
'BANGSAT!! Gw kira bakal happy ending ternyata sad ending, mana berbayar lagi'
'kenapa pemeran utamanya matiiii, author Tolol'
'Brengsek! Pas seru-serunya, eh malah langsung ganti tempat yang berbayarl'
'Ternyata sama saja mata duitan.'
'Apa-apaan ini? Udah ngikutin terus bahkan habisin uang demi ini cerita tapi endingnya malah kayak gak Punya adab! Nyesel ngikutin cerita ini.'
'Kecewa banget sama kamu thor, Padahal aku berharap happy ending, tapi kok malah Pemeran utamanya mati dengan cara mengenaskan dan kalah sama antagonisnya.'
'Padahal cerita kamu yang lain bagus-bagus, tapi cerita ini bener-bener bikin KECEWA!"
'Saya gak mau ikutin kamu lagi!'
'Cerita SAMPAH'
'Lebih bagus karya Miss. A-Z dibanding si Lady inil Coba cek deh, karyanya yang berjudul 'moonlight', bagus bangeeettt! Dari Pada karya gak bermutu ini,"
Yap!
Semua itu adalah komentar komentar yang aku terima untuk ceritaku yang berjudul 'The Villainess Wins.'
Aku hanya bisa membeku di tempat. Menghadap layar laptop dan meneratapi semua komentar itu. Bahkan kini otakku sedang loading untuk mencerna semuanya.
Dalam satu malam, seusal kata 'Tamat' aku sematkan Pada Pukul 22.00 Pm kemarin, Hidupku berubah seratus delapan Puluh derajat.
Itu karena aku mendapat serangan mendadak dari Para nitizen, Kolom komentar yang aku sematkan untuk novel onlineku Penuh dengan caci maki.
Ada dua alasan aku mendapatkan serangan serangan itu.
Pertama, karena aku memindahkan novelku yang semula gratis menjadi berbayar. Well, bukankah Penulis juga butuh makan untuk hidup? Jika yang menulis novel adalah seorang hantu, maka tak apa untuk seumur hidupnya sebagai hantu terus menulis secara gratis.
Lalu alasan yang ke-dua adalah karena aku membuat kematian yang sangat tragis bagi sang Pemeran utama.
Jadi, di cerita novelku yang berjudul 'The Villainess Wins' yaitu dihuni oleh seorang wanita yang sangat cantik, baik hati, dan tidak sombong, Oh Plus dia sangat rajin menabung.
Di mana gadis yang Penuh inspirasi itu mengalami masa-masa sulit selama hidupnya. Dirundung dan dijahati oleh seorang wanita keturunan nenek lampir yang kejam, Hanya karena gadis baik itu dicintai oleh seorang CEO muda yang tampan, kaya, macho, serta Idaman semua wanita.
Tetapi Pada akhirnya gadis itu memiliki ending yang sangat buruk. Dia meninggal dengan cara yang Paling mengenaskan, Bahkan meninggal di tangan Pemeran utama cowoknya. Tentu semua itu karena Permainan licik dari sang tokoh antagonis wanita.
Well... tak Perlu aku ceritakan bagaimana Proses meninggalnya, kan? Tak usah oke!
Karena dua hal itulah aku menjadi sasaran hujatan seluruh nitizen sejagat novel online.
Lagipula, bukankah aku sudah menaruh judul yang sangat besar di cover? 'The Villainess Wins' itu adalah judulnya.
Dari judul itu sudah dapat diartikan, kan, kalau ending dari cerita ini adalah sang antagonis-lah yang menang. Lalu kenapa aku dihujat seluruh nitizen ini?
Benar-benar tidak masuk akal!
Tetapi ... hal yang Paling buatku muak adalah ada satu komen yang benar-benar membuat darah tinggiku nai.
Yaitu komen dari akun @balabala dengan komenan 'Lebih bagus karya Miss, AZ dibanding si author ini! Coba cek deh, karyanya yang berjudul 'Moonlight', bagus bangeeettt! Dari Pada karya gak bermutu ini.
Benar-benar kurang ajar, bukan?
Dan kalian tahu siapa Itu Miss, A-Z? Dia adalah Pesaingku. Musuh bebuyutankul Musuh se-Perdunia Penulisanku.
Lalu aku dibanding-bandingankan dengan dia? Benar-benar mulut yang Perlu disumpal Pakai kain dapur!
