
Setelah Miss Jessica keluar, Giselle beranjak ingin ke kelas Lia dan Somi— teman kursus bahasa inggrisnya.
Miss Jessica adalah Wali kelas untuk Sebelas Ipa Satu, ia juga guru Bahasa Inggris untuk angkatan kelas sebelas.
Miss Jessica tadi hanya mengabsen, dan juga membentuk pengurus kelas.
Jeno terpilih sebagai ketua kelas karena omongannya sendiri. Yoshi sebagai wakil atas rekomendasi Giselle dan beberapa teman yang lain. Minnie yang pasrah di tunjuk sebagai bendahara, dan Ningning yang sedang sial di tunjuk sebagai sekretaris.
"Gi.. Gantiin gue dulu dong. Gue juga mau joget..." rengek Ningning melihat ke pojok belakang.
Ningning selaku sekretaris di mintai oleh Jeno untuk mengumpulkan semua nomor anak kelas mereka, agar ia bisa membuat grup nanti.
Tetapi di sisi lain ada Haechan, Jaemin, Jihoon sedang bernyanyi di pojok belakang, membuat Ningning tidak ingin ketinggalan jadi ia meminta tolong kepada Giselle untuk menggantikannya meminta nomor anak kelas.
Giselle melirik Ningning yang sudah seperti cacing kepanasan, "Gue mau ke Ips, Ning. Mau ngasih tau Lia sama Somi. Suruh Winda atau Karina aja dulu." tolak Giselle tidak enak.
Sebenarnya ia bisa saja pergi ke kelas Lia dan Somi nanti pas istrahat kedua, tapi Giselle sudah mengagendakan agar di dalam kelas setelah istrahat pertama.
Jeno yang sedang merangkai struktur kelas terkesiap mendengar nama Lia di sebut, ia melirik Giselle yang sedang menunjuk Karina dan Winda yang sedang selfie.
"Gak mau. Gue masih canggung." ucap Winda yang sedang berpose di depan kamera hpnya.
"Lo tau gue kan?" Tanya Karina yg ikut berpose dengan Winda.
Ningning mengangguk, Karina tipe orang yang sulit berbaur dengan orang baru, Winda biasanya sealiran dengannya— Ningning, tapi sepertinya cewek imut itu masih ingin menjaga image saat ini.
Ningning menghela napas, ia kemudian melirik Jeno yang juga meliriknya— melirik Giselle lebih tepatnya. Dan seketika tatapan mereka bertemu.
"Apa?" Tanya Jeno.
Ningning terkekeh pelan menggaruk kepalanya yang tidak gatal, "Ntar aja ya No... gue ngumpulinnya, serius deh pasti gue kumpulin kok. Janji!"
Jeno mendelik melihat puppy eyes Ningning, ia menghela napas sebentar, "Hm, yaudah inget tugas lo tapi. Lo itu sekretaris."
Ningning mengangguk antusias, "Iya iya, thank youuuuuu. Lopyuu prend. WOIII GUE IKUTTTTTT!"
Giselle tertawa melihat Ningning sudah berlari ke meja guru mengambil kemoceng, well keadaan kelasnya memang sudah riuh walau ini hari pertama mereka bertemu di dalam kelas yang sama.
Sepertinya dari mereka ada yang sudah mengenal mungkin waktu kelas sepuluh sempat sekelas atau kenal dari ekskul.
Giselle segera beranjak keluar.
Di satu sisi Jeno segera menutup kertas coretan struktur kelasnya, dan berdiri.
"Giselle."
Jeno kini berdiri kaku. Ia bingung bagaimana cara menawarkan diri; untuk bisa ke Ips.
Karena jujur ia ingin ke kelas Lia, tapi ia tidak berani jika sendiri, memanggil teman-temannya adalah ide yang buruk karena pasti ia berakhir akan di bully.
Giselle yang sudah hampir sampai di pintu kelasnya berhenti, dan berbalik dengan alis yang dinaikkan heran.
"Kenapa?" Giselle terkejut melihat Jeno memanggilnya.
Ia dan Jeno tidak terbilang dekat. Ia hanya mengenal Jeno sebagai orang yang tinggal di kompleks yang sama dengannya dan juga sebagai teman kakak laki-laki nya.
Ia dan Jeno pun tidak pernah bertegur sapa sama sekali, setiap Ia ada di rumahnya bukan— setiap geng kakak laki-lakinya itu berkumpul di rumahnya, Giselle selalu berada kamarnya, berdiam di kamarnya lagipula mereka juga selalu ngumpul di dalam kamar Yuta, yang berada di lantai atas yang membuatnya bisa bebas, terhindar dari mereka.
Jadi, Giselle sama sekali tidak pernah bersinggungan dengan Jeno, berbicara dengannya.
Seingat Giselle, ia hanya pernah di sapa satu kali oleh Jeno, itupun karena saat itu, ia keluar dari rumahnya dan posisi itu ada Jeno yang berteriak memanggil Yuta, dan dengan sedikit canggung akhirnya Jeno menanyakan keberadaan Yuta dengan Giselle.
