
“Serius Umi? Bang Razi bakal ke Turki?” aku terkejut ketika Tante Risma yang biasa aku panggil Umi bercerita jika Bang Razi akan pergi ke Turki beberapa Minggu untuk acara pertukaran pemuda.
“Nanti kalau PKPA nya udah selesai, dia langsung berangkat” ucap Umi. Dan ketika itu juga Bang Razi keluar dari kamarnya sambil membawa buku Sirah Nabawiyah yang sama seperti beberapa hari yang lalu. “Zi, makan sini. Haura bikin kentang goreng nih” Kemudian Bang Razi duduk di sebelahku sambil tetap membaca bukunya.
“Abang mau ke Turki ya? Titip oleh-oleh kebab Turki yaa” Kataku dan Bang Razi langsung meletakan bukunya di meja.
“Ga sekalian kamu titip kubahnya Aya Sofya Dek? Kebab Turki di depan komplek juga ada. Aku beli sekarang juga bisa” Katanya sambil kemudian memakan kentang goreng.
“Ya udah beli sekarang aja sana” Ucap Umi.
“Lah? Kok jadi beli kebab? Ini kan ada kentang” Ucap Bang Razi bingung.
“Tadi kata Abang beli sekarang juga bisa. Ya udah sekarang beli” Kataku.
“Ya udah ayo” Bang Razi mengajakku untuk ikut bersamanya.
Aku mengikuti di belakangnya, tapi aku diam saat dia justru keluar gerbang rumah, dengan memakai sarung kotak-kotan dan Hoodie hitam yang di sertai peci hitamnya.
“Bang engga naik motor?”
“Jalan aja. Sekalian cari angin”
“Hah?”
Karena jarak tempat penjual kebab lumayan jauh dari rumah ini. Kedengarannya emang dekat sih 'Depan komplek' tapi komplek perumahan ini luas banget dan rumah ini berada di blok paling ujung. Aku terpaksa mengiyakan dan mengikuti langkahnya sambil memainkan handphone karena ada chat masuk dari Nadhiffa yang katanya besok ingin mengajak aku datang ke kajian ayahnya.
“Haura?”
“Ya?”
Dia diam begitu lama, setelah aku selesai mengetik pesan untuk Nadhiffa, aku menoleh ke arah Bang Razi yang masih setia dia dan pandangannya lurus ke depan.
“Abang lagi bingung, kamu mau dengar cerita Abang ga?”
“Cerita aja”
Kemudian diam begitu lama. Aku juga tak langsung menyela, mungkin ini permasalahan hati karena sudah beberapa hari ini dia sering diam sambil melamun menatap buku yang sebenarnya tidak sedang ia baca...
“Tipe cewek kaya kamu mau ga sih diajak ta’aruf?”
“Mau banget. Karena aku engga mau pacaran lagi, kalaupun ada orang yang ngajak aku pacaran dan janji bakal nikahin aku, aku bakal tolak. Karena cowok yang baik menurut aku bukan cowok yang datang menjanjikan sebuah pernikahan tapi mewujudkan itu”
Bang Razi kemudian kembali diam. Dia terus berjalan sambil Menatap jalanan dengan tatapan yang kosong. Aku pikir, ia sedang dilanda masalah batin, tentang perasaanya yang kini sedang ia pertanyakan, tentang langkah selanjutnya yang harus segera ia pijak.
“Kenapa bingung banget? Padahal ada Allah yang bisa menjawab segala keraguan kita?” kataku yang kemudian berjalan di depannya.
Seandainya aku bisa bilang, Bang Razi malam ini begitu sejuk, Jakarta hari ini begitu ramah, kenapa tidak bisa berpikir jernih? Padahal waktu ini dia bisa berpikir secara sehat karena suasana malam ini bisa menenangkan jiwanya.
“Bang, abang mau nikah?” kataku.
“Hah?” dia kaget seperti disadarkan kembali bahwa tadi ia sedang melamun.
“Abang mau nikah?” kutanya dia sekali lagi.
“Iya mau”
Kemudian akhirnya dia bersuara. Menyuarakan sebuah untaian rasa yang ia pendam dan membuat ia kebingungan. Katanya, berapa hari yang lalu ia menyampaikan sebuah niat baik untuk mengajak seorang wanita untuk ta’aruf, dan sampai hari ini masih belum ada jawaban.
“Oh, jadi itu” kataku.
