
Tepat pukul delapan pagi, di Rumah sakit. Dokter Christ menjalankan rutinitas di ruangan kerja. Pagi itu dokter Christ berencana akan melihat kondisi Ayla di kamar pasien VVIP. Melihat kondisi Ayla yang terbaring koma, membuat Christ merasa kasihan. Hingga segala pertanyaan timbul di dalam pikiran nya.
Apa yang sebenarnya terjadi?
Mengapa dia bisa seperti sekarang?
Siapa yang menyebabkan ia mengalami depresi?
Apakah aku? atau mungkin orang lain?
Pertanyaan itu terus mengisi pikiran Christ. Akan tetapi Christ tak mampu membuka suara tepat di hadapan Ayla. Sebab, meskipun kondisi pasien itu koma, pasien tetap bisa mendengar suara di sekitar nya.
Tak lama kemudian, datang seseorang ke dalam ruangan Ayla. Seorang perempuan yang merupakan teman dekat si pasien tersebut. Dia bernama Utari. Utari adalah teman dekat yang sudah di anggap Ayla sebagai saudara kandung. Hampir semua tentang Ayla, dia mengetahuinya.
Pada saat itu, Christ yang masuk ke ruangan Ayla memakai pakaian dokter, dan menutup wajahnya dengan masker, sehingga Utari tidak mengenali wajah Christ.
"Dokter, bagaimana kondisi sahabatku sekarang? apakah ada kemajuan? kira-kira, dapatkah ia di sembuhkan dok? lalu? kapan Ayla akan sadar dari komanya dok?" segala pertanyaan yang timbul dari mulut Utari.
"Oh iya dok maaf sebelumnya perkenalkan nama saya Utari teman dekat pasien, maaf dok jika tiba-tiba tadi saya langsung mengajukan beberapa pertanyaan kepada dokter, sebab saya begitu sangat mengkhawatirkan kondisi sahabat saya sok." ucapnya ketika melihat sang dokter hanya terdiam seperti kebingungan.
Utari merasa tak enak hati, dengan secara langsung saat baru memasuki ruangan Ayla dia bertanya sangat banyak mengenai Ayla. Wajar Utari seperti itu, sebab Utari sangat mencemaskan kondisi yang dialami sahabat nya begitu banyak.
"Tak apa, itu hal yang wajar karena kamu cemas dengan kondisinya, sejauh ini belum ada perkembangan apapun mengenai pasien. saya belum bisa memastikan kapan pasien akan sadar dari koma, semua itu atas kehendak yang Maha Kuasa. kita sebagai manusia, hanya bisa pasrah sama yang memberikan kehidupan. Dan kami sebagai dokter tentunya akan terus mengecek kondisi pasien serta melakukan tindakan terbaik untuk pasien. Jadi tenang saja, tetap do'akan dia supaya lekas pulih, oke?" jawab Christ dengan tegas kepada Utari yang terlihat bersedih menatap Ayla terbaring koma.
"Sebaiknya pasien jangan sering ditinggal terlalu lama, karena kita tidak akan pernah tahu apa yang akan terjadi padanya kedepan, jika tidak ada satu orang pun yang menjaganya disini." tegur nya kepada Utari yang tengah meninggalkan Ayla sendirian di kamar pasien.
"Baik dok, sekali lagi mohon maaf tadi saya hanya pergi sebentar untuk membeli beberapa kebutuhan yang diperlukan disini." jawab Utari dengan menundukkan kepala.
"Baiklah kalau begitu saya kembali ke ruangan saya sekarang." pamit Christ dengan melangkah meninggalkan ruangan itu.
***
"Dokter Prayugo, bisa ikut ke ruangan saya sekarang?" tanya Christ kepada Prayugo yang berpapasan di lorong pintu masuk khusus dokter.
"Oke baik dok, saya akan segera menemui anda, setelah saya meletakkan barang bawaan saya di ruang kerja." jawabnya dengan tegas.
Keduanya saling menuju ruangan masing-masing. Christ menunggu kedatangan Prayugo ke ruangannya. Dengan bertemankan secangkir teh sedikit gula di meja ruangannya.
" Ada apa ini? nampaknya sangat serius yang akan kau bicarakan wahai dokter Christ?" ucap Prayugo mengejutkan dengan tawa yang menghiasi wajahnya, saat membuka pintu ruang dokter Christ.
"Tadi jam delapan pagi, saya berkunjung ke ruang dimana Ayla di rawat, tak lama ada seorang wanita datang ke kamar Ayla, dia mengaku sebagai teman dekat pasien. dan....
