
Giselle kini tiba di kelasnya— motor Ningning telah sembuh, jadi.. jika ia bersama Ningning- pasti ia akan cepat ke sekolah, walau rumahnya dekat. Padahal biasanya ngaret banget, apalagi kalau nebeng sama Jeno. Ya.. lagian rumahnya dekat dengan sekolah.
Setelah menyimpan tasnya, Ningning pamit keluar karena ia kena giliran piket osis, sedangkan Giselle berjalan ke bangku Jeno, dan duduk di situ, Jaemin sudah bermain game di bangkunya sendiri.
Giselle terdiam, melihat lelaki sampingnya masih sibuk memencet-mencet HP-nya. Jaemin melirik sekilas lalu kembali ke HP nya.
Jaemin menunggu Giselle bicara, karena pasti ada alasan cewek itu duduk di bangku Jeno, Jaemin yakin, Giselle duduk di situ bukan untuk menontonnya bermain game.
"Kenapa?" Tanya Jaemin, setelah cewek itu diam beberapa menit tanpa berbicara apapun.
"Lo fokus aja dulu, menangin tuh game, gue mau ngomong." balas Giselle.
Jaemin mengangguk lalu kembali fokus bermain game.
"Ngomong-ngomong Jae. Lo sama Minju gimana?"
Jaemin terkekeh, "Kemarin abis jalan dong."
Giselle hanya tersenyum.
"Masih lama gak?" Tanya Giselle setelah beberapa saat.
"Hm. Sampe antara gue menang atau gue mati."
"Yah.., kalau lo mati, gue gak bisa ngomong dong."
"Apasih prikk banget. Lo mau ngomong apa dah."
Giselle tertawa belum sempat ia bicara, suara di pintu kelas memenuhi ruangan.
"ICELLL KUUHHHHHHHH"
Giselle berdiri menghampiri Junkyu yang meneriakinya di pintu.
Junkyu segera meraih kedua tangan Giselle lalu mengajaknya berputar-putar, "GUE UDAH TEMBAK HEEJIN DONGG"
Giselle ikut tertawa, mengikuti gerakan putaran Junkyu. "Gue pusing, berenti dulu." ucap Giselle setelah lama di ajak berputar-putar oleh Junkyu.
Junkyu berhenti, masih dengan senyum yang mengembang.
"Kapan nembaknya? dia terima gak? kok tiba-tiba. Gak kasih tau gue dulu?"
Junkyu tersenyum lalu mengajak Giselle duduk di depan kelas. "Kemarin pas abis nganterin elo. Terus... gue kepikiran kan sama kata-kata lo itu... Makanya gue beraniin diri ahayy.., buat tembak Heejin pas gue anter pulang ke rumahnya..."
Giselle tertawa geli, "Lo nembak di jalan? anjir gak romantis banget."
Junkyu menggaruk kepalanya yang tidak gatal, "Abisnya gue bingung mau gimana."
"Ahahaha, terus terus Heejin terima?"
Junkyu tersenyum malu-malu dan mengangguk, "Hooh kemarin official."
Giselle tepuk tangan dengan heboh, "JIAAAKK PJ PJ. GUE GAK MAU TAU!"
Junkyu mengangguk, "Tenang Cel, lo bakal jadi orang pertama yang gue traktir."
"Ini semua berkat lo tau, Cel... Lo emang the best! Kalo lo gak bantuin gue pas Heejin nyuekin chat gue dulu.., gue gak tau deh gimana nasib gue sekarang."
Giselle tertawa, "Mulai deh lebaynya."
"Bener Cel.. andai juga..., gue gak nganterin lo pulang kemarin mungkin hubungan gue sama dia masih abu-abu.."
"Kan udah gue bilang.., kalian itu emang udah saling suka, cuman ya... gak ada yang mau gerak maju aja."
Junkyu terkekeh kecil, Giselle lalu menoleh ke Junkyu sambil menahan tawa, "Eh lo tau gak, gue sempet khawatir..." ucap Giselle.
Junkyu menoleh, "Khawatir apa?"