Cinta yang ternyata membuat Bang Razi tak enak makan, tak enak Hati, dan tak enak makan. Ternyata ia sekarang sedang kebingungan menanti jawaban yang tak kunjung datang. Aku kira, Bang Razi tak pernah berpikir untuk benar-benar menikahi seseorang dalam waktu dekat ini, karena setiap pagi yang aku lihat dia hanya membaca buku Sirah dan membaca jurnal praktik nya.
“Abang udah minta doa Umi sama Abi belum?” Kutanya begitu karena Bang Razi adalah tipikal anak yang sangat tertutup bahkan dengan orang tuanya.
“Belum sih, karena Abang takut kalau Umi Berharap lebih sama Ta’aruf ini. Sebenarnya Abang takut gagal di Ta’aruf ini”
Aku jadi ingat kajian Ustadz Husein kemarin malam. Bahwa segala sesuatu yang diawali dengan baik, maka hasil akhirnya juga akan baik. Meskipun hasilnya perpisahan, maka itu adalah jalan terbaik yang Allah berikan.
Aku bisa bilang Bang Razi adalah orang terpandai yang aku kenal, tapi dia sangat cupu untuk mengungkapkan perasaannya, bahkan kepada orang tuanya yang sudah mengenal ia sejak kecil. Bang Razi adalah orang yang malu dengan segala apa yang telah ia capai, ia malu pada setiap perkembangan yang terjadi pada dirinya. Aneh kan.
“Nanti Abang coba deh”
Di usianya yang kini 22 tahun aku cukup kagum sih pada dia. Dia remaja yang bahkan tidak tahu apa itu 'Hijrah' karena sejak kecil ia sudah di ajari ilmu agama dan perilaku yang beradab oleh orang tuanya. Ia tak berani membolos di setiap pengajian, dia sudah menghapal 25 juz Al Qur’an dan masih terus menambah hapalan nya hingga sekarang. Ada sebuah kebanggaan tersendiri ketika aku menceritakan tentang Bang Razi pada kawan-kawan ku di kampus, bukan hanya tentang ilmu agamanya yang bagus, dia juga pernah menjadi 'Best Speakers' Se-Indonesia saat masih SMA dan saat itu usianya masih 15 tahun. Gimana aku gak bangga coba sebagai adik sepupunya?
“Medium tiga ya Mas, Yang satu double Cheese” Ucap Bang Razi pada pedagang kebab.
“Abi engga di beliin?” Kutanya Bang Razi karena di rumah juga sedang ada Abi nya.
“Dia engga suka. Kecuali kebab Turki yang asli makan di Turki”
“Hah?”
“Serius”
Iya aku percaya. Om aku yang satu itu memang seleranya agak berbeda. Dia tidak suka makanan zaman sekarang, seperti Burger, Kebab, dan makanan junkfood lainnya. Makanan andalannya adalah ketoprak, bakso urat, nasi kuning, ya makanan khas Indonesia banget.
Sambil menunggu kebab yang sedang di masak, Bang Razi bercerita tentang Turki. Ia menuturkan alasan kenapa ia ingin datang ke sana. Bukan hanya karena negaranya yang indah.
“Di sana berdiri Aya Sofya, kamu tahu kan? Tahun 1453 sultan Muhammad Al Fatih berhasil menaklukkan konstantinopel dan aku mau tahu bukti sejarah itu”
“Aku juga pengen ke sana sih Bang. Karena di sana bagus banget, keren tempatnya”
“Aku mau belajar sejarah langsung dari tempatnya”
“Damage nya beda ya”
“Jelas lah”
Setelah kebab yang dipesan tadi sudah siap, Bang Razi langsung mengajak pulang karena jalanan makin sepi. Aku bertanya sedikit tentang orang yang katanya sedang ia usahakan untuk diajak ta’aruf.
“Dia anak kesehatan juga?” kataku.
“Bukan, tapi in sya Allah sehat jasmani dan rohani”
“Penasaran deh tipe cewek yang Abang suka itu kayak apa”
“Yang baik”
Tadinya, Aku berpikir kalau Bang Razi Pasti suka pada wanita-wanita pesantren, atau anak ustadz atau yang bercadar gitu. Karena melihat diri Bang Razi yang Sholeh, yang selalu mau belajar agama, yang selalu mikirin akhirat, pasti dia engga mau dapat wanita yang agamanya biasa aja kayak aku gini.
