
Cowok itu meringis melihat penampilannya di cermin, dengan baju yang tidak di kancing yang memperlihatkan dalaman baju putih polosnya, dasi tidak ada, ujung bajunya yang tidak masuk ke dalam celana abu-abunya.
Cowok dengan badan kekar itu memperbaiki kerah bajunya di depan cermin, ia pasti bakal di amuk oleh Giselle kalau kera baju nya berantakan.
Seperti hari Senin kemarin, ia di marahi habis-habisan oleh Giselle karena tidak mengenakan atribut sekolah.
Jangan salahkan Jeno tapi salahkan Haechan yang merebut semua atributnya, mulai dari dasi yang sampai sekarang ia tidak tahu di mana dasinya berada. Dan juga Topi yang Haechan culik dari laci mejanya senin kemarin.
Sebenarnya salahkan Jeno yang selalu mengalah, membuat Giselle memarahinya.
Bukan tanpa alasan Giselle memarahi Jeno, karena pangkat Jeno yang merupakan Ketua Kelas. Membuat Giselle memarahinya karena tidak bisa memberikan contoh yang baik kepada anggotanya.
Cowok itu menoleh mendengar hp nya berbunyi.
"Halo?"
"Halo selamat pagi Jenoshan Ferdian.."
"Apee? gak usah basa basi."
"Ah gak seru, di bales dong.."
"Gue matiin ya."
"Iya. Iya. galak bener. Lo udah ke sekolah belum?"
"Belum."
"Astaga ini udah mau jam tujuh, anjir??"
"Tau gue, kenapa nelpon deh lo? Ngomong cepet!"
"Hehehehe. Gue nebeng dong..."
"Cih. Ningning mana?"
"Di culik Chenle. gue di campakkan..."
"Yaudah sama bang Yuta aja. Males gue ngangkut lo."
"eh anj. huft astagfirullah karena gue cantik gue maafin"
"Bacot."
"ayolah gue ke rumah lo sekarang..."
"Bang Yuta kemana?"
"Gue gak mau bareng Bang Yuta."
"Lah kenape tolol?"
"Ntar di amuk fans-fans nya, atutt.."
"Lah Lo gak takut di amuk fans gue?"
"Gak. fans lo bocil bocil masih bisa gue ladenin itumah."
"Cih."
"Ya? ya? ya?"
"Ck iya, ntar gue jemput. Lambat dikit gue tinggal."
"Okedeh, makasih Kakak Jeno."
"Najis Gi."
"HAHAHA"
Jeno segera memasukkan bajunya ke dalam- ia tidak ingin di amuk untuk kedua kalinya, setelah merapikan bajunya ia ingin memakai dasi tapi tidak ada dasi cadangan lagi di rumahnya. Sepertinya ia memang harus beli dasi lagi.
Ia lalu mengambil tas dan hoodie miliknya, tak lupa juga mengambil kunci motor yang tergantung di dekat pintu kamarnya.
"BUNDA.. JENO DULUAN." Teriak cowok itu.
"Eh sarapan dulu!!!" teriak Bundanya dari dalam dapur.
Jeno yang memakai kaos kaki teriak, "Udah mau telat Bun, sarapan di sekolah aja." ia segera memasang sepatu.
"Yaudah hati-hati ya."
"IYA. JENO PERGI YA. ASSALAMUALAIKUM."
Jeno segera keluar dari halaman rumahnya. Rumah dia dan Giselle tidak jauh hanya beda Blok. Rumah Giselle ada di Blok A sedangkan rumahnya ada di blok B.
Tak selang beberapa menit ia telah sampai di halaman rumah Giselle. Jeno segera membunyikan klakson motornya.
Jeno melihat Giselle yang memakai sepatu di depan rumahnya dengan buru-buru.
"GUE TINGGAL YA!" Teriak Jeno.
"Tungguin, sisa sepatu nih."
"Gue pikir lo udah siap kampret."
Giselle tertawa, "Tadi sarapan dulu.."
"Sialan, gue udah gak nyarap pagi karena takut buat dia nunggu"
Jeno memutuskan untuk balas dendam dengan mengancamnya.
"Cepetan atau gue tinggal!"
"Bentar."
"SATU.."
"Tunggu. Sepatu kiri lagi."
"DUA."
"TUNGGU KAMPRET!"
"TIGA."
Jeno meringis memegang kakinya, Sepatu Giselle baru saja melayang ke arahnya mengenai tepat mata kakinya yang membuat ia ngilu.
Jeno melotot, "Anjir lo!"
"Lo yang anjir!"