"Ini agak gimana sih hahaha, tapi.. gue sempet mikir lo gak nembak-nembak Heejin gara-gara suka sama gue...."
Junkyu terdiam lama, lalu tertawa ngakak hingga memegang perutnya, "HAHAHAHAHAHAHAHAAHAHA ASTAGA CEL"
Giselle ikut tertawa geli, "Gue beneran anjir! soalnya lo udah lama gue bantu ngelurusin masalah lo ama Heejin, tapi gak ada kemajuan juga, kan gue jadi mikir yang enggak-enggak."
Junkyu memukul punggung Giselle, masih dengan tawa yang menggelitik. "HAHAHA."
Setelah tawa Junkyu mereda, ia mengelus rambut Giselle "Maaf ya beb.. udah bikin lo mikir kayak gitu.., tapi gue bener-bener gak ada rasa sama lo. Lo itu udah gue anggap partner in crime gue."
Giselle tertawa, lalu mengangguk setuju- karena ia juga menganggap Junkyu partner in crime-nya.
"Baguslah, setidaknya dugaan gue salah."
Junkyu menyenggol Giselle, "Jangan kecewa gitu dong, Cel, btw lo gak suka sama gue kan?"
Giselle menggeleng, ia masih belum selesai tertawa— terlalu geli dengan dirinya sendiri.
"Haha Gak. Lo terlalu gemesh buat gue suka."
"Gue emang gemesin." Junkyu kemudian berdiri, "Cel, gue mau ngapel di Ipa 3 dulu. Bye Bye bebbzzz ntar gue traktir."
Giselle terkekeh, melambaikan tangannya, "Okeh. Dah. Salam sama pacar baru lo." Junkyu hanya mengacungkan jempolnya.
Giselle segera masuk ke dalam kelas dan melihat Jaemin sudah berhenti bermain game, Jaemin sekarang sedang tertawa ngakak menonton video di hp nya.
"Jae."
"Apa?"
"Gue mau nanya.."
"Tentang?" balas Jaemin yang masih belum mau lepas dari hp nya.
"Lo tau gak Jeno sama Lia kenapa bisa putus?"
Jaemin berhenti menonton video di hp nya, ia memutar badannya menghadap Giselle.
"Jeno sama Lia emang dulu sering berantem terus putus nyambung, tapi kali ini belum nyambung lagi. Gak tau deh kapan nyambungnya tuh dua orang."
Giselle mengangguk, "Lo gak tau kali ini mereka putus karena apa?"
"Gue gak tau sih, Gi.. Jeno gak cerita tentang itu, emang kenapa? tumben amat lo kepo hubungan Lia ama Jeno."
Giselle terdiam, "Kemarin Jeno cerita..."
"Cerita apa?"
Mata Jaemin membelalak, "Lia selingkuh?" gumam Jaemin kepada dirinya sendiri.
"Masa sih? Gue gak tau tentang itu, Jeno gak pernah ngomong apa-apa."
"Karena lo mungkin gak pernah nanya"
Jaemin terkekeh, "Iya sih. Jeno kalau abis putusan— kita terlalu sibuk buat sekedar temenin dia galau, haha. Lagian kita udah nganggep biasa, Jeno putusan, jadi.. ya gitu.."
Giselle menggeleng tidak percaya, "Jadi lo gak tau?"
Jaemin mengangguk, "Ntar gue tanyain ke Jeno."
Giselle melotot dan memukul punggung Jaemin, "Jangan anjir!"
"Lho kenapa? lo keliatan kepo gitu."
Giselle mendelik, "Gue gak kepo ya!"
Jaemin menaikkan alisnya tidak percaya, "Masa?"
"Kampret. Awas lo kalau lo kasih tau Jeno tentang ini! Gue sayat nadi Lo!"
Jaemin hanya tertawa, Giselle segera kembali ke tempat duduknya sebelum Jeno datang.
....
"Oee." bisik Jaemin di mata pelajaran Agama yang sedang berlangsung.
Jeno menoleh sebentar lalu kembali menghadap depan, "Apa?"
