
"Eomma,, Aku lapar" aku merajuk kepada ibuku.
Sudah tiga hari aku kembali ke Daegu, aku mengambil cuti selama tiga hari. Dan besok aku harus kembali ke Gimpo. Selama tiga hari aku menghabiskan waktu bersama Eomma dan Abeoji.
Aku sudah tiga bulan aku tidak mengunjungi orang tuaku, mungkin aku terlalu sibuk untuk mencari pekerjaan dan aku juga terlalu sibuk saat sudah diterima diperusahaan.
Ayahku membuka usaha kedai ayam goreng yang dibantu dengan ibuku. Aku anak kedua dari dua bersaudara. Kakakku bekerja di sebuah perusahaan di Daegu, dia memutuskan untuk tetap tinggal di Daegu dan sekarang dia sudah memiliki istri dan anak. Walaupun tidak serumah dengan ibuku, kakakku tinggal tepat disebelah rumah ibuku. Untungnya kakak iparku orang yang sangat pengertian dengan ibuku dan ibuku sangat menyanginya melebihi sayangnya kepadaku, sepertinya.
"Eonni,,, aku ingin bertanya sesuatu"
"Apa? kenapa? ada masalah?" tanyanya dengan khawatir
"Bukan, aku ingin tahu bagaimana ketika eonni jatuh cinta dengan kakakku?" tanyaku penasaran.
"Emm,,,waktu itu aku merasakan ingin bertemu setiap hari dengannya, kenapa?"
"Lalu biasanya selain itu apa yang kamu rasakan?"
"Ahh aku tahu, kamu sedang jatuh cinta kan, hahaha adikku sudah besar" tawanya sambil mengusap kepalaku
"Aishh aku ingin bertanya saja, untuk apa aku jatuh cinta"
Tiba-tiba dari arah luar ada seorang Pria tinggi masuk diantara pembicaraan kita.
"Percuma kamu berbicara tentang cinta padanya, dia seperti anak ayam, selalu merengek" ucap kakakku.
"Eommaaaaaaaaa"
Sama seperti saudara lainnya kami selalu bertengkar karena hal kecil, senakal apapun dia aku tetap menyayanginya. Sejak kecil aku selalu dirundungi oleh teman-teman di sekolah dan dia selalu membela dan bahkan hampir drop-out dari sekolah hanya karena bertengkar dengan wanita yang mengangguku.
Dari sekolah dasar hingga kuliah aku satu almamater dengan kakakku, bukan aku yang meminta tapi kakak yang selalu ingin menjagaku, bahkan saat pergi tugas militer pun saat dia sedang ada hari libur atau cuti dia selalu datang ke kampus hanya untuk menjemput atau menginap sehari di apartmentku, dia tidak ingin ada satupun orang yang bisa menyakitiku, katanya.
Saat dia memutuskan untuk menikah aku merasakan bagaimana jika dia benar benar tidak ingin melindungiku lagi, apakah semua rasa persaudaraan ini berakhir, lalu jika dia punya istri apakah aku akan dilupakan sebagai seorang adik, konyol memang. Tapi aku bersyukur karena dia telah menikahi kakak ipar yang sangat pengertian dan sayang dengan keluarga. Bahkan sampai saat ini pun mereka tetap menjengukku ke Gimpo sebulan sekali.
"Kemarin aku ke Gimpo, tapi tidak mampir ketempatmu"
"Kenapa? kenapa tidak bilang!!!" aku berteriak
"YAAA, Aku juga sedang buru buru dan tidak sempat untuk melihatmu" dia juga ikut teriak
"Aku sudah bilang kan?, sesibuk apapun kamu ke Gimpo kamu harus tetap menjengukku. Aku sudah tahu kamu tidak pengertian!!!".
Sepertinya satu menit kami tidak bisa akur, dia akan terlihat seperti anak-anak walaupun dihadapan istrinya.
Aku mencari semua alamat yang terakhir aku dapatkan darinya, dia bilang akan kembali dalam beberapa hari untuk mengambil barang tapi sampai saat ini pun dia belum kembali.
