Move Journey

Move Journey
Belajar dari kegagalan



Aku sedang mengerjakan laporan di kantin sambil ditemani segelas es teh manis yang jadi menu Favorit ku di kantin. Bukan hanya karena murah, tapi Es Teh Manis itu juara banget rasanya.


“Aduh pusing banget kepala gue. Matkul Patofisiologi penyakit gue dapet C, bingung mau ngulang apa engga” Davina Duduk di depanku sambil membawa setumpuk berkas yang kemudian ia letakan di atas meja.


“Santai aja kali Dav,. Xaviera itu cerdas Banget.” Ucap Nadhiffa yang kemudian menatap aku.


“Hah? Apaan?” Aku kemudian melihat dua wajah yang sedang muram.


“Xav, Lo pernah ga sih waktu sekolah kena remedial atau waktu kuliah ngulang matkul? Perasaan jalan akademik Lo lurus-lurus aja. Ga pernah perasaan gue denger Xaviera tuh ngulang mata kuliah atau dapet C. Lo belajarnya gimana sih Xav?” Ucap Davina yang kemudian menenggak segelas jus alpukat yang baru saja datang.


“Pernah sekali, pas SMA” Kataku yang kemudian menutup laptopku. Dan beralih mengambil pena dan kertas jurnal untuk mengerjakan tugas selanjutnya.


“Sekali doang? Masya Allah, ini otak kamu terbuat dari apa Xav?” Lanjut Nadhiffa.


Seperti cerita aku di awal, aku pernah di kenal sebagai “Oh Xaviera yang anak OSN itu ya” dan jelas, itu melekat dalam diriku sebagai sebuah beban. Aku pernah satu kali lengah dalam satu ujian Bab Mutasi genetik saat SMA dan akhirnya harus mengikuti remedial. Menjadi seorang siswa yang dipandang pintar, lalu selalu menjuarai tiap olimpiade dan disiplin aturan menjadi beban tersendiri karena aku tak bisa menjadi Anak SMA yang sesungguhnya.


Di depan mataku selalu ada target, tiap malam selalu ada deadline, bahkan aku harus bergadang sampai jam 1 malam dan bangun jam 4 pagi hanya untuk belajar. Ketika itu aku terlalu berambisi untuk masuk UI (Universitas In Sya Allah) yang menjadi target utamaku untuk melanjutkan studi selanjutnya.


“Aku mau di kenal” dan itu yang menjadi dorongan untuk diriku mengembangkan apa yang aku bisa. Karena sekolah di sekolah Swasta yang kebanyakan siswa nya adalah anak para petinggi di perusahaan atau di pemerintahan itu benar-benar engga mudah. Kalau bodoh, aku pasti tidak akan meninggalkan jejak di ingatan anak-anak SMA di sekolahku. Karena aku ingin minimal aku bisa dikenal oleh orang karena aku bermanfaat untuk mereka. Ketika orang lain di kenal karena dia kaya dan mentraktir teman-teman nya makan di kaffe atau nonton di bioskop, minimal aku bisa di kenal karena aku pandai dan bisa bagi-bagi cara mengerjakan PR ke teman-teman. Itu pemikiran sederhana yang aku lakukan saat SMA dan sekarang aku malah lupakan itu..


“Tapi aku jeda untuk kuliah 1 tahun, karena gagal SNMPTN, SBMPTN, ujian Mandiri, tahun itu aku engga ada celah untuk masuk Universitas Impian aku. Dan sampai akhirnya di sini, engga mudah tapi tiap orang punya kegagalan dan tiap orang berhak untuk meraih kesempatan untuk berhasil” Kataku.


“Tapi selama kuliah kayaknya Lo itu engga pernah ngulang matkul, praktikum selalu lancar tanpa hambatan. Serius ya, kita lihat Lo itu jenius banget tanpa celah. IPK Lo juga selalu bikin kita tepuk tangan. Gue tuh kaya engga percaya GILA KOK GUE BISA SIH TEMENAN SAMA ORANG SEPINTER INI”


Aku Cuma geleng-geleng kepala melihat Nadhifa memujiku sampai segitunya, suaranya terlalu berisik sampai aku dibuat risih karena penghuni kantin yang lumayan ramai.


“Kita harus belajar, ngerjain tugas itu dengan hati, tanpa paksaan dan tanpa tekanan. Jadi harus nurani kita sendiri yang bergerak. Maka hasilnya akan setulus kita mengerjakan itu” Aku membuka lembaran selanjutnya.


