My Ceo, My Contract Boyfriend

My Ceo, My Contract Boyfriend
Kejutan



"Apa? bagaimana, kamu masi tertawa dalam situasi seperti ini? 


Aurel begitu terkejut dengan respon dari riska, setelah mendengar cerita aurel, bahwa kemarin malam Alex memintahnya untuk menikah dengan nya.


"Tidak maksud ku situasi itu sangat lucu, bagaimana bisa seorang ceo, mengemis pernikahaan kepada seorang bawaan nya." 


Ujar riska dengan tertawa lepas, mendengarkan cerita aurel atas permintaan alex, dan juga pertemuan dengan tuan andorson.


"Ngomong-ngomong apa yang harus kita lakukan? Aku merasa bingung, rupanya dia sangat keras kepala." ujar aurel dengan wajah begitu frutasi.


Jadi setelah pertemuan aurel dan tuan andorson malam itu, rupanya alex bersikeras memintah aurel untuk bersedia menikah dengan nya.


Aurel bersih keras menolak tapi alex tetap menuntutnya, dengan ancam bayar ganti rugi.


"Kamu benar. Tapi kenapa ia bersih keras ingin menikah dengannmu,


bukan kita sudah menyelesikan masalah ini, dan bahkan perjodohkan ku dengannya sudah di batalkan."


"Aah soal itu, aku tidak tahu lagi ris. Bingung dengan ceo gila itu" 


Aurel tampak frustasi memikirkan perkataan alex kemaring malam, saat mengantarnya pulang.


Sebelum aurel turun dari mobil, alex menahan tanggan nya, dan mengatakan jika ia serius mengajak aurel menikah,


bahkan ia menegaskan jika tidak membutuhkan kata penolakan.


Jika tidak aurel harus menganti rugi atas semua waktu kebohangannya saat menyamar menjadi riska, pada pertemuan awal.


Hingga di pagi hari, saat berada di tempat kerja pun aurel tidak melihat sosok sang ceo.


Setelah pulang kerja, aurel meminta riska untuk bertemu. Akhirnya mereka bertemu di sebuah cafe.


"Ehmm..sudah tenang rel, nanti kita usahakan secepatnya mencari jalan keluar, untuk menyelesaikan ide gila sang ceo mu."  


"Terserah kamu ris, intinya kamu harus membantu ku, menyelesaikan ini semua."


"Ya..aku bantuin rel. Gimana jika kita mereflesikan otak sementar dengan berpesta anggur," 


Ajak riska dengan memaikan matanya, tersenyum merayu aurel.


"Aah tidak, aku ingin pulang, dan bobo cantik. Agar otak ku bisa lebih tenang."  Aurel menolak ajak risk.


"Ehmm, rel ayolah,,aku hanya ingin mengajak mu berpesta anggur.


Sebelum aku mati di gantung ayah ku, jika ia mengetahui perjodohan ini sudah di batalkan." Ujar riska dengan mohon.


"Aahh,,jangan aneh-aneh kamu ris,bagaimana mungkin ayah mu bisa mengantung mu karena membatalkan perjodohan ini?" 


Tanya aurel dengan wajah terkejut mendengar penuturan riska.


"Hahaha kamu begitu serius rel, mendengar ucapakan ku. ya aku juga belum tahu respon deddy ku gimana, jika ia mengetahui aku mengatcaukan perjodohan ini lagi."


"Ya berdoa lah semoga kamu tidak di gantung," canda aurel.mereka pun tertawa lepas


"Gimana, jadi kan kita berpesta anggur?" Tanya riska.


" ya kali ini saja," ucap aurel.


"Ok. Sahabat baik ku. Pelayaan." 


Riska begitu bersemangat, dan segera memesan beberapa minum alkohol.


Kejutan


Brakkk....


"Aurellll..."  Teriak mama irah.


"Ada apa ma,"


ucap papa yudah, yang sudah berdiri di depan pintu kamar aurel, karena teriakan mama irah.


