
Aku duduk bersama dengan tiga temanku di kantin sambil menikmati ayam kremes yang menjadi menu best seller di kampusku. Kehidupan kampus ternyata tidak seindah seperti yang ada di bayanganku saat masih SMA. Aku kira menjadi mahasiswa itu menyenangkan karena jam perkuliahannya bisa diatur sendiri, tapi ternyata mengatur jadwal kuliah sendiri cukup menghabiskan energi pikiran. Belum lagi aku harus menyesuaikan dengan jadwal organisasi dan mengikuti kajian yang hampir setiap hari aku datangi.
“Sedih banget deh, kemarin gue kena Skimming di super market” Ucap salah satu temanku. Namanya Nadiffa dia juga seorang mahasiswi Gizi, sama denganku.
“Gimana Bisa?” Kutanya dia. Karena Skimming yang aku tahu adalah sebuah pencurian informasi di kartu Atm.
“Iya Xav, tahu engga sih, super market yang di perempatan Deket SD?” aku dan seorang temanku mengangguk, kemudian dia melanjutkan ceritanya. “Ya ceritanya gue mau belanja tapi pake uang cash, ya udah gue ambil dulu kan di ATM, terus Vier ternyata ATM nya rusak. Terus ATM gue engga bisa keluar kaya nyangkut gitu dan ada orang di sebelah gue dia ngarahin gue suruh ini itu, ya udah gue ikutin terus tetep ga keluar juga. Akhirnya gue pasrah dan keluar dari supermarket itu. Engga lama gue keluar, Cece gue telepon katanya ada penarikan uang 8 juta. Gue syok banget lemes gue cek tempat ATM nya gue lihat ATM gue udah ga nyakut di sana”
“Jadi uang Lo ilang gitu?” Tanya Devina.
“Ya iya gue langsung telepon CS nya ternyata bener uang nya ada yang ngambil” Ucap Nadhiffa.
“Kenapa nggak di blokir duluan?” Kutanya dia.
“Mana sempet mikirin blokir. Udah keburu panik duluan kartunya nyangkut ga bisa keluar”
“Buat jadi pelajaran Nad, buat ke depannya harus hati-hati lagi kalau mau tarik uang di supermarket kecil. Ya anggap aja kamu belajar, namanya belajar ya mahal kan” Kataku pada Nadhiffa.
“Iya sih Xav, gue saat itu ya langsung berdoa sama Allah biar hati gue ikhlas, terus biar uang yang hilang dari gue bisa berguna buat orang yang ngambil. Dan kata Cece gue juga biar aja, karena apa yang jadi milik kita bukan sepenuhnya punya kita. Ya, mungkin gue kurang sedekah. Kata umi gitu”
Sedikit cerita tentang Nadhiffa dia adalah temanku yang berasal dari keluarga yang agamanya kuat. Papah nya adalah seorang mualaf yang tadinya beragama Budha dan masuk Islam di usia remaja yang kemudian kini menjadi seorang aktivis dakwah, di samping itu dia juga kerap ikut dalam setiap perjalanan dakwah ayahnya ke berbagai kota untuk tahu bagaimana kultur tiap daerah.
“Kalian mau cobain masakan aku gak? Aku mau coba bikin menu baru sih. Cobain yu” Kataku pada Nadhiffa dan Devina. Karena sejujurnya memiliki sebuah kedai makanan agar terus berkembang caranya adalah kita harus memiliki kreativitas yang tanpa batas. Tak boleh tenggelam karena zaman terus berjalan dan selera orang makin hari makin bervariasi.
“Gratis kan ya?” Ucap Devina sambil disertai sedikit tawa.
“Aku kasih bonus minum es teh manis malahan” Kataku.
“Ya Allah Xav, aku doain semoga Rezekinya berkah yaa mengalir terus. Aamiin”. Ucap Nadhiffa
“Aamiin ya Allah”
Kemudian setelah kelas selesai pukul 3 sore aku bersama dengan Nadhiffa dan Devina berangkat ke kedai makan yang aku dirikan sejak masih menjadi mahasiswa baru yang letaknya hanya berjarak 250 meter dari kampus. Aku biasa datang ke Kedai jalan kaki karena lumayan bisa mengeluarkan keringat dan hemat ongkos.
