
“Allah berfirman dalam surah At-Tin ayat ke empat yang berbunyi
لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ فِي أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ
Yang artinya ‘Sungguh, Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya' jadi kalau kita bilang 'Ya Allah, kok saya ini nggak tinggi, sementara dia kawan saya tinggi. Ya Allah, Kok saya ini hitam, kawan saya kulitnya putih bersih. Ya Allah kok saya begini begini begini? Terlalu sibuk mengeluh dengan kata 'kok saya begini? Kok dia begitu' padahal Allah suda bilang ya di ayat tadi? Yang sekarang adalah karunia Allah, yang sekarang ada di dalam diri kita adalah ciptaan Allah, dan Allah menciptakan kita dengan sebaik-baiknya. Nggak ada namanya 'Produk gagal' karena apa? Yang menciptakan kita adalah Allah, zat yang maha sempurna yang tidak ada celahnya”
Kemudian terlintas di benakku tentang orang yang memiliki keterbatasan fisik, kenapa Allah menciptakan manusia yang tidak sempurna fisiknya? Kemudian aku kembali mendengarkan apa yang Ustadz Yusuf bicarakan tentang seseorang yang sempurna di mata Allah.
Kali ini aku sedang mendatangi kajian di Daerah dekat rumah Ibuku yang terletak di Bintaro. Kajian rutin untuk para remaja yang selalu diadakan setiap Rabu malam. Konsep kajiannya seperti diskusi dan bisa saling bertanya dan yang bisa menjawab dipersilahkan untuk membagikan ilmunya.
“Kalau remaja sekarang ini, sering Insecure ya namanya? Sering minder merasa dirinya engga oke di bandingkan sama orang lain. Ustadz mau tanya, manusia sempurna di mata kalian itu gimana sih?"
Kemudian seorang kawan ku angkat tangan dan bicara kriteria manusia sempurna menurutnya.
“Kalau fisik, pasti manusia selalu merasa kurang dengan apa yang ada dalam dirinya. Ia pasti akan merasa dirinya tidak lebih baik dari orang lain. Jadi, tidak ada fisik yang sempurna. Tapi ada akhlak yang sempurna dan bisa membuat fisik nya ikut menjadi sempurna. Karena salah satu jalan untuk menjadi seorang Insan Kamil adalah dengan cara bersyukur dan mengamalkan asma-Nya Allah. Dan, untuk menjadi seorang manusia sempurna, kita bisa mencontoh seorang yang adalah manusia sempurna dan kita tahu, panutan kita Rasulullah SAW adalah seorang Insan Kamil, manusia yang Allah utus untuk menjadi Rahmat bagi seluruh alam. Mohon koreksinya Ustadz”
“Betul Ikhsan, kita harus meneladani sikap Rasulullah untuk menjadi manusia yang sempurna akhlaknya. Kita jangan hanya memperbaiki fisik untuk tampak sempurna di mata orang lain, tapi kita harus memperbaiki akhlak agar terlihat sempurna di mata Allah. Allah mengutus Nabi Muhammad SAW untuk menjadi Rahmatan Lil’alamin, untuk menjadi panutan bagi umat di seluruh alam. Dan kita, sebagai umatnya harus berpedoman pada beliau. Meniru akhlak-Nya, mengamalkan sunah-Nya, karena kelak di akhirat nanti kita akan mendapatkan syafaat-Nya”
Dan di akhir kajian, Ustadz Yusuf memberikan kesempatan untuk bertanya kepada para jama’ah pengajian malam ini. Awalnya aku ingin bertanya, tapi salah seorang temanku terlebih dulu angkat suara dan pertanyaan sudah mewakili kebingunganku.
“Mau tanya apa Hawa?” Ucap Ustadz Yusuf.
“Ustadz, tadi ustadz bilang kan nggak ada yang namanya produk gagal ya? Terus, kalau misalnya ada orang yang disabilitas, yang kaki atau tangannya Cuma satu, yang engga bisa bicara, terus yang engga bisa melihat, itu di kategorikan sebagai apa? Manusia tidak sempurna juga?” Ucap Hawa dan langsung di jawab oleh Kafi.
“Neng Hawa, Coba kita buka Al Qur’an surah Al Insan ayat 1 sampai 3” tiap orang yang mengikuti kajian di sini diharuskan membawa Al Qur’an sendiri supaya mudah untuk memperjelas ayat yang disebutkan oleh ustadz.
“Bukankah pernah datang kepada manusia waktu dari masa, yang ketika itu belum merupakan sesuatu yang dapat disebut? Sungguh, Kami telah menciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur yang Kami hendak mengujinya (dengan perintah dan larangan), karena itu Kami jadikan dia mendengar dan melihat. Sungguh, Kami telah menunjukkan kepadanya jalan yang lurus; ada yang bersyukur dan ada pula yang kufur.”
