulu, perawat itu dengan lancang tanpa sadar, menarik tangan dokter Christ menuju sebuah ruangan. Tertulis depan pintu, Ruang Santai, ruangan itu biasa dipakai para perawat untuk beristirahat sejenak saat jam istrahat ataupun pergantian jam kerja.


Sebuah ruangan yang memiliki seketan-seketan papan tiap satu tempat peristirahatan. Christ dan seorang perawat masuk ke dalam ruangan tersebut secara pelan-pelan. Keduanya mendengar suara aneh yang membuat merinding.


Suara aneh itu tidaklah asing di telinga Christ. Suara ******* seseorang yang sepertinya ia sangat kenal. Christ dan perawat masuk ke dalam salah satu seketan tempat peristirahatan.


Setiap seketan papan tiap ruang, memiliki sebuah cela berbentuk persegi yang di tutup oleh gorden. Gunanya untuk memberikan sesuatu apapun yang dibutuhkan para perawat saat beristirahat dari kamar sebelah.


Jadi, setiap perawat yang masuk kedalam ruang peristirahatan dalam bentuk seketan papan itu, wajib untuk menutup dan mengunci pintu dari dalam, ketika akan beristirahat sejenak.


Maka dari itu di buatlah tiap ruang peristirahatan sebuah lubang berbentuk persegi yang di tutup gorden pada setiap kamarnya. Barangkali ada salah seorang perawat hendak membutuhkan sesuatu dari teman kamar sebelahnya, hanya melalui lubang persegi tersebut tanpa harus membuka pintu kamar itu.


Hal demikian dilakukan untuk mewaspadai jika ada orang yang akan berbuat jahat kepada salah satunya. Sebab di ruangan itu tidak terdapat CCTV.


Christ mengintip dari balik lubang berbentuk persegi, untuk memastikan bahwa dugaannya adalah benar. Seketika kedua bola mata melotot tajam. Dia melihat pemandangan yang mengejutkan.


Bisa-bisanya Celine dan Nichols melakukan hubungan itu di ruang peristirahatan para perawat. Hal ini sangat memalukan jika diketahui banyak orang.


Christ sangat paham betul, bahwa dulu mereka sekolah di perguruan tinggi yang berada di luar negeri, dengan mengenal pergaulan bebas, akan tetapi tak sepatutnya mereka melakukan hal ini disini. Rasanya Christ sudah tidak sabar untuk menegur mereka secara langsung, akan tetapi ia menahan niat itu. Sebab menurutnya itu bukan merupakan sikap yang bijak, apalagi di depan suster.


Tanpa menunggu lama dan tidak ingin melibatkan perawat tersebut dalam hal ini, Christ menyuruhnya pergi meninggalkan tempat tersebut. Sembari ia menunggu Celine dan Nichols keluar dari ruangan itu.


Lalu, seorang perawat itu pergi meninggalkan Christ sendirian. Ketika akan melangkahkan kaki keluar dari sana, ia kebingungan sebenarnya apa yang dokter Christ lihat, dan siapa orang itu? namun, tak sampai hati untuk berbuat lancang dalam mengetahuinya.


"Akhirnya lega juga." perkataan Nichols dan Celine selepasnya, memakai kembali pakaian masing-masing.


Saat membuka pintu kamar, Celine dan Nichols kaget melihat keberadaan Christ di depan pintu. Keduanya menundukkan kepala. Tanpa mengatakan apapun Christ mengajak keduanya masuk ke dalam ruangan kerjanya.


"Duh kenapa harus ada dokter Christ disini?" kata Celine


"Darimana dia mengetahui ini?" ucap Nichols


"Mau taruh dimana ini muka kita? " tanya Celine


"Kira-kira apa yang akan dia katakan nanti? " timpa Celine


"Mana aku tahu, ya jelas sudah pasti akan menegur kita berdua atas perbuatan ini." sahut Nichols


"Sudahlah tenang saja, berani berbuat berani bertanggung jawab." tambahnya.


Celine dan Nichols saling berbisik saat melangkah meninggalkan tempat itu. Mereka berjalan tepat di belakang Christ dengan posisi tetap menundukkan kepala.


"Buatkan saya dua cangkir hot coffee dan satu cangkir hot tea bawa ke ruang kerja saya, sekarang." ucap Christ kepada seorang pelayan dapur rumah sakit, saat bertemu papasan menuju ruang kerjanya.


"Baik, siap dok." jawabnya singkat dengan sigap.


