Move Journey

Move Journey
Doa



Aku dan Safira berpisah di Stasiun kereta, dia akan kembali ke Bogor dan aku pulang ke kawasan Kebayoran. Aku sedang ada niat untuk pindah ke kawasan Kebayoran karena kampusku juga akan pindah gedung ke kawasan Kebayoran baru, sambil beradaptasi dengan lingkungan di sini, malam ini aku menginap di rumah Tante Risma, dia adiknya ayahku dan dia juga yang kebetulan sedang membantuku mencari kosaan dan kios kecil di sini.


Malam itu aku hujan turun mengiringi perjalananku dari Ciledug menuju ke Kebayoran. Wajah-wajah orang di dalam kereta semuanya nampak sama, menunjukkan sebuah raut kelelahan. Ibu kota bahkan terlalu keras untuk para pekerja lanjut usia.


“Neng,” Ucap seorang Bapak tua yang umurnya sekitar 50 tahunan yang baru saja naik ke dalam kereta.


“Silahkan duduk Pak” Aku bangkit dan memberi tempat untuk bapak itu duduk.


“Mau kemana Neng?”


“Oh saya mau ke Kebayoran baru Pak”


“Hati-hati ya Neng” Ucap Bapak itu sambil menaikan sebuah plastik ke atas pangkuannya.


“Bapak jualan?” kutanya begitu.


“Iya Neng, ini habis dari Tanah Abang belanja bahan buat bikin baju Koko”


“Jualan di mana Pak?”


“Di dekat Stasiun Pondok Ranji Neng”


“kapan-kapan Saya boleh mampir pak?”


“Boleh Neng, Bapak kasih Alamatnya ya” kemudian dia bangkit dan menggeledah sebuah tas selempang yang di kenakan dengan rasa semangatnya bapak itu menulis di sebuah kertas kecil dan di berikan kepadaku. “Ini Alamatnya ya Neng, Tokonya kecil tapi kalau mau cari baju koko untuk ayahnya atau kakaknya di sana ada.”


“In sya Allah ya Pak, nanti kalau ada waktu senggang saya mampir”


Kemudian aku berpisah dengan Bapak itu karena aku harus turun di stasiun Kebayoran sementara bapak itu harus melanjutkan perjalanan sampai ke Stasiun Pondok Ranji. Malam itu ada setitik harapan yang tercipta ketika aku menginjakkan kakiku kembali ke Kebayoran. Tentang sebuah doa yang selalu kupanjatkan tentang harapanku pada salah satu manusia yang tinggal di Kebayoran. Sebuah doa yang tak bosan kupanjatkan selama kurang lebih 3 tahun belakangan ini.


“Semoga langkahmu untuk memperjuangkan keberkahan dan kebermanfaatan selalu di ridhoi oleh Allah”


Tempat ini menjadi sebuah cerita tersendiri bagi manusia spesial di bumi, Citanya tak begitu tinggi hanya menjadi manusia yang penuh manfaat dan di berkahi tiap langkahnya.


Malam itu aku duduk di sebuah halte sambil menunggu Kakak Sepupuku datang menjemput. Hujan deras tadi sudah hilang dan digantikan oleh gerimis yang masih membasahi jalanan ibu kota. Aku meratapi jalanan yang sudah semakin sepi dimakan waktu. Meskipun sesungguhnya, Jakarta tak pernah tidur, orang-orang di dalamnya tak berhenti mencari nafkah meskipun sudah larut malam.


Andai, orang-orang itu giat beribadah seperti ia giat dalam bekerja. Nyatanya, dunia masih tetap menjadi tujuan utama tiap insan. Sampai ibadah pun, di sesuai dengan kegiatan duniawi yang betul hanya akan berakhir di dunia.


“Apa Allah nggak cemburu ya? Rezekinya datang dari Allah, tapi kita justru lupa berterima kasih pada-Nya.”


Ada sebuah selipan doa yang selalu aku pinta tiap pagi sebelum berangkat melakukan aktivitas sebagai seorang manusia di bumi yang penuh ambisi ini. Aku minta semoga tiap langkah baik yang aku lakukan hari ini menjadi berkah bagi siapapun, baik aku ataupun orang di sekeliling ku. Aku memohon agar Allah lindungi aku dari segala macam bahaya yang ada di luar rumah.


Malam itu saat aku baru saja keluar dari stasiun Kebayoran, tepat di samping supermarket ada seorang Bapak yang umurnya paruh baya duduk mengenakan jas hujan sambil menenggak kopi yang yang ada di plastik. Awalnya aku ingin lewat saja, tapi ternyata Bapak itu melihatku dan dia langsung bangkit menghampiriku.


“Punten Neng, mau pulang?”


“Neng, mau naik ojek?” Bapak itu mengikutiku dari belakang sambil terus menawarkan jasanya untuk mengantar aku pulang.


“Boleh deh Pak” Sampai aku tak tega untuk menolak keinginannya untuk mengantarku pulang menggunakan motornya.


Kemudian Bapak itu mengajak aku ke tempat motornya di parkiran, dia terlebih dahulu bertanya aku akan pergi kemana? Tapi aku jawab Cuma sekitar 2 Km dari stasiun saja. Karena rumah tante ku yang jaraknya tidak begitu jauh dari stasiun Kebayoran.


“Neng agak gerimis mau pake payung?” kemudian Bapak itu memberikan aku sebuah payung.


“Oh engga apa-apa Pak. Cuma gerimis kecil kok” Karena aku sudah terbiasa terkena hujan, jadi bagiku ini bukan masalah besar.


