
Jum'at sore ini aku menutup kedai makanku lebih awal dan mengajak karyawan ku untuk datang ke kajian yang letaknya lumayan dekat dari kedai. Karyawan ku terdiri dari 2 laki-laki dan 2 perempuan yang masih remaja dan aku mau mereka rutin mengikuti kajian minimal satu Minggu satu kali. Jadi, aku pilih hari Jum’at karena hari itu juga aku mengkhususkan mereka masuk kerja hanya memasak untuk di bagikan di siang hari setelah shalat Jum’at di Masjid atau di jalan-jalan. Aku ingin terbiasa menerapkan sebuah kebiasaan baik untuk diriku, sepupuku dan orang-orang yang bekerja bersama denganku.
“Ini nanti buat Ikhwan ya, terus yang ini buat Akhwat ya Kak. Di bagiinnya seperti biasa aja setelah pengajian ya” kataku pada Kak Naura dan Kak Hafidz.
Aku berangkat ke masjid setelah shalat Ashar Karena pengajian akan di mulai pukul 4 sore dan akan selesai pada pukul 7 malam tepat sebelum Adzan Isya' di kumandangkan. Biasanya aku akan shalat di sana baru kemudian pulang ke rumah.
Sesampainya di masjid konsumsi makanan yang tadi sudah di bawa kemudian di berikan kepada pengurus masjid yang nantinya juga akan membantu kami untuk membagikan makanannya.
“Hatur Nuhun ya Neng Haura, semoga Rezekinya berkah ya” Ucap Pak Haji Alfa yang juga baru datang. Dia bukan marbot masjid, tapi ketua DKM masjid yang juga kenal dengan ayahnya Kaila, jadi aku cukup kenal dengannya.
“Iya Pak Haji. Aamiin”kataku. Sambil masuk dia juga bicara jika mungkin hari ini pengajian akan lebih ramai daripada biasanya karena kali ini ustadz yang akan datang adalah ustadz yang cukup di kenal dan sejak siang sudah banyak jama’ah yang bertanya untuk mengkonfirmasi ustadz siapa yang akan mengisi pengajian hari ini.
“Oh hari ini Ustadz Husein pak, Ramai banget nih pasti.” Kataku. Karena Ustadz Husein adalah Ustadz yang di kenal dengan dakwahnya yang khas tentang idealis remaja dan tentang pernikahan. Jadi, ya pasti ramai banget remaja yang datang ke pengajian kali ini.
“Ya udah. Bapak ke dalam duluan ya Neng” Ucap Pak Haji Alfa dan aku mengangguk.
“Kak Naura tahu kalau hari ini Ustadz Husein yang datang?” Kutanya Kak Naura yang ada di sebelahku.
“Tahu Kok. Emang kamu engga tahu?” Ucap Kak Naura.
“Iya mba, emang Mba engga lihat dulu di Instagram nya?” Ucap Bila, dia juga masih karyawan ku. Tapi umurnya masih lebih muda dari aku. Dia baru lulus SMA tahun lalu dan sedang tidak ada biaya untuk melanjutkan kuliah. Sedangkan Kak Naura, dia umurnya berbeda 5 tahun dengan aku. Dia memiliki kemampuan masak yang cukup bagus. Dia bekerja di kedaiku karena dulu ia adalah seorang pegawai Pabrik yang terkena PHK dan tidak lagi berminat untuk bekerja di Pabrik.
“Iya sih aku belum lihat, soalnya belum sempet buka Instagram”Kataku.
Tak lama setelah aku duduk, kajian di mulai. Temanya kali ini cukup menusuk hatiku tentang “Pacaran itu dilarang, Dek!”
Seperti biasanya, kajian dimulai dengan membaca ayat Al Qur’an yang di pimpin oleh Seorang Ikhwan yang biasanya di gilir setiap Minggu. Aku mendengar suara yang tidak asing di telingaku. Suara seseorang yang sangat halus bahkan terdengar irama ajam' yang khas. Dalam hatiku menyebutkan nama seseorang. Tapi kemudian kubantah lagi. “Ini jauh banget dari rumah. Mana mungkin dia di sini”
Aku duduk disini, bersama dengan orang-orang yang bekerja bersama denganku bukan tanpa tujuan. Karena, aku rasa kita sudah cukup mendapatkan nikmat rezeki yang banyak tapi ilmu masih kurang. Aku selalu bicara pada karyawan ku jika mengaji itu engga menyusahkan, aku sisihkan satu hari dalam seminggu untuk mereka datang ke kajian dan menuntut ilmu, memperbaiki amal dan menata kembali akhlak yang semula rusak.
