
"Aku dengar kemarin bahwa Park Seon-ho ssi sudah menandatangi untuk meninggalkan kantor ini dan fokus dengan kantor dirumahnya" ucap Chae Song Ah
Aku menatap kaget, aku juga tidak tahu apa yang terjadi. Selama tiga hari aku mengambil cuti tidak ada masalah dan aku juga tidak mendengar kabar apapun darinya.
"Jadi apakah Kim Jeong-suk yang sekarang memimpin perusahaan?" tanyaku
"Ya, sekarang dia CEO baru disini, aku dengar juga dia itu sepupu Park Seon-ho makanya dia bisa dipercaya untuk menganggantikan posisinya". aku mengangguk.
"Kim So-Bin kamu dipanggil oleh Kim Jeong-suk". panggil seorang yang aku sendiri belum pernah melihatnya
"Ah ya saya asisten Kim Jeong-suk". ucapnya
Aku mengikutinya dari belakang dan mulai masuk keruangan itu, tidak banyak yang berubah hanya saja lukisan dan meja itu yang berubah
"Han Bin tolong keluar sebentar ada yang ingin saya bicarakan dengan So-Bin" titahnya
Dia keluar dari ruangan dan meninggalkan kami berdua
"Silakan duduk", aku duduk dan dia duduk tepat dihadapanku sebrang meja
"Langsung saja keintinya, aku tahu kamu disini bekerja untuk Park Seon-ho dan yah aku akui kamu juga masih bekerja disini walaupun hak jabatannya sudah ada ditanganku" aku mengangguk pelan "Tapi aku juga tidak bisa merekrerut orang baru untuk menjadi sekretarisku, aku ingin kamu tetap bekerja disini, tidak perlu khawatir ada Park Han-Bin yang akan membantumu" ujarnya dan dia langsung berdiri menghampiri mejanya
"Jadi maksudnya saya bekerja untuk dua orang?" tanyaku
"Emm bagaimana ya menjelaskannya,,, sebenarnya kamu sudah tidak lagi bekerja untuk Park Seon-ho. Kemarin dia mengatakan hal itu padaku dan dia ingin kamu hanya bekerja untukku saja. Tapi sepertinya aku juga tidak membutuhkanmu" ucapnya dengan sedikit angkuh
Entah kenapa disitu aku sangat kaget dan rasanya ingin marah. Aku mengepal tanganku seolah ingin menghantam barang yang ada didepanku.
"Tapi aku juga ingin kamu bisa bekerja dengannya, bukan sebagai sekretaris tapi lebih tepatnya sebagai teman atau asisten" ujarnya
Walaupun dia mengatakan hal itu tapi tetap saja itu membuatku marah, aku pergi meninggalkan dia sendiri diruang itu. Tanpa pikir panjang aku langsung mencari taksi dan pergi ke rumahnya Park Seon-ho.
Selama diperjalanan aku mencari kata yang bisa menyakitinya "Aku harus mencaci maki dirinya"
Aku mengetuk pintu pagarnya beberapa kali tapi tidak ada jawaban dari dalam. Aku nekat menaiki pagar tembok yang tingginya pun tidak setara denganku.
"Satu, Dua, Tigaaaa loncaattt" teriakku
"Aduuuuhhhh sakit" beberapa kali aku gagal dan aku mendengar suara mobil mendekatiku tapi aku tidak peduli dan tetap memanjat dinding itu.
"Kim So-Bin sii,,," sapa seseorang dan aku sudah berhasil berada diatas dinding itu, aku menoleh kearah bawah dan ternyata.
"Aaaaakkkkhhhhhhhh" aku terjatuh masuk kedalam rumahnya dan dia berlari bergegas menolongku
"Apa yang kamu lakukan diatas sana" tanyanya
"Sakit, kamu tidak lihat sekarang aku sedang terluka" bentakku
"Baiklah sini aku bopong, pegang tanganku" aku meraih tangannya dan aku terjatuh lagi
"Aahhhh tidak bisa!, aku jalan sendiri saja" jawabku marah, dia tetap membopongku masuk kedalam rumahnya sesekali aku menatap wajahnya, dia terlihat tampan.
Dia menurunkanku di sofa dan segera mengambil kotak kesehatan didapur.
"Sini biar aku lihat dulu seberapa parahnya lukamu" dia menarik kakiku. Ada luka lebam dan darah di lutut dan sikut tanganku.
"Jangan terlalu keras!!!" teriakku.
Aku tidak menyangka aku bisa jatuh dari pagar tembok itu, kalau saja dia tidak menyapaku mungkin aku tidak kaget lalu jatuh dan terluka seperti ini.
Dia mengobati lukaku dan aku selalu berteriak kencang seperti anak kecil yang merengek untuk minta mainan kepada ibunya.
"Jadi kenapa kamu bisa ada diatas pagar tadi?"