Hanya itu saja...
Sebenarnya jika yang memanggilnya adalah Sungchan atau Renjun yang notabene-nya teman waktu SMP-nya dulu, ia tidak masalah atau Haechan yang pernah ngintilin Karina dulu waktu kelas sepuluh. Maka Giselle tidak akan seheran seperti ini.
Tetapi... yang memanggilnya adalah seorang Jeno, cowok idaman adek kelas dan juga beberapa teman seangkatannya.
Jeno, Jaemin dan teman-temannya adalah geng populer waktu kelas Sepuluh dulu. Mengingat mereka juga segeng dengan Yuta dan beberapa kakak kelas yang fans-nya tak sedikit.
Jeno berdeham sejenak, mengurangi rasa groginya, "Lo mau ke Ips kan?"
Giselle mengangguk pelan, "Iya. kenapa? mau nitip sesuatu?"
Jeno menggelengkan kepalanya, tentu saja bukan. Ia ingin ke gedung Ips karena ingin melihat Lia. Ia ingin melihat mantannya.
"Mau gue temenin gak?"
"Eung... HAH?" Giselle terkejut setengah mati.
"Wait.. dia suka sama gue?"
"Apa-apaan.. Ngegas banget mainnya."
Giselle yang memang suka menyimpulkan prilaku seseorang kepadanya, terheran, seingatnya ia tidak pernah menarik perhatian Jeno, tapi cowok itu sudah menyukainya?
"Hahaha, absurd."
"Apa dia mau deketin temen-temen gue, karena gue paling ramah keliatan, jadi dia mau nyari info melalui gue?"
"Bisa jadi.. bisa jadi.."
Bagaimana Giselle tidak memikirkan kesimpulan-kesimpulannya sendiri karena, mereka bahkan tidak pernah berjalan bersama, ralat sekedar sapa saja, bahkan tidak pernah. Dan sekarang seorang Jeno menawarkan diri untuk menemainya ke Ips.
Keterkejutan Giselle berlanjut, ia bingung, heran dan juga merasa aneh.
"Mau apa deh ni anak?"
Tapi karena tidak ingin kepedean dan juga ia merasa ini masih terlalu dini untuk menarik kesimpulan seperti yang sudah ia pikirkan, jadi ia segera mengiyakannya.
Merekapun berjalan keluar beriringan menuju gedung Ips.
Saat berada di depan kelas Ipa 2, Giselle mensejajarkan jalannya, karena Jeno antara gugup atau tidak, Jeno berjalan seakan berlari, mentang-mentang kakinya panjang jadi langkahnya agak lebar di banding Giselle.
Giselle berdeham sejenak, ia mencodongkan tubuhnya ke arah Jeno, "Lo punya gebetan di Ips ya?"
Sepertinya itu yang paling masuk akal, karena jika Jeno ingin mendekati teman-temannya, mereka tidak perlu ke Ips untuk mendapatkan info, karena teman-teman Giselle juga sekelas dengannya, kecuali Lia sama Somi, sih..
Jeno tertawa, "Haha enggak."
Kini kedua alis Giselle menyatu, ia semakin bingung. "Terus kenapa lo mau ikut sama gue?"
Giselle paling tidak bisa jika ada hal ganjil yang mengganggunya.
Jika saja ia dan Jeno sudah terbilang akrab ia tidak akan menanyakan hal bodoh seperti itu.
Menurut Giselle semuanya harus di luruskan agar terhindar dari kesalahpahaman, karena jujur Giselle sedikit kegeeran dengan tawaran Jeno yang tiba-tiba. Bisa sajakan, Jeno memang menyukai nya karena papasan tadi?
Siapa tau, Jeno falling in love at first sight kepadanya?
Hahaha jangan ngaco Lo, Gi!
Hell, bayangkan saja ada orang yang tidak pernah menyapamu sama sekali tapi menawarkan diri ingin menemanimu. Bukankah itu sangat aneh?
Jeno tergagap, bingung harus mengatakan apa, karena ia memang ingin ke gedung Ips hanya untuk melihat Lia.
Melihat gadis itu, apakah ia baik-baik saja seteleh putus dengannya, walau tadi Jeno sempat bertemu Lia, tapi ia hanya meliriknya sekilas karena ledekan teman-temannya ia tidak bisa fokus memerhatikan Lia.
"Eung.. itu anu— gue juga punya urusan di Ips." elak Jeno.
"Oh ya, Ips apa?"
"Ada, Dejun anak Ips 2.." Jeno segera meminta maaf dalam hati karena telah menjual nama temannya.
"Oh... gue juga mau ke ips 2 sih."
"Sial. Sial. Sial."
Giselle mengangguk mengerti dan tidak menanyakan lagi urusan apa karena menurut Giselle itu bukan urusannya.
Jeno yang menyadari tidak ada pertanyaan lagi diam-diam bernafas lega. Dan mereka berdua berjalan tanpa berbincang lagi.
