
Hari itu jam istrahat, Giselle hanya sempat memakan beberapa gorengan di koperasi lalu segera menuju ke kantor guru. Ia di panggil oleh Miss Jessica, mungkin masih tentang perlombaan olimpiade bahasa inggris minggu depan.
Setelah mendengar informasi dari Miss Jessica, ia segera keluar dan bermaksud ke kantin untuk makan makanan berat, jam Istrahat masih ada 15 menit lagi, masih banyak waktu, tapi saat ia berjalan keluar ada guru yang memanggilnya
"Nak."
Giselle berbalik, lalu mendekat ke arah guru Seni Budaya, itu bukan Guru Seni Budaya nya. Mungkin guru kelas Sepuluh.
"Iya Miss, ada apa?"
"Anak Ipa kan?"
Giselle mengangguk, "Iya Miss, saya dari Sebelas Ipa Satu."
Guru itu segera memberinya beberapa lembaran kertas, "Bantuin Miss promosiin ekskul baru ya.."
Giselle segera menerimanya dengan hormat, "Oh iya bisa Miss, mau di promosiin di kelas mana dulu Miss?"
"Sebarin ke kelas sepuluh dulu untuk hari ini."
"Oh. Baik Miss. Yaudah saya permisi dulu."
"Iya makasih ya Nak."
"Iya Miss.."
Giselle segera keluar dari kantor sambil membaca brosur dan juga formulir yang guru itu kasih.
Saat mengangkat wajahnya ia tidak sengaja melihat seseorang yang sedang berjalan bersama dari kejauhan.
Giselle tersenyum sumringah, melihat itu Jeno dan Junkyu yang sedang jalan bersama menunu kelasnya.
"Gue punya ide!!!"
"JENONG!! AJUNN!!"
Giselle segera berlari menghampiri mereka yang berada di depan Koperasi— dekat kelasnya setelah sampai, ia menggandeng lengan keduanya.
"Ayok. Temenin gue ke kelas sepuluh." Ucap Giselle, lalu menyeret keduanya berjalan.
"Mau ngapain?" tanya Jeno bingung, tapi tetap jalan karena Giselle menyeretnya.
"Gue butuh visual lo berdua!" jawab Giselle.
"Ayok! gue juga mau tebar pesona ke dedek emesh." balas Junkyu semangat.
Jeno memutar bola matanya malas.
"Mau ngapain, Gi?" tanya Jeno sekali lagi.
"Temenin gue promosiin ekskul baru, hehehe..."
Mereka bertiga berjalan dengan Giselle berada di tengah— sambil menggandeng lengan Junkyu di sisi kirinya dan Jeno di sisi kanannya.
"Ekskul apa?" tanya Jeno penasaran.
"Drumband."
"Ke kelas apa dulu nih, Cel? Katanya anak Sepuluh satu cantik-cantik, ke situ dulu yuk." ajak Junkyu semangat.
Giselle mengangguk, ia menoleh ke arah Junkyu, "Eh Wawan kelas berapa?" tanyanya penasaran. Wawan atau Junghwan adalah adik kandung Junkyu.
"Sepuluh Dua." balas Junkyu.
"Ke kelas Wawan dulu deh, gue mau liat Haruto."
Jeno mengernyit bingung, "Hartono siapa?"
"Haruto goblok." koreksi Junkyu.
Giselle menoleh ke arahnya, "Adek kelas, ganteng banget anaknya."
Jeno mencibir, "Gantengan juga gua."
Junkyu meliriknya sinis, "Masih gantengan gua daripada lo."
"Gue kira lo bedua udah akur ya abis jalan bareng tadi." Giselle sebenarnya bingung kedua orang di sampingnya ini sudah tidak akur sejak pertama kali sekelas, ia tidak tahu apa alasannya.
"Gak sengaja ketemu."
"Gak sengaja papasan."
Jawab mereka kompak masih dengan nada sinis.