“Engga bisa loh Xav, kalau ngerjain tugas engga mepet deadline itu rasanya kurang greget” Ucap Davina yang langsung kutimpal.


“Iya betul. Greget aku juga kalau liat kamu Ngulang Matkul”


Selagi mendengarkan Davina dan Nadhiffa yang terus mengobrol, aku mencoba memfokuskan diriku untuk terus mengerjakan tugas yang harus di kumpulan dua Minggu lagi sebagai tugas akhir semester.


Sebenarnya motivasi aku mengerjakan tugas lebih awal Adalah agar aku bisa beristirahat lebih cepat, karena jujur saja aku butuh yang namanya tidur siang, aku butuh tidur di awal waktu supaya aku bisa bangun lebih awal agar bisa mengerjakan tugas berikutnya di hari esok. Aku juga bukan tipikal orang yang akan berlama-lama melihat sosial media dan memperhatikan instastory seseorang, kecuali satu orang saja yang aku garis bawahi. Aku punya banyak waktu luang untuk mengerjakan tugas dari sana, karena percaya atau tidak handphone dan isi di dalamnya adalah sebuah hal yang merenggut waktu kita.


Aku memutar memoriku ke sebuah masa di mana handphone dan sosial media adalah dua hal dalam hidupku yang tak bisa aku tinggalkan, bahkan ke kamar mandi saja membawa handphone, entah ada apa di dalam sana, tapi menggenggam nya adalah menjadi sebuah kebutuhan. Kalau bicara soal kecanduan, Narkotika dan handphone itu dua hal yang sama namun tak sejenis, karena keduanya menimbulkan efek yang sama. Kecanduan.


“Bener tahu Dav, kata bokap gue tuh orang yang tidurnya paling sebentar adalah orang yang akan sukses di kemudian hari, Tuh Kita tuh punya contohnya di Depan kita, Xaviera tuh sukses bukan Cuma di akademik aja dia juga punya kedai sendiri, punya buku sendiri walaupun sekarang bukunya udah tenggelam, Iya kan Xav?” Ujung kata Nadhiffa yang membuat aku tersadar dari lamunanku. Dari tadi aku mendengarkan apa yang mereka ucapkan, tapi pikiranku juga fokus pada hal lain.


“Iya iya” dan akhirnya Cuma itu yang bisa aku jawab karena kebingungan mencari kesimpulan.


“Lo tidur sehari berapa jam sih Xav?” tanya Davina.


“Tergantung tidur dimana, kalau di Kossan Cuma 5 jam, kalau di rumah Tante yang di Kebayoran itu bisa 6 jam, dan kalau di rumah Ibu di Bintaro itu bisa 7 sampai 8 jam”


“Bentar, perasan Kebayoran ke Bintaro Deket banget kan? Kok Lo engga tidur di rumah Ibu Lo aja? Kenapa di rumah Tante?”


“Soalnya Ibu Cuma di rumah pas Weekend aja, selebihnya di rumah Kakak aku yang pertama di BSD terus rumah Ibu kalau hari biasa di tempatin sama kakak aku yang kedua sama ketiga dan para istrinya. Aku canggung aja gitu kalau engga ada ibu di rumah”


“Ohh gituu”


Lalu aku sarankan dua teman aku ini mengerjakan tugas, aku memaksa mereka untuk menyicil beberapa tugas yang harus Minggu depan.


“Emangnya kamu mau nanti waktu liburan diganggu sama tugas dan revisian? Mending capek sekarang daripada waktu istirahat nya terganggu” kataku.


“Tapi Xav, gue kalau belajar itu harus hening banget tanpa suara. Engga bisa belajar fleksibel kayak Lo gitu dimana aja kapan aja, engga tahu tempat engga tahu waktu” Ucap Davina.


“Lo mah, memanjakan diri sendiri untuk hidup enak aja. Baca buku di angkot, pusing. Nonton Vidio edukasi di kereta, malah tidur. Ngerjain tugas di kantin, malah main handphone. Nyari referensi di Perpustakaan malah ngeliatin doi orang. Itu pemikiran kalau engga di rubah, engga bakal maju Davinaaa anak cantik anak maniss” Ucap Nadhiffa yang kemudian dia membuka lembaran jurnalnya. Kalau di bandingkan dengan Davina, Nadhiffa adalah temanku yang cukup cakap, meskipun sering malas karena orang di sampingnya yaitu Davina sering mengajak ia untuk leha-leha.


