
Christ memasuki ruangan. Ruangan itu adalah gudang, tempat penyimpanan alat medis, obat-obatan dan sejenisnya. Terdengar suara perempuan yang kurang jelas dari jendela yang sedikit terbuka di ruangan itu.
“Seperti nya ada suara perempuan? tapi agak begitu samar.” Ucapan lirih dalam hati serta penasaran.
Saking penasaran Christ mendekati jendela itu untuk mengetahui suara perempuan berasal dari mana.
"Bruuuughhhhh.."
Christ berlari dengan sangat terburu-buru menuju lokasi suara perempuan itu berada. Christ membuka pintu, dengan wajah kaku bagai terkena setruman listrik.
"Ka... kamu?? siapa kamu! pergi sana! " suara perempuan dari balik meja tempat ia bersembunyi.
Christ mendekati wanita itu. Semakin mendekat wanita itu semakin nangis seolah sedang kesakitan. Wajah Christ memerah merona bagai terpapar sinar matahari.
Tanpa berkata apapun Christ segera mencari kursi roda dan mengangkat wanita itu yang merintih kesakitan,lantai di sekitar basah hingga berlumuran darah.
"Aku harus bisa menyelamatkannya" ucap Christ dengan sangat lirih yang bermuka panik melangkah kan kakinya dengan sangat cepat menuju sebuah ruangan IGD.
"Jika hanya salah satu yang bisa di selamatkan, maka selamatkanlah bayi dalam kandungan ku. dan ku titipkan bayi ini padamu. Aku berharap agar kau bisa merawat serta membesarkannya, berjanjilah! " rintihan Mourine kepada Christ dengan terisak-isak bercucuran air mata.
Christ segera meminta pertolongan sekitar untuk segera menyiapkan alat medis supaya bisa menyelamatkan keduanya. Keringat nya bercucuran membasahi wajah kaku serta panik tersebut. Namun ia tetap berusaha tenang meski kondisinya sangat genting.
"Jangan berkata apapun, semua akan baik-baik saja percayalah! " sahut Christ menenangkan Mourine yang akan berjuang dalam persalinannya.
Mourine adalah perempuan yang sangat cantik sosok dari suara perempuan yang di temukan Christ di sebuah ruangan kosong yang sudah lama tak terpakai serta jauh dari ruangan-ruangan berpenghuni. Hingga tidak ada satu orang pun yang dapat menemukan Mourine selain Christ.
Tak lama datanglah Celine serta Nichols ke ruangan IGD. Dengan muka yang sama seperti Christ, Celine serta rekan kerja lainnya sigap mengatasi hal itu. Mereka bersama-sama membantu Christ.
Celine dan Nichols adalah teman sekelas di sekolah kedokteran. Mereka dipertemukan dan bersama selama satu setengah tahun. Setelah lulus, mereka melamar kerja sebagai dokter di Rumah Sakit yang sama di mana tempat Christ bekerja. Mereka masih dalam masa training dan belum menjadi reguler.
Celine dan Nichols adalah sepasang kekasih, mereka menjalin hubungan semenjak di pertemukan kembali setelah lima tahun mereka terpisah oleh jarak dan waktu.
Akhirnya proses persalinan Mourine dan bayinya berjalan dengan lancar tanpa suatu kendala apapun. Semua itu berkat kesigapan Christ yang sejak awal membantunya. Meskipun semua berjalan melalui jalur *Operasi.
Operasi dilakukan karena melihat kondisi Mourine yang tidak memungkinkan untuk melahirkan secara normal. Mourine telah kehilangan banyak darah di ruangan tempat Christ menemukannya.
Bayinya pun nyaris tak tertolong sebab kondisi di dalamnya sudah agak mengering. Alhasil Christ melakukan tindakan operasi supaya bisa menyelamatkan keduanya.
Pasca operasi tubuh Mourine nampak lemas tak bertenaga. Belum sempat melihat wajah lucunya si bayi, Mourine mengalami koma selama waktu yang tidak bisa di tentukan. Tetapi kemungkinan besar Mourine akan selamat terbangun dari komanya.
Christ keluar dari ruangan operasi. Di sambut oleh Celine dan Nichols yang cemas serta wajah penuh tanya.
"Bagaimana dengan kondisi perempuan itu?"
"Bisakah dia selamat dari koma?"
"Semoga saja dia selamat, kalo tidak kasihan bayinya. akupun tak bisa membayangkan."
Celine juga Nichols saling bertanya dan menjawab. Christ menunjukkan ketenangan didepan mereka. Serta mencela pembicaraan mereka yang mengatakan bahwa semua pasti akan baik-baik saja.
