Move Journey

Move Journey
Memantaskan atau Memaksakan.



20 tahun, Jakarta.


“Kita di sini memang bukan manusia yang saat lahir langsung jadi manusia beriman, agamanya memang Islam tapi sifatnya, ucapannya, dan perbuatannya perlu bimbingan agar menjadi seorang Islam. Jaman sekarang, masih dengar kan? Islam KTP yang Islamnya Cuma di KTP aja, yang shalat lima waktunya masih ketinggalan, yang perilakunya masih nggak berpedoman pada Al-Qur’an. Itu yang harus di tanamkan dalam diri kita. Sejak kecil. Tapi ustadz, boleh nggak? Kalau mulainya dari sekarang? Boleh. Boleh banget. Karena manusia hidup di dunia ini selalu mencari, dan saat di fase mencari, mereka akan tersesat ke segala arah, kepada perbuatan yang zalim, durhaka, dan hina. Tapi kalian yang duduk di sini, harus bersyukur karena Allah kasih kesadaran untuk bertaubat, untuk memperbaiki amal dan datang ke sini Untuk datang menjemput hidayah.”


“Saudara-saudari sekalian kaum muslimin rahimakumullah, saya ucapkan lebih dan kurangnya mohon dimaafkan, karena yang benar itu datangnya dari Allah dan yang salah juga khilaf datangnya dari diri saya pribadi. Akhirul Kalam, Subhaanaka Allaahumma wabihamdika asyhadu an laa-ilaaha illaa Anta astaghfiruka wa-atuubu ilaik. Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarokaatuhu”


Aku menutup buku tulis ku dan kemudian membereskan segala barang yang sudah aku keluarkan dari tas selama kajian berlangsung.


“Ka? Ustadz itu teman kakak?”


“Iya, teman waktu SD”


“Ya Allah Kak”


“Kenapa?”


“Calon imam idaman banget”


“Istighfar Vid”


Namaku Xaviera . Umurku 20 tahun, aku mahasiswa pendidikan gizi di salah satu universitas di Jakarta. Tadi aku baru saja mengikuti kajian yang nggak sengaja aku datangi karena pembicaranya adalah temanku.


20 tahun sudah hidup di bumi, dengan segala nikmat yang telah Allah limpahkan kepada aku, kadang masih ada sedikit celah untuk bermalas-malasan dan mengeluh lelah karena rutinitas padat sebagai seorang mahasiswa sekaligus pekerja. Seperti sekarang. Dari kampus di Jakarta timur aku langsung berangkat ke Kebayoran untuk mendatangi kajian rutin yang aku ikuti setiap hari Rabu.


“Kak? Habis ini kakak langsung pulang ke Menteng? Apa mau mampir ke Ciputat dulu?” Tanya Vidia, dia adalah adik kelasku saat SMA yang kini menjadi teman kuliahku. Dia juga orang yang sama-sama sedang ada di fase hijrah dan belajar. Rumahnya di Ciputat, biasanya pulang dari kajian aku akan ke rumahnya untuk sekedar bersilaturahmi dengan orang tuanya.


“Kayaknya aku nggak mampir ke rumah kamu deh, soalnya ada janji ketemu sama orang di Ciledug. Lain kali aku ke sana ya”


“Ya udah hati-hati ya Ka”


Aku bangkit dan berjalan keluar dari Masjid. Aku masih sering bertanya pada diriku sendiri, kenapa setiap kali aku keluar dari Masjid, hatiku begitu tenang, masalahku seakan hilang, dan lelahku hilang tanpa keluh. Apalagi, saat keluar dari masjid di sambut oleh angin sejuk yang membuat keningku mendingin.


“Andai setiap hari selalu begini” Kataku dalam hati.


Aku bergegas menuju ke halte terdekat untuk sampai ke tujuanku. Aku termasuk orang yang nggak bisa menggunakan kendaraan pribadi ke tempat jauh. Aku Cuma bisa naik sepeda motor, itupun paling Cuma ke perempatan lampu merah. Selebihnya aku naik ojek online, transjakarta, atau KRL. Lagipula, naik kendaraan umum bisa meminimalisir polusi udara di Jakarta sebagai kota paling buruk udaranya.


“Assalamualaikum Fir, aku dari kebayoran ya. Ini udah di TJ. Nanti aku kasih tahu kamu kalau udah Deket. Oke” aku mengirimkan voice note pada Safira.