Jeno mendengus, ia memungut sepatu Giselle yang tak jauh di dekatnya lalu membuangnya ke jalanan.
"WOI ANJENG!"
"HAHAHA RASAINNN"
Giselle melotot, ia berjalan dengan kaki yang seperti pincang karena tidak ingin mengotori kaos kaki kirinya.
"Pincang, dek?"
Jeno terkekeh melihat Giselle mengumpat tak bersuara, setelah beberapa langkah Giselle sudah mendapatkan sepatunya.
Ia memakai sepatunya sambil berdiri ia mendesis kesal karena sepatunya tidak bisa-bisa juga terpasang. Ia segera berjalan ke arah Jeno lalu memegang bahu Jeno sebagai tumpuannya. Jeno hanya memutar bola mata malas.
"Lo kalau gak ikhlas angkut gue bilang, biar gue bisa minta tolong sama Ajun." gerutu gadis itu.
"Nyenyenyenyenye."
Bugh!
Giselle yang udah jengkel sedari tadi tak tanggung-tanggung langsung memukul punggung Jeno membuat Jeno meringis kesakitan sambil memegang punggungnya.
"AUGH.. SAKIT ANJIR."
"LO NYEBELIN!"
Jeno menoleh melihat Giselle masih memakai sepatunya, "Cepet ambil tas lo. Lelet banget sih jadi cewek." gerutunya.
"BAWEL LO." Giselle segera berlari ke rumahnya mengambil tas.
"GII.. MASIH PAGI JANGAN BERISIK." Teriak seseorang dari dalam rumah Giselle.
Jeno terkejut ia berdiri melihat lantai atas rumah Giselle, "Bang Yuta belum bangun lagi?" tanya Jeno ke Giselle yang sudah memperbaiki posisi tasnya.
"Hooh, kemarin baru pulang jam 3." ujar Giselle lalu naik di motor Jeno.
Jeno memutar bola matanya malas, saat ia tak sengaja melihat rok Giselle tersingkap, ia melemparkan Hoodienya ke belakang, "Tutup rok lo."
"Ihh so sweet banget Kakak Jeno." kekeh Giselle lalu memperbaiki letak hoodie Jeno.
"Bacot."
"Udah?"
"Yoi."
Jeno menancap gas meninggalkan kompleks rumah mereka.
Tepat setelah meninggalkan gerbang kompleks mereka, Giselle melotot dari belakang ia memukul kepala Jeno.
"WOI INGET GUE ADA DI BELAKANG."
BUGHH
"LO MAU KECELAKAAN!? DUDUK YANG DIEM!"
"YA MAKANYA PELAN-PELAN WOII!!!!!!"
Jeno tidak memperdulikan itu, ia malah sengaja menambah kecepatan motornya tidak peduli seberapa sering Giselle memukulnya di belakang.
"WOI JENOOOOO. SELOW SETAN."
Jeno tertawa, suara Giselle toa banget.
Giselle turun dari motor dengan nafas ngos-ngosan, ia memukul lengan Jeno.
"Bajingan banget lo bawa motor. Gue hampir mati tau!"
"Lebay."
Giselle mengumpat, ia ingin memberi hoodie Jeno tapi perhatiannya teralihkan, Giselle menatap tajam ke arah Jeno yang lagi memarkir motornya.
Sedangkan Jeno mengambil kunci motornya lalu memasukkannya dalam tas, ia segera keluar dari parkiran dan melihat Giselle dengan kedua tangan di pinggangnya, mata melotot tajam kearahnya.
Jeno menelan ludahnya sepertinya ia tau kenapa Giselle menatapnya seperti itu.
Giselle menunjuk Jeno, "LO!"
"LO TAU APA KESALAHAN LO?"
"Eung. Dasi??"
"Dan??"
Jeno menelan salivanya, Giselle cewek yang ramah dan humble tapi saat marah, sifat humble dan friendly nya langsung hilang, "Karena gue gak ngancing baju?"
"Lagi."
"Lagi?" Jeno mengernyit, selain tidak pakai topi ia tidak punya kesalahan lagi.
"BAJU LO KELUAR! LO ITU KETUA KELAS. KASIH CONTOH YANG BAIK KEK."
Jeno menunduk dan benar saja bajunya keluar, "Tadi udah gue masukin, Gi."
Giselle mendelik, lalo menunjuk baju Jeno yang keluar, "Terus itu apa namanya, Hah!?"
"Itu gara-gara lo ya, karena keseringan mukul gue."
"Apa hubungannya bego. Masukin cepet. Baju lo juga kancingin. Lo itu anak sekolahan bukan preman!"