Aku ingin mengajak seseorang ke dalam sebuah kebaikan. Awalnya memang sulit mengajak seseorang yang tak biasa datang ke pengajian tapi dipaksa untuk rutin datang ke kajian setiap Minggu. Bahkan, Kaila selalu bicara “Kalau kita buka kedai di hari Jum’at kan lumayan kak. Karena besoknya weekend” tapi aku selalu bicara bahwa Rezeki bisa di cari lagi besok. Awalnya dia juga sempat malas-malasan ikut kajian, tapi kini dia justru senang dan tak pernah absen untuk ikut kajian. “Kita sebagai remaja, jangan terus-terusan ngejar dunia. Karena, Allah lebih suka banget sama remaja yang mengejar surga.” Kataku pada Kaila pada hari-hari ketika dia malas.
“Banyak nih cerita gini. Ikhwan bilang sama Akhwat ‘Kamu mau gak jadi pacar aku? Kalau Akhwat di sini ditanya begitu sama para Ikhwan, gimana jawabnya? Langsung tanpa mikir ya tanpa nanya ayah ibu langsung jawab, Ayo mau. Seminggu pacaran main ke pasar malam, naik biang Lala pulangnya makan kacang rebus tidak lupa beli martabak manis buat orang tua supaya direstui. Ini Ikhwan masyallah cari perhatiannya. Orang tuanya juga suka 'Oh iya dek pacar kamu ini baik' label baiknya di beli pakai martabak ya. Nanti, sebulan pacaran nonton di bioskop sambil makan popcorn sama minum panta ya. Pulang nonton engga lupa mampir makan malam di KPC orang tuanya di bawain martabak manis lagi. Terus pas pacarnya udah pulang ayahnya datang ‘Dek, kamu seneng sama dia?’ anaknya sambil senyum sumringah ‘iya seneng banget ayah’ bulan berikutnya masih sama. Setiap malam Minggu kalau habis malam mingguan, ayahnya selalu dibawain martabak manis. Sampai bulan ke 6 ayahnya bilang ‘Dek, ayah denger pengajian. Pacaran itu engga boleh dek.’ Terus anaknya diam. Ayahnya bicara lagi ‘Adek putusin pacar Adek ya.’ Langsung, anaknya geleng-geleng kepala. ‘Enggak mau ayah. Temen-temen Adek banyak yang pacaran.’ Dan, lagi. Yang jadi contoh adalah kawan-kawan nya, lingkungannya. Sebuah kebiasaan buruk yang justru bisa dimaklumi karena sudah menjadi sebuah kebudayaan. Kan banyak ya, orang yang sebelum menikah itu pacaran dulu. Kalau belum pacaran kayak beli kucing dalam karung. Sebenarnya pacaran sebelum nikah itu perlu atau engga sih? Ya jelas engga perlu. Karena pacaran itu adalah sebuah ikatan yang tidak ada dalam Islam. Justru Islam melarang pacaran sebelum menikah. Karena apa? Karena pacaran hanya akan mendatangkan ke mudhorotan, sepeti zina. Dan, Allah udah mengingatkan kita bahwa kita tidak boleh mendekati Zina”
“Para hadirin sekalian, merasakan cinta itu adalah fitrah manusia. Tapi, perlu kita ketahui jika pacaran adalah merupakan penyaluran cinta yang salah. Banyak ya, kejadian pelecehan seksual, pernikahan dini, dan hamil di luar nikah, yang semuanya di awali oleh sebuah ikatan yang bernama Pacaran. Dan ada yang lebih ngeri adalah ada orang yang membunuh pacarnya sendiri hanya karena cemburu. Kenapa Islam melarang keras umatnya untuk pacaran karena dampak buruknya bisa membuat kita merinding ya, bisa buat masa depan hancur. Ketika bapak ibu bilang ‘Ya udah lah dek. Engga usah pacaran, toh di jodohin juga bisa cocok.’ Ya kalau di jodohkan boleh aja. Asal, kita harus tahu seperti apa pasangan kita nantinya”
Mendengar cerita Ustadz Husein aku jadi ingat tentang masa SMP ku dulu. Sepanjang kajian aku dibuat geleng-geleng kepala oleh apa yang disampaikan oleh Ustadz Husein. Dia seolah sedang menceritakan aku di masa yang sudah lalu. Tentang seorang anak remaja yang berbohong pada orang tuanya demi pacaran dengan orang tercinta. Mengatasnamakan kerja kelompok demi bisa berduaan dengan si Dia, dan lebih menuruti apa maunya pacar dibandingkan orang tua. Astagfirullah..
“Hadirin rahimakumullah, yang masih jomblo-jomblo ini semoga Allah lindungi dari segala godaan duniawi dan matanya di tutup supaya engga iri kalau lihat orang pacaran. Kalau lihat orang pacaran emang seru ya. Tapi sesungguhnya mereka sedang berbuat dosa. Dan balasannya adalah neraka.”
“Kali ini kita jeda untuk persiapan shalat Maghrib, nanti akan dilanjutkan lagi ba'da Maghrib. Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarokaatuhu”
Dan, sebuah kewajiban yang tentu tak boleh dilupakan adalah shalat. Alhamdulillah aku masih bisa shalat tepat waktu, karena kalau di kedai kadang aku shalat telat dan sering menunda shalat. Yang aku senang setiap kali datang ke kajian di Masjid adalah aku bisa rehat sejenak dari masalah duniawi dan fokus mempelajari agama. Di sini begitu tenang, sampai aku lupa rasanya lelah itu bagaimana. Dan, kadang aku berpikir saat SMP dulu, aku sering kabur dari pengajian untuk main karena aku mau merasakan bagaimana rasanya tertawa bareng teman-teman karena di pengajian dulu aku merasa sangat tegang dengan ustadz yang terlihat galak, padahal sekarang kalau bertemu lagi dengan Ustadz yang mengajarkan aku mengaji saat itu, rasanya aku malu dan ingin kabur saja. Karena betapa tidak beradab nya aku saat itu.
“Kak Haura?” Aku menoleh ketika Kaila memanggil namaku saat baru saja aku selesai wudhu.
“Kenapa?”
“Tadi aku lihat Kakaknya Nisa deh. Tapi sekilas kayak bukan juga sih Kak”
“Kakaknya Nisa yang mana? Kak Fauzan atau Kafi?”
“Kak Kafi”
“Ohh, iya kali” Tapi dalam hatiku menolak setuju. Mana mungkin dia datang dari Bintaro ke Menteng. Aku memang tidak begitu mengenal Kafi yang sekarang, tapi aku berpikir dua kali jika dia datang ke sini dengan sengaja.
Setelah shalat Maghrib dan Dzikir bersama, kajian yang tadi sempat tertunda dilanjutkan sampai waktu shalat isya tiba. Kali ini pembahasannya adalah Tentang Playboy syar’i.
Tentang si Dia yang mendekati dengan mengatasnamakan agama. Dia yang datang membawa janji komitmen karena tahu pacaran dilarang agama.
“Pemuda-pemudi sekalian. Para Ikhwan dan akhwat, semoga ini engga ada di kalian ya. Semoga yang ada di sini anak-anak baik yang cintanya sekarang terjaga di sepertiga malam. Asikk”
“Karena cinta itu dua. Bisa menjerumuskan ke dalam kebaikan dan keburukan, baik kalau misalnya diawali dengan kebaikan dan diakhiri dengan kebaikan. Contohnya gimana? Dengan meminta pada Allah, meminta izin ta’aruf pada orang yang berhak atas dirinya, lalu jika serius langkahkan kaki kalian ke dalam sucinya pernikahan. Bukannya justru pacaran, ngajak malam mingguan, gelap-gelapan di taman, pulang-pulang hamil duluan, dan akhirnya di tinggalkan. Nauzubillahi min dzalik.”
Malam itu aku mendengar kajian yang penuh dengan tamparan. Seolah Ustadz sedang menceritakan aku. Tentang anak yang dilarang oleh orang tuanya untuk berpacaran, anak yang menghalalkan sebuah hubungan mengatasnamakan syar'i, kemudian tentang si dia yang pernah mencoba mendekati aku dengan gaya sok alim yang mengingatkan shalat, bangunin shalat malam segala macam. Aku malu. Tapi ada sisi lucunya karena aku pikir saat itu aku bodoh sekali.
“Cinta itu hanya harus di putuskan. Putuskan untuk dihalalkan atau di tinggalkan. Dipacari boleh engga Ustadz? Heh antum mau engga kalau istri antum nanti ternyata udah pernah di apa-apain sama orang lain? Engga kan? Jadi, kita menjaga diri kita dari dosa zina sekaligus mempersiapkan diri kita supaya kelak mendapatkan seorang istri yang tak pernah berbuat zina juga. Di Al Qur’an Allah sudah bilang dalam surah An-Nur ayat 23 sampai 26 nanti di rumah boleh di cek.”
“Di ayat 26 yang artinya ‘Perempuan-perempuan yang keji untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji untuk perempuan-perempuan yang keji, sedangkan perempuan-perempuan yang baik untuk laki-laki yang baik, dan laki-laki yang baik untuk perempuan-perempuan yang baik . Mereka itu bersih dari apa yang dituduhkan orang. Mereka memperoleh ampunan dan rezeki yang mulia yaitu Surga’ jadi ya sudah. Dari sekarang kalau mau jodoh yang baik akhlaknya, maka perbaiki juga akhlak diri sendiri. Jangan mau jodoh baik, tapi dirinya bejat. Allah mungkin akan kasih Rahmat bagi masing-masing orang, tapi diri sendiri harus menjemput rahmat itu sesegera mungkin”
Hari ini banyak sekali cerita dari Ustadz Husein yang bisa aku bawa pulang sebagai sebuah pelajaran bahwa menjaga kesucian diri dan menuntut ilmu adalah sebaik-baik nya cara untuk menjadi seorang remaja yang di sukai Allah. Aku engga pernah membayangkan kalau seandainya diriku ini tak kunjung sadar bahwa Allah beri nikmat umur panjang agar kita bisa memperbaiki amal dan menata kembali Akhlak yang rusak. Aku engga pernah membayangkan kalau seandainya aku masih bergaul dengan orang-orang yang salah dan tidak keluar dari lingkungan yang Toxic, mungkin aku sekarang tidak ada di sini, mungkin sekarang aku sedang asik pada urusan duniawi yang membuat aku kehabisan waktu untuk beribadah, atau mungkin aku menjadi orang yang tak suka ibadah dan jauh dari Allah.
Dan malam itu, saat aku pulang dari masjid setelah kajian selesai aku mulai membagikan makanan yang tadi aku bawa dari kedai bersama dengan Kak Haura, Bila dan Kaila. Aku cukup senang ketika bisa berbagi dengan sesama, ketika itu ada senyum yang terpancar dari tiap-tiap orang yang menerimanya, aku definisikan itu sebagai sebuah kebahagiaan yang tak bisa aku ukur, hanya saja aku tahu bahwa mereka senang.
“Makasih ya Kak Haura, semoga Rezekinya berkah, jodohnya mendekat, dan hatinya selalu bahagia” Ucap salah seorang adik tingkatku di kampus, namanya Sybil. Dia memang agak berisik orangnya, jadi engga heran kalau dimapun dan kapanpun dia bisa menciptakan suasana ramai hanya dengan suaranya.
“Sama-sama Syb, semoga makan malamnya bikin tidur nyenyak ya” kataku pada Sybil.
“Ah kakak bisa aja. Tapi makasih ya. Aku terima makanannya ya Kak”
“Iya iya sama sama”
“Aku pamit duluan ya kak” dan dia membuat antrian jadi panjang karena terlalu lama menunggu.
“Iya ya, hati-hati”
Setelah selesai membagikan makanan, aku membereskan meja dan segala alat yang tadi aku pinjam dari masjid dan mengembalikan ke tempatnya. Karena ini adalah sebagai bentuk tanggung jawab aku sebagai orang yang telah menggunakannya.
“Assalamualaikum Dek Haura” saat turun dari tangga aku mendengar suara seseorang mengucapkan salam dan menyebut namaku.
“Waalaikumsallam warahmatullahi wabarokaatuhu” Ucap Kak Naura dan Kaila secara bersamaan. Sementara aku diam ketika menoleh dan mengetahui siapa orang yang mengucapkan salam itu.
“Waalaikumsallam” kataku sambil agak sedikit menunduk. Karena malu.
“Barakallahu fikum ya, makasih ya makanannya bisa di cerna perut.” Ucap Kafi sambil tersenyum kepada Kaila dan Kak Haura.
“Wa Fik barakallah kak” Ucap Kaila spontan.
“Jazakallah Khairan ya Haura. Semoga Allah kasih keberkahan dari setiap kebaikan yang kamu lakukan” Ucap Kafi yang kemudian beralih menatap aku.
“Aamiin” kataku sambil tersenyum.
Kemudian dia berpamitan untuk pergi duluan, katanya.
Serius, ketika itu hatiku berkecamuk dan penuh tanya. Ini kenapa rasanya begini sih? Aku kenapa jadi deg-degan sampai sulit nafas padahal ini di luar ruangan dan angin di mana-mana.
“Gimana Kak Haura? Rasanya di sapa sama Kak Kafi?” Kaila membuat aku semakin malu di depan kak Naura.
“Engga biasa aja” kataku sambil kemudian berjalan lebih dulu.
Aku Cuma bisa lari dari kejaran tanya. Karena wajahku tak bisa berbohong, dan mereka bisa menentukan jawaban Cuma hanya dengan melihat wajahku.
Malam itu, aku tak tahu jika dia akan ada di sini dan menyapaku.
Tapi, sebuah tanya lagi, yang selalu aku tanyakan dalam kepalaku.
“Ya Allah, ketika dia bisa menyapaku, apakah dia juga bisa menyapa wanita lain? Ya Allah, ketika dia bisa menatap aku, apakah dia juga bisa menatap wanita lain? Ya Allah, ketika dia bisa tersenyum kepadaku, Apakah dia juga mudah tersenyum kepada wanita lain? Ya Allah jadikan dia laki-laki yang menundukkan pandangannya, jadikan dia laki-laki yang tak mudah menyapa wanita lain yang bukan mahramnya. Bukan karena aku suka dia, tapi karena aku ingin dia menjadi laki-laki yang mulia akhlaknya”