Giselle tertawa, "Jangan gemesin dong ah. Gue kan jadi pengen jodohin lo berdua"
"Najis, Gi." sewot Jeno.
"Cel! mulut lo jaga dong!"
Jeno menoleh menghadap Junkyu, "Cel cel cel apasih lo. Sok akrab banget."
Junkyu mendelik ke arahnya, "Dih. Gue emang akrab ama Icel. Lagian Icel gak masalah kenapa lo yang sewot?"
"Gue geli dengernya anjeng."
"Yaudah jangan dengerin!"
"Gimana gak di denger orang gue punya telinga."
"Putusin tuh telinga."
Jeno mendelik, melepas rangkulan lengan Giselle lalu melangkah ke arah Junkyu. "Eh sini lo! ada masalah apa lo sama gue hah!?"
Junkyu juga gak kalah emosi, ia juga melakukan hal yang sama melepas rangkulan Giselle. "Apa? hah!"
"DIEMMMMM! GUE KANDANGIN JUGA LO BERDUA!" Teriak Giselle frustasi.
Ia segera memisahkan keduanya. Lalu kembali merangkul lengan keduanya, memaksanya berjalan kembali.
"Dia duluan tuh, Cel." adu Junkyu dengan wajah yang seperti korban.
Jeno mengumpat, ia benar-benar tidak cocok dengan cowok yang satu itu.
Jeno melihat banyak teman seangkatannya yang melihat ke arah mereka bertiga, "Lepas, Gi. Malu ah." Jeno tidak ingin Giselle kena hate lagi.
"Sorry..." Giselle dengan reflek melepaskan rangkulan tangan keduanya.
Tapi di sisi lain Junkyu merangkulnya, menarik Giselle lebih dekat kepadanya.
"Gue gak malu Cel, sini deket gua aja. Gak usah dekat sama orang itu."
Giselle tertawa, ia sangat tahu Junkyu suka cari gara-gara sama Jeno, entah apa yang telah terjadi pada keduanya, Giselle tidak tahu.
Jeno memutar bola matanya malas untuk yang kesekian kalinya, Jeno segera mengambil selebaran kertas di tangan kanan Giselle.
"Ini apa?"
"Brosur sama formulir."
Mereka bertiga berjalan menuju kelas Sepuluh Satu— Giselle dan Junkyu yang berjalan sambil tertawa dan menggosipkan orang yang mereka lewati.
"Hahaha tadi itu cewek kenapa" Junkyu melirik cewek yang telah melewatinya.
Giselle terkekeh kecil, "Kayaknya dia gak sadar deh haha rambutnya berantakan."
Jeno hanya memandang mereka berdua yang sudah sibuk tertawa, dengan tatapan datar.
"Ini dua orang sejak kapan akrab begini?"
Setelah hampir sampai di gedung kelas Sepuluh, Giselle menyadari kalau bahunya sangat berat.
Ia segera melihat apa yang menjadi bebannya dan melotot melihat kedua orang itu menaruh tangannya di bahunya— kanan dan kiri, pantas saja ia merasa berat.
Giselle menggoyangkan badannya, "Lepas ah, tangan lo berdua berat. Gue makin pendek ntar."
"Lo emang udah pendek."
"Gue gak ngehina nih, Cel, tapi lo emang pendek."
Giselle segera masuk ke sepuluh satu, "Halo... Permisi..."
Tak lupa ia juga mendorong Jeno dan Junkyu untuk ikut masuk bersamanya.
Perhatian anak kelas itu teralihkan, mereka segera duduk di bangkunya masing-masing.
Giselle terdiam, ia tiba-tiba nge blank dan tidak bisa berbicara— bahkan hanya sekedar mmemperkenalkan diri ia tidak bisa, ia segera menyikut Jeno. "No. Ngomong sana"
"Halo adek-adek. Perkenalkan kami bertiga dari Sebelas Ipa Satu. Saya Jenoshan Ferdian."