Giselle sampai lebih dahulu di kelas Ips 2, "Yoonbin. Lia nya ada?" Tanya Giselle ke lelaki tampan yang berada di depan pintu.
Yoonbin masuk memanggil Lia. "Liaa. ada yang nyari."
"Makasih..."
Lia keluar dan terkejut melihat Jeno yang berada tepat di belakang Giselle. Giselle menyadari itu, ia berbalik dan melihat Jeno dengan keaadan yang sama.
Kening Giselle mengernyit heran, "Eh kenapa nih?" batin Giselle.
Sedangkan Jeno terkesima, seminggu putus dengannya. Di matanya Lia tetap terlihat cantik dan elegan. Senyumnya masih bisa membuat jantungnya berdetak jauh lebih cepat.
"Kalian saling kenal?" Tanya Giselle ke Jeno dan Lia.
"Hm.. Tuhkan Jeno emang mau gebet teman gue!"
Lia yang sadar lebih dahulu segera menyampirinya, "Ada apa, Gi?" Tanya Lia mengalihkan perhatian Giselle.
Giselle mengerjapkan matanya, "Ah.. tadi Miss Jessi nyuruh gue kasih tau lo sama Somi, kalau udah bel pulang ke ruangan dia dulu katanya.."
Lia mengangguk mengerti, "oke, biar gue yang panggil Somi ntar."
"Lo mau? Okedeh, gue balik dulu kalau gitu. Bye.." Giselle melambaikan tangannya ke arah Lia yang di sambut anggukan olehnya.
"Ayo No." panggil Giselle.
"Lia-nya masih cantik."
"Lia-nya masih sama seperti seminggu yang lalu."
"Yang berbeda adalah tatapan Lia yang nganggap gue ada."
"WOI JENO!"
"Kenapa dah? Segitu terpesona banget sama Lia sampai-sampai bengong gitu?" Batin Giselle.
Jeno mengerjapkan matanya sejenak, panggilan Giselle membuatnya tersadar, ia menarik napas pelan. Ingin menyapa Lia tapi Lia sudah masuk kembali dalam kelasnya, jadi ia memutuskan berbalik mengikuti Giselle.
Giselle mengerutkan keningnya bingung, "Lo kenapasih?" tanya Giselle.
Jeno menggelengkan kepalanya, "Gak."
"Lo suka sama Lia ya? Mau gue salamin?"
"Kalau Lo mau gampang itumah." Batin Giselle.
"Gue mantannya Lia." Batin Jeno.
Jeno tersenyum miring, sepertinya gadis di sampingnya ini tidak tau apa yang pernah terjadi antara ia dengan Lia.
Tentu saja Jeno tidak akan membeberkan hubungan ia dan Lia kepada Giselle.
"Gak. Ga usah." balasnya.
Giselle memicingkan matanya, ia menunjuk Jeno.
"Lo mencurigakan."
"Lo sama Lia aneh. Kalian pernah saling suka?"
"Lia temen lo?"
"Kalian pernah temenan tapi karena saling suka jadi musuhan begini?"
"Oke.. kali ini gue gak bisa nahan diri gue. Bodo amat di bilang kepoan, gue penasaran!"
Jeno tertawa mendengar rentetan pertanyaan Giselle, "Hahaha apasih enggak, ayo balik. sebelum guru masuk." Jeno dengan cepat berjalan meninggalkan Giselle.
"Miss Jessi udah bilang tadi kalau guru gak ada yang masuk, lo kalo salting jangan bego dong."
Walaupun ia kebingungan dengan apa yang terjadi dengan Jeno dan Lia, tapi ia tidak bisa menahan tawanya melihat Jeno yang sepertinya sedang salah tingkah?.
Padahal Miss Jessica tadi sudah mengatakan kalau seminggu ini mereka sepertinya akan mendapatkan banyak free class karena masih dalam suasana masa Tahun Ajaran baru.
"Hahah bodoh." Batin Giselle.
Jeno yang tersadar seketika merutuk, ia mendengar dengan jelas suara renyah Giselle yang menertawainya.
"Sialan." Batin Jeno.
Giselle yang masih tertawa seketika berhenti. Ia melupakan apa tujuan Jeno menemaninya.
"Kenapa?" tanya Jeno mendengar Giselle yang berhenti tertawa dan malah menepuk bahunya.
"Ah sorry sorry, gara-gara urusan gue, gue lupa kalau lo juga ada urusan di Ips 2. Ayo balik lagi, gue temenin.."
Jeno tersenyum tipis, "Gak usah, urusan gue juga udah kelar tadi."
"Kan gue ke ips cuman pengen liat Lia" batin Jeno.
Jeno tertawa melihat muka Giselle yang seakan mengatakan, kapan kelarnya?
Giselle semakin bingung melihat Jeno menertawainya.
"Oh apakah ada yang lucu?" batin Giselle bingung.
Jeno segera beranjak sebelum Giselle menanyakan urusannya yang sudah kelar.
......