"Slalani Si Balabala ini benar-benar kurang ajar. Aku yakin kalau ini akun adalah akun fake dari Miss, A-Z itu," desisku dengan mata yang melotot tajam ke arah laptop.
Sungguh demi Dewa Neptunus, aku marahl Darah tinggi, asam urat, kolestrol, atau apapun itulah!
Karena emosiku itulah, yang membuat jemari lentik dan seksiku ini gatal untuk membalas komenan dari si akun @balabala itu.
"Hei, bukankah sudah jelas dari judul yang aku terakan? 'The Villainess Wins' itu artinya sang Perjahtalah yang menang! Dan aku beritahu, ya, kalau junjunganmu Miss. A-Z itu tidak akan bisa naik daun seperti sekarang kalau tidak karena jasakul Sialan!"
Aku mengucapkan semua kata itu dengan jemari yang mengetik dengan tegas. Lalu ... 'Send'! Terkirim Lah sudah.
Astaga... Puasnya aku membalas akun sialan @chocolate itu.
Aku tersenyum miring di depan laptopku. Setelah mengeluarkan sedikit balasan, aku memandangi tulisan komentarku dengan Puas. Tetapi .....
Seketika banyak sekall yang balasan komentar dari apa yang aku tulis itu. Seperti dalam hitungan detik, semua nitizen menghujami komentarku yang membalas @chocolate.
Bahkan sampai tiba-tiba seakan laptopku sudah kelebihan muatan.
Sehingga mata cantikku ini, Pun menemukan sebuah satu komen dari akun anonym yang entah kenapa mampu membuatku terdiam untuk beberapa saat,
'Penulis sialan! Biar tahu bagaimana rasanya Punya takdir tragis, kau masuk saja ke sanal Jadi tokoh yang mati dengan cara Paling mengenaskan!
Itulah isi dari komen milik akun anonim itu.
Well...jika ditelaah baik-baik, aku rasa komenan seperti itu cukup biasa juga, bukan? Tetapi entahlah.
Rasanya seperti ada euforia aneh yang muncul entah dari mana, Seolah aku sedang menata? Lorong waktu yang cukup membuat orang linglung. Seperti sebuah sihir.
Aku tak tahu sudah berapa lama aku berada di zona waktu yang menurutku itu terhenti. Hingga tiba-tiba dentingan jam membuatku tersadar begitu saja.
Ding... Dong
Dentingan yang cukup keras dari jam dinding analog kuno yang jika Perjamnya akan berdenting dengan sangat keras,
Ya. Aku masih memiliki jam seperti itu di rumah ini. Jam Peninggalan mendiang ayahku.
Begitu jam itu berdenting, aku langsung terkesiap begitu saja. Aku torehkan kepalaku ke sumber suara,
"Pukul 12 malam?" gumamku heran.
Aku sedikit keheranan akan itu, Pasalnya terakhir kali aku lihat jam digital di laptop adalah Pukul sepuluh malam.
Tak mungkinkan aku mematung selama dua jam? Lalu di jam sebelumnya aku juga tidak mendengar dentingan keras Penunjuk waktu itu.
Tak mungkinkan aku mematung selama dua jam? Lalu di jam sebelumnya aku juga tidak mendengar dentingan keras Penunjuk waktu itu.
Yeah, Itu tak mungkin!
Aku yakin aku salah lihat tadi. Aku hanya terdiam selama satu-dua menitan!
"Huft... sepertinya aku Lelah," gumamku dengan memijit kepala. "Sudahlahl Lebih baik aku istirahat saja!"
Ya! Itu adalah Pilihan yang bagus.
Aku Pun langsung menutup laptopku dan menghempaskan diri di atas ranjang begitu saja. Tak Perlu cuci muka atau apapun, Aku sudah cukup Lelah.
Untuk masalah ini, biarkan besok manajer saja yang Pikirkan.
Setelah membaringkan badanku di atas ranjangku yang nyaman berwarna merah ini, aku pun menatap langit-langit kamarku dengan tatapan kosong. Entah kenapa tiba-tiba saja aku kembali mengingat komanan dari akun anonim itu.
Sungguh demi apapun! Aku benar-benar merasakan sebuah euforia yang cukup aneh. Itu hanyalah komentar biasa dari seorang Pengecut yang menggunakan akun anonim. Sialnya, itu cukup mengganggu.
Hingga tiba-tiba mataku mulai terasa berat.
Lampu yang masih tak sempat aku matikan, yang mana menerangi ruangan ini, Pun seolah sedang meredup secara Perlahan.