 Ia juga terkejut dengan pandangan di depannya.


"Ya ampun, para gadis ini sangat luar biasa, mereka minum lebih banyak lagi, setelah pulang dalam keadaan mabuk semalam.


Biarkan aku membangunkan mereka. Bagunnn..kalian harus bekerja hari ini!"


Teriak mama irah, dengan kesal menatap kedua gadis yang tengang telelap tidur karena mabuk.


Bagaimana tidak pandangan di dalam kamar aurel begitu ambruk-aduk.


Aurel dan riska tergeletak di lantai dengan tumpukan beberapa botol anggur.


"Ya ampun kepala ku begitu sakit." 


Ujar kedua nya. Lalu segera bangun memengang kepala masing-masing.merasa pusing.


"Apa yang kamu lakukan di sini ris?"  Tanya aurel dengan menatap wajah riska.


"Aku tidak tahu rel." Jawab riska yang masi memengang kepala nya.


"Apa kalian tidak ingat kejadian semalam?" Tanya indra yang sudah berada di kamar aurel juga.


"Semalam?" Tanya riska bingung.


Flashback on


Aurel masuk rumah dengan menenten beberapa katong plastik. Wajah nya tampak mereh, jalan pun sudah sempoyongan.


Mama irah, papa yudah, dan indra sedang bersantai di ruang tamu sedang menonton televisi.


"Kejutan, aku datang. Membawa oleh-oleh untuk mama, papa dan indra. Dan ini untuk ku."


Ujar aurel, dengan menyodorkan satu katong palastik ke arah indra. 


Indra yang melihat hal itu, ia hanya terdiam dan menerima pemberian aurel.


"Aurel, apa yang kamu lakukan? Apa kamu habis bertengkar?" 


tanya papa yudah yang kaget melihat penampilan aurel.


"Aahh..Aku hanya terpeleset ma, lihat kakiku terluka."


Ujar aurel sembari menyodorkan kaki nya ke arah ibunya.


"Ya Tuhan aurel, apa yang sebenarnya terjadi dengan mu?" ujar mama irah menatap aurel.


"Lalu ada pak polisi yang baik dan mengantar kami pulang."  Ucap aurel sembari menujuk ke arah pintu.


Tiba-tiba muncul riska yang di dorong masuk oleh beberapa polisi.


"Nona, anda sudah sampai rumah, segera istrahat, agar anda bisa tenang." Ucap seorang polis, yang sebenarnya mengenal riska.


"Tidak aku tidak ingin istrihat sebelum kalian membawa pria itu untuk bertemu dengan ku.


Aku sangat menyukai nya, aku jatuh cinta dengan nya, tapi dia menolak ku sangat aku mengajak nya untuk menjadi teman dekat ku." 


Ujar riska dengan kedaan mabuk, sembari memukul-mukul dada seorang polis.


Brukkk..


" Ahhh. Rel sakit"  riska mengusap kepala nya yang tiba-tiba di tabuk oleh aurel.


Bahkan mengundang banyak mata menatap perlakuan aurel secara tiba-tiba.


"Kamu jangan melakukan itu pada seorang polisi, nanti kita bisa di hukum. Ayo kita minta maaf." 


Ujar aurel, sembari menekan badan riska, menunduk untuk meminta maaf.


"Aahh..pak polis maafkan kami," ujar riska.


"Aah,aku mau muntah." Riska tiba-tiba ingin muntah.


"Jangan, kamu jangan muntah."


Ujar aurel sembari mencoba menegakan badan riska, tetapi karena mabuk mereka malah terguling ke lantai.


"Ehmm.terimakasi pak polis, karena sudah mengantar mereka pulang, pak polis bisa pulang sekarang, biarkan kami yang mengurus kekacauan ini."  Ujar papa yudah.


"Baik pah bu, kami permisi," ucap seoarang polisi, lalu meningalkan kediaman keluarga smata.