"Halo adek-adek, perkenalkan nama saya Zuelhadi Junkyu. Orang terganteng di Sebelas Ipa Satu. Salam kenal semuanya.."
Giselle tersenyum puas melihat respon yang kebanyakan dari anak cewek yang memekik melihat Jeno dan Junkyu memperkenalkan diri.
"Gue emang gak salah manfaatin visual mereka."
Jeno mundur dan menyuruh Giselle untuk memberitahukan maksud dan tujuan mereka datang ke sini.
"Halo. Perkenalkan nama saya Gigi Sellyandra. Maksud kedatangan kami yaitu untuk memperkenalkan ekskul baru di kelas kalian. Ekskul ini adalah ekskul drumb band. Kalian mungkin sering nonton di televisi jika ada penayangan festival-festival, nah orang yang memainkan alat musik seperti pianika, bass room, terompet dan sebagainya itulah yang di sebut drumband."
Giselle segera membagikan brosur yang berisi informasi lebih lanjut, di bantu dengan Jeno dan Junkyu.
"Baiklah sebelum saya keluar, apakah ada pertanyaan?"
Giselle menunjuk gadis tinggi yang berada di depan karena ia mengangkat tangannya, "Silahkan.."
"Kak. Apa benefitnya jika kami memasuki eksul ini?"
"Ah benefit, kalian akan menjadi angkatan pertama jika kalian masuk dalam ekskul ini, dan juga kalian akan lebih banyak mengenal berbagai alat musik jika masuk dalam eksul ini."
Gadis yang bertanya itu segera menganggukkan kepalanya mengerti, Giselle tersenyum.
"Saya kak mau bertanya." ujar gadis dengan wajah yang malu-malu yang berada di belakang.
"Iya silahkan dek.."
"Apakah kakak semua juga bergabung dalam ekskul ini?"
Giselle berbalik melihat Junkyu yang sedang tebar pesona ke adik kelas mereka dan Jeno yang sedang menatapnya.
Giselle kembali berbalik menatap ke depan,
"Tentu saja, saya dan kedua kakak ganteng ini akan ikut masuk dalam ekskul ini juga. Jadi kalau kalian ngefans sama mereka berdua, kalian bisa daftar di sini untuk bisa lebih akrab dengan keduanya."
Giselle sempat melirik Jeno yang terkesiap kecil— Giselle tertawa dalam hati, ia tau Jeno pasti akan kaget karena ia tidak pernah mengatakan akan ikut. Giselle juga melihat Junkyu yang sedikit kaget tapi setelahnya ia malah berdiri di dekat Giselle.
"Iya dek, saya bakal masuk juga di ekskul ini jadi kalian jangan lupa daftar yahh. Dan juga jangan lupa sebarin informasi ini barangkali kalian punya teman dari kelas lain." ucap Junkyu.
Jeno juga ikut maju dan berdiri di samping kiri Giselle, "Iya dek.. saya juga kemungkinan akan ikut. Jadi tolong sebarin informasi ini di kelas lain ya. Karena sepertinya hanya kelas kalian yang bisa kami masuki untuk sosialisasi mengingat sebentar lagi akan bel, jadi saya harap semuanya bisa memberitahukan kelas-kelas lain. Apakah bisa?"
"IYA KAKKKK!"
"BISA BANGET KAK!"
"SIAP KAK!"
Giselle bisa mendengar suara cewek-cewek di kelas itu— memekik dan berteriak dengan heboh, seketika semuanya saling memperebutkan formulir yang di bagikan.
"Kak formulirnya kurang." adu cewek cantik yang duduk paling depan.
"Kalau masih ada yang belum kebagian, kalian bisa minta ke Guru Seni Budaya kalian ya. Karena beliau tadi cuman kasih saya sedikit formulir."
"Baik kak."
"Kalian semua akan daftar kan?" tanya Junkyu dengan nada imut yang bikin Jeno ingin memukulnya.
"IYA KAKKKK."
Giselle sekali lagi tersenyum puas melihat reaksi kelas ini, "Kalau begitu kami bertiga pamit terlebih dahulu."
