
Chenle's home
Jeno— terduduk di sofa rumah milik Chenle dengan mata yang sendu, menghela nafas berkali-kali membuat Renjun berdecak.
"Lo kenapa?" tanya Renjun, yang sedang asik bermain game.
Jaemin menoleh, ia tertawa dengan wajah mengejek, "Abis putusan ama Lia."
"UHUYY ABIS PUTUSAN. PAJAK PUTUS DULU SABI KALI LAH." Teriak Haechan sambil tertawa ngakak.
Jeno mengumpat dalam hati, punya teman model seperti mereka memang harus banyak-banyak beristigfar.
"Kenapa lagi dah..?" tanya Renjun malas.
"Heran gua lo lebih banyak putusnya daripada pacarannya." lanjutnya.
Chenle— sang tuan rumah, keluar dengan memegang hp di tangannya, "Mau pesen apa?" tanya Chenle yang sudah login di aplikasi makanan.
"Pizza aja kali ya, Jeno yang bayar." ujar Sungchan yang sedang asik bermain PlayStation dengan Jaemin.
"Gue abis putusan sat."
Jeno mendengus lalu berdiri, "Emang gak guna gue nongkrong di sini, Gue balik." Jeno lalu beranjak pergi.
"Dih ngambek.." ejek Jaemin.
"Hati-hati No, jangan putus asa ingat masih ada Mantan yang pengen balikan HAHAHA" Teriak Haechan dari dalam dapur mengacak-acak kulkas Chenle yang penuh dengan stok makanan ringan.
Jeno mendengus lalu menaiki motornya, beranjak meninggalkan rumah Chenle— yang jaraknya memang jauh dari rumahnya.
Ia kangen Lia.
......
Giselle POV
Hari ini gue bingung antara sedih atau seneng, soalnya di satu sisi gue kangen sobat-sobat gak tau diri gue, di sisi lain gue masih nyaman bangun jam 9 setelah subuhan tentu saja.
Hari ini merupakan hari terakhir libur semester. Besok gue kudu ke sekolah buat liat gue masuk kelas mana, sebelum libur sih udah di suruh ngumpulin formulir jurusan.
Sekolah gue emang gitu, sistemnya rolling, gak seru.
Jadi gue cuman bisa bersosialisasi di kelas gue dulu cuman kurang lebih cuman 5 bulan, selama 5 bulan itu, gue cuman akrab sama beberapa orang ada, diantaranya ada Karina, Winda ama Ningning.
Sisanya sekedar kenal dan nyapa pas butuh atau lagi sekelompok doang sih.
Tapi gue akrab ama beberapa temen cowok, kayak Asahi si cowok pecicilan yang awalnya gue kira dia orangnya kalem tau-taunya astagfirullah.
Asahi itu temen absurdnya Ningning.
Ada juga cowok jepang di kelas gue dulu, namanya Yoshi, anaknya baik jago matematika dan gak pelit kasih jawaban. Tipikal kutu buku yang jago bersosialisasi.
Terus ada juga namanya Felix, dia cowok pindahan dari Aussie kalau ngomong kadang gak jelas bikin kita kadang melongo mulu.
Cuman itusih temen gue di kelas sepuluh, gue berharap besok— gue masih sekelas sama beberapa dari mereka soalnya gue paling gak bisa kalau nyari temen, apalagi ngajak ngobrol duluan.
Duhh. it's not my style.
Gue bukan pemalu sih, cuman kadang bingung mau obrolin apa— takut gak nyambung aja gitu.
Terus ada Winda— dia baik, cantik, imut, lucu, kadang kalem kadang gesrek tergantung situasi tapi kalau sama Ningning dia gesrek sih, hahaha.
Terus Ningning— cewek cantik yang gak bisa diem, kalau gak nyanyi pasti kelilingin kelas atau kalau free class terus dia gabut, dia bakal ngelilingin satu sekolah, bener-bener anak yang gak bisa diem.
Kita berempat akrab berawal dari kita sekelompok bahasa inggris— terus Karina yang buat grup yang ternyata bisa bertahan sampe kita naik kelas sebelas, Haha.
Semoga besok, gue masih bisa sekelas sama mereka, amiin.
.....
Giselle, Karina, Ningning dan Winda menuju Mading, setelah libur semester 2. Ini pertama kalinya mereka bertemu. Mereka bersorak gembira setelah menemukan nama mereka ada di kertas yang sama. Artinya mereka sekelas sesuai dengan harapan Giselle.
Di sisi lain ada Jeno yang sedang ngambek karena diledekin oleh teman-temannya, singkat cerita Lia— mantan Jeno, jalan di depan temen-temen Jeno membuat Jeno menjadi bahan Bully an mereka.
Jeno segera menuju mading untuk mencari namanya, ia mengumpat melihat namanya bersanding dengan beberapa teman laknatnya.
Ia juga mencari nama seseorang. Dan menghela nafas setelah menemukan nama yang ia cari.
.....
Setelah mengatur bangku, Ningning mengajak Giselle ke Koperasi yang berada tepat di seberang kelasnya. Giselle keluar bersama Ningning bermaksud ke koperasi tapi di satu sisi ada Jeno yang baru saja ingin masuk ke dalam kelas barunya membuat keduanya berpapasan di pintu. Giselle hampir saja menabrak Jeno, untung refleknya bagus dan segera menepi.
Giselle diam-diam terkejut, tak menyangka akan menemukan orang yang ia sedikit kenal di kelas ini.
Jeno berjalan melewati mereka berdua, jujur saja ia juga agak terkejut melihat adik temannya itu keluar dari kelas ini. Tapi segera mengedikkan bahunya tidak peduli.
Ningning berjalan menuruni tangga kecil— penghubung koperasi dengan kelasnya, dengan Giselle di samping nya.
"Gi. lo kenal Jeno?"
Giselle mengangguk pelan, "Gue sekompleks sama dia, se SD, SMP dan sekarang SMA."
"Oh ya? Tapi kenapa lo ga akrab waktu kita papasan tadi?" Tanya Ningning heran.
"Waktu Sd iya sih gue se SD tapi kelas kita beda, gue kelas B dan dia kelas A, SMP juga gitu gue kelas E dia kelas C. Dan waktu kelas sepuluh juga gak sekelas, ini pertama kalinya gue sama dia berada di ruangan yang sama."
"Lo ga pernah saling sapa gitu? aneh aja, padahal sekomplek kok ga akrab.."
Giselle hanya mengedikkan bahunya, "Gue cuman sekedar tau nama dia dan dimana tempat tinggalnya, gitu doang."
"Eh iya deng, dia temen abang gue."
"Abang lo yang udah 12 Ips 3 itu? Kok bisa?" Tanya Ningning.
"Perkumpulan cowok sekomplek, di komplek gue rata-rata cowok. Dan mereka semua akrab."
"Ohhh"
.....
Gigi Sellyandra
Jenoshan Ferdian