Jaemin tertawa pelan, "Tadi Gisel nanya ke gue tentang Lo sama Lia."
Jeno tersenyum, tanpa menoleh ia bertanya, "Kapan?"
"Tadi pagi."
"Terus lo bilang apa?"
"Gue bilang gue gak tau."
Jeno tersenyum lebar, "Good."
"Lia beneran selingkuh?" tanya Jaemin.
Jeno menggeleng, "Kaga. Gue cuman pengen ngibulin Gigi."
"Anjir. Gisel tadi keliatan simpati, bangsat."
Jeno tertawa geli tanpa suara, "Dia emang gitu, orangnya gampang simpati."
"Lo sama Lia beneran kenapa bisa putus deh?" tanya Jaemin serius.
"Kepo lu."
"Anj—"
Sedangkan di sisi lain ada Giselle yang mencoba mencari informasi lain lewat Ningning— si kutu loncat yang punya segudang Informasi banyak orang karena koneksi-nya juga di berbagai kelas.
"Ning." bisik Giselle.
Ningning hanya bergumam sambil mencatat.
"Lo tau gak.. Jeno sama Lia kenapa putus?"
Ningning menoleh, sedikit terheran melihat Giselle yang penasaran tentang hubungan Lia sama Jeno— padahal biasanya jika Ningning mengajaknya bergosip tentang Lia, Giselle kelihatan tidak tertarik sama sekali.
"Gak tau gue, yang gue dengar Lia yang mutusin."
Giselle menghela nafas, bahkan Ningning saja tidak tahu masalah ini.
Ia jadi berpikir kalau Lia memang beneran selingkuh, tapi yang membuat Giselle heran adalah masa Lia yang selingkuh, Lia juga yang mutusin?
Walau memang ada beberapa kasus seperti itu, tapi ini itu sus banget. Gue penasaran banget!
Ia kini melirik Jeno di sebelahnya yang sedang fokus mencatat, Jeno mendongak merasa di perhatikan.
"Apa?" tanya Jeno.
Giselle menggeleng, lalu kembali memfokuskan dirinya ke papan tulis.
"Sial, gara-gara itu cowok gue jadi gak fokus belajar. Kampret."
Sedangkan Jeno tertawa di tempatnya.
....
Jeno melirik gadis yang sedang berjalan di sampingnya— ia di tugaskan membawa buku paket kembali ke perpustakaan, karena buku Agama yang hanya ada beberapa,membuat angkatan Sebelas ganti-gantian memakainya.
"Lo kepo ya sama hubungan gue ama Lia?" tanya Jeno tak lupa dengan alis yang dinaikkan, berniat menggoda gadis itu.
Giselle melotot, "Jaemin kampret. Udah gue bilang jangan ember! Emang pengen gue sayat tuh anak."
Jeno tertawa, "Jaemin temen gue, udah jelas dia ada di pihak gue."
Giselle berhenti berjalan, "Ah gue mau balik. Panggil Ningning aja noh temenin lo! Lagian Yoshi juga kenapa mesti sakit hari ini." gerutu Giselle.
Karena Yoshi sakit, Jeno jadi memanggilnya untuk menemaninya, padahal biasanya itu urusannya dengan Yoshi selaku Wakil Ketua Kelas. Ningning sudah pasti gak bakal mau di suruh bawa-bawa buku seperti ini karena ia adalah tipe kalau guru sudah keluar langsung mengadakan konser dadakan.
Jeno tertawa dan menahan lengan Giselle "Eh. Jangan ngambek dong, emang apa yang salah kalau lo penasaran sama hubungan gue ama Lia."
"GUE GAK PENASARAN YA!"
Jeno terkekeh geli, "Mau tau alasannya gak?"
Giselle yang memalingkan badannya ke depan seketika menoleh ke Jeno, "Apa? Lia beneran selingkuh? Lo pasti boong kan?"
"Katanya gak penasaran..."
Giselle hampir mengumpat melihat Jeno tertawa lepas, Ia segera melangkahkan kakinya cepat menuju perpustakaan.
"HAHAHA GI.. TUNGGUIN GUE.."
....