MOVE ON BRO!

MOVE ON BRO!
5. Kantin Bareng



...


Setelah guru mapel itu keluar, rombongan Ipa Satu berjalan menuju kantin. Mereka akan di traktir oleh Chenle.


"Gi." panggil Jeno yang kini berada di belakang Sungchan dengan Giselle yang ada di sampingnya.


Giselle menoleh menaikkan alisnya, "What?"


"Kelas Lia di depan tuh."


Giselle mengernyit, "Terus?"


Jeno dengan santai merangkulkan tangannya di bahu jauh Giselle sambil melewati kelas Lia.


Bughh.


Jeno merintih kesakitan, perutnya di sikut oleh Giselle "Aughh. Sakit anjir!"


Giselle melototinya, "Lo! kalau mau kasih cemburu Lia, jangan ajak-ajak gue!"


"Ajak Karina noh atau Isa.." lanjutnya.


Jeno mengernyit, "Kenapa Karina atau Isa?"


Giselle mendelik, "Ya karena Lia temen gue bego!"


Mata Jeno melotot tidak terima, "Gue juga temen Lo!"


Giselle terdiam sejenak lalu mengangguk setuju, ia kemudian berbalik ke arah kelas Lia "LIAAA. JENO NITIP SALAMMMMM!!!!" Teriaknya, lalu berlari bergabung di rombongan barisan depan.


Jeno melotot dan mengumpat lalu mengejar Giselle sehingga barisan mereka terpecah. Membuat mereka heboh.


"WOI WOII KENAPA KENAPA??!!!!"


Winda melotot, "YAAAKKK!!! GUE KELINDES." Sungchan segera menghampiri Winda.


Sebelum Jeno menangkap Giselle, teriakan Renjun yang mengatakan Istrahat sisa beberapa menit lagi membuat barisan yang sudah pecah tampah pecah lagi. Mereka berlari dengan heboh dan panik.


"KANTIN JAUH AMATSIHH!????" keluh Giselle yang sudah berlari seperdua jalan.


"LELET AMAT SIH LO!" Teriak Jeno jengkel.


"DIH. LARI AJA NOH SANA! NGAPAIN NUNGGUIN GUA."


Jeno melotot, "LO BELUM GUE KASIH PELAJARAN."


"MISS DARA UDAH NGASIH PELAJARAN TADI."


"BUKAN GITU BEGO, GUE MASIH KESEL LO TADI MANGGIL LIA!"


"KAN LO SENDIRI YANG NYURUH ANYING!"


"BACODD ANJENG!!! JANGAN BERANTEM DI TENGAH JALAN!" Umpat Haechan.


.....


Giselle memukul punggung Jeno, "ITU AIR MINUM GUA."


Jeno yang kehausan langsung mengambil minum dengan random, ia sepertinya sudah tau kalau itu minuman Giselle, karena Giselle menaruh minumannya di depan dia.


Jeno tersedak, dengan kondisi yang masih batuk-batuk karena Giselle memukulnya pas ia sedang minum.


Jeno menoleh, "Lo ambil yang lain lagi gih, gue males berdiri," balasnya sambil batuk.


Giselle mendelik "Lo pikir gua gak males gitu?"


"Elah Gi. napadah pelit amat lu ama gua.."


Giselle mendelik, padahal ia baru mengenal Jeno beberapa minggu, tapi ia sudah ingin menendang cowok itu.


Dengan perasaan kesal Giselle berdiri tak lupa memukul kepala Jeno lagi membuat Jeno mengaduh kesakitan.


....


Jeno mengambil ayam goreng di meja yang sudah penuh makanan akibat anak kelasnya. "Gue masih penasaran..."


Giselle yang duduk di sebelahnya menoleh.


"...Duluan ayam apa telur ya?"


Giselle ikut mengambil ayam yang ada di meja tempat mereka —anak ipa satu— duduk.


"Duluan ayam lah " balas Giselle.


Jeno menoleh, "Duluan telur.."


"Duluan ayam."


"Telur."


Giselle melotot, "DULUAN AYAM BODOH."


Jeno tak terima, "SEBELUM JADI AYAM, DIA JADI TELUR DULU!"


"KALAU GAK ADA AYAM SIAPA YANG NELURIN BEGO!"


"TELUR DULU GIGI BODOHHH."


Jihoon yang ingin fokus makan,  memukul meja tempat mereka duduk membuat suara nyaring terdengar di kantin itu.


