
“Ehemm” Suara itu muncul ketika aku sedang masak nasi goreng di dapur. “Masak agak banyak ya, Abang mau”
“Hmmm”
Bang Razi adalah sepupu-ku yang berdarah Jawa. Dia adalah satu-satunya orang di keluarga ku yang lahir di Yogyakarta. Karena hampir semua keluarga ku lahir di Jakarta. Kebetulan, Kakekku menikah dengan nenekku yang memiliki etnis Tionghoa dan kemudian memutuskan untuk menjadi seorang mualaf. Kini ia sudah berpulang dalam keadaan Islam dan doa kami in sya Allah Khusnul khatimah.
“Lagi baca apa Bang?” aku duduk di sebelah Bang Razi kemudian menyantap nasi goreng yang tadi kubuat.
“Sirah Nabawiyah” Ada yang lupa aku ceritakan tentang Kak Razi ini, dia adalah seorang mahasiswa yang juga menjadi seorang Aktivis Dakwah, umurnya 22 tahun dan kini sedang melakukan PKPA untuk menjadi seorang Apoteker. Dan buku yang dia baca adalah buku yang mungkin sudah 10 kali ia selesaikan sampai akhir, tapi tak bosan ia baca terus di kemudian hari. Katanya, sebuah ingatan bisa hilang seiring berjalannya waktu kalau tak di ingat lagi, kalau tak di biasakan bertemu. Sama seperti seorang teman, aku pasti punya teman SD dan kalau sekarang umur-ku 20 tahun aku sudah lupa dengan teman pada saat Sekolah SD dulu. Karena apa? Karena tidak lagi saling jumpa dan karena aku sudah punya teman baru dan juga banyak. Jadi, yang lalu-lalu sudah pasti larut seiring berjalannya waktu.
“Bang, udah Nemu toko buat aku?” selain mengurusi kepindahan kampus yang akan pindah ke Kebayoran, aku juga sedang ingin membuat sebuah toko cabang di Kebayoran. Aku mencari nafkah dengan membuat sebuah usaha sebuah kedai makanan kecil. Tujuan aku membuat kedai ini dengan tujuan sederhana. Kedai ini diperuntukkan untuk para mahasiswa atau pelajar untuk belajar, karena tempatnya juga aku desain dengan konsep tenang agar para mahasiswa dan pelajar yang datang ke sini sambil mengerjakan tugas bisa fokus.
“Udah sih, tapi konsepnya Rooftop kamu mau engga?”
“Boleh di liat dulu aja”
“Hari ini kamu mau kemana?”
“Ke Kampus aja, habis itu ke Kedai yang di Menteng. Oh iya, hari ini aku pulang ke rumah Ibu”
“Oke”
Pagi itu setelah sarapan aku langsung berangkat ke Kampus menggunakan kendaraan kesukaan ku, ya Naik kereta. Karena itu adalah satu-satunya alat transportasi yang Menurutku paling cepat yang bisa aku tempuh. Walaupun memang agak menakutkan ketika melihat banyak orang berdesak-desakan di stasiun transit, tapi tiap perjalanan menurutku memiliki sebuah pelajaran. Setiap hari, bahkan aku selalu menemukan banyak pelajaran ketika ada di transportasi umum. Sebuah kultur warga Jakarta yang berbeda membuat aku paham, bahwa Jakarta begitu keras untuk orang-orang lemah. Seorang pemalas tidak cocok tinggal di Jakarta, karena orang-orang di Jakarta hidup penuh kerja keras. Bisa di bayangkan, membeli rumah di Jakarta itu sangat sulit dari segi perekonomian karena harganya yang fantastis mengakibatkan banyak orang mati-matian kerja hanya untuk membeli sebuah rumah. Dan, kebutuhan di Jakarta juga tidak murah, kita bisa menghabiskan uang ratusan ribu hanya untuk satu kali makan. Belum lagi Gengsi anak muda ibu kota yang memaksa mengikuti sebuah alirah Hitz di Zamannya. Seperti pagi ini, sebuah penampakan anak dan ayah yang sedang dalam kereta membuat perhatian ku yang semula fokus pada sebuah video Nasyid di YouTube, kini fokus menatap ayah dan anaknya yang sepertinya sedang perang es. Keduanya menampakkan wajah masam sambil beberapa kali bicara dengan nada dingin.
“Ya Papa. Salah papa juga” Ucap anak perempuan yang menggunakan seragam SMA itu tanpa menatap Ayahnya sama sekali.
“Papa kenapa engga ngerti sih. Kenapa sih?”
Ayahnya diam di sana. Tak lagi bersuara dan anaknya tiba-tiba menangis halus, air matanya mengalir tapi ia sekat kembali, kemudian sedetik kemudian jatuh lagi, kemudian ia sekat lagi. Begitu terus sampai mereka turun di stasiun berikutnya.