"Baju gak di kancing lagi nge trend." gumam Jeno.
Giselle yang sudah berbalik ingin ke kelas seketika berhenti mendengar gumaman Jeno yang tidak jelas di telinganya, "Apa lo bilang?"
Jeno menggeleng, "Apa? gue gak bilang apa-apa." ucapnya lalu segera mengancing bajunya.
Giselle memicingkan matanya tidak percaya.
Jeno tersenyum yang membuat kedua matanya tenggelam. Ia segera merangkul Giselle dan berjalan ke kelas, "Ayo.."
Giselle yang di rangkul berusaha melepaskan diri, "Lepas, No. Apasih lo!"
"Hust diem. Ada Lia." ucap Jeno.
Giselle menoleh tapi kepalanya segera di tahan oleh Jeno.
"Lo jangan noleh ntar ketauan begok!"
Giselle menyikut perut Jeno, "Udah gue bilang jangan jadiin gue bahan buat kasih cemburu Lia!"
"Ni anak dari tadi mukul gue mulu." omel Jeno dalam hati.
Jeno mengeratkan rangkulannya karena jarak mereka dengan Lia semakin dekat.
"Gi. Ayo sok so sweet, biar Lia liat." bisik Jeno.
"Ogah. Lepasin!"
Jeno mengumpat tapi ia tetap ingin melaksanakan aktingnya.
Jeno berhenti membuat Giselle juga berhenti sambil menaikkan alis bingung, Jeno melepaskan rangkulannya, ia membalikkan badan Giselle dengan paksa menghadapnya, lalu Jeno segera mengelus-elus lembut rambut Giselle.
"Udah gue bilang kan rambut lo di kuncir aja. kan jadi kusut gini.."
Giselle yang dari tadi udah bingung sambil berusaha melepaskan rangkulan Jeno, mendelik menampilkan ekspresi jijik mendengar kalimat geli itu.
"Ni anak gak ngebantu banget." umpat Jeno dalam hati.
Ia segera melototkan matanya mengirim signal yang semoga bisa di tangkap oleh Giselle.
Giselle menghela napas sabar.
"Ya tuhan tahan gue buat gak nonjok cowok setan depan gue."
Giselle mengepalkan tangannya mencoba untuk tidak jijik kepada dirinya sendiri, Giselle itu anti uwu-uwu club. Ia selalu merinding mendengar kalimat atau kata-kata cringe.
Giselle kini mencoba tersenyum berusaha memasang wajah manis untuk memperkuat akting Jeno. IA TIDAK TAHU KENAPA IA MAU SAJA MEMBANTU JENO AKTING!?
"Gakpapa rambut di gerai lebih cocok buat aku." ujar Giselle lalu memperbaiki rambutnya.
Kedua sudut bibir Jeno berkedut melihat Giselle yang ingin sok imut tapi ekspresinya malah menampilkan wajah yang lagi jijik dengan senyum yang Jeno tau ia paksa untuk terbentuk.
Jeno menunduk mencoba menahan tawanya, lalu melirik seseorang yang berjalan di sampingnya, yang ternyata sudah melewatinya.
Giselle juga menoleh dan setelah melihat Lia sudah lumayan jauh dari tempat mereka berdiri.
Ia segera menoleh ke arah Jeno yang kini sudah terduduk meledakkan tawa yang ia tahan dari tadi. Jeno tertawa ngakak sambil memegang perutnya.
Giselle yeng kesal menendang kaki Jeno, memukul punggungnya dengan ganas, tak lupa juga menjambak rambutnya. Melampiaskan kekesalannya.
"LO EMANG MAU GUE BUNUH YA!"
"HAHAHAHHAHA"
Jeno hanya tertawa dan mencoba menangkis semua pukulan-pukulan Giselle.
"BISA-BISA NYA LO SURUH GUE AKTING BEGITU HAH!"
"LO CARI MATI?"
"HAHAHA, GI. LO HARUS LIAT MUKA LO TADI"
"ITU GARA GARA LO SETAN!"
"HAHAHAHA"
Jeno kini sudah bebas, ia segera berlari meninggalkan Giselle yang lagi memungut Hoodienya yang tadi terlempar jatuh karena amukannya sendiri
"gikpipi rimbit girai cicik simi iki"
Giselle melotot mendengar Jeno meledek perkataannya tadi. Ia segera berlari mengejar Jeno.
"EH KAMBING SINI LO!"
"GAK ADA TERIMA KASIHNYA DI BANTUIN."
"HAHAHAHA"
"JENO KAMPRETTTT" Pekik Giselle.
.....