Move Journey

Move Journey
Sebuah pilihan



“Banyak banget bekel nya Bang?” Kataku saat Bang Razi sedang menyiapkan bekal untuk ia bawa ke Rumah Sakit.


“Engga, biasanya juga segini” Katanya.


“Bang Razi emang kalau bawa bekal segitu, Porsi kuli” Ucap Umi yang kemudian datang membawa sepiring udang balado yang masih hangat.


Kemudian aku duduk di meja makan, menatap Udang balado yang kelihatan enak tapi tak bisa aku makan.


“Umi, Haura boleh engga sih makan udang satu aja. Kayaknya makanan umi pagi ini enak banget” Kataku.


“Jangan ya Haura. Terakhir kamu makan udang di rumah Umi, badan kamu gatal semua”


Jadi, di samping memiliki riwayat sakit Asma yang sering kambuh ketika cuaca dingin, aku juga alergi jika makan udang dan kerang. Itu sebabnya sampai di usia 20 tahun ini, aku Cuma pernah sekali ke Puncak, dan hanya beberapa kali menginap di Bandung itupun bukan di saat musim hujan. Padahal katanya, dua kota itu sangat ramah udaranya, tapi kalau terlalu dingin bisa memicu Asma yang aku derita.


“Kamu makan sedikit banget sih?” Ucap Bang Razi ketika aku baru saja ingin menyantap sarapan pagiku. “Makan segitu doang mah nanti jam 10 udah mau pingsan”


“Biasanya juga segini” Porsi makanan aku Cuma satu sendok nasi saja, sekitar 7 suapan langsung habis.


“Zi, Porsi makan kamu sama Haura itu beda. Standar cukup kalian berdua juga beda. Ga bisa kan kalau misalnya Bang Razi makan porsi makannya Haura? Atau Haura makan porsi makannya Bang Razi yang kayak kuli gitu? Rasulullah kan menganjurkan kita untuk makan secukupnya, makan sebelum lapar dan berhenti sebelum kenyang. Adanya Standar cukup itu supaya kita engga berlebih-lebihan yang nantinya bakal berujung jadi mubazir, ya Bang?”


“Iya umi”


Setelah sarapan pagi aku dan Bang Razi berpamitan untuk pergi, Bang Razi pergi ke Rumah Sakit, sementara aku masih seperti biasa menjalani hari-hari sebagai mahasiswa di kampus. Kebetulan, katanya Bang Razi sudah pindah tempat PKPA di kawasan Kelapa Gading, jadi aku nebeng mobilnya sampai kampus.


“Dek” Ucap Bang Razi saat kami baru saja masuk ke dalam tol.


“Kenapa?” Aku yang masih setia membaca buku jurnal Cuma menoleh sambil bertanya.


“Abang udah bilang sama Umi Dan Umi kurang setuju” katanya pelan.


“Kok engga setuju?”


“Perempuan yang Abang mau ajak Ta'aruf itu seorang mualaf, baru 5 bulan dan Umi kurang setuju. Katanya, kalau bisa cari yang lain aja” Aku bisa mendengar suara Bang Razi bergetar. Ada suara kesedihan yang membalut tiap kata yang ia ucapkan.


“Abang nyerah?” Kutanya dia.


“Abang engga mungkin ngecewain Umi”


“Bahkan, Nenek kita juga seorang mualaf Bang”


Tante aku memang orang yang sangat agamis, kalau shalat di masjid Tante yang biasa aku panggil Umi ini memang orang yang di cap sebagai Ibu Ustadzah Padahal profesinya hanyalah seorang ibu rumah tangga. Suaminya atau orang yang biasa aku panggil Abi adalah seorang staf di kantor yang juga seorang ustadz yang mengisi kajian setelah shalat di masjid.


“Pandangan kita pada seorang mualaf itu beda-beda Dek, Termasuk cara Umi memandang dan cara kita juga memandang seseorang yang baru saja mengenal agama yang sudah kita anut sejak lahir”


Aku mengangguk paham mendengarkan apa yang di ucapkan oleh Bang Razi.


“Abang pernah bilang, kalau misi hidup Abang itu berdakwah dan Abang mau punya seorang pendamping hidup yang minimal mendukung apa yang menjadi misi Abang”


“Emang dia siapa?”


Kemudian Bang Razi bercerita tentang wanita yang udah berapa Minggu ini mengelilingi pikirannya, ia sudah shalat Istikharah untuk mendapatkan petunjuk karena memang ia dihadapkan oleh dua pilihan, yang pertama adalah wanita yang tak lain adalah teman kuliahnya dan yang kedua adalah wanita mualaf yang ia temui saat sedang mengisi kajian.


“Kalau engga salah, dia anak Fakultas Kedokteran di kampus yang sama kayak Kafi, sekarang lagi koas. Waktu itu Abang ketemu saat lagi ngisi kajian di daerah Cengkareng bareng sama Kafi. Dia kakak Tingkat nya Kafi. Abang tahu kalau dia mualaf itu dari Kafi karena Kafi cerita saat itu dia bersyahadat saat pengajian rutin di Unversitas nya dan disaksikan hampir semua mahasiswa muslim di sana”


“Apa?”


Aku diam, hatiku teriris kalau mendengar cerita seseorang yang memutuskan untuk memeluk agama Islam dan belajar menjadi seorang muslim. Aku banyak melihat orang yang mualaf justru lebih taat dibandingkan dengan orang yang sudah memeluk agama Islam sejak lahir. Termasuk aku.


“Kok bisa dia yakin dan memeluk Islam sebagai keyakinan nya?”