“Manusia yang diciptakan tidak sempurna bisa jadi sebuah karunia dari Allah, bisa juga sebagai bentuk cobaan. Allah menciptakan makhluknya dan memberikan dia cobaan bagi dirinya sendiri atau untuk orang lain di sekitarnya. Dari sana, dari setiap cobaan yang ada maka Allah akan melihat siapa saja orang yang bersyukur dan mana orang yang kufur. Kalau orang yang diberikan kesehatan fisik yang baik tapi dia tidak bersyukur maka dia termasuk orang yang kufur. Begitupula jika orang yang memiliki keterbatasan fisik dan dia banyak mengeluh, dia juga termasuk orang yang kufur. Karena, Allah menilai sempurna atau tidaknya manusia adalah dari akhlak-nya bukan hanya dari fisiknya. Dan, kalau lagi bertanya orang Disabilitas itu gimana? Ya, sama. Apa yang ada dalam tubuh kita adalah anugerah dari Allah. Karena Allah menciptakan kita dengan sebaik-baiknya bentuk. Mohon koreksinya Ustadz”
“Ya benar Kafi, Allah juga berfirman dalam Surah Al Mulk ayat 2 yang artinya ’Yang menciptakan mati dan hidup, untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Mahaperkasa, Maha Pengampun,' Allah akan menguji manusia dengan banyak hal di antara kematian, adakah keluarga yang sabar atas musibah di terpa kehilangan. Ketika seorang bayi lahir dengan keadaan 'Cacat' maka itu menjadi ujian bukan hanya untuk si Bayi, tapi untuk orang tuanya, biasakah mereka sabar dengan apa yang menimpa anaknya? Cerita lain, ada orang yang kaya bergelimang harta, orang itu justru Allah uji dengan hartanya, ikhlas atau tidak dia menyisihkan hartanya untuk berzakat dan bersedekah setiap harinya? Jadi, menjadi seorang Insan Kamil atau manusia sempurna itu bukan hanya kita lihat fisiknya aja. Kita koreksi fisik kita yang kurang, tapi lupa mengoreksi sifat kita yang masih maksiat, masih jauh dari Allah. Nauzubillah min dzalik”
Dan malam itu, setelah kajian selesai aku akan pulang bersama dengan kawanku, Hawa namanya. Dia kebetulan kawan yang rumahnya searah denganku. Dia mahasiswa jurusan Ekonomi Syariah di salah satu perguruan tinggi swasta di Jakarta juga. Jarak Masjid dan rumah ku lumayan dekat jadi masih bisa di tempuh dengan berjalan kaki.
“Kak Ustadz Kafi, pulang bareng dong” Ucap Hawa ketika Kafi keluar dari Masjid.
“Hah? Betul banget. Haura takut nih”
“Lah? Kok aku?” Oh iya, lupa aku berikan informasi tentang identitas lengkapku. Namaku Xaviera Haura Nasyifa. Kalau di rumah, tetangga dan kawan kecilku memanggilku dengan nama “Haura” kalau di kampus kawan-kawan lebih suka memanggil “Xaviera” begitu.
“Iya kan kamu tadi bilang takut” Bisa-bisanya dia menjual nama aku di depan Kafi. Aku sampai malu dan langsung berjalan sendiri.
Saat sedang berjalan sambil mencaci Hawa di dalam hati, tiba-tiba suara Kafi muncul di sebelahku dan bicara “Kalau mau bareng, Aku jalan di depan ya Dek” Dia kemudian langsung berjalan di depanku dan aku berhenti di tempat.
“Eh Haura, gimana rasanya di sapa sama Ustadz Kafi?” tiba-tiba juga Hawa ada di sebelahku dan menyadarkan aku yang diam membeku di tempat.
“Astagfirullah” Aku langsung mengelus dada dan kembali lagi berjalan.
“Hauraa, tunggu aku” Aku terus berjalan sementara Hawa yang berhasil menyetarakan langkahnya dengan langkahku tak henti-hentinya bertanya “Kamu grogi ya di sapa sama Kak Ustadz Kafi”
“Biasa aja” Kataku.
“Katanya kamu ngefans sama dia? Kok biasa aja”
“Ya ga ngefans banget kali. Cuma kagum aja. Lagian Hawa. Kafi itu temen sekolah kita waktu SD. Kamu parah aja”
“Inget ya Haura, ciri-ciri orang munafik itu ada tiga. Salah satunya kalau dia bicara, ia berbohong. Kamu bukan ciri-ciri orang munafik kan?”
Dan syukur Alhamdulillah, tak sempat aku menjawab ucapan Hawa. Aku sudah sampai di rumahku.
“Hawa, aku udah sampe. Aku langsung masuk ya, Assalamualaikum”
Aku meninggalkan Hawa dengan segala prasangka nya.
Setelah kejadian dengan Hawa, malam itu ada sebuah doa yang aku pinta.
“Ya Allah, aku mohon biar urusan hati ini menjadi rahasia yang cukup aku beri tahu pada mu dan dengan manusia yang sudah terlanjur tahu saja. Jangan lagi pada orang lain yang tak berhak untuk tahu. Ya Allah, perkenankan lah aku untuk tetap diam dalam sebuah cinta yang aku harap halal. Kendalikan lah diriku untuk tetap menjadi manusia biasa yang tak memandang cinta secara berlebihan. Dan jaga dia dari segala macam godaan duniawi. Berkahkanlah tiap langkah baiknya, dan semoga apa yang ia lakukan hari ini adalah sebuah hal yang pahalanya akan membawa dia sampai ke surga-Nya Allah”