Dentingan detak jam yang samar seperti suara Jantung itu, juga secara Perlahan berangsur membisu. Hening. Serta hampa.
Perasaan dan Pikiran yang tadi gundah, kini tiba-tiba saja seperti kosong.
Hingga tiba-tiba semua menjadi gelap.
Sangat gelap. Gulita. Tak ada cahaya.
Begitu sepi.
Entah karena apa, kini tirai mataku begitu berat untuk terbuka. Sangat sulit.
Tak hanya itu, tetapi aku juga sulit menggerakan tubuhku, Lalu untuk membuka mulut aku pun juga cukup kesulitan. Rasanya seperti aku tidak mampu menggerakan semua syaraf yang ada di tubuhku ini. Seolah bukan milikku.
Oh my God, suaraku tak juga keluar. Sebenarnya aku kenapa?!
Tak mungkin, kan? Aku terkena santet?
'Siapapun... tolong aku! Arta... apakah kau tak ada di sini? Aku tidak bisa bergerak, sungguh demi apapun tolong aku! Huwaaa... aku kena santet!' Itu adalah jeritanku yang tak keluar dari mulut.
Oh, by the way... Arta adalah manajerku.
Huft... Percuma saja aku teriak-teriak. Tak akan ada yang mendengarkanku karena apa yang aku teriakkan tak keluar.
Siapapun yang menyantetku aku benar-benar akan kutuk itu orang.
"Hiks... Nona...." Isakan seseorang terdengar. "Nona Dia menangis!"
Tunggu! Tetapi siapa dia? Seorang wanita memang, tetapi aku tak tahu siapa. Suaranya sangat familiar buatku, Dan lagi... Nona???
Siapa nona? Aku?
"Nona, kumohon bangunlahl Hiks. ... hiks....."
Tunggu... tunggu... tunggu dulu...!!
Astaga... Perkenalkan siapa dirimu! Siapa kau? Aku tidak bisa membuka mata saat ini jadi aku tak bisa melihatmu. Lalu kenapa kau menangisiku?
Ck...Sepertinya aku benar-benar kena santet!
Sialan!
"Nona, kumohon bangunlah! Nona adalah seorang wanita yang kuat, cantik, dan Penuh karisma...." Wanita asing itu kembali bersuara dengan isakan.
Yeah, itu benar! Aku memang wanita yang kuat,
cantik, dan sangat Penuh dengan karisma. Tentu saja. Karena aku adalah Ella Wallace!
"Nona juga satu-satunya wanita yang Pantas bersanding dengan seorang Pangeran, Incaran Para laki-laki bermartabat di negeri ini..."
Well... aku memang incaran banyak laki-laki di seluruh dunia. Mulai dari Pembisnis, aktor, bahkan konglomerat sekalipun. Tetapi jika menurutmu seorang Pangeran juga... emhh... Jika dipikir-Pikir kau benar juga, Pangeran dari berbagai macam kerajaan seperti Inggris dan Arab Pasti juga mengincarku!
Thanks for that. Kau benar lagi.
"Nona adalah seorang bangsawan... slapapun yang melakukan ini benar-benar harus dihukum matil Hiks ...hiks... mereka benar-benar kurang ajar dan kejam!"
Okeeyy... apa sekarang seorang selebriti sudah setara dengan bangsawan? Emh... maybe yes. Ck! Ternyata aku sekarang menjadi seorang bangsawan, Boleh juga,
Astaga, El! Kau benar-benar wanita Paling beruntung di dunia ini! Tuhan memang menciptakanmu dengan sempurna. Mungkin ini karena aku adalah seseorang yang baik hati, tidak sombong, dan suka menabung.
"Nona cepatlah bangun dan balaskan dendam, Nona, kepada orang-orang yang melakukan ini!"
Ya! Kau benar. Siapapun yang menyantetku seperti ini akan aku balas mereka beribu-ribu kali lipat! Pasti orang itu adalah Penulis Miss, A-Z. Aku yakin itu, "Jadi ... kumohon, Nona, bangunlah!" ucap wanita itu lagi.
"Saya Pergi dulu, Nona, beristirahalah lebih dulu untuk malam ini,"
Hei! ... hei! Tunggu dulu!
Kau... wanita yang tak kuketahui namanya! Mau kemana kau?
Jangan Pergi dulu! Aku tahu aku harus bangun tetapi tentu saat ini aku butuh bantuan darimu, wahai wanita yang tak kuketahui namanya
Krieett...jebreett...