Memasuki ruang kerja Christ. Mereka bertiga duduk di kursi sofa dalam ruang kerja itu. Christ belum memulai pembicaraan, karena menunggu pesanan minumannya datang terlebih dahulu.


"Kenapa kalian kelihatan tegang sekali? Santai saja, kalian kan baru saja kelelahan, bukan begitu?" tanya Christ kepada keduanya yang masih terdiam, menatap tajam mata Nichols.


"Letakan di atas meja." jawab dokter Christ secara singkat.


"Kalau begitu saya kembali melakukan tugas saya dokter." pamitnya melangkah mundur.


"Terimakasih, silahkan lanjutkan tugasmu." balas Christ.


Kemudian pelayan itu pergi meninggalkan ruangan. Christ mengikuti dari belakang sampai pintu, kemudian, mengunci pintu agar tidak ada seorangpun masuk ke ruangannya saat ia akan menginterogasi Celine dan Nichols.


"Silahkan diminum lebih dulu kopi serta teh yang sudah saya pesan." kata Christ kepada keduanya, dengan duduk kembali.


Sembari keduanya mengangkat cangkir minuman masing-masing, Christ mengatakan kepada mereka, "Siapa yang akan membuka suara terlebih dahulu?"


"Saya pribadi mengakui salah." ucap Nichols.


"Begitupun dengan saya, bukan hanya dia. " timpa Celine setelahnya.


"Ya memang kalian berdua itu salah." tegas Christ kepada keduanya.


"Saya tidak habis pikir dengan kelakuan kalian, kalian ini kan seorang calon dokter, meskipun masih magang, tapi, apakah pantas perbuatan kalian seperti ini?" tambahnya.


"Jika hal ini diketahui banyak orang, apakah kalian tidak malu? Patutkah seorang dokter memiliki kelakuan seperti kalian berdua?" tanya Christ kepada keduanya, masih dalam keadaan menunduk, keduanya menggelengkan kepala.


"Saya sangat tahu, kehidupan kalian sewaktu di Eropa sangatlah bebas, tapi bukan berarti kalian bawa ke Indonesia, paham!!! " lanjutan ucapnya, dengan nada sedikit keras.


"Saya tidak peduli dengan apa yang akan kalian lakukan di luar an sana, tapi lihat tempat, jangan di bawa ke rumah sakit ini!


" Kalian mau? Jika reputasi kalian hancur, kemudian segala harapan kalian, usaha kalian selama melanjutkan kuliah di luar negeri untuk menjadi seorang dokter, hanya terbuang sia-sia? "


"Kita berdua berjanji tidak akan melakukan hal yang sama untuk kedua kalinya." Celine memotong, sebelum Christ melanjutkan ucapannya.


"Iya kita berjanji akan hal itu, jangan hukum kami dok, dan tolong jangan beritahukan kepada siapapun soal ini. Terimakasih sudah menegur kita sekarang ini." Nichols menambahnya.


Menatap kedua mata mereka, Christ percaya bahwa kedua mata mereka menunjukkan keyakinan akan hal tersebut.


"Baiklah, saya tidak akan memberitahukan kepada siapapun soal ini. Saya pegang janji kalian, Jika hal ini terulang kembali terpaksa saya pribadi akan mengajukan surat untuk kalian kepada pemilik rumah sakit. Supaya kalian tidak diterima sebagai dokter magang di rumah sakit ini. Bagaimana? Setuju?" Christ menjelaskan.


"Dan satu lagi, mulai besok selama satu minggu ke depan, kalian berdua, tidak usah masuk ke rumah sakit ini. Anggap saja ini sebagai suatu teguran atas kesalahan yang kalian perbuat. Bukankah kalian tahu? Bahwa berani berbuat harus berani juga bertanggung jawab. Bukan begitu Nichols?" tambahnya.


"Siap laksanakan, Dok." jawab keduanya.


"Yasudah kalau begitu, besok saya akan memberikan surat ijin kepada pihak rumah sakit, mengenai ketidak - hadiran kalian mulai besok selama waktu yang di tentukan."


"Kalau begitu, selesaikan tugas kalian hari ini. Kalian boleh keluar dari ruangan saya sekarang." ucap Christ dengan tegas kepada keduanya.


Setelah masalah itu selesai, Christ kembali ke kursi kerjanya. Di meja Kerja Christ terdapat sebuah koran yang bertuliskan "Warisan obat-obatan. Dalam setengah perjalanan membaca isi koran itu, seketika Christ mengingat kejadian masa lalu saat Christ belum di nobatkan sebagai seorang dokter spesialis kandungan.


...----------...


***PENRA_


To Be Continue***...