MOVE ON BRO!

MOVE ON BRO!
18. Cerita dari Masa Lalu



—3 bulan yang lalu, sebelum Libur Semester—


Jeno terdiam, mendengar ucapan Lia di depan rumahnya. Mereka baru saja kembali ngedate di kafe.


Tapi, Jeno ketinggalan sesuatu yang membuat mereka kembali ke rumah Jeno terlebih dahulu— sebelum mengantar Lia pulang. Tapi perkataan Lia malah menghentikannya untuk masuk ke dalam rumah.


"Kenapa Li? gue ada salah, lagi? " tanya Jeno.


"Lo terlalu kekanak-kanakan, gue gak suka. Gue butuh cowok yang dewasa, yang bisa lebih ngertiin gue."


"Gue se enggak pengertian itu ya?"


Lia mengangguk, "Lo gak pernah peka apa yang gue mau, lo juga gak pernah ngertiin keadaan gue."


Jeno mendekat ke arahnya, "Terus lo gimana? lo pernah gak perhatian ke gue bahkan untuk sekedar ngingetin gue makan?"


Lia mendongak tak menyangka mendengar perkataan Jeno yang menusuk. "Jeno.. Lo..."


"Apa? Lo pikir lo doang yang punya keluhan? gue juga punya, tapi gue gak pernah ngasih tau karena selalu lo yang ngeluh duluan."


Lia mengepalkan tangannya, "Yaudah ayo putus."


"Yaudah."


Lia tak menyangka melihat Jeno mengiyakan ajakan putusnya padahal biasanya Jeno selalu mengalah— ia selalu jadi yang pertama mengajak berdamai, lalu menghiburnya dan memintanya balikan. Tapi kali ini sorot mata cowok itu berbeda, dari biasanya.


Jeno menghela nafas pelan,berusaha mengontrol emosinya. "Naik. Gue anter pulang. Udah malem."


"Gak usah. Gue bisa pulang sendiri." ucap gadis itu lalu berjalan meninggalkan kompleks rumah Jeno.


Jeno berdecak, mengejar gadis itu, menarik tangannya lalu memaksanya naik ke motornya. "Gue tau gue udah jadi mantan. Tapi tanggung jawab gue buat balikin lo lagi ke rumah secara aman."


Lia hanya diam, selama perjalanan dia hanya diam, hingga Jeno telah sampai di depan rumahnya.


Lia turun dari motor, ia berharap Jeno mengatakan sesuatu.. tapi melihat Jeno diam saja dan pergi meninggalkannya begitu saja, membuatnya merasa aneh.


Jeno tidak biasanya begitu, ia pasti akan jadi yang selalu mengalah jika mereka bertengkar. Lia mendengus jengkel, dan segera masuk ke dalam rumahnya.


Tak selang berapa lama Jeno telah sampai di depan rumahnya, ia menghela nafas panjang,  menyesali perbuatannya karena terbawa emosi tadi.


Tapi menurutnya Lia keterlaluan menyamakannya dengan anak-anak, padahal selama ini dia yang selalu mengalah tiap mereka bertengkar, dan ia juga selalu yang pertama kali mengajak baikan.


Jeno berdecak mendengar suara hp nya berbunyi.


"APA!?"


"Eh. ini gue Yuta. sopan banget lo."


"Ah sorry bang. Gue lagi emosi tadi. kenapa?"


"Flashdisk gue mana cok? gue gak bisa pulang kalau gak bawa itu Fd. Itu punya adek gua."


Jeno memejamkan matanya, barang yang ia lupakan tadi adalah barang Yuta yang ia pinjam minggu kemarin.


Jeno mengumpat karena benda kecil itu, Lia jadi marah dengannya, karena telah mengajaknya memutar-mutar.


Jeno tau kalau Lia marah karena ia ajak mampir ke rumahnya dulu— untuk mengambil benda kecil itu.


Padahal niat Jeno yaitu.. ia ingin mampir mengambil flashdisk itu terlebih dahulu, jadi setelah ia pulang dari mengantar Lia. Jeno bisa singgah di rumah Taeyong untuk memberi Fd-nya Yuta— yang lagi ada di rumah Taeyong, itu agar ia tidak bolak balik.


Karena rumah Lia dengan Taeyong lumayan dekat sedangkan rumahnya jauh.


Tapi Lia tidak mau mengerti itu.


"Iya.. ini baru mau ambil."


