
Giselle menghela nafas, sambil memukul-mukul pahanya pelan, pahanya masih sakit. Jeno meliriknya.
"Kenapa? capek banget?" tanya Jeno sedikit kasihan.
Giselle menoleh, "Gue lagi mikirin gimana caranya balik. Sumpah. Gue udah gak kuat kayuh sepeda."
"Yaelah tadi itu cuma 5 kilo.., lebay deh lo."
Giselle melotot, cuman lima kilo katanya!? Itu tadi setara pergi-pulang dari rumahnya ke sekolah selama 5 hari, tapi apa katanya cuma?!
"Eh. Gue bukan elu yang bisa goes sampe 8 kilo!"
"Lo tau dimana kalau gue bisa goes sampe 8 kilo?" tanya Jeno heran. Seingatnya ia tidak pernah memberitahukan perihal itu kepadanya.
"Gue sering denger keluhan Haechan sama Renjun di kamar gue."
Jeno tertawa, "Lo diam-diam sering ngupingin gue ya?" Goda cowok itu.
Giselle menatapnya jijik, "Dih. Salahin tuh dua orang suaranya toa banget."
"Sadar diri dek. Suara lo juga gitu."
Giselle mengedikkan bahunya tidak peduli. Ia berdiri lalu membuang sampah ice krim nya yang sudah habis. Jeno juga ikut membuang sampahnya.
"Ayo balik." ajak Jeno.
Giselle menghela nafas panjang, ia kini duduk seakan tidak ingin pulang. Jeno mendelik melihatnya, tangannya segera menarik tangan gadis itu lalu menyeretnya menuju tempat sepeda yang terparkir tidak jauh dari tempat mereka duduk.
"Capek..."
"Bacot. Bangun gak!"
"Capekkkkk..." keluh Giselle masih mencoba bertahan di tempat duduk agar tidak terseret, tapi kekuatan Jeno terlalu kuat baginya.
Giselle kini telah berdiri di depan sepedanya— Sepeda Jaemin lebih tepatnya, Giselle menatap sepeda itu lama, membuat Jeno menoyor kepalanya menyadarkan gadis itu.
"Ayo, Gi.."
"Capek, No..." ucapnya tak lupa memasang puppy eyes.
Jeno lagi-lagi mendelik melihat itu ia kemudian mengedarkan pandangannya melihat sekeliling, ia lalu berjalan menghampiri penjual ruko yang ada di seberang jalan.
Giselle hanya menatapnya bingung, ia tidak mengerti apa yang sedang Jeno lakukan, Giselle ingin mengikutinya tapi ia malas menyeberang jadi ia memutuskan menunggunya.
Tak lama kemudian Jeno kembali lalu mengambil Sepeda yang di pakai oleh Giselle tadi, membawanya menyeberang ke arah ruko yang ada di seberang jalan tadi.
Giselle mengikutinya, ia menyeberang lalu mengikuti Jeno yang sedang memarkir Sepeda itu, Jeno juga tak lupa menguncinya.
"Nitip ya mas.." ucap Jeno yang di angguki penjaga ruko itu.
"Ayo." ajak Jeno kembali ke seberang.
"Terus gue gimana? anjir lo mau buat gue jalan?" omel Giselle yang masih belum mengerti.
Jeno tertawa kecil, segera merangkul Giselle lalu menyeretnya menyeberangi jalan kembali ke Sepeda Jeno— yang masih ada di seberang.
Giselle menyikut perutnya, "Gue gimana, No..? lo mau ninggalin gue?"
"Gue bonceng."
Giselle seketika tersenyum, ia sekarang sudah mengerti. Karena Giselle mengeluh tidak kuat kayuh sepeda lagi, Jeno berinisiatif— memikirkan rencana, membuat Giselle diam-diam kagum kepada cowok itu.
Mereka kin telah sampai di sepeda Jeno, Jeno menyerahkan helm ke Giselle, Giselle menerimanya lalu memasangnya.