“Nadihiffa, Astagfirullah kamu itu membicarakan diri sendiri?” Ucap Davina seperti terkejut. Ya, Seperti kataku. Davina dan Nadhiffa memang sama aja, tapi Nadhiffa cukup cekatan dalam mengerjakan tugas walaupun memang banyak leha-leha. Dia tipikal orang yang bisa mengerjakan tugas tepat waktu, walaupun mengerjakannya mepet dengan hari deadline. Dibandingkan Davina yang kebanyakan mengeluh masalah tugas dan kadang mengerjakan tugas H+1 setelah deadline.


“Xav? Lo pernah males nggak sih?” Tanya Davina.


“Kapan?” Tanya Nadhiffa yang terlihat mulai menyimak.


Aku menatap mereka berdua. “Kalau udah capek”


“Kapan sih Lo capek? Lo super aktif banget jadi orang. Serius deh. Kuliah, terus kerja ngurusin kedai, terus Dateng ke kajian, mending mah Lo naik kendaraan pribadi, ini naik transportasi umum, desek-desekan, panas, tapi bisa-bisanya Lo engga pernah keliatan capek” Ucap Nadhiffa.


“Mau gimana lagi, emang harus gini” Kataku.


“Kedai Lo kan udah lumayan rame, kenapa engga tambah karyawan aja sih?” Ucap Nadhiffa.


“Belum sanggup kalau untuk ditempatin di sini, nanti In Sya Allah aku mau buat kedai baru di Kebayoran. Masih rencana, doain aja ya” Kataku.


“Tuh kan, Enggak capek apa Xav ngurusin semua sendirian?” Tanya Davina.


“Kamu jangan capek-capek nyari uang, Jangan jadi anak kesehatan yang engga sehat” Balas Nadhiffa.


“Iya” Kataku singkat.


Kemudian aku membereskan laptop dan buku-buku milikku yang ada di meja karena aku harus berangkat ke Ciputat untuk menghadiri kajian bersama dengan Vidia. Sudah lama aku tidak bertemu dengan Vidia karena aku lebih sibuk di Menteng. Pulang ke Kebayoran pun Cuma tidur, paginya aku langsung berangkat ke kampus lagi.


Seperti biasa, aku menggunakan kereta sebagai alat transportasi ku untuk berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya. Entah kenapa, siang ini kereta begitu ramai sampai aku tak bisa duduk. Padahal, aku memilih jam siang karena biasanya kereta masih sepi, belum padat oleh orang-orang yang pulang dari kantor.


Perjalanan kali ini tidak memiliki cerita yang bisa aku ceritakan, karena kepalaku sedikit pusing karena terlalu lama berdiri dari stasiun Gambir sampai aku turun di stasiun Pondok Ranji. Rasanya mataku sedikit gelap, tapi bisa kuabaikan.


Sampai akhirnya Vidia menjemputku dengan motornya di pintu stasiun, akhirnya aku bisa menghirup udara segar. Aku mulai berpikir jika transportasi umum terlalu pengap untuk aku sekarang.


“Eh Kak? Pengajiannya kan habis Ashar ya, mampir dulu ya ke rumah ku?” Ucap Vidia.


“Oke deh”


Di rumahnya Vidia aku disuguhkan berbagai makanan tapi tak bisa aku makan karena mulutku mulai tidak enak makan. Beberapa hari ini aku memang terlalu lelah karena setiap hari datang ke kampus, biasanya ada jeda dua hari untuk aku istirahat di rumah atau hanya jaga kedai. Tapi seminggu belakangan ini aku selalu di kampus karena menyelesaikan tugas akhir semester yang membutuhkan banyak referensi di perpustakaan kampus.


“Eh Kak? Kakak di kampus terus ya? Aku tuh udah 3 hari sih engga ke kampus, mager banget naik kereta, jadi ngerjain tugas di rumah aja lah. Lagian, belakangan ini cuaca panas banget serius deh” Ucap Vidia sambil meletakan air minum di meja.


“Oh iya, ada beberapa laporan yang harus di kasih dan masih ngerjain beberapa laporan juga” Kataku.


“Aku ada ngulang satu matkul sih, sebenarnya terserah sih mau ngulang atau engga, Cuma kata Mama aku mending ngulang aja. Ilmu yang salah harus di benahi katanya”


“Gagal itu wajar aja. Asal kita engga nyerah. Kesalahan itu bisa di perbaiki kok” Kataku.