Rezeki itu bukan Cuma sebatas uang, memiliki teman yang baik juga adalah sebuah rezeki. Allhamdulillah Allah berikan aku Nadhiffa, anak ustadz yang ketika aku kebingungan tentang masalah akidah ia bisa menjawab kebingunganku. Beruntung juga aku memiliki teman seperti Devina yang sejak SMP sudah tinggal di pesantren dan sudah fasih betul perihal sejarah Islam dan Sirah Nabawiyah. Sejak kecil ia terbiasa di didik menjadi pribadi yang tidak memandang semua hal dunia. Bahkan, di rumahnya tidak ada WiFi, kuota internet nya dibatasi hanya 1GB sehari, itupun. Cuma ia gunakan untuk keperluan kuliah.
Ketika menginjak semester satu aku bertemu dengan banyak orang, sebelum bertemu dengan Devina dan Nadhiffa aku sempat tersesat. Tapi Masyallah, maha baik Allah beri aku kesempatan untuk memperbaiki amal melalui perkenalan singkat dengan Devina di kedai makan yang saat itu baru aku rintis kecil-kecilan. Melalui tiap nasehatnya, akhirnya aku bisa membuat keinginanku tercapai.
“Assalamualaikum” kataku sambil membuka pintu kedai.
“Waalaikumsallam Mba” ucap salah seorang karyawan ku. Di sini aku Cuma sanggup untuk membayar 4 karyawan yang notabenenya mereka adalah para remaja yang terpaksa putus sekolah dan membutuhkan pekerjaan.
Niatnya, hari ini aku mau membuat sebuah menu baru yang menurutku bisa dikonsumsi sebagai menu diet karena sehat dan rendah kalori. Tujuanku membuat sebuah kedai ini bukan hanya untuk menjadikan ini sebagai tempat yang ramah untuk mengerjakan tugas, tapi makanan di sini juga harus sehat. Sebagai seorang mahasiswa Gizi, aku ingin menghilang mindset bahwa makan di kedai itu semuanya adalah makanan junk food. Apalagi di Jakarta, banyak sekali mahasiswa rantau yang pola makannya sembarangan dan bahan makanan yang semaunya yang penting enak.
“Eh aku siapin makanannya dulu ya di dapur. Kalian pesen minum dulu aja” Kataku pada Nadhiffa dan Davina.
“Jangan lama-lama, nanti pelanggan kecewa” Ucap Davina. Dan, kata-kata yang terdengar sebagai gurauan ini sebenarnya adalah kata-kata yang memang harus aku anggap serius. Kedatangan mereka ke sini aku anggap sebagai pelanggan yang akan menyicipi masakan baru ku, jika pendapatnya bagus maka akan aku rilis, jika tidak maka aku akan perbaiki lagi.
“Pastii” Aku mengacungkan jempolku.
Di dalam dapur aku menyiapkan segala bahan yang akan aku masak, mulai dari memotong buah sayur dan memanggang roti aku lakukan sendiri karena semua karyawan ku sedang melayani pesanan pelanggan di luar. Kalau sedang tidak senggang aku sering datang ke sini untuk membantu dan mengecek ketersediaan barang untuk hari esoknya. Alhamdulillah, Allah memberikan aku banyak kemudahan untuk membangun kedai ini. Mulai dari supplier yang siap mengantar barang sampai ke depan kedai, kemudian karyawan yang jujur dan mampu bekerja tim dan saling membantu, dan testimoni pelanggan yang selalu meng-upload di sosial medianya jika mereka sedang berada di sini membuat kedai ini makin ramai pengunjung.
“Kak, uang setoran dua hari yang lalu ada di buku penjualan ya. Buku nya aku taro di laci nya Kakak” Ucap Adik sepupu-ku, namanya Kaila, Dia masih SMA kelas 2 kebetulan keluarganya tinggal di sini dan dia mau membantuku untuk mengurusi kedai selepas pulang sekolah.
“Itu masakan yang katanya mau kakak coba jual?” Dia mendekatiku lalu memperhatikan secara dekat apa yang sedang aku buat.
“Mau?”
“Boleh” Ucapnya sambil menyeringai menampilkan sederet giginya yang tersusun rapi.
Setelah selesai, aku mengajak Kaila untuk ikut menghampiri teman-teman ku di luar. Karena katanya ia ingin menyicipi juga masakan baru ini.
“Ini steak selada sama banana smoothies” kataku sambil meletakan sebuah nampan di meja dan kemudian ikut duduk. “Tadinya aku mau buat Toast selai Alpukat tapi ternyata buahnya habis. Lain kali aku buatin deh”
“Makasih ya Kakak Ukhti” Ucap Devina sambil kemudian langsung mengambil bagiannya.