Melihat mereka, ada sebuah memori yang tiba-tiba muncul tanpa kutelusuri terlebih dulu. Anak itu adalah aku saat SMA dulu. Menjadi manusia yang paling egois di muka bumi, menjadi pribadi yang terus ingin di mengerti, menjadi anak yang selalu ingin dituruti keinginannya. Ya, anak SMA yang keras kepala, yang selalu merasa teraniaya padahal tidak.
Ada beberapa alasan yang baru aku sadari ketika beranjak dewasa, kenapa sih dulu aku menjadi manusia paling egois yang tak mengerti toleransi?
Karena aku mau menjadi manusia yang bahagia SENDIRI. Bahkan tak mau berbagi kebahagiaan bersama dengan keluargaku. Karena ada sebuah lingkungan yang aku lihat mereka semua hidup bahagia dengan gaya hidupnya yang jauh dengan hidupku. Mereka bebas, aku di ikat. Mereka naik mobil, aku naik motor. Mereka makan ayam, aku makan mie instan. Mereka menggunakan barang Original, aku Cuma punya barang KW. Sebuah kultur yang menjadikan aku terasa beda dan menuntut menjadi sama. Padahal tak mampu.
“Ayah cari uang untuk kamu” Sebuah kalimat yang akhirnya membuat pikiranku terbuka. Bahwa bahagianya aku adalah bahagianya dia. Ayahku.
Ketika hatiku tak baik, maka dia adalah orang pertama yang akan tanya “Kenapa?” Dia akan tanya “Adek uang jajannya temen-temen adek berapa?” walaupun setelah itu para Kakakku langsung bersahut “Dulu Kakak Cuma segini, kok Adek segitu?” dan ayah akan bicara “Kan Adek sekolah nya bukan di Zaman dulu”
Ayahku bukan orang terpandang yang kaya. Tapi ia mampu mengajak ke empat anaknya makan di Mall tiap awal bulan tapi ibuku selalu menolak ikut, ayahku mampu menciptakan sebuah kebahagiaan paling sederhana yang ia bisa. Ada sebuah nasehat yang sampai sekarang masih terngiang di kepalaku saat ayah telat membayar SPP dan aku marah. Ayah bicara bahwa “Alasan ibu Kenapa dia engga pernah mau diajak pergi ke Mall bukan hanya karena ibu engga bisa naik eskalator. Tapi karena ibu tahu, kalau biaya sekolah kakak dan Adek itu lebih utama. Besok ayah bayar ya Nak, jangan nangis” ketika itu aku berumur 15 tahun dan sedang duduk di kursi kelas 1 SMA. Waktu itu aku sekolah di SMA Swasta, wah keren banget anak-anaknya. Teman-temanku ayahnya ada yang kerja di kantor pemerintah, ada yang bekerja sebagai seorang pebisnis, ada yang bekerja sebagai staf kantor, pokoknya banyak banget. Dari berbagai macam jenjang sosial, aku Cuma berteman dengan orang yang selevel denganku, anak seorang pekerja industri.
Dulu yang aku lihat saat memasuki gerbang SMA adalah penampakan anak-anak yang diantar oleh ayahnya pakai mobil sekelas Alphard lalu barang sekolahnya bisa seharga uang saku aku selama satu bulan. Kalau mengikuti gengsi, mungkin aku tak akan bisa bertahan sekolah dengan lingkungan yang tidak cocok dengan aku. Tapi dari awal masuk SMA, ayah selalu bilang "Kondisi ekonomi tiap orang itu berbeda Dek, Ayah sekolahin Adek di sana supaya Adek dapetin pendidikan yang baik. Walaupun Ayah bukan orang berpendidikan, tapi ayah mau anak Ayah pintar. Adek fokus sekolah ya, walaupun Adek bukan orang kaya tapi Adek harus punya sebuah hal yang bisa di banggakan. Kalau temen-temen yang lain di kenal karena dia anak seseorang yang sukses. Adek harus bisa di kenal dengan segudang prestasinya Adek ya" Dan terbukti, aku di kenal sebagai "Oh Xaviera yang anak OSN itu ya"
Di umur 15 tahun aku mulai membuka pikiranku tentang apa yang perlahan melekat dalam diriku adalah sebuah hal tak benar. Selalu marah ketika ayah tak menuruti apa mauku, itu sama sekali buka sifat yang di inginkan oleh ayahku. Aku yang egois, yang dulu selalu mau senang sendiri, yang selalu mau setara dengan orang lain, yang selalu takut berbeda. Kini perlahan merubah diri menjadi seorang remaja yang bisa bicara "Oh, engga gitu juga engga apa-apa"
“Dek, kita harus jadi manusia yang ikhlas ya. Dengan segala apa yang terjadi hari ini, dan selalu siap dengan apa yang terjadi besok. Ayah atau Adek juga engga tahu besok akan kehilangan apa, Adek belajar untuk berlapang dada ya. Karena di dunia ini, engga ada yang menjadi hak milik kita. Bahkan rumah yang kita tempati juga bukan punya kita. Tapi punya Allah”
Dan di tahun berikutnya, aku kehilangan beliau.