"Lalu? apa yang harus saya lakukan sekarang?" jawab Prayugo memotong lanjutan perkataan Christ.
"Dan saya ingin meminta kamu, untuk mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi dengan pasien akhir-akhir ini." jelas Christ kepada Prayugo.
"Baiklah kalo begitu, dengan senang hati, kulakukan sesuai permintaan mu wahai sang dokter." balasnya agak becanda kepada Christ yang tegang dalam ucapannya
"Ah... kamu ini ada ada saja, ingat kewajiban kita menyapa dengan sebutan dokter hanya saat di tempat umum dalam lingkungan rumah sakit, jadi tak perlulah kamu bersikap demikian padaku." sahutnya dengan sedikit kesal tapi candaan.
"Ingat Christ, aku hampir lupa mengatakan sesuatu, kuharap kamu bisa fokus dalam bekerja, jangan terlalu fokus memikirkan hal ini, kamu tidak sendirian, dengan senang hati aku akan selalu membantumu sebisaku, okay?" ucapnya tiba-tiba, kembali membuka pintu ruang kerja Christ.
Christ terkejut mendengar suara Prayugo yang mendadak, dari balik pintu itu. Melihat tingkah lakunya, Christ sedikit kesal, tapi kagum akan segala kebaikannya. Christ memberikan senyuman terpaksa kepada Prayugo dalam membalas ucapannya barusan. Prayugo pun kembali melakukan tugasnya, sesuai permintaan Christ.
"Selamat pagi... " ucap Prayugo ketika membuka pintu ruang kamar Ayla, kepada perempuan yang berbaring di kursi sofa tunggu, dengan sibuk memainkan ponsel.
"eh pagi dokter, maaf saya sejenak merebahkan badan biar tidak kaku hehee... " jawab nya yang kaget melihat kedatangan dokter Prayugo ke ruangan itu.
"Saya akan memeriksa kondisi pasien ya..." katanya dengan menempelkan alat periksa ke dada Ayla.
"Baik dokter, sepertinya dokter ini berbeda dengan dokter tadi, benar bukan?" tanya Utari, berdiri mendekati tempat tidur Ayla.
"Tepat sekali, perkenalkan naman saya, dokter Prayugo, dokter spesialis jantung. Nah yang tadi adalah dokter kunjung yang men-survey kondisi pasien, sebelum saya datang memeriksa." jelasnya kepada Utari yang terlihat penasaran.
"Okay pemeriksaan saat ini susah selesai, sekarang saya boleh meminta sedikit waktu mbaknya sebentar? buat ngobrol-ngobrol mengenai pasien." tanya Prayugo kepada Utari.
"Iya baik dokter, sangat bisa sekali." balas Utari
"Okay, kalo begitu segera ikut ke ruang kerja saya dalam membahas hal ini, biarkan pasien saya titipkan sebentar kepada suster untuk menjaga." sahutnya Prayugo dengan melangkahkan kaki untuk keluar dari ruangan tersebut.
Kemudian, saat akan melangkahkan kaki agak jauh meninggalkan ruangan itu, seorang suster lewat di depan Prayugo dan Utari yang sedang berjalan bersama.
"Sus boleh minta tolong, bantu jaga pasien koma, di ruang VVIP itu ya, karena akan ada pembahasan penting mengenai pasien bersama mbaknya ini." ucap dokter Prayugo dengan menunjukkan arah ruang VVIP yang bagian mananya, kepada seorang suster.
Prayugo dan Utari kembali melangkah perlahan ke arah ruang kerja Prayugo.
"Oh iya dokter, sebelumnya perkenalkan nama saya Utari, teman dekat pasien tadi." ujarnya kepada dokter Prayugo tiba-tiba.
Prayugo merespon perkenalan nya dengan senyuman ramah. Tibalah mereka tepat di depan ruang dokter Prayugo. Dan mempersilahkan Utari masuk.
...-------...
PENRA_
*Wah Kira-kira apa yang akan di bahas oleh Prayugo kepada Utari mengenai Ayla?
Apakah hal yang di katakan Prayugo akan mendapatkan jawaban sesuai yang diharapkan Christ*?
Jangan lewatkan episode selanjutnya ya ... sahabat ****PENRA****_
Semoga Cerita ini makin menarik dan membuat kalian penasaran dengan cerita-cerita berikutnya.
*To Be Continue....
...ΩΩΩΩΩΩ*...