“Berdoa dulu gais jangan lupa” Ucap Nadhiffa yang kemudian ikut mengambil bagiannya juga.
“Kaila makan aja jangan malu-malu. Ambil aja ambil yang banyak” Ucap Devina pada Kaila karena sejak tadi dia Cuma menyimak sambil diam.
“Padahal tadi di dapur udah ngelirik-lirik demen itu” kataku pada Kaila.
Adik sepupu-ku yang satu ini cukup Pemalu. Dia sudah sering bertemu dengan kedua temanku ini tapi sampai sekarang masih juga canggung. Sampai akhirnya, dia ikut menyantap makananku. Ada sebuah rasa puas di hatiku kala melihat senyum sumringah dari dua kawanku yang bicara “Masyallah, bisa-bisanya Lo bikin makanan seenak ini”
“Tapi garam nya dikurangin ya Xav, ini kerasa banget asin nya. Kalau menu sehat kan garamnya sedikit” Ucap Devina.
“Tapi pas kok Dev, ini engga asin banget” Ucap Nadhiffa.
“Ini tuh masih asin Nad, kalau buat menu sehat harus kurang dari ini” Ucap Devina yang mulai mengadu argumennya dengan Nadhiffa.
“Tapi gue suka ini tuh engga asin banget dan engga hambar juga. Pas gitu”
Dan selanjutnya mereka adu argumen tentang rasa sampai Kaila angkat suara.
“Kalau menurut aku sih, udah cocok rasanya. Garamnya engga Usah dikurangin karena kan kadang ada lidah orang yang mungkin segini aja kurang asin. Kalau menu sehat, kayaknya segini kadarnya cukup deh Kak”
“Ya udah deh. Cukup segini” akhirnya Devina menyerah bahwa argumennya kalah telak ketika pendapat Kaila lebih setuju dengan apa yang dibilang oleh Nadhiffa.
“Makasih ya Dev, pendapat kamu aku terima.” Aku mengangacungkan jempol pada Devina.
Dengan adanya argumen ini, aku sadar bahwa selera tiap orang akan berbeda. Lidahnya Tak sama dan, sebisa mungkin aku akan tetapkan sebuah menu yang memang menurutku pasarnya adalah orang-orang yang seleranya seperti masakanku. Orang yang lidahnya setuju kalau masakan ini enak. Kalau lidahnya bicara tidak, maka itu bukan target usahaku. Karena aku sendiri tidak bisa memaksa seseorang untuk suka pada sebuah hal yang aku buat. Ketika orang tidak suka, ya sudah. Bukan malah bicara “Yahh seleranya rendahan” padahal ya itu bukan target pasarnya aku aja. Mungkin orang lain lebih suka masakan yang lain, dibandingkan masakan ini.
“Tapi smoothies nya aku kurang suka Xav” Ucap Nadhiffa.
“Orang enak banget gini, masa engga enak” balas Devina.
“Dav, Engga suka itu bukan berarti engga enak. Sama kayak kamu tuh engga suka sama seseorang itu bukan berarti kamu benci kan?”
Dan lagi, perdebatan itu kembali di mulai sampai pada akhirnya harus ada salah satu yang ikhlas untuk meredam argumennya dan meminta maaf. Yang aku suka dari mereka adalah mereka bisa berdebat hebat tapi kemudian mereka bisa berlapang dada untuk saling menerima maaf. Sebuah hal yang sangat sulit aku lakukan dulu adalah berlapang dada dan ikhlas.
Tapi setiap hari bersama mereka, menatap mereka yang berdebat kemudian kembali rukun, melihat mereka kehilangan sebuah hal yang terjadi tiba-tiba tapi mampu untuk ikhlas dan kembali berserah membuat aku juga terbiasa hidup beriringan dengan rasa ikhlas.
Davina pernah bicara bahwa kita bisa kapanpun dan dimanapun kehilangan sesuatu bahkan dalam hitungan detik. Yang jadi masalah bukan sebuah hal yang hilang, tapi adalah rasa ikhlas yang tetap ada atau tidak saat kita dilanda kehilangan. Karena Davina tahu, Ikhlas itu sebuah kalimat sederhana yang mudah di ucapkan tapi sulit di lakukan. Tapi ia bicara jika kita hidup selalu beriringan dengan rasa Ikhlas, maka tak ada beban yang kita punya. Karena beban itu sesungguhnya akan hilang juga. Allah bisa cabut nikmat kita kapan aja, jadi kita harus siap kapan aja. Dan persiapan nya apa sih? Ya terbiasa Ikhlas adalah persiapannya.