Jeno menaiki sepeda itu duluan, ia menoleh kebelakang dan menyuruh Giselle untuk naik. Giselle naik di belakang, menginjakkan kakinya di kedua pijakan kaki di Sepeda Jeno.
Sepeda Jeno bukan jenis sepeda yang ada tempat boncengannya di belakang— membuat Giselle harus berlapang dada berdiri tegak di belakang. Tapi Giselle tidak keberatan, daripada ia harus mengayuh sepeda lagi, lebih baik ia berdiri tegak di belakang.
"Leggo leggo." Giselle memukul punggung Jeno.
Jeno mengayuh sepedanya pelan, tapi karena Giselle menyuruhnya untuk lebih kencang ia dengan senang hati menerimanya.
"JANGAN CEKEK LEHER GUE ANJIRRR." Teriak Jeno.
"JANGAN KENCENG-KENCENG KAMPRET! GUE HAMPIR TERBANG."
"LO SENDIRI YANG NYURUH GUE KENCENGIN KALAU LO LUPA."
"YA MAKSUD GUE.. JANGAN YANG TERLALU KENCENG JUGAAAA."
"Emang cewek gak tau apa maunya."
Giselle memukul punggung Jeno membuat sepeda itu hampir oleng, beruntung Jeno punya keseimbangan yang bagus.
"WOI. LO MAU JATUH!?"
"PELAN-PELAN KAMPRET."
Jeno menyeringai ia segera menambah kecepatannya membuat Giselle memekik dan tak sengaja mencekik leher Jeno.
"ANJIRR, GIIII!!!! LEHER GUAAAAA..."
"PELAN-PELAN SETANNN."
"EH.. LO JANGAN MANGGIL SETAN. INI UDAH JAM BERAPA, KALAU ADA BENERAN GIMANA?"
"LO JANGAN BIKIN GUE TAKUT ANJIR! GUE YANG DI BELAKANG."
"HAHAHAHHA. BELAKANG LO GI. AWAS. NANTI ADA YANG NGIKUTIN HAHAHAHA."
"JENO ANJENGGG!"
"MAAMAAAAAA"
Giselle memukul punggungnya berkali-kali menyuruhnya untuk berhenti. Jeno berhenti lalu berbalik melihat wajah Giselle yang panik dan ketakutan.
"Gue mau di depan. Gue mau di depan gak mau tau!"
Jeno tertawa, "Katanya lo capek kayuh, gimana sih?"
"Capek gue ilang denger kata setan."
Jeno tertawa ngakak, dan segera memberikan Giselle sepedanya, Giselle menerima itu lalu menaiki dan Jeno juga langsung menginjakkan kakinya di pijakan belakang.
"WOI, NO. GUE GAK BISA NAFAS ******."
"HAHAHAHAAHA"
"LEBIH KENCENG DIKIT, GI. PAAN INI KAYAK ANAK KECIL BARU NAIK SEPEDA AJA."
Giselle mendelik mendengar perkataan yanb seperti penghinaan itu, ia segera mengayuh sepedanya membuat Jeno hampir terjungkal kebelakang, tapi cowok itu tertawa lebar. Benar-benar menikmatinya.
Selang beberapa meter, Giselle terdiam melihat pohon mangga jauh— di depan sana, ia memperlambat laju nya membuat Jeno terheran.
"Kenapa?"
"No..."
"Apa?"
"Cerita cepet."
"Hah??"
"Lo carita apa kek, cepetan."
"Apasih, Gi..?"
"CERITA CEPET ANJIR GUE TAKUT."
Jeno melirik ke depan dan melihat pohon mangga yang sebentar lagi akan mereka lewati, ia mengerti kata takut yang di maksud Giselle. "OH HAHAHA"
Jeno berpikir sebentar, ia tidak punya bahan untuk di ceritakan, lalu kemudian ia mengingat kejadian waktu pulang . "Tadi gue sama Lia waktu pulang cuman diem-diem an.."