"Lama. Dari tadi udah gue tungguin."


Jeno hanya tersenyum dan mematikan sambungan tersebut.


Sekarang perasaannya sangat sensitif, rasanya ingin menonjok seseorang, Jeno memperbaiki emosinya sebelum masuk ke dalam rumah dan mengambil barang Yuta.


....


Jeno mengumpat melihat teman-temannya meneriaki nama Lia. Hari itu pertama kalinya Jeno melihat Lia lagi setelah satu minggu putus dengannya, kali ini Jeno tidak ingin mengalah duluan, jadi ia memutuskan untuk menunggu Lia menghubunginya, tapi sampai detik itu, Lia tidak pernah menghubunginya sama sekali.


Jeno jadi bertanya-tanya, Lia benar-benar mencintainya dulu kan atau cintanya hanya sepihak? Jeno semakin mengumpati dirinya yang masih terus memikirkan Lia. Bayangan Lia tidak pernah lepas selama seminggu ini. Ia sudah sebisa mengerjakan sesuatu agar tidak terlalu memikirkan Lia, tapi gadis itu selalu hinggap di pikirannya, seenaknya saja


Jeno memutuskan untuk pergi meninggalkan Haechan, Chenle, Renjun, Jaemin dan Sungchan, dan segera menghampiri mading yang penuh dengan siswa yang ingin melihat namanya.


"Nama Lia kok gak ada?" batin cowok itu ketika tidak menemukan nama Lia di daftar kelas Ipa.


Jeno segera mencari di lembaran selanjutnya, dan menghela nafas melihat nama Lia ada di kelas Ips 2.


"Gue gak tau kalau lo minat sosial Li."


....


—Dua minggu setelah putus—


Jeno sekarang sedang duduk di balkon lantai atas rumahnya. Ia menghela nafas melihat handphone-nya, lagi-lagi Lia belum menghubunginya. Bahkan Lia sekarang seakan mengatakan jika hidupnya lebih baik setelah putus dengannya. Ia selalu memamerkan kedekatannya dengan cowok.  Seolah mengatakan kalau hidupnya kini jauh lebih bahagia, membuatnya merasa tersinggung.


Jeno keluar dari basket setelah mengetahui cowok yang Lia dekati adalah anak basket. Ini memang terdengar terlalu lebay, tapi ia tidak bisa satu ruangan dengan seseorang yang memungkinkan bisa membuatnya lost control.


Jeno sekarang hanya ingin fokus di OSIS saja sekaligus memperhatikan teman kelasnya yang sudah menjadi tanggung jawabnya.


Jeno mengedarkan pandangannya, matahari sudah ingin terbenam, Jeno melirik ke jalanan kompleks rumahnya, dan tak sengaja melihat seseorang di bawah sana sedang kesusahan membawa barang belanjaannya.


Jeno tersenyum setelah mengetahui siapa seseorang itu, ia segera mencari nomor orang di kontaknya.


Jeno tertawa melihat seseorang di bawah sana terlihat panik mendengar hp nya berbunyi dan tak sengaja menjatuhkan beberapa barang belanjanya.


"Halo? kenapa No?"


Jeno tersenyum, "Lo lagi ngapain?"


"Abis ke minimarket beli beberapa barang."


"Ahh. Sampai-sampai lo naruh beberapa barang lo itu di jalan ya?"


Jeno lagi-lagi tertawa melihat gadis di bawah itu yang mengedarkan pandangannya mencari seseorang.


"Lo liat gue?"


"Hooh. Lagi kesusahan angkat barang. Buset lo abis beli apaan dah, banyak amat tuh barang."


"Eh! lo liat gue tapi gak niat buat bantuin, anjir ketua kelas macam apa itu!


"Dih males banget."


"Gue di atas Gi.. lo gak usah nyari gue di selokan anjir."


"Hahaha. Gue kok gak bisa liat lo ya?


Jeno berdiri dan mendekat di pagar pembatas di balkon atas rumahnya.


Jeno melambaikan tangannya, "GI... GUE DI SINIII."


"Najis! suara lo buat gue malu bego."


"Hahaha. Mau gue bantuin gak?"


"Gak usah!"


"Oke, gue cuman formalitas aja sih tadi"


"Anjeng."


Jeno tertawa melihat sambungan terputus, ia berniat turun untuk membantunya tapi panggilan dari Bunda-nya membuatnya tidak bisa melakukan itu.


....