Lalu ibu irah, papa yudah dan indra membantu menyeret keduanya ke dalam kamar aurel.


"Biarkan mereka di sini, nanti juga tertidur," ucap mama irah lalu mereka meningalkan kamar aurel.


🔥🔥🔥


"Aahh memalukan sekali, bagimana kita bisa semabuk itu?" Ujar aurel.


"Yaa benar memalukan sekali, kita tidak boleh banyak minum lagi." Timpal riska


Tiba-tiba kedua nya menatap mama irah,yang menatap mereka dengan penuh permusuhan.


"Ahh, mama maafkan kami, aku sayang ibu,"  ucap aurel.


"Maaf mama irah, aku juga sayang mama irah," timpal riska.


Kedua nya berlutut meminta maaf dengan ekspresi wajah yang susah di tebak.


"Segara bangun dan rapikan kamar ini, dan bersiaplah untuk pergi bekerja." 


Ujar mama irah, masi dengan wajah masam lalu meningalkan kamar aurel.


Begitu pula dengan papa yudah yang hanya mengelengkan kepala nya lalu segera melangkah pergi.


Indra hanya menatap sinis keduanya lalu segera melangkah pergi juga.


Tingal keduanya, mereka segera bangun dan merapikan kamar, dan segera bergantian mandi.


"Rel, aku masi rasa pusing bangat ni." Ucap riska yang sudah rapi dan duduk di atas kasur.


" ya sama juga ris, aku juga masi pusing bangat tau" timpal aurel.


"Aahh sial, bagaimana kita bisa minum sebanyak ini." 


Riska memukul kepalanya merasa malu memikirkan kembali kejadian semalam.


"Sudah lah ris, anggap saja itu di luar kendali kita." 


Aahhh riska menguap.


"Oh sial, aku masi ngantuk rel.aku masi ingin tidur"


Ujar riska yang sudah berbaring kembali ke kasur aurel.


"Adu ris, jangan gitu dong, ayo bangun, kita harus pergi dari rumah ini, sebelum anak telinga kita pecah,karena teriakan ibu ku." 


Ujar aurel yang sudah menarik kaki riska, hingga stengah tubuh riska sudah terpental ke lantai.


"Lah terus lu mau masuk kerja, aku sih bisa tidur di kantor, tapi bisa habis aku, jika ketahuan deddy ku." Ujar riska.


"Ya sudah ayo kita pergi ke apartemen mu saja." Ajak aurel.


"Aah iya benar, ko aku ngak kepikirannya, kalau aku tinggal di apartemen."


Ujar riska, yang sebenarnya baru menyadari jika sebenarnya ia tinggal di apartemennya.


"Ya karena otak mu sebagian sudah di rusak oleh alkohol yang masuk ke otak mu."


Kalimat sekaligus sindiran buat riska. Meskipun begitu riska tidak marah, karena mereka sudah biasa blakak-balakang jika bercanda.


Akhirnya keduanya sepakat untuk tidak masuk kerja hari ini, karena masi pusing, kedua nya ingin istrahat di apartemen miliki rika.


"Ma, pa uarel pamitnya." ujar aurel setelah menyusul kedua orang tuanya, di dalam warung.


"Mama irah, om yudah riska juga pamitnya" timpal riska sembari menunduk karena malu.


"Ehm,sudah pergi sana, berdua hati-hati"  jawab mama irah menatap keduanya.


"Iya ma, makasi" keduanya menjawab.


Sedangkan papa yudah hanya menatap keduanya, dengan tidak banyak bicara.


Lalu riska, dan aurel segera melaju mengunakan mobil riska menujuh apartemennya.


Keduanya memutuskan untuk tidak masuk kerja hari ini.


Sedangkan mama irah dan papa yudah tahu nya keduanya sedang masuk kerja.


Bahkan ayah riska sudah menungung riska di kantor.


Ternyata pak wijaya baru mendapatkan kabar, jika riska berulah lagi, mengacaukan perjodohan nya.


***********