"BACOTTT! DULUAN GUE YANG LAHIR. UDAH!"


Giselle dan Jeno langsung terdiam tetapi masih saling melototi.


Setelah makan, mereka sedang mengantri untuk menemani Chenle membayar makanan mereka, masih banyak dari mereka yang mengambil beberapa cemilan di mini bar. Giselle tidak termasuk dengan mereka karena ia sudah terlalu kenyang.


Giselle mengedarkan pandangannya dan menemukan sesuatu yang menarik perhatiannya, ia menoleh ke arah Jeno, mendekat.


"No. liat deh yang di pojok."


Jeno mengikuti arah pandang Giselle, "Kenapa dia?"


"Lehernya mau patah liatin lo terus."


"Gue emang seganteng itu." ucap Jeno songong.


"Iyuhh.."


....


Giselle berjalan bersama Karina sambil mengobrol, tapi sudut matanya tak sengaja melirik kelas Ips, ia melotot lalu berbalik dan menghadang Jeno, "No. Lewat sana aja yuk." ucapnya.


Jeno menoleh, "Kenapa? gue gak mau. Jauh."


"Yaudah lo tunduk pas jalan! jangan nengok!"


"Ogah."


"TUNDUK, NO!"


"Kenapasih?"


Giselle dengan cepat menundukkan kepala Jeno dengan tangannya sebelum Jeno melihat hal yang ia lihat tadi.


"Diem!"


"Hahahah lo jinjit gitu.."


"Makanya gue tadi bilang muter balik aja."


Jeno yang penasaran dengan paksa mendongakkan kepalanya membuat Giselle hampir terjatuh.


Seketika Jeno mematung di tempatnya sedangkan Giselle meliriknya cemas.


Dengan rahang yang mengeras, sorot mata yang tajam, Jeno berjalan dengan langkah yang cepat meninggalkan Giselle dan mendahului yang lainnya.


Jeno tidak sengaja menyenggol Jaemin membuat Jaemin hampir terjatuh, Jaemin mendelik, ia menoleh dan melihat Jeno yang berlajan mendahuluinya tanpa meliriknya sama sekali. Jaemin mengernyit melihat sobatnya yang memancarkan aura yang mendekam.


"Kenapa tuh anak?"


Jaemin kemudian berbalik, ia berhenti dan menunggu Giselle sampai di tempatnya. Ingin menanyakan keadaan Jeno, karena terakhir ia lihat Jeno baik-baik saja.


Jaemin segera menahan Giselle, "Gi. Jeno kenapa?"


Giselle mendesah pelan, "Itu tadi... Jeno liat Lia sama Hans duduk di depan kelasnya."


Jaemin menepuk jidatnya, "Kenapa gak lo halangin?"


"Udah... tadi gue udah nyuruh jalan puter lewat gedung dua belas, terus gue jug udah nyuruh nunduk tapi Jeno gak mau dengerin."


"Ah, gawat." Jaemin segera beranjak meninggalkan Giselle. Giselle yang sedikit cemas ikut berlari bersama Jaemin.


....


"No. Lo di panggil Miss Jessi." panggil Giselle.


Jeno yang sedang duduk melamun di bangkunya, menghela nafas panjang lalu berdiri. Ia benar-benar tidak dalam mood yang baik.


Giselle mengikutinya dari belakang. Jeno berhenti ia berbalik.


"Lo ngapain ikut?"


Giselle tertawa kecil, "Gue kepo.." ucapnya bohong sebenarnya ia khawatir melihat Jeno yang sejak tadi pulang dari Kantin, diam saja di tempat duduknya.


Giselle tau Jeno bukan seperti Haechan yang selalu full energy, tapi Jeno tadi terlihat menyedihkan di saat semua anak kelasnya berisik di dalam kelas. Ia hanya melamun di tempatnya dengan tangan yang di topang di dagunya.


Sampai-sampai membuat Ningning dan yang lainnya khawatir hingga menanyakan keadaan Jeno di dalam grup kelas mereka.


"Balik kelas aja lo sana." usir Jeno, lalu berjalan menuju Kantor.


"Suka suka gue dong mau gu—"


Gedebug...


Jeno berbalik dan melihat Giselle terduduk di lantai dengan keadaan yang mengenaskan.


"Hahahaha. Gi lo kenapa? Hahahahah makanya pelan-pelan dong ahahahahah—"


Buggh.


"HAHAHAHA MAMAM TUH KARMA!!!"