Perempuan itu pasti akan sadar dari koma meski tidak bisa diketahui kapannya. Setelah itu Christ kembali ke ruangannya.
Dengan penuh kegelisahan dan kekhawatiran Christ bergerak menuju ruangan bayi. Christ mendekati bayi Mourine hingga menjatuhkan airmata kesedihan serta kebahagiaan.
Bayi yang dilahirkan Mourine memiliki jenis kelamin laki-laki. Bayi itu sangat lucu dan menggemaskan. Tapi sayang sekali ibunya saat ini belum bisa menggendong serta memeluk erat bayi yang dapat ia lahirkan dalam keadaan selamat.
“Tepat sekali. aku bisa menyelamatkanmu kelah melihat dunia ini. Tapi aku belum tahu pasti kapan ibumu akan terbangun dari koma,semoga kamu tumbuh menjadi anak yang kuat dan hebat seperti ibumu." Christ mengajak bicara bayi itu dengan menyeka air mata yang membasahi pipinya.
Prayugo mengerutkan kening, penasaran, yang tak sengaja lewat depan ruangan bayi sekilas mendengar suara pria di dalam ruangan bayi dari balik tirai jendela ruangan itu. Prayugo adalah rekan kerja sekaligus sahabat Christ sejak lama. Dia dokter spesialis Jantung.
"Apa yang sedang dia katakan pada bayi itu? siapa bayi itu? apa ada hubungannya dengan dokter Christ?"
"Sebaiknya aku tanyakan nanti saja jika ketemu. seperti moment sekarang bukan moment yang tepat untuk menanyakan hal ini." Prayugo segera meninggalkan tempat itu supaya Christ tidak mengetahui bahwa ia baru saja berada di situ.
Christ meninggalkan ruangan tersebut dan berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan mukanya agar tidak terlihat orang sekitar bahwa ia baru saja menangis.
"Itu dia!" kata Prayugo menuju kamar mandi yang ketemu Christ tepat di depan kamar mandi hendak berjalan ke ruangannya.
Prayugo langsung mengkonfirmasi tentang kejadian yang tadi sempat ia lihat dari jendela ruangan bayi kepada Christ. Christ segera mengajaknya untuk keruangan dalam pembahasan hal tersebut.
Mengetahui hal itu Prayugo ikut prihatin. Ingin sekali dia membantu sahabatnya yang sedang rapuh. Prayugo mencoba menenangkan Christ dalam situasi ini. Prayugo bisa merasakan apa yang dirasakan oleh sahabat nya.
Prayugo cemas dengan kondisi Christ secara tiba-tiba teringat masa lalu yang pernah membuat Christ nyaris menyerah dalam profesi nya.
Tanpa bertele-tele Prayugo menawarkan bantuan jika Christ membutuhkannya. Perkataan Prayugo membuat Christ jauh lebih tenang dari sebelumnya.
Prayugo ialah sosok sahabat yang terbaik menurut Christ. Prayugo mengenal Christ sudah sangat lama. Perjalanan mereka berlangsung tidak terduga.
Semua bermula sejak kembalinya Prayugo dari luar negeri ke Indonesia dan menetapkan dirinya melanjutkan perjuangan serta memutuskan untuk bekerja di Indonesia.
Kemudian di pertemukan dengan Christ secara tidak sengaja, saat dompet mereka ternyata tertukar sewaktu di Bandara tepat dimana saat mereka sedang makan di tempat yang sama.
Mengapa Christ pada saat itu di sekitar Bandara?
Apa yang sedang dia lakukan disana?
Lalu, kenapa dompet keduanya bisa saling tertukar?
Bagaimana nih dengan Chapter selanjutnya?
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
to be continue***
Terimakasih sudah berpartisipasi dalam membaca karya tulis *P**ENRA*_. Bagi kalian yang masih ingin tahu Chapter-chapter selanjutnya silahkan ikuti terus jangan sampai kelewatan. Dan bagi yang tidak menyukai jalan cerita bisa skip kok. Jangan di paksakan ya🤗 sebab sesuatu yang dipaksakan itu sangat tidak mengenakan.
Secara langsung ******PENRA******_ mengucapkan banyak Terimakasih dan berkah selalu buat kalian semua yang sudah membantu dalam vote serta komentar baiknya supaya *P**ENRA*_dapat lebih bersemangat dalam berkarya. Mohon maaf jika terdapat salah penulisan kata, tanda ataupun bahasa yaa Dear...
...****************...