“Aku mau membimbing seseorang Dek, pengen jadi seorang pemimpin keluarga yang bisa menggiring semua anggota keluarganya masuk ke dalam surga. Jadi, engga apa-apa kalaupun kelak Abang dapetin seorang istri yang baru hijrah, yang paling penting adalah dia mau terus beramal baik bareng sama Abang untuk dapetin surganya Allah.”
“Abang engga berminat sama anak pesantren gitu?”
“Yang penting sih satu tujuan. Apalagi, Abang punya misi untuk berdakwah. Maunya sih, yang punya visi dan misi yang sama kayak Abang. Atau minimal yang mengerti visi dan misi hidup Abang. Aku kasih tahu ya dek, dunia itu Cuma tempat sementara. Di sini kita Cuma siap-siap untuk menuju ke tempat tujuan kita. Di sini tempatnya untuk nyiapin bekal yang akan dinikmati nanti, di akhir tujuan kita. Memilih menikahi seseorang, itu artinya kita akan hidup di bumi ini bersama, dan menyiapkan urusan akhirat bersama. Jadi pentingnya punya pasangan yang satu visi dan misi adalah kita punya alarm supaya engga kelewat batas”
“Tapi salah engga sih Bang, Kalau aku minta sama Allah buat di jodohin sama orang yang Sholeh, yang ganteng, yang baik akhlaknya. Salah juga ga sih kalau aku sebut namanya?”
Bang Razi mala tertawa pelan, “Aku malah mikir apa Allah ga cemburu ya, kamu menghadap dia Cuma untuk minta seseorang yang belum tentu cinta sama kamu? Sementara Allah itu cinta banget sama kamu. Dek, kamu niatin hijrah ini karena dia? Karena seseorang atau karena Allah? Kalau karena seseorang, kelak kamu engga akan pernah dapatin dia. Lurusin niat kamu karna Allah, in sya Allah kamu akan dapat seseorang baik meskipun itu bukan dia. Dan, Bonusnya adalah ketika kamu melakukan sesuatu karena Allah, walaupun hasilnya engga sesuai dengan keinginan kamu. Kamu akan ikhlas. Percaya deh sama Allah”
“Ya tapi engga gitu Bang. Aku pernah sih emang minta sama Allah kayak maksa gitu pokoknya harus sama dia. Tapi,. Belakangan ini aku takut kalau keinginan aku engga terwujud nantinya aku gila Bang. Sumpah bayanginnya ngeri banget. Jadi, aku minta sama Allah semoga hati aku di ikhlasin, kalau misalnya engga sama dia pun, engga apa-apa. Karena aku juga sebenarnya takut, aku takut kalau apa yang menurut aku baik, tapi menurut Allah itu engga baik. Aku takut kalau doa aku sendiri yang malah menjerumuskan aku ke dalam sebuah penyesalan”
“Dengan keinginan Abang yang terdengar rumit, emang Abang siap? Gimana kalau misalnya nanti perempuan itu justru berbanding terbalik dengan seperti apa keinginan Abang?”
“Sebenarnya, ketika seorang laki-laki sudah memutuskan untuk menikah, itu artinya ia siap dengan segala resiko yang akan terjadi nantinya. Seperti apa pasangannya, bagaimana kebiasaannya nanti akan berubah, dan segalanya. Mankanya, penting banget suami dan istri sama-sama menyesuaikan diri setelah pernikahan, bagaimana hak dan kewajiban suami kepada istri dan begitu pula sebaiknya. Mankanya, kita perlu juga sih untuk ikut seminar pra nikah, karena punya ilmu tentang pernikahan.”
“Abang siap nikah muda? Jangan bilang Abang tuh ikut-ikutan trend sekarang ya?”
Walaupun sebenarnya aku tahu Bang Razi itu bukan orang yang termakan perkembangan zaman atau trend-trend yang sedang hits. Dia hidup seperti biasa, layaknya dia hidup. Dia bukan tipikal orang yang ikut-ikutan dia hidup untuk dirinya dan semau dirinya.
“Karena merasa sudah cukup mengejar dunia. Abang mau menyempurnakan ibadah, kalau bisa sekarang, kenapa nunggu nanti? Apalagi kita engga tahu sampai kapan kita akan hidup”
Dan malam itu, ada banyak cerita sepanjang jalan tentang sebuah niatan. Sebuah keinginan yang aku doakan bisa tersampaikan, semoga niat baiknya yang dituturkan oleh orang baik dan aku berdoa semoga bisa berjalan baik dan Allah mudahkan.