Aku sudah mengemas semua barangnya. Rumah ini terasa sangat kosong, tidak ada yang bisa aku ajak bicara. Aku kembali melihat bingkai fotoku dengannya. Foto itu aku ambil disofa dekat dengan taman kecil dihalaman depan rumah, dia terlihat bahagia saat itu.
Selama lima tahun ini aku mengalami perubahaan besar diantara kita yang aku sendiri juga tidak menyadarinya. Kita menikah karena saling mencintai.
Aku bertemu dengannya saat kuliah, walaupun jurusan kami berbeda tapi aku senang bisa mengenalinya. Dia memiliki rambut pendek yang sepundak dan dan sifat diam namun periang yang selalu membuatku penasaran. Perkenalan kita juga sangat singkat, aku pertama kali menyapanya saat kita bertemu disebuah aula seni yang ada didalam gedung utama kampus, dia membalas sapaanku dan disitulah kita mulai saling mengenal.
Dua tahun setelah lulus sarjana akhirnya aku memberanikan diri untuk mengajaknya menikah. Saat itu aku sudah bekerja sebagai arsitek walaupun gajiku tidak terlalu besar dan dia bekerja sebagai penerbit buku.
Tiga tahun pertama kami menikah tidak ada masalah dan komunikasi kami sangat baik bahkan dalam setahun kami bisa pergi liburan dan meluangkan banyak waktu bersama. Namun, memasuki pernikahaan kami ke empat tahun aku mulai sibuk dengan pekerjaanku dikantor dan bertemu dengannya saat malam hari. Dia bekerja dari rumah, sedangkan aku selalu sibuk dan tidak bisa meluangkan waktu untuknya, dia tidak pernah mengeluh dengan kesibukanku tapi itu semua awal darimana semuanya terasa hampa bagi kita berdua.
Saat aku menjemput dia dari bandara Gimpo dia mengatakan bahwa dia akan pindah rumah.
"Aku akan pindah rumah" ucapnya
"Maksudnya? apa rumah kita sekarang tidak lagi nyaman?" tanyaku
"Bukan, aku sendiri yang akan pindah"
Aku terdiam tidak menjawab, aku mencerna semua kalimat yang dia ucapkan. Aku tidak bisa menatapnya.
"Apakah ada ada orang ketiga diantara kita?" aku bertanya seolah aku mengerti apa yang dia tanya, aku tidak berani untuk menatapnya.
"Emm.... Ada,,," jawabnya sambil menatap kearahku.
Bukan jawaban itu yang aku inginkan.
Suasana mobil menjadi sangat hening, aku menghembuskan napas panjang, dan dia kembali bertanya.
"Apa kamu ingin tahu siapa orangnya?" tanyanya
"Tidak,,,, kamu tidak perlu memberitahu siapa dia" aku tidak tahu harus menjawab apa, aku juga tidak ingin tahu dengan siapa dia mulai untuk mengkhianati pernikahaannya, aku juga tidak bisa marah, perasaan sayangku padanya menutup semua rasa amarah itu.
Saat dimana hari itu dia terakhir kalinya dirumah, aku selalu ingin kembali dan bisa berbicara banyak hal dengannya. Tapi saat itu aku hanya diam dan membantunya mengemas semua barang miliknya. Jika waktu bisa diputar kembali, aku ingin memperbaiki semua dan terus bersamanya hingga saat ini, tapi itu semua terlambat aku sudah menghancurkan hatinya.
Aku ingin menemuinya sekali saja atau melihatnya saja dari kejauhan, aku benar-benar sangat merindukan dirinya, aku ingin kesempatan itu ada lagi untukku, aku ingin memperbaiki semua yang aku bisa, aku ingin dia melihat dan menatap kearahku lagi sama seperti dimana kita saling mengenal dan semua rasa cinta itu tumbuh, aku ingin dia menanyakan bagaiman dengan kerjaku dikantor, aku ingin masak pasta lagi bersamanya, aku ingin mimpi kita memiliki Restoran Italia bisa terwujud, aku benar-benad ingin waktu itu bisa kembali kepadaku dan memulai semuanya dari awal seolah tidak ada yang terjadi diantara kita.
"Apakah aku memiliki kesempatan itu lagi dan bisa memutar waktu kembali?
...****************...