Giselle yang sedang was-was seketika tertawa, "Hahahahahaa, serius?"
"Iya. Canggung banget tadi."
"Kenapa gak lo ajak ngobrol?"
"Gue gak tau mau ngomongin apa."
"HAHAHAHA BODOHH"
Mereka telah melalui pohon mangga itu, Giselle mengernyit bingung padahal tadi waktu ia pergi, ia tidak menyadari ada pohon mangga yang menjulang tinggi. Atau mungkin karena terlalu asik balapan dengan Jeno makanya ia tidak menyadari itu.
Karena malam yang sudah hampir larut di tambah kendaraan yang sudah lumayan sepi berlalu lalang, membuat bulu kuduknya tadi merinding mendengar kata setan keluar dari mulut Jeno— walau awalnya ia yang mengucapkan duluan.
Makanya ia meminta untuk bergantian, setidaknya kalau setan itu beneran datang, Jeno yang bakal di ambil terlebih dahulu— itu yang di pikir oleh Giselle tadi.
Giselle berhenti setelah cukup jauh dari pohon mangga tadi, ia kemudian turun lalu menyuruh Jeno untuk kembali ke depan, sakit pahanya kambuh kembali.
"Ayo gantian." Ucap Giselle sambil memegang stang sepeda itu.
"Apaan anjir? baru 500 meter tadi."
"Capek, No..."
"Ya terus, lo kenapa mau ambil alih tadi????" geram Jeno.
"Tadi gue takut ya.., gue takut.., kalau gue di belakang gue di culik sama setan."
Jeno tertawa ngakak, "HAHAHA GOBLOK."
Giselle melotot, memukul Jeno menyuruhnya untuk berhenti tertawa. Tapi cowok itu benar-benar tertawa lepas seakan tidak ada beban, ia sangat takjub dengan daya pikir Giselle, benar-benar di luar dugaan.
"Ayo, ih!"
"HAHAHA DI CULIK SETAN"
"Jangan kenceng-kenceng ngomongnya! ntar setan nya denger."
"Gi... Gi... Gi..."
.....
Jeno berhenti di depan rumah Giselle, mereka telah sampai. Giselle segera turun lalu membuka helmnya.
"Makassehh"
"Btw, No. Sepedanya Jaemin kalau ada yang ambil gimana?"
"Ya lo ganti lah."
"Anjir."
"Baru kali ini.., gue sepedahan tapi lama banget nyampenya, padahal cuman 5 kiloan."
"Ya salah sendiri.., ngajak orang gak berpengalaman dalam bersepeda."
Jeno mengangguk setuju, "Hm. sekaligus orang yang ngerepotin."
Giselle melotot dan memukul Jeno menggunakan helm yang masih di pegangnya, Jeno tertawa lalu mengambil helm itu.
"Gue mau balik. Mau ambil sepedanya Jae."
Giselle membungkuk hormat, "Hehehe, terimakasih atas semuanya Jenoshan Ferdian."
Jeno mencibir mendengar kalimat menggelikan itu, "Lebih tepatnya atas ngerepotinnya, iyakan?"
Giselle tertawa, "Nah itu maksud gua."
"Cih. Gue balik. Bye."
"Dadahhh hati-hati nabrak"
Jeno yang sudah mengayuh sepedanya meninggalkan rumah Giselle mengumpat, "Mulut lo."
Giselle tertawa ngakak, lalu segera masuk ke dalam rumahnya. Sungguh pengalaman yang menyenangkan. Ia tidak tau kalau Sepadahan semenyenangkan itu, terakhir kali ia naik sepeda waktu masih SD.
Sedangkan Jeno, walau cowok itu mencibiri jarak yang telah ia tempuh, tapi ia juga tidak bisa memungkiri kalau tadi.. sungguh menyenangkan.
....