"Ya kenapa lagi kalau bukan untuk mencarimu!"
"Mencariku? untuk apa? sepertinya kita...." dia tidak melanjutkan pembicaraan.
"Aku ingin minta kejelasan tentang posisi kerjaku! aku disini bekerja untukmu bukan untuk CEO baru disana!!!" aku merengek kembali. "Pokoknya aku tidak peduli, aku disini bekerja untukmu saja, setiap hari aku akan datang kesini dan membantumu!"
"Lalu bagaimana dengan Kim Jeong-suk? dia juga kan sekarang sebagai atasanmu" tanyanya. "Aku akan resign mulai sekarang dan akan menjadi asisten pribadimu, aku tidak peduli dengan keputusanmu!"
Dia menghela nafas dan pergi kearah dapur mengambil segelas air dan meminumnya, aku sedikit takut dengannya dan menunduk tidak berani menatap wajahnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sudah lima bulan aku merasa gelisah dan tidak tahu kemana aku harus pergi, aku juga beberapa kali pergi ke psikiater untuk mengobati semua luka.
Sekarang aku akan memutuskan untuk bekerja dirumah dan semua tanggung jawabku dikantor aku serahkan kepada Jeong-suk, dia adalah adik sepupuku.
Perusahaan itu aku bangun sendiri dan aku percaya bahwa dia bisa menjaga semua milikku.
"Lalu bagaimana So-Bin? aku juga tidak butuh seorang sekretaris"
"Ahmm setidaknya kamu masih memberi posisi yang layak untuknya"
"Lalu kenapa tidak bekerja denganmu saja? aku bisa memindahkan dia semauku"
Dia mungkin terlihat arogan dan naif bagi orang yang pertama kali menjumpainya, tapi terlihat sangat lemah jika sudah ada dekatnya.
"Ya pokoknya kamu atur saja, dan aku minta dia harus tetap bekerja denganmu" perintahku padanya
Kami berdua bisa dibilang saudara dekat layaknya seperti Kakak dan Adik. Dia juga mengetahui semua masalahku, sesekali dia datang kerumahku hanya untuk mampir dan bercerita. Mungkin sepertinya sudah tidak ada rahasia lagi diantara aku dan dia, setiap kali aku berbohong dia sudah pasti bisa menebaknya dengan benar.
"Baiklah, serahkan semuanya padaku. Setidaknya kamu bisa menyampaikan sendiri tanpa menyuruh orang lain!"
Aku selalu seperti itu, sekretarisku yang dulu saja dia yang memecatnya, bukan aku. Sebenarnya aku masih bisa menahannya untuk tetap bekerja denganku tapi ada satu hal yang membuatku muak dengannya. Saat aku tidur disofa karena pekerjaanku masih banyak aku memutuskan untuk tetap lembur dikantor, aku tidak tahu bagaimana dia bisa masih ada dikantor padahal sudah pukul 12 malam. Dia menghampiriku yang aku kira ada hal yang ingin dia bicarakan.
"Pak bagaimana jika kita pulang saja, ini sudah larut malam" ajaknya,
"Ah silakan kamu duluan saja, masih banyak hal yang harus aku selesaikan" aku bangun dari tidurku dan masih setengah sadar.
Dia menarik lenganku dan mendorong badanku ke lantai. Aku terkejut karena dia melakukan hal yang semestinya seorang pegawai wanita tidak melakukannya.
"Apa-apaan kamu!" aku mendorong tubuhnya dan dia jatuh kebelakang, aku tidak ingin menyakitinya tapi bagaimana lagi jika aku tidak mendorongnya mungkin hal buruk terjadi.
"Aku ingin kamu menjadi milikku! aku tahu banyak hal yang kamu sembunyikan dariku, aku ingin tahu semuanya" jawabnya dengan menangis.
Aku tidak paham dengan apa yang dia lakukan, sudah berapa lama dia merencakan ini, dia juga bekerja bukan hanya hitungan bulan. Dia sudah bekerja sekitar dua tahun sebagai sekretarisku. Dia orang yang sangat kompeten dalam bekerja aku juga menganggap dia sebagai temanku sendiri.
Saat itu juga Jeong-suk melihat semua kejadian dan melihat kami berdua duduk dilantai, dia menatap kearahku.
"Apa yang terjadi? kenapa kalian duduk dilantai?!"
Aku bergegas pergi keluar dan pulang kerumah dan dia mengikutiku dari belakang dan saat tiba dirumah aku menceritakan semua kejadian itu padanya.
"Dasar wanita tidak tahu diri! aku akan memberikan perhitungan padanya, kamu tidak bisa melakukan padanya kan?...hah?".
Sejak saat itu aku tidak ingin ada lagi sekretaris yang membantuku, aku tidak ingin itu terjadi lagi walaupun sepertinya itu memang tidak akan terjadi lagi bagi sekretaris yang sekarang membantukku.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...