Giselle tertawa ngakak, melihat Jeno yang ikut terjatuh tepat setelah mengejeknya.


Jeno melotot merasakan pantatnya jatuh dengan kuat, "Anjir, ini lantai licin banget."


Jeno dan Giselle saling melirik satu sama lain lalu meledakkan tawa mereka, merasa lucu dengan keadaan mereka.


"Untung gak ada orang yang lewat." ucap Giselle sambil berusaha bangun.


Jeno lebih dulu bangun, ia mengulurkan tangannya membantu Giselle, "Gue gak akan keluar kelas sih kalau sampai ada yang liat." ucapnya sambil menepuk-nepuk celananya.


Giselle masih tertawa sambil menepuk-nepuk roknya, ia mengecek lantai itu dan memang licin.


Mereka berdua terbahak dan berjalan dengan cepat meninggalkan Perpustakaan sebelum benar-benar ada yang lihat.


Mereka masih tertawa hingga sampai di Kantor Guru.


"Kalian kenapa?" tanya Miss Jessi karena wajah Giselle dan Jeno yang memerah menahan tawa.


"Tadi abis nangkap ikan Miss.." gumam Jeno pelan nyaris tak terdengar.


"Hm, kenapa?" tanya Miss Jessica.


Giselle menggeleng dengan cepat "Hehehe, enggak, Miss.." balas Giselle.


Jeno berdeham sejenak berusaha menahan tawanya, "Kenapa Miss panggil saya?"


"Oh, ini buku kalian. Kerjain halaman 15, Miss agak lambat masuk kayaknya ada yang Miss urus dulu. Jeno pastiin semuanya di dalam kelas ya.."


Jeno mengangguk mengerti, lalu mengambil buku latihan mereka. Giselle ikut mengambil beberapa buku.


Ia dan Giselle pun keluar berjalan hingga sampai di depan perpustakaan, mereka sudah kapok untuk berjalan di lantai perpustakaan jadi mereka memutuskan untuk berjalan di bawah, yang bukan lantai.


"Ini siapa yang ngotorin? baru aja di pel." gerutu pembersih sekolah yang bisa mereka dengar.


Giselle seketika menutup mulutnya sedangkan Jeno merapatkan bibirnya. Mereka berjalan pelan melewati pembersih sekolah itu. Setelah jarak mereka sudah jauh dengan pembersih sekolah itu.


"HAHAHAHAHA"


"HAHAHAHA"


Tawa mereka meledak, lalu memukul satu sama lain.


"Pantes licin baru di pel hahaha."


Giselle memukul bahu Jeno, "Kasian mbaknya. Lo sih! gak liat-liat." tuduh Giselle.


Mereka berdua memasuki kelas dengan sisa-sisa tawa mereka.


"Eh udah baikan lo, No?" tanya Hyunjin.


Jeno mengerutkan keningnya, "Emang gue kenapa?"


"HEH, JENO! ASAL LO TAU AJA GUE SAMPE GAK NGONSER GARA-GARA LO!!" protes Ningning.


Giselle yang mengerti karena tadi sempat membaca grup chat mereka, menyikut Jeno, "Mereka simpati sama lo sampai-sampai gak mau ngerusuh, coba baca grup." bisik Giselle.


Jeno tersenyum geli, "Gue gak kenapa kenapa. Tumben banget sih kalem aja tadi."  Jeno lalu membagikan buku yang diberikan oleh Wali kelasnya tadi.


Jaemin sejak tadi memperhatikan Giselle yang sudah duduk di bangkunya, lalu berpikir apa yang telah di lakukan gadis ini sehingga bisa membuat mood Jeno bagus kembali padahal ia nyaris tidak bisa membuat Jeno berbicara dengannya sejak mengejarnya tadi.


Ia mengenal Jeno dari kecil dan ia tau betul jika mood Jeno berantakan itu butuh sehari sampai ia bisa mengontrolnya.


Giselle mengangkat kepalanya karena merasa di perhatikan dan ia melihat Jaemin menscan dirinya, "Kenapa, Jae? liatin gue kayak gitu?"


"Lo apain Jeno?" tuding Jaemin tiba-tiba.


Kening Giselle mengkerut bingung, "Gue apain Jeno?"


"Jeno kalau lagi galau butuh sehari buat bisa bagus lagi."


"Ah.. itu rahasia." setelah Giselle mengatakan itu ia kembali tertawa mengingat moment memalukan tadi.


.....