"Terima kasih atas perhatiannya." ucap Jeno.
"Sama-sama kak."
Giselle sudah ingin beranjak keluar, tapi tangannya di tahan oleh Jeno. Ia berbalik dan melihat Junkyu yang sibuk berfoto-foto bersama beberapa cewek dari anak kelas itu.
"Temen lo lagi narsis, tinggalin aja?" tanya Jeno.
"Itu temen lo juga kali. Tungguin lah."
Junkyu segera menghampiri mereka, "Sorry lama. Lagi jumpa fans. Maklum orang ganteng."
Jeno mengumpat dalam hati, Ia benar-benar tidak cocok dengan lelaki itu. Sedangkan Giselle mengangguk mengerti. Mereka segera berjalan keluar dari kelas itu.
"Sumpah kak Jeno ganteng banget..."
"Masih gantengan kak Junkyu ah."
"Kak Jeno ganteng banget mau minta foto tapi gue malu."
"Jangan deh kasian kak Jeno nya nanti."
"By the way itu kak Gigi kan yang ada di instagram kak Jeno?"
Giselle yang baru ingin beranjak, terdiam mendengar bisikan-bisikan itu. Junkyu dan Jeno yang jalan terlebih dahulu— sadar Giselle tidak ada di tengah, mereka berdua berbalik dan melihat Giselle mematung.
"Ada apa?" tanya Jeno.
"Kenapa, Cel?" tanya Junkyu.
"Kenapa dia bisa foto sama kak Jeno ya? padahal kan Kak Lia masih pacaran sama Kak Jeno"
Setelah Jeno dan Junkyu sampai ke Giselle, mereka juga mendengar bisikan-bisikan gosip adik kelas mereka.
Jeno mengumpat dalam hati ia segera menggandeng tangan Giselle, menariknya keluar. Junkyu yang juga panik segera menutup kedua telinga Giselle menggunakan kedua tangannya.
"Ayo ke kantin gue belanjain." ucap Junkyu setelah mereka keluar dari kelas itu.
"AJUN!"
Junkyu menoleh dan melihat Heejin melambaikan tangan kepadanya.
Junkyu kembali menoleh ke Giselle, "Cel. Gue ke Heejin dulu ya. Jangan di pikirin omongan tadi, pukul aja tuh cowok deket lo."
Junkyu menepuk punggung Giselle pelan, "Ntar gue traktir, bye beb.."
Setelah Junkyu pergi, Giselle masih belum bicara, membuat Jeno merasa bersalah.
"Gi... maaf.."
"Maaf karena udah upload foto lo..."
Giselle menoleh ia sempat melirik tangan kanannya yang masih di gandeng oleh Jeno.
"Maaf karena belum hapus foto lo..."
Jeno sudah tahu, kalau Giselle mengetahui masalah ini. Karena tadi pagi— Giselle tidak bisa menyembunyikan matanya yang membengkak karena ia, menangis hingga tertidur.
Membuat Giselle di wawancarai oleh semua teman sekelasnya, Giselle tidak punya pilihan selain mengatakan itu, dan dia— Giselle dan cewek teman kelasnya sempat menangis bersama pagi tadi.
Jeno lagi-lagi menghela nafas, ia merasa bersalah menyeret gadis tidak bersalah ini ke dalam fans nya yang toxic.
Giselle terkekeh, benar-benar tidak terbiasa melihat wajah Jeno yang serius seperti ini.
"It's okey, gue cuman kaget tadi, fans lo ada di kelas sepuluh juga ya."
"Bener?"
"Iyalah. Lagian ya. Gue gak selemah itu sama komentar-komentar seperti tadi."
"Terus tadi pagi lo kenapa nangis?"
"YA ITU KARENA GUE TERHARU SAMA TEMEN SEKELAS GOBLOK!"
Jeno meringis memegang punggungnya, Giselle sudah kembali karena telah menampar punggungnya dengan keras.
....