Bunyi Pintu tertutup rapat. Wanita itu Pun Pasti juga sudah tidak ada di ruangan ini lagi.
Sialan!
Ck! Kalau aku bangun aku akan mencari siapa yang menyantetku ini, itu Pasti! Tetapi aku akan mencarimu terlebih dahulu, wahai wanita yang tak kuketahui namanya, Berani beraninya meninggalkanku begitu saja tanpa membantuku bangun.
Huufttt....
"...."
"...."
"...."
Okey. Sekarang apa yang harus aku lakukan?
Karena saat ini suasana kembali hening. Hanya ada suara denting jam saja.
Di keheningan yang melanda ini, Aku Pun hanya bisa terdiam diri di sebuah jiwa yang lemah. Yal Lemah, karena tak bisa menggerakkan tubuhnya sendiri.
Sungguh hanya ada ada kegelapan saja. Begitu gelap dan hening. Seperti berada di sebuah ruangan tanpa ada sedikitpun cahaya. Ruangan asing yang begitu luas dan sangat dingin.
Hingga tiba-tiba saja di tengah-tengah keheningan itu, aku merasakan sebuah euforia yang tak asing.
Entahlah, rasanya sangat sulit dijelaskan, Tetapi aku merasa seperti ada angin dingin yang menembus kulitku. Lalu tak lama kemudian suara wanita kembali terdengar.
Bukan suara dari wanita tanpa nama yang meninggalkanku tadi. Suara ini terdengar lebih jernih, tegas, Penuh dengan ketegasan yang anggun, dan ... merdu,
"Kau ingin segera bangun?" tanyanya.
Aku bisa mendengar suara itu, tetapi tetap saja semua gelap. Aku tidak bisa melihat apapun!
'Tentu saja aku ingin bangun! Tak mungkin, kan, kalau aku menjadi jiwa tanpa raga seperti ini selamanya, Karena seseorang yang menyantetku itu?I' jawabku kepada wanita itu,
'Aku bisa membantumu," jawabnya.
Wait! Dia mengerti ucapanku? Dia mendengarkanku? Bahkan suaraku tak keluar sedikitpun dari mulut cantikku ini.
Oh, God! Thanks a lot, karena sudah mengirimkan orang yang mempunyai mata batin dengan mengerti ucapan jiwa dari seseorang.
Aku selamat....
'Membantu? Bagaimana caranya?" tanyaku lagi. 'Tolong bantu aku. Apapun akan aku lakukan untuk membalas budi dirimu, jadi tolong sembuhkan aku dari ikatan santet sialan inil'
Tentu aku akan menerima bantuan itu. Aku ingin segera bangun dan menemui Arta untuk mengusut tuntas ini semua. Mulai dari kasus jatuhnya namaku, hingga kasus diriku yang disantet ini.
Aku tak akan mengampuni mereka semua!
'Apapun akan kau lakukan?" tanyanya lagi memastikan.
'Tentu saja! Aku akan melakukan apapun untuk membalas budi dirimu jika kau bisa membangunkanku dari santet ini!' balasku dengan tegas. 'Well ... asal kau tahu aku adalah seseorang tak akan mengingkari janji,'
Hening.
Untuk beberapa saat keheningan kembali melanda. Lalu suara merdu itu kembali bersuara lagi.
'Baiklah, aku akan membantumu. Jadi sebagai balasannya, bisakah kau jaga keluargaku? Dan... tolong hiduplah"
Menjaga keluarga?
Baiklah, tak masalah, Aku bisa membiayai hidup keluarganya. Lagi Pula aku hidup sendiri dan kaya raya. Lalu untuk hidup... tentu saja aku akan hidup!
'Deall' seruku.
'Senang bertemu denganmu, Ella," ucapnya lagi.
'Senang bertemu denganmu juga...? Tunggu siapa kau dan kenapa tahu nama-'
Tilinggg-
Sebelum aku menyelesaikan ucapanku, tiba-tiba saja terdengar suara bunyi yang sangat nyaring dan keras. Benar-benar memekakkan telinga.
Lalu rasanya tubuhku ... ah tidak Jiwaku, tiba-tiba seperti dihempas dengan sangat kuat, Jatuh ke bawah Pusaran gelap yang ada di bawah. Sebuah Pusaran yang tak terbatas.
Tak lama kemudian semua kembali hening dan tenang.
Seolah tak terjadi apapun.
......TBC......