“Kerasa banget ya Kak, kalau misalnya Kakak nyerah waktu itu kayaknya Kakak engga bakal ada di sini sekarang. Kadang ya, kalau abis ketemu sama Kakak tuh aku sering mikir, Masyallah Bisa engga sih aku tuh Kayak Kak Xaviera, orang yang dikira akan selalu mulus jalannya, tapi ternyata malah gagal terus, di tolak dimana-mana. Tapi, kok bisa semangat nya ga abis-abis, kok bisa sih engga lelah, engga mengeluh terus, engga putus asa. Sementara aku yang di tolak sekali langsung nyerah. Berasa, ya Allah aku payah banget”


Vidia adalah adik kelasku, salah satu saksi orang yang menyaksikan bagaimana aku bisa menjadi seorang siswa paling terkenal karena berprestasi di sekolah dan saat kelulusan menjadi siswa yang paling terkenal karena menjadi satu-satunya siswa berprestasi yang tidak di terima di universitas Negeri manapun.


Ketika itu banyak sekali harapan ku yang putus di tengah jalan, rasanya aku engga sanggup untuk sekedar ikut reoni bareng temen sekelas karena jadi satu-satunya anak yang gap year dan memutuskan untuk kerja dulu. Padahal, kawan-kawan satu kelasku semuanya langsung kuliah, ada yang di terima di PTN ataupun PTS ternama. Sementara aku, harus kuliah di PTN karena biaya nya lebih terjangkau untuk aku yang memutuskan untuk kuliah dengan biaya sendiri.


“Kegagalan itu jangan terus di ratapi Vid, sesekali boleh nengok ke balakang buat lihat kesalahan dan belajar dari masa lalu. Tapi jangan terus fokus pada kesalahan. Kalau naik mobil, yang jadi fokus kan spion depan ya, bukan spion belakang. Betul kan?” kataku.


“Bener Kak. Kakak tahu kan rasanya gagal, ya emang sakit sih Cuma kalau engga mau bangkit akan terus di sana. Mama aku sering banget bilang katanya gini kak 'Vid kalau hidup itu kita yang jalani, tapi Allah yang menentukan kalau kamu gagal di sebuah mimpi terbaik yang jadi cita-cita kamu, maka yang harus kamu lakukan bukan sedih, tapi senang. Karena mimpi kamu itu Allah ganti dengan sebuah hal terbaik menurut-Nya. Dan kita tahu, pilihan Allah itu sebaik-baiknya pilihan' gitu kak. Menurut aku, kita bisa meminimalisir kegagalan dengan usaha yang maksimal, kalau memang Allah engga menghendaki kita di sana, Aku yakin pasti Allah udah siapin hal besar untuk hidup aku. Sebuah keyakinan sederhana yang pasti bikin kita tenang”


Betul kata Vidia. Sebuah keyakinan sederhana yang membuat kita tenang adalah keyakinan kita sendiri bahwa semua akan baik-baik saja walaupun keinginan kita belum terwujud. Karena kadang, kita terlalu banyak fokus untuk meraih sesuatu yang kita tidak punya dan mengabaikan apa yang sekarang ada. Dan perihal sebuah kegagalan, sebenarnya kegagalan adalah proses untuk menuju sebuah cita-cita yang di janjikan, sebuah hal terbaik pilihan Tuhan. Karena, apa yang menurut kita baik bisa jadi adalah yang tidak baik. Tapi, apa yang menurut kita tidak baik bisa jadi adalah hal paling baik menurut Allah untuk kita. Allah itu maha mengetahui lagi maha melihat.


Di dalam Al Qur’an Surah Al Baqarah ayat 216 Allah berfirman yabg artinya “Diwajibkan atas kamu berperang, padahal itu tidak menyenangkan bagimu. Tetapi boleh jadi kamu tidak menyenangi sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu tidak baik bagimu. Allah mengetahui,sedang kamu tidak mengetahui


And, not for be the last setiap manusia akan gagal, tapi menyerah atau lanjut adalah sebuah pilihan. Di balik usaha yang maksimal, tidak mungkin ada sebuah kegagalan, meskipun yang menjadi keberhasilan adalah bukan sebuah keinginan yang di dambakan.


Dan terus semangat,


Xaviera..