“Dek, Allah itu memberi hidayah kepada siapapun dengan pelantara apapun. Kamu ingat engga, kisah Umar bin Khattab saat dia memeluk agama Islam?” Aku mengangguk, kemudian Bang Razi melanjutkan ucapannya. “Dia memeluk Islam, padahal dia itu orang yang sangat memegang teguh agama dan adat orang-orang terdahulu. Allah Bahkan berikan petunjuk pada seseorang yang sebelumnya sangat taat di agamanya, Allah beri cahaya bahwa hanya Allah tuhan yang patut di sembah”


“Aku sering banget dengar tentang ibadahnya Rasulullah dan para sahabatnya. Aku selalu merasa kalau ibadah aku cukup untuk membawa aku masuk ke surga. Tapi saat dengar cerita tentang gimana Rasullullah beribadah, rasanya aku selalu merasa kalau engga cocok masuk ke surga. Nabi shalat tahajud sampai kakinya bengkak, aku shalat tahajud sambil merem. Emang engga pantes sih Bang kalau kita membandingkan diri kita dengan ibadahnya Rasulullah, Cuma aku sadar aja kalau Rasullullah itu udah di janjikan surga sama Allah, tapi ibadahnya luar biasa Masya Allah. Aku sebagai umat Rasulullah harusnya beribadah seperti Rasulullah. Karena aku pengen di surga sama Rasulullah Bang. Tapi, lagi-lagi manusia kayak aku gini selalu ngurusin dunia dulu, akhirat belakangan. Selalu aja menunda shalat Cuma untuk ngurusin masalah dunia, selalu memaklumi kesalahan diri sendiri kalau terlewat shalat subuh dengan alasan kecapean. Aku sering malu ketika datang ke kajian yang di isi sama seorang Ustadz yang juga seorang mualaf. Dia belajar mendalami Islam sampai akhirnya bisa mendakwahkan Islam. Sementara aku yang dari lahir dengan agama orang tuaku, mendalami Islam Cuma sekadarnya, Cuma beribadah untuk diri sendiri. Untuk menyelamatkan diri sendiri. Engga mengajak orang untuk sama-sama menyelematkan diri dari api neraka” Tanpa sadar aku meneteskan air mata saat berbicara.


“Dek, tanpa sadar bisa jadi kamu adalah seseorang yang mencetuskan sebuah perubahan untuk lingkungan di sekitar kamu. Contoh nya di kedai, kamu mengajak karyawan kamu untuk datang ke kajian, selalu close order tiap waktu shalat supaya para karyawan kamu engga telat untuk shalat. Kamu sudah menyebarkan kebaikan di lingkungan kamu. Dakwah itu bukan berarti harus ceramah di depan banyak orang Dek, di mulai dari hal paling kecil kamu berkontribusi untuk membuat seseorang kembali ke jalan Allah, itu dakwah Dek”


“Jadi sedih kan” Kataku sambil menyekat sisa air mata yang tersisa di ujung mataku. “Terus Abang jadinya akan lanjut atau gimana?” Kataku yang kemudian kembali pada topik pertama.


“Mau bicara sama Abi dulu.”


Di dalam mobil, kemudian Bang Razi melemparkan sebuah pertanyaan yang sulit aku jawab. Sebuah pertanyaan yang aku tidak tahu itu adalah pertanyaan serius atau Cuma main-main.


“Ada temen Abang yang punya niat baik sama kamu Dek,” Aku sampai tersendak saat Bang Andri bicara begitu.


“Niat baik apa?” Kutanya, karena aku tidak boleh begitu percaya diri. Aku ingin tahu kebenaran antara apa yang ada di pikiranku dan apa yang di maksud oleh Bang Razi.


“Kalau mau, dia ada niat untuk kenalan sama kamu dan kalau berjodoh In sya Allah berlanjut ke jenjang yang lebih serius”


Aku diam sejenak. Yang ada di benakku adalah “Aku kan masih kuliah”


“Bang, aku masih kuliah” kataku pelan.


“Memang kenapa?”


Aku kembali diam.


“Kuliah kamu kan Cuma tinggal 2 semester, sampaikan sama ibu kamu ya Dek, nanti In Sya Allah Minggu depan orangnya datang ke rumah yang di Bintaro buat silaturahmi sama Ibu”


Aku masih tidak percaya. Dan justru kebingungan. Karena terlalu tiba-tiba dan penasaran juga siapa orangnya. Karena, sejauh ini aku tidak dekat dengan laki-laki manapun dan tidak ada juga orang yang mencoba menjodoh-jodohkan aku dengan seseorang.


“Bang aku engga mau” kataku.


“Lah kenapa?”


Tiba-tiba aku ingat dia. Seseorang yang sering ada di dalam doaku, seseorang yang selalu aku harapkan bisa jadi pendamping hidupku, orang yang aku semogakan kelak akan beribadah bersama denganku untuk menuju surganya Allah.


“Ada seseorang yang Haura suka Bang” Kataku pelan.


“Kamu pacaran?” aku menggelengkan kepalaku. Kemudian Bang Razi bertanya lagi “Siapa orang nya? Abang boleh tahu?” aku menggelengkan kepala lagi. Karena Bang Razi engga boleh tahu siapa orang nya.


“Gimana ya?” kataku mulai yang ketika itu mulai kebingungan.


“Ya udah. Jalannya ya seleksi alam dan istikharah kamu. Siapa yang nantinya akan bersanding sama kamu, itu yang terbaik pilihan Allah. Kalau dia adalah orang yang kamu suka, Itu artinya Allah juga rihdo atas itu, kalau misalnya itu bukan orang yang kamu suka, kamu harus bersyukur karena orang yang kamu suka itu bukan pilihan yang baik menurut Allah.”