Kebetulan hari ini aku dan Safira akan bertemu setelah sekian lama kita terpisahkan jarak karena dia kuliah di luar kota dan baru sempat pulang hari ini. Aku akan kenalkan satu orang yang menurutku paling berarti, dia adalah Safira. Temanku sejak SMP walaupun kita beda sekolah, engga tahu kenapa tiba-tiba aku bisa kenal dengannya. Dia adalah teman yang menjadi saksi jika aku pernah menjadi remaja paling nakal. Perkataan ku di media sosial, perbuatan ku di dunia nyata seakan engga beradab padahal saat SMP aku belajar mengaji di pesantren.


Saat sedang di bus, aku sempat membuka akun media sosialku dan nggak sengaja melihat Kafi mem-posting potongan Vidio saat ia sedang mengisi kajian tadi. Sungguh, aku ingin menahan diri untuk tidak komentar memujinya. Akhirnya yang bisa aku ketik adalah..


Barakallah Ka. Semoga bermanfaat.


Kemudian kutekan tanda kirim. Dan nggak sampai satu menit, handphone ku berbunyi.


Aku tersenyum tak karuan. Tidak kubalas, kemudian aku memasang Ipod di telingaku dan memutar kumpulan shalawat dari kanal YouTube yang akan menemani perjalanan ini menuju ke sebuah tempat.


***


Baru saja aku menginjakkan kakiku satu langkah memasuki super market, Safira langsung memelukku begitu erat. Aku paham sih, sudah berapa purnama aku tidak bertemu dan bertukar cerita dengannya. Paling, kita hanya chating dan itupun terbatas. Karena sekarang dia sedang sibuk sebagai mahasiswa Farmasi yang setiap hari ada di laboratorium.


“Kamu apa kabar ih?”


“Alhamadulillah, baik-baik. Eh kita mau pesen dulu apa mau duduk dulu?”


“Langsung aja”


Aku dan Safira termasuk orang yang amat sangat hemat. Kita jarang jajan di tempat mewah, kita akan duduk di super market yang menyediakan udon dan fasilitas makan di tempat. Aku dan Safira sejak SMA sudah menerapkan hidup minimalis mulai dari bawa bekal ke sekolah dan tempat minum supaya tidak jajan di luar.


“Kamu mau pake Samyang enggak?” Kutanya Safira. Karena biasanya di samping udon, selalu ada Samyang.


“Enggak deh. Kebanyakan”


“Ini aja Mas”


Setelah mendapatkan semangkuk udon dan pilus, aku dan Safira duduk di kursi paling ujung. Tempat yang selalu kosong dan favorit kami karena lumayan jauh dari keramaian toko.


“Kamu ngapain ke Kebayoran dulu?” Tanya Safira padaku.


“Ah itu, aku ikut kajiannya Kak Kafi” Kataku pelan.


“Hah? Kak Kafi? Ustadz Kafi orang yang kamu suka itu? Ya Allah Xav, Kamu tuh ya. Ini namanya memaksakan diri Xav”


“Lagi berusaha memantaskan diri Fir.” Safira menggelengkan kepalanya.


“Engga Xav, ini namanya bukan memantaskan diri tapi kamu memaksakan diri”


Aku mengangguk dan pasrah. Oke aku kalah.


Hari itu, pertemuan dengan Safira adalah pertemuan yang paling aku tunggu. Dia adalah satu-satunya temanku yang paling bisa mendengarkan apa ceritaku, meskipun dia menentang, tapi itu bukan masalah. Ketika aku kehilangan kepercayaan pada manusia di bumi, Allah membantuku dengan mengirim Safira untuk menemaniku. Dia yang menyadarkanku bahwa manusia tidak sepenuhnya berwajah dua.


“Aku udah bisa Ikhlas sebenarnya ketika Allah nggak berkehendak aku untuk dekat sama dia. Tapi, yang penting sekarang aku merasa dekat sama Allah. Karena suka sama seseorang yang beriman, bikin aku sadar bahwa aku ini nggak cukup beriman untuk bersanding sama dia" Kataku pada Safira sambil memotong-motong Kue Ikan yang akan aku santap.


"Apa Allah engga cemburu ya, kita minta cintanya manusia, tapi engga pernah minta cintanya Allah. Pencipta kita, Pemberi Rezeki, dan Penolong kita?"


"Kamu sendiri gimana?"