Sepanjang jalan menuju ke Rumah aku dan Bapak berkenalan, lalu ia bercerita tentang hidupnya. Namanya Pak Toto, katanya umurnya hampir 55 tahun dan punya anak yang masih kuliah seusiaku.


“Anak Bapak kuliah karena dapat beasiswa Neng, Cuma jauh di Malang. Bapak harus kirim uang buat dia makan, walaupun dia bilang engga perlu di kirim, Cuma bapak kepikiran terus di sana dia makan apa? Tidurnya gimana? Mankanya bapak Ngojek karena Bapak Cuma bisa ini. Karena Bapak harus kirim uang meskipun sedikit” Aku diam menyimak tiap cerita Pak Toto yang dengan suka rela ia bagi denganku malam ini.


"Mimpi Bapak cuma mau kalau anak-anak Bapak bisa jadi pelopor perubahan minimal buat keluarga sendiri, jangan bodoh kayak Bapaknya, kalau Bapaknya cuma sekolah SD, SMP, anaknya harus sampe S2. Karena sekarang mah Neng, kalau cuma lulus SMA aja teh malu. Mau jadi apa?"


Aku ditampar oleh malam yang makin dingin lalu cerita yang membuat aku merinding. Bukan seram, tapi aku ini merasa jika aku ini cukup beruntung menjadi manusia. Ibuku sudah tidak kerja banting tulang meskipun ayahku sudah pergi menghadap pencipta telebih dulu. Beruntung, ketiga kakakku sudah menyelesaikan pendidikannya dan bisa mendapatkan pekerjaan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.


Sebenarnya apapun itu yang penting adalah cukup-Nya, Bukan banyak atau sedikit nya. Karena banyak orang yang punya uang banyak, tapi tetap kekurangan. Karena yang penting adalah kecukupan. Ibuku selalu bilang bahwa Rezeki itu dijemput untuk memenuhi kebutuhan hidup banyak orang. Ketika kita punya Rezeki yang lebih, maka Allah memberikan sebuah kesempatan untuk kita memberi Rezeki kepada orang lain. Sungguh, dari tiap Rezeki yang kita dapat ada hak anak yatim, fakir miskin, dan kaum dhuafa.


“Anak Bapak juga perempuan Neng. Punya Anak perempuan itu sebuah kemuliaan tersendiri untuk Bapak, karena bisa jadi Anak Perempuan itu bisa menarik Orang tuanya ke surga dengan cara nya. Mankanya, cita-cita orang tua kalau sudah kepala lima itu pinta nya engga rumit, cuma mau keturunan nya menjadi manusia yang tinggal dan berkumpul bersama lagi di surga"


Aku seketika itu juga di ingatkan oleh ayahku, orang yang bahkan belum sempat merasakan bagaimana Rezeki-Ku di Dunia. Ayahku yang sangat ingin anaknya masuk surga, sebaliknya anaknya pun ingin masuk surga bersama dengan sosok yang keringatnya di peruntukkan untuk kelangsungan hidupnya.


"Pak, semoga langkah Kaki bapak menjadi saksi jika di dunia ini Bapak melakukan kebaikan untuk membahagiakan putri bapak. Pak, semoga kelak Tangan bapak menjadi saksi jika di dunia ini Bapak telah bekerja seharian untuk memenuhi kebutuhan Putri Bapak. Pak, semoga kelak saat di akhirat anak bapak adalah orang yang bisa menarik tangan Bapak ke dalam surga nya allah. Saya doain ya Pak, semoga kelapangan dada Bapak di hari-hari yang lalu, bisa membawa keberkahan untuk Bapak di hari-hari selanjutnya."


Andai Ayahku masih di Dunia, mungkin setiap hari aku akan berdoa untuknya. Untuk lelahnya, Untuk usahanya, untuk keringatnya, untuk segala yang telah ia lakukan. Allah berikan yang terbaik pada ayahku, beristirahat.


"Hatur nuhun doa baik nya Neng, mugi saterusna Neng meunangkeun jodoh nu Bageur. Sing tiasa ngabimbing dugi ka akhirat ."


"Aamiin allahuma Aamiin"


Dan Pak Toto mengantarku sampai ke depan rumah. Rasanya seperti diantar pulang oleh ayahku, sampai pada akhirnya aku turun dari motor dengan tubuh yang bergetar karena kedinginan dan juga karena rasa rindu ingin di peluk ayah.


"Terima Kasih ya Pak." Kataku sambil memberi ongkos ojek kepada Bapak itu.


"Sama-sama ya Neng, semoga langkah baik nya hari ini jadi berkah buat banyak orang. Semoga juga Gusti Allah melimpahkan banyak Ridho-Nya buat Neng" Ucap Pak Toto yang khas Sunda Banget.


Ada pelajaran tak terduga hari ini. Bahwa kita tidak tahu hari ini akan bertemu dengan siapa? Dan kita juga tidak tahu apa yang akan kita dapatkan dari sebuah pertemuan tanpa rencana. Karena aku tahu, semua yang terjadi hari ini bukan semata-mata kebetulan. Kita di pertemukan oleh banyak orang untuk mendapatkan pelajaran. Mengenali dunia dari sisi yang lain adalah salah satu pelajaran tambahan untuk kembali meningkatkan rasa syukur bahwa diri ini cukup beruntung.


Dan Pak Toto turut berdoa untukku di sela cerita kecilnya, begitu pula aku yang turut menciptakan sebuah harapan kelak untuk masa tua beliau. Malam itu, di bawah hujan yang jatuh perlahan-lahan